My Beloved Partner

My Beloved Partner
132



Waktu berlalu begitu cepat hingga tidak terasa anak-anak mereka tumbuh dewasa.


"Alex," teriak Bia yang sedang menyiapkan sarapan untuk putranya.


"Abang kalau mandi mah lama ma," cibir Kristal, anak kedua pasangan Berlian dan Jaden.


"Panggil abangmu! Suruh dia cepat turun!" Perintah Bia pada anak perempuannya.


Kristal berjalan malas menaiki tangga. "Alex belum bangun juga ya, Ma?" Tanya Jaden yang baru saja duduk di meja makan.


"Sudah, mama udah bangunin dia tapi kalau mandi super duper lama, heran Kristal aja yang cewek mandinya nggak berjam-jam kaya Alex," gerutu Bia.


Jaden berdiri sejenak lalu duduk setelah memberi kecupan singkat di bibir istrinya itu. Dia tidak bisa menahan hasrat untuk tidak mencium istrinya kalau sedang mengomel. Baginya Bia tetap istrinya yang menggemaskan seperti dulu.


"Papa, ihk. Nanti kalau dilihat anak-anak bagaimana?" Protes Bia sambil memegang bekas ciuman suaminya.


"Ya nggak apa-apa kan cuma nyium dikit doang, kalau banyak yang nggak boleh. Nggak terasa ya ma, kayaknya baru kemaren kamu ngelahirin Kristal udah gede aja tu bocah."


"Iya, Pa. Mama juga masih ingat mama dipanggil ke sekolahan Alex saat dia memukul temannya." Bia mengingat kejadian masa lampau.


...***...


"Bang, dipanggil mama disuruh cepat turun," kata Kristal di balik pintu kamar mandi abangnya.


"Ya," teriak Alex dari dalam kamar mandi.


"Heran, cowok mandinya kok lama bener, ngapain aja sih di dalam? Luluran?" Cibir Kristal.


Tak lama kemudian Alex keluar dari kamar mandi dengan handuk yang hanya dililitkan di bagian bawah.


"Heh, ngapain lo masih di sini anak kunti?" Alex terkejut hingga ia menutup bagian dadanya dengan kedua tangannya.


"Mama dikatain anak kunti sama abang," teriak Kristal saat dia keluar dari kamar Alex.


"Sialan lo pakai ngadu lagi," gerutu Alex lalu buru-buru dia memakai bajunya.


"Mama, Bang Alex tuh masak Kristal dikatain anak kunti," rengek Kristal di depan Berlian.


Jaden tertawa. "Ma dikatain kunti tuh sama anak sendiri." Jaden semakin mengompori.


"Hih, Alex bener-bener keterlaluan," geram Bia pada anak lelakinya.


Lalu saat Alex turun Bia mulai menyindir. "Eh anak laki-laki kunti mau sarapan ya, hari ini mau makan apa? belatung apa tulang belulang?"


"Ya ampun serem amat sih ma. Maafin aku ya mamaku yang cantik. Tadi cuma lagi kesel sama si Keris noh." Tunjuk Alex dengan dagunya. Kini ia mencoba bergelayut manja di lengan sang ibu.


"Kristal, jangan seenaknya ganti nama ah. Kamu mah gitu." Alex hanya terkekeh.


"Al, nanti kamu mau bareng papa atau pakai motor sendiri?" Tanya Jaden.


"Weits udah besar pakai motor sendirilah, Pa. Emangnya nak TK masih dianter-anter." Alex melihat ke arah Kristal saat menekankan kata TK.


"Cih, kata siapa cuma anak TK yang dianter, anak SMP juga dong iya nggak papaku sayang?" Jaden mengangguk menjawab pertanyaan putrinya yang menggemaskan itu.


"Kalau udah selesai kalian sebaiknya segera berangkat," perintah Bia pada kedua anaknya.


"Baik, ma." Jawab mereka kompak.


...***...


Keempat temannya setia menunggu. Mereka adalah Andi, Agung dan Amar. "Ya ampun bos lama bener," protes Andi teman Alex yang paling gemulai.


"Biasa." Alex menaik turunkan Alisnya.


"Udah ayo naik!" Ajak Agung teman Alex yang paling besar badannya.


Mereka akan memanjat dinding sekolah mereka diam-diam. "Aman nggak Mar?" Tanya Andi pada Amar, temannya yang paling religius tapi kalau diajak nakal ayo aja.


Alex melompat duluan. Tali dia tidak tahu kalau ada Sandra di bawah tembok itu hingga Alex jatuh di atas badan Sandra. Beruntung tangan Alex menumpu kepala gadis itu sehingga kepala Sandra tidak terbentur ke tanah.


Sejenak tatapan mereka bertemu. Andi yang akan melompat menyaksikan kejadian itu. "Wow, adegan uwuw." Ia jadi terkekeh kecil melihat temannya bersentuhan dengan wanita.


"Heh bencong ngapain lo nggak turun-turun?" Teriak Amar kesal. Ia takut ketahuan guru.


"Lagi lihat adegan uwuw, sini deh buruan naik!" Tangan Andi melambai.


Agung dan Amar segera naik. Mereka juga menyaksikan Alex sedang memegang kepala seorang siswi dari atas tembok.


Sandra yang yang salah tingkah saat mendapat tatapan dari Alex tiba-tiba mendorong Alex hingga jatuh. Ketiga temannya menertawakan Alex.


"Buahaha sakitnya tuh di sini," ledek Agung sambil memegang bagian dadanya.


Alex memberikan tatapan tajam pada ketiganya. "Awas kalian, sini turun gue hajar satu per satu." Alex dalam mode marah.


Mereka bertiga turun tapi Alex mengejarnya. Aksi kejar-kejaran itu dilihat oleh Pak Banu. Dia sedang berpatroli keliling sekolah hari ini.


"Alex," teriak Pak Banu. Alex dan teman-temannya berhenti kejar-kejaran. Mereka tiba-tiba mematung ketika mendengar suara keras itu.


"Kalian lagi kalian lagi, bapak sampai bosan menghukum kalian," gerutu Pak Banu pada murid-muridnya yang badung.


"Maafkan kami, Pak," kata Alex mewakili teman-temannya.


"Maaf, udah berapa kali kamu minta maaf. Kalau bisa ditukar uang sih nggak masalah." Pak Banu memijit keningnya yang sakit.


"Kalian sapu halaman ini sampai bersih, sampai tidak ada jejak-jejak keterlambatan kalian," ucap Pak Banu berlebihan.


Keempat anak laki-laki yang terlambat itu memutar bola matanya malas mendengar ocehan gurunya. Kemudian mereka mengambil sapu untuk menyapu halaman.


"Gila, di rumah aja gue bayar orang buat nyapu halaman kaya gini, lah ini nyapu nggak dapat bayaran kena omel pula," gerutu Alex.


"Hush, jangan banyak bicara. Cepat selesaikan tugas kalian!" Agung menirukan gaya bicara Pak Banu. Keempat anak laki-laki yang berawalan huruf A tersebut tertawa bersama.


"Yang penting ikhlas, memang kita yang salah, segala sesuatu kalau dikerjakan dengan ikhlas akan menjadi ringan," kata Amar menasehati.


"Baik, pak ustadz," jawab ketiga temannya yang lain.


Keempatnya kembali terkekeh.


...🌼🌼🌼...


Nggak terasa ya dears udah gede aja Bang Alex, ikutin kisah selengkapnya ya dears. Jangan lupa tonton iklan di kotak gift ya GRATIS.