
Happy Reading...
Walau kau jauh dari pandanganku, Do'a ku selalu bersamamu...
......................
"Fiona, Papa akan membawa Mommy pulang. Kau tenanglah..," ucap Zacklee menenangkan putrinya yang sedang menangis.
"Papa, Fiona merindukan Papa dan Mommy... Cepatlah pulang" pinta si Kecil Fiona.
"Fiona, Papa dan Mommy akan segera pulang. Sekarang kau arahkan ponselnya ke Ka Felix, Papa ingin bicara dengannya" pinta Zacklee.
Ada rasa sakit hati dalam hatinya melihat Felix masih terlihat syok. Seharusnya Zacklee tak menuruti perintah Paolo untuk pergi ke Negara S. Seharusnya dia bersama istri dan kedua anaknya di Rumah.
"Felix..," panggil Zacklee kepada Felix.
Felix hanya menatap Zacklee di dalam layar ponsel dengan tatapan kosong. Tak ada kata yang keluar dari bibirnya. Felix terus menatap Zacklee.
"Felix sayang Mommy kan? Felix harus tetap semangat agar Mommy tak bersedih saat pulang nanti. Papa janji akan membawa pulang Mommy" ucap Zacklee. Ingin sekali dia memeluk putranya, tetapi tidak saat ini. Misinya saat ini adalah membawa Ellena pulang kembali bersama keluarga kecilnya.
"Ka Lee, kau tenang saja. Aku dan Kia akan menjaga Felix dan Fiona. Cepat bawa pulang Ellena, dia sedang mengandung selamatkan dia Ka..," ucap Clara memohon.
"Kau tenang saja Clara, meski nyawaku taruhannya aku siap asal istri dan anak dalam kandungan istriku selamat" sahut Zacklee kemudian menutup panggilan videonya. Meremas ponselnya menatap keluar jendela mengingat terakhir kali dirinya berkomunikasi dengan istrinya.
"Seharusnya pagi itu aku tak mengecewakanmu Ell, seharusnya pagi itu menjadi pagi yang bahagia seperti pagi-pagi sebelumnya saat kita berkumpul bersama" gumam Zacklee mengingat pagi terakhir bersama Ellena dan kedua anak kembarnya.
Ceklek,
"Zack..," panggil Revan. Kemudian masuk Shandy, Alex dan Devan.
"Lee.., apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Shandy yang baru tiba.
"Kalian..," Zacklee sedikit terkejut melihat kedatangan sahabatnya.
"Dimana Ellena Zack?" tanya Alex khawatir.
"Aku belum tahu Lex, Paolo berhasil kabur saat aku dan Dewa mengejarnya"
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Devan.
"Ada yang menjual Ellena kepada mafia itu" ucap Zacklee mengepalkan Tangannya.
"Menjual? apa maksudnya Lee?"
"Aldo, ternyata memiliki hutang kepada mafia itu dia dengan sengaja membayar semua hutangnya dengan menjual Ellena"
"Breng***! setelah ini kau akan habis di Tanganku Aldo!" umpat Shandy, Alex dan Devan mereka tak menyangka jika Aldo dalang dibalik penculikan Ellena.
"Kalian tenang saja, Dewa sudah menyekapnya di ruang bawah tanah" ucap Revan.
"Revan, bawa gue menemui Aldo. Aku yang akan menghabisi dia dengan Tanganku sendiri" ucap Shandy berapi-api.
Mereka semua mengikuti Revan menemui Aldo yang sudah di siksa lebih dulu oleh Dewa.
"Heh bocah tengil, bisa apa kau mengalahkan Paolo. Paolo lebih hebat darimu, cuih" Aldo yang sudah babak belur tak kapok dia malah mengejek Dewa dengan meludahinya.
Dewa tersenyum kecut mendengar ocehan Aldo. Dewa lalu menghujamkam pukulan ke wajah Aldo. Disaat Dewa melakukan siksaannya kepada Aldo, Zacklee dan yang lain tiba.
Bukan Shandy atau Zacklee yang menambah siksaan Aldo, kali ini Tangan Alex yang terus menghujam perutnya. Alex sudah tak bisa mengontrol emosinya, dia marah, kecewa kepada Aldo karena sudah membohonginya.
"Sepertinya kau tak perlu membunuhnya Lee, Alex sudah mewakili kita semua" ucap Devan melihat kegilaan Alex yang menghajar Aldo benar-benar tak bergerak.
"Kau tahu Aldo, elu tu ga layak buat hidup. Temui ajalmu segera. Bugkh!" kali ini Alex menendang tubuh Aldo yang sudah tersungkur.
"Lex, kita kasihkan tubuh Aldo kepada Rodrigo" ucap Devan.
"Pumpung Rodrigo sedang kelaparan, idemu brilliant Dev," sahut Revan.
Dewa tersenyum kecut kemudian mengambil rokok dari balik bajunya, mengambilnya sebatang dan menjepitnya di kedua jarinya, menaruhnya diujung bibirnya dan menyalakan rokoknya, menyesapnya kemudian mengeluarkan asapnya.
"Gimana Bos, apa dia menjadi santapan lezat Rodrigo? " tanya Dewa kepada Zacklee.
"Terserah kalian saja, aku sudah tak peduli dengannya. Yang aku mau istriku kembali. Kau cepat cari tahu dimana Paolo menyekap istriku" jawab Zacklee.
"Aargh.., " Ellena tersadar dari pingsannya. Dia memegangi Kepalanya yang terasa sangat pusing. Kemudian Ellena mengerjap-ngerjapkan Matanya melihat ke sekelilingnya.
"Aku dimana?anakku?" ucap Ellena menyadari kandungannya.
"Anakku apa kau baik-baik saja?" tanya Ellena sambil mengelus-ngelus perutnya.
"Ka Lee, dimana kau?" tanya Ellena dalam hatinya.
Ceklek,
"Kau, segeralah makan. Tuanku akan marah jika melihatmu tak makan" ucap salah satu anggota Black Panther yang di suruh mengantarkan makan untuk Ellena.
"Tuan, sedang dimana aku sekarang? Ada urusan apa sehingga aku dibawa kesini" tanya Ellena.
"Kau tanyalah pada Bosku sendiri" ucap anggota Black Panther.
"Kalo begitu antarkan aku kepada Bosmu, aku mau mendengarkan alasannya kenapa dia membawaku" sahut Ellena.
"Kau tenanglah, lebih baik kau makan aku akan mengantarmu ketempat Bosku" ucap anggota black panther kemudian mengunci kembali Ellena.
"Tuan..Tuan.. Kau tak bisa mengurungku seperti ini" teriak Ellena sambil menggedor-gedor pintu. Tak mendapatkan tanggapan, Ellena lantas menjatuhkan dirinya sambil menangis meratapi nasib dirinya yang tak tahu ada dimana saat ini.
"Ka Lee..Hiks.. Hiks.. Hiks.., aku percaya kau pasti datang menolongku" tangis Ellena memanggil sang suami.
Sementara di ruang utama Black Panther, Paolo menendang barang-barang semua yang ada di dalamnya.
"Breng*** kau Zacklee! tunggu pembalasanku, aku akan membunuhmu dengan Tanganku sendiri. Kau sudah berani bermain-main dengan Black Panther" umpat Paolo meratapi kekalahannya.
"Apa kau tak bisa menendang yang lain?" cibir seorang pria yang baru tiba heran melihat markasnya berantakan.
"Tutup mulutmu! aku sedang kesal" sahut Paolo dengan sewot.
"Siapa orang yang sudah berani mengalahkan seorang Paolo ketua Black panther?"
"Sekali lagi kau bersuara, aku pastikan ku robek mulutmu sekarang juga!" pekik Paolo.
"Hai bro, tenanglah. Kau sudah membuang tenagamu dengan sia-sia, lebih baik kau pikirkan rencana menghancurkan musuhmu itu"
"Kau benar Brian, aku harus menghancurkan musuhku membunuh dengan Tanganku sendiri" ucap Paolo kepada Brian.
"Lagian aku sudah memiliki senjata yang membuatnya menyerahkan diri kepadaku tanpa harus bertarung" Paolo dengan senyum smirknya.
"Maksudmu?" tanya Brian.
"Anggotaku sudah berhasil membawa istrinya ke Markas, dia sangat cantik tetapi sial dia sedang bunting" umpat Paolo.
"Hahaha..., kenapa kau mengincar wanita bunting. Bukannya kau anti dengan wanita hamil?" cibir Brian.
"Aldo si breng*** itu sudah menukarnya pada sebagai ganti hutang-hutangnya kepada Black Panther"
"Apa dia sudah gila menukar istri orang dengan hutangnya?" Brian tak habis pikir.
"Dan kau, kau menerima begitu saja. Dasar gila!"
"Awalnya aku tak tertarik, setelah aku melihat wajahnya di Foto yang diberikan Aldo aku jadi tertarik untuk memilikinya Brian"
Brian tersenyum, tak heran dia kepada Paolo yang menyukai wanita cantik. Yang dia heran kenapa dia menyukai wanita bunting.
"Kau ikutlah denganku menemuinya, anggotaku mengatakan jika wanita itu sudah berada di ruang tengah"
Brian mengikuti Paolo dari belakang, sesampainya di ruang tengah dia meminta anak buahnya membukakan pintu ruangan yang di buat menyekap Ellena.
Ceklek,
Mendengar suara seseorang membukakan pintu, Ellena segera beranjak dari duduknya dan segera menyeka air matanya.
Derup langkah kaki memasuki ruangan, Brian yang menyadari jika itu Ellena membelalakkan matanya. Dia tak menyangka jika wanita yang di maksud Paolo adalah Ellena.
'Ellena' ucap Brian dalam hati.
Bersambung....