What I Think

What I Think
ijinkan aku bersamanya Tuhan



Happy Reading,


......................


Rachel tak pernah sedikitpun meninggalkan Sunny, sudah tiga hari Rachel menjaga Sunny. Bahkan Sunny sendiri sangat bahagia melihat Rachel berada di sampingnya.


"Sunny, kau harus segera makan supaya lekas sembuh" ucap Rachel yang tak pernah sibantah oleh Sunny.


"Aunty, Sunny senang sekali bisa punya keluarga kayak Aunty" ucap Sunny bahagia terlihat dari wajahnya yang cerah, senyum simpul selalu merekah.


"Sampai kapanpun, selamanya kau adalah keluargaku Sunny" Rachel memeluk Sunny yang duduk.


"Aunty nangis ya?" tanya Sunny yang merasa bahunya basah terkena air mata Rachel.


Rachel berpura-pura menyeka air matanya,


"Aunty merasa ada debu yang masuk kedalam mata Aunty" alasannya. Sebenarnya Rachel sendiri ingin jika Sunny memanggilnya dengan sebutan Mama bukan Aunty. Tapi dia berpikir jika Sunny masih perlu waktu untuk mengetahui bahwa Rachel adalah Ibu kandungnya selama ini.


Perbuatan Hery di masa lalu sangat tak waras. Dengan teganya dia menjual anaknya sendiri untuk melunasi semua hutang-hutangnya. Akibat itu Rachel harus terpisah juga dari anaknya.


Tepat hari ini hari yang sudah ditunggu-tunggu Alex mengenai hasil tes DNA itu sudah keluar. Dokter Anton segera menghubungi Alex. Dia meminta Alex untuk segera datang ke Rumah sakit.


"Kau pasti bahagia Tuan melihat hasil test DNA ini" ucap Dokter Anton memegang amplop hasil test DNA Sunny.


**


"Elu mau kemana Lex?" tanya Devan melihat Alex mengambil kontak mobilnya disaat rapat meeting dimulai.


"Gue harus pergi sekarang Dev, ada sesuatu yang penting" ucap Alex.


"Tapi rapat meeting kita ini juga penting__" sahut Devan yang tak mau Alex melewatinya begitu saja.


"Gue yakin elu bisa handle semua. Gue percaya elu Dev" sambil menepuk bahu Devan pelan segera berlalu.


"Ta_tapi Lex...," belum selesai Devan berbicara Alex sudah menutup pintu ruangan mereka.


"Sial! kenapa dia harus pergi disaat penting seperti ini.., " gerutu Devan.


"Siapa yang pergi Dev?" tanya Reyna yang tak terdengar kapan masuknya.


"Elu ngagetin gue aja Reyn!" Devan sedikit berjingkat karena Reyna tiba-tiba masuk tanpa suara pintu masuk.


"Siapa yang pergi?" Reyna mengulangi pertanyaannya lagi.


"Noh si Galak!" ledek Devan.


"Berhenti mengatakan sepupuku Galak Devan dia hanya Cool" Reyna terkekeh dengan ucapannya. Tidak dengan Devan dia malah menjulurkan lidahnya saat Reyna mengatakan Alex seorang yang cool.


"Cool darimana? dari dalem hidungnya" dengus kesal Devan.


"Dev, apa nanti Tuan Zack ada di rapat meeting kita?" tanya Reyna menyelidik.


"Harusnya dia datang, dia investor saham tertinggi di proyek kita" ucap Devan yang baru diketahui oleh Reyna.


"Wow.. sudah tampan, masih muda dan kaya pula" puji Reyna.


"Ya.., begitulah" tanggapan Devan biasa saja. Pasalnya sudah terbiasa orang-orang memuji kesuksesan Zacklee karena dibalik kesuksesannya terdapat seseorang yang selalu mendukungnya.


Tok.. tok..


ceklek,


"Tuan, Nyonya semua tamu sudah berkumpul di ruang rapat" ucap salah seorang Karyawan. Lalu Devan maupun Reyna segera menuju ruang rapat.


**


Alex tiba di Rumah sakit dan saat ini sedang bersiap membuka isi amplop hasil test DNA Sunny.


Perlahan Alex membuka isi amplop tersebut dan membacanya pelan-pelan. Sampai di akhir bacanya Alex terkejut tak percaya jika Sunny memang darah dagingnya. Bahagia bercampur haru menjadi satu didalam hati Alex. Bahkan Dokter Anton yang memperhatikannya ikut merasakan kebahagiaan.


Alex kemudian berterimakasih kepada Dokter Anton dan ingin segera menemui Sunny. Saat Alex hendak memasuki ruang rawat Sunny langkahnya terhenti saat melihat Rachel keluar dari dalam sana. Bukan Alex tak mau menemui Rachel, tetapi Alex perlu berfikir agar Rachel mau membahas masa depan Sunny dengannya.


Ini memang berat buat Alex, tetapi dia juga harus mempertanggung jawabkan perbuatan serta ucapan sebelumnya yang tak mengakui Sunny adalah anaknya. Bayangan saat-saat bersama Rachel semuanya terlintas sangat jelas, bahkan sekarang Alex mengingat bercak darah yang terdapat di selimutnya malam itu bersama Rachel. Dulu dia berpikir jika itu bukanlah darah melainkan selimut yang belum bersih dicucinya. Sekarang Alex sudah sangat yakin jika Sunny adalah anak kandungnya, meski dirinya belum bisa membuka hatinya untuk Rachel.


"Aunty.., " suara kecil dari Sunny mengingatkannya dengan Felix dan Fiona, tetapi Alex tepis karena rasa ingin dekatnya dengan anak kesayangannya.


"Om siapa?" tanya Sunny setelah melihat Alex.


"Om teman Aunty kamu, perkenalkan nama Om adalah Om Alex" jawab Alex pelan-pelan agar Sunny tak merasa takut.


"Om Alex temannya Aunty?" tanya bocah kecil itu memastikan.


"Iya sayang, Om teman Aunty kamu. Om bawakan kamu boneka cantik seperti kamu" sambil menyodorkan paper bag kepada Sunny.


Sunny yang menerimanya langsung membuka isinya, dan betapa terkejutnya saat Sunny melihat boneka Barbie yang rambutnya sedikit bergelombang seperti rambut Sunny.


"Terimakasih Om, Sunny sangat suka. Boneka ini sangat cantik" ucap Sunny sambil memeluk Alex.


Tak mau melewatkan kesempatan Alex pun ikut memeluk Sunny yang masih berada diatas bed nya. Ada rasa bahagia bercampur haru saat Alex memeluk Sunny. Ingin sekali dirinya mengatakan sebenarnya kalo dirinya adalah Ayah kandungnya. Tak terasa air mata Alex menetes dan segera menyekanya.


'Ijinkan aku bersamanya Tuhan' batin Alex.


"Apa Sunny sudah sekolah?" tanya Alex menangkup kedua pipi Sunny.


Sunny menggeleng. Dia memang tak pernah merasakan yang namanya bangku sekolah karena Madam maupun Hery tak memasukkannya ke Sekolah.


Sunny sendiri belajar hanya mengandalkan para wanita-wanita ja***" disekitar situ yang perduli dengannya.


"Apa Sunny mau sekolah? tanya Alex yang mengerti jika putrinya tak mungkin bisa bersekolah di tempat laknat seperti itu.


"Om Alex ga bohong kan?" tanya Sunny memastikan.


"Om janji setelah Sunny sembuh, Om akan daftarkan Sunny di sekolah yang berada di tengah kota" jawab Alex sambil mengaitkan jari kelingkingnya di kelingking mungil Sunny.


Sunny sangat bahagia sekali karena cita-citanya untuk bisa bersekolah akhirnya tercapai.


ceklek,


"Sunny, Aunty ba_wa_kan kau kue ulang tahun" ucap Rachel sedikit terkejut melihat Alex bersama Sunny.


"Aunty, Sunny bahagia karena Aunty dan Om memberikan kejutan yang ga pernah Sunny dapatkan" ucap Sunny dengan mata yang berkaca-kaca.


"Apa hari ini ulang tahunmu sayang?" tanya Alex.


"Kata Aunty hari ini Sunny berulang tahun yang ke 6. Iya kan Aunty?" tanya Sunny memastikan.


Rachel hanya tersenyum, dia sedikit canggung karena Alex berada disana.


"Kalo begitu selepas dari sini Om janji akan membuatkan pesta yang meriah ulang tahunmu sayang" Alex sambil mengecup pipi Sunny.


"Kau sangat menggemaskan sayang".


Rachel tak bisa berbuat apa-apa, dalam hatinya dia sangat bahagia karena Alex sangat peduli dengan Sunny. Tetapi disatu sisi Rachel takut jika Alex membuat Sunny kecewa karena Alex tak mengakuinya sebagai anak kandungnya.


" Rachel, kenapa kau melamun? bukankah Sunny harus meniup lilinnya?" ucap Alex menyadarkan lamunan Rachel.


Rachel yang gugup lalu segera mendekati Sunny dan Alex. Lalu segera menyalakan api diatas lilin yang yang sudah siap beserta kuenya.


"Sunny, kau mintalah permintaan sebelum meniupnya" ucap Rachel mengingatkan Sunny yang akan meniup lilinnya.


"Tak perlu Aunty, Sunny merasa Tuhan mengabulkan permintaan Sunny untuk bertemu Mama dan Papa Sunny. Sunny merasa Aunty dan Om seperti Mama dan Papa sunny" ucapnya bahagia.


Rachel dan Alex saling bertukar pandangan. Tak tahu harus bahagia atau gimana.


......................


Terimakasih para pembaca setia Author🙏


Semoga Rezeki para pembaca dimudahkan serta dilancarkan oleh Allah🤲🤲


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya ka..


LIKE, VOTE, COMMENT plus Mawar merah tercintanya 🌹