My Beloved Partner

My Beloved Partner
36



Pagi ini Julian menemui ayahnya untuk membicarakan hal terkait desain ulang kamar hotel mereka. Ia memang sudah merencanakan ini dari awal tinggal meminta persetujuan ayahnya agar Bulan bisa menangani proyek yang iya jalankan sehingga Julian akan lebih dekat dengan wanita yang ia sukai.


"Dad apa kita tidak perlu mengubah sedikit desain interior hotel kita?" tanya Julian.


"Memangnya perlu?" tanya Darren balik.


"Perlu dad, kita harus berinovasi dad agar pengunjung yang datang ke hotel kita tidak merasa bosan dengan suasana kamar yang itu-itu saja," kata Julian bersemangat.


"Baiklah atur kalau itu memang perlu," jawab Darren tanpa menoleh ke arah putranya.


Senyum licik pun menghiasai wajah tampan Julian. Ia mengambil ponsel yang ia taruh di dalam saku jasnya.


Drrtt Drrtt


Bia melihat ponselnya berbunyi. Ia melihat nama Julian di dalam kontaknya. "Tumben orang ini menelpon," gumam Bia saat ia mengalihkan pandangannya dari laptop.


"Hallo bang Jul tumben sekali meneleponku," kata Bia saat mengangkat telepon dari kakak iparnya.


"Berlian apakah kau bisa menghubungi saudaramu, aku membutuhkan jasanya untuk mendesain ulang hotelku, ini atas permintaan daddy," dusta Julian pada adik iparnya.


"Cih dia kira aku tidak tahu kalau dia naksir sama kak Bulan," gumam Bia sembari menutup ujung teleponnya agar Julian tidak mendengarnya.


"Aku akan memberimu kontaknya kau bisa hubungi sendiri, aku sedang sibuk," kata Bia.


Julian tersenyum senang setidaknya ia bisa beralasan mendapatkan nomor telepon Bulan dari saudara sepupunya. Jadi Bulan tidak akan curiga.


Lalu Julian menghubungi Bulan dengan nomor yang tidak sama dengan nomor yang semalam. Tentu saja ia akan berpura-pura mendapatkan kontaknya dari adik iparnya.


Ehem


Jaden mengatur dirinya agar tidak terlihat grogi berbicara dengan Bulan.Dia mendial nomor Bulan kemudian menunggu sejenak.


"Hallo," terdengar suara merdu dari balik telepon.


"Yes, telepon gue diangkat," batin Julian yang merasa senang.


"Hallo nona Bulan saya Julian, saya mendapat nomor anda dari Berlian, saya ingin meminta waktu anda untuk membicarakan masalah bisnis,apa anda punya waktu?" tanya Julian.


"Baik, saya akan kasih tahu waktunya nanti," jawab Bulan.


"Saya tunggu kabar dari anda," jawab Julian dengan ekspresi datarnya.


Julian pun menutup sambungan teleponnya. "Yes,yes, akhirnya aku bisa deket sama kamu," gumam Julian sambil tersenyum.


Ehem


Jaden yang berada di belakang Julian sedari tadi memperhatikan tingkah konyol kakaknya. "Kenapa kau kelihatannya begitu senang?" tanya Jaden penasaran.


Julian menoleh ke sumber suara."Hai saudaraku, kau mau tahu sekali apa mau tahu banget?" ledek Julian.


"Sialan kau, aku tidak mau tahu, aku ke sini ingin bertemu daddy apa dia ada di ruangannya?" tanya Jaden.


"Ya masuklah," jawab Julian singkat lalu mereka berpisah.


***


Drrt Drrt


"Siapa lagi sih yang telepon, dari tadi ponselku berbunyi terus," umpat Bia.


"Bia...." teriak Keyla yang ada di ujung telepon.


Bia jadi menjauhkan ponsel dsri telinganya."Ampun deh nih anak kuping gue sakit woi, gue gak budeg ya lo kalau ngomong bisa pelan dikit kagak," geram Bia pada sahabatnya.


"Heehee gue kangen tahu, mentang-mentang elo udah jadi istri orang sekarang gak mau nongkrong sama gue," protes Keyla.


"Ya iyalah oon, namanya istri kalau kemana-mana harus izin suami dulu, gak izin nanti kalau dia bingung nyari gue gimana?"


"Ya elah emangnya gue kagak tahu suami lo itu kaya apa, dia pasti kirim oranglah buat ngawasin elo tanpa sepengetahuan elo tentunya, kaya di novel-novel itu loh,"


"Mau ngapain lo nelponin gue, lagi sibuk nih," imbuh wanita yang sedang hamil muda tersebut.


"Ya ampun Bi kalau lo sibuk bilang dong gue kan bisa bantu elo selama libur semester ini," kata Keyla.


"Lah lo gak ngerjain skripsi?" tanya Bia balik.


"Sambil magang di tempat lo juga boleh kali Bi, ya ya?" mohon Keyla namun agaknya sedikit memaksa.


"Kebetulan banget say gue lagi cari asisten gue capek gak punya sekertaris, semenjak tante Hana minta berhenti gak ada yang gantiin posisinya," keluh Bia.


"Ya ampun bumil lo tenang aja selain jadi sekertaris, gue juga akan jadi asisten pribadi lo jadi kemanapun kita bisa barengan, jadi gue kalau mau makan di restoran gretong degh," kata Keyla sambil diiringi suara terkikik.


"Dasar lo, ya udah gue mau lo kirim aurat lamaran lo, buat syarat aja ke bagian HRD, kalau lo udah buat tinggal serahin ke gue," kata Bia lalu menutup sambungan teleponnya.


"Ya ampun ni anak bisa banget kalau lagi gue butuhin," kata Bia.


Drrtt Drrrtt


"Apa lagi?" ketus Bia saat menjawab teleponnya.


"Kok gitu sih sayang jawabnya?" protes Jaden.


"Eh maaf aku kira Keyla yang nelpon, ada apa kak?" tanya Bia pada suaminya.


"Gak, aku cuma mau ngingetin kamu jangan lupa makan siang ya,"


"Iya," jawab Bia singkat.


"Udah gitu doang kan, aku tutup ya teleponnya," imbuh istri Jaden itu.


"Iya aku cuma kangen aja denger suara kamu, habis ini aku ada meeting di luar mungkin sampai malam, kamu jangan mampir-mampir ya langsung pulang aja, di rumah sudah ada asisten rumah tangga," terang Jaden.


"Iya,aku tutup ya,"


"Iya, love you," kata Jaden sebelum meninggalkan obrolan.


Bia hanya menggeleng mendengar perkataan suaminya yang dianggap lebay namun ia tak mengelak kalau ia juga suka diperhatika oleh suaminya.


***


"Selamat siang nona Bulan," Julian mengulurkan tangan untuk menyapa Bulan.


Bulan membalas uluran tangan Julian singkat."Selamat siang," jawab Bulan.


"Langsung saja pada intinya," kata Bulan to the point.


"Baiklah saya ingin meminta anda mendesain ulang kamar hotel saya, apa anda berminat? masalah harga tidak jad masalah, sebutkan saja berapa yang anda minta?" kata Julian dengan percaya diri.


"Saya masih memegang satu proyek mungkin setelah saya menyelesaikan proyek saya ini saya akan fikirkan ulang tawaran anda,"


"Sial dia tidak langsung menyetujuinya," umpat Julian dalam hati.


"Baiklah nona Bulan saya akan kirimkan beberapa file ke email anda agar anda bisa mempelajarinya, tolong pertimbangkan tawara saya ini," pinta Julian.


"Baiklah tuan, saya akan kabari anda nanti," Bulan pun berdiri dari kursinya.


"Tunggu nona, apa kita bisa berteman?" tanya Julian.Ia mengulurkan tangannya.


"Apa pria dan wanita bisa berteman?" Bulan menjawab pertanyaan Julian dengan pertanyaan.


"Atau anda ingin hubungan kita lebih dari sekedar teman?" kata Julian dengan wajah serius.


Bulan tak menanggapi omongan Julian. Ia tak mau memberikan harapan palsu pada laki-laki lain karena dirinya sudah bertunangan dengan orang lain.


❤️❤️❤️


Dukung karya aku dengan menambahkan ke favorite kalian ya, paling gak kasih hadiahnya dong. Bersedekah di bulan berkah semoga menjadi barokah 😉