
...Happy Reading.... ...
......................
"Kenapa harus gue?" protes Devan saat dirinya terpilih menjadi nominasi pria penyelundup.
"Elu pikir sekali deh, kalo Alex yang masuk sudah dipastikan mereka akan mengenalnya secara ini tempat, tempat langganan dia sebelum insyaf. Kalo Zacklee yang masuk mereka juga akan mengenalnya secara elu tau sendiri Zacklee orang terkenal di Kota ini. Kalo Shandy yang masuk, bisa-bisa dia nyabut sahamnya dari resort elu" ucap Revan membujuk Devan.
"Lah, itu kan mereka? Nah elu??? Kenapa kagak elu aja" protes Devan merasa ada yang tak beres.
"Kalo gue, takut kena azab Nyonya" pasang muka ketakutan.
"Cih.., Kampret elu ya.. Alesan!!" decih Devan yang merasa terkalahkan.
"Uda.., itung-itung elu beramal Dev" sindir Shandy.
"Sial! Ini mah namanya bukan amal, tapi tega tau ga" kesal Devan karena sahabat - sahabatnya tak ada yang berpihak dengannya.
Sebelum Devan menyetujui, Devan memanggil Zacklee yang masih terdiam.
"Zack.., " panggil Devan sebelum keluar dari mobil. Zacklee pun lalu menoleh disusul para sahabat - sahabatnya
"Ini ga gratis loh.., " Memasang wajah serius.
"Maksud elu??" ucap Zacklee yang tak mengerti dengan ucapan Devan.
"Restuin gue ama Kia ya.., " sambil cengar-cengir dan menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal.
Zacklee, Alex, Shandy dan Revan ternganga tak percaya jika Devan menyukai Zaskia.
"Penting kerjaan elu berhasil" jawab Zacklee.
"Yes! " ucap Devan sambil menaikkan kepalan tangannya dan menurunkannya segera.
"Tuh anak benar-benar lagi bucin apa ya.., " ucap Revan masih menatap Devan tak percaya jika pada akhirnya dia menjadi budak cinta Zaskia.
Devan memasuki Rumah Bordil dengan gagahnya, kepala sedikit diangkat dada membusung.
"Selamat malam Tuan, kami memiliki barang yang sangat bagus. Dijamin anda akan puas dengan yang satu ini" ucap Madam sambil mengedipkan salah satu matanya.
Devan tersenyum,
"Kau memang tau seleraku Madam" ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya juga.
"Aw.., kau terlihat sexy Tuan" ucap Madam sambil mencubit pinggang Devan dan itu membuatnya bergidik ngeri.
'Awas kalian semua, sudah menyuruhku menjadi pria breng*** malam ini' batin Devan mengumpat kesal sahabat-sahabatnya.
Madam terus saja membelai wajah tampan Devan membuat Devan merasa risih dan jijik.
'Sial! Habis ini gue harus mandi kembang tujuh warna tujuh rupa di atas langit tujuh bidadari' tak henti-hentinya Devan mengumpat kesal.
"Madam, apa disini ada seorang wanita yang lebih spesial dari yang kau beritahu aku tadi?" tanya Devan memastikan memulai rencananya.
"Ouh.., kau ingin yang lebih spesial Tuan?" tanya Madam yang tak curiga sedikitpun.
"Tentu, jika ada yang lebih spesial kenapa tidak.., " ucap Devan.
"Ada yang lebih spesial, tetapi kau harus membayarnya dengan harga yang sangat tinggi" ucap Madam membisikkan di Telinga Devan.
"Aku akan membayarnya sepuluh kali lipat saat ini juga" ucap Devan tanpa berpikir panjang.
"Kau sangat pengertian Tuan" ucap Madam bahagia, dan dengan segera Devan langsung meng-klik tombol di ponselnya untuk mengirimkan uang sepuluh triliun ke rekening Madam.
Dan saat itu pula senyum Madam mengembang karena bahagia menerima transferan dari Devan.
'Habis ini gue bakal minta ganti sama elu Zack' batin Devan menyesal karena sudah mentransfer sejumlah uang tabungannya.
"Kau, antarlah Tuan tampan ini ketempat spesial" perintah Madam yang langsung dituruti oleh anak buahnya.
Devan mengikuti anak buah Madam, dia masih berpura-pura untuk mencari tahu keberadaan Ellena dan Rachel. Tak sengaja Devan menginjak sebuah mainan bebek-bebekan.
"Maaf Tuan, mainan saya jangan diinjak" ucap gadis kecil seumuran Fiona dan Felix.
'Kenapa ada anak kecil di tempat seperti ini' batin Devan.
Devan lalu berjongkok mensejajarkan tubuhnya, sedikit terkejut dengan wajah gadis kecil yang cantik ini.
'Kenapa wajahnya sangat familiar, dia seperti__ hissst..., tak mungkin'
"Maaf ya cantik, Om tak sengaja. Ini mainan ku maaf kalau Om merusaknya. Om janji akan menggantinya" ucap Devan lembut, entah mengapa hatinya begitu dekat dan sangat familiar, tetapi Devan belum bisa berpikir karena saat ini yang dia pikirkan hanya menyelamatkan Rachel dan Ellena.
"Sunny ga apa-apa Tuan.., Sunny akan mencari mainan Sunny yang lain" jawab gadis kecil itu tersenyum dan berlalu.
Devan mengikuti arah gadis kecil itu berjalan sambil mengingat-ingat senyum gadis kecil tersebut seperti milik siapa.
"Tuan, mari kita menuju ke kamar" ucap anak buah yang bertugas mengantarkan Devan.
"O.. mari, " jawab Devan sedikit gugup. Sambil berjalan tetapi sesekali melirik kearah gadis kecil yang hampir tak terlihat punggungnya.
***
Rachel memasuki kamar yang sudah di booking oleh seorang pria tak dikenalnya. Terlihat pria itu sedang menatap keluar jendela.
"Kau serius akan melakukannya denganku" suara pria yang sangat familiar di telinga Rachel.
Rachel dengan segera menarik pakaiannya kembali.
"Devan!!!"
"Ssssttt!" Devan dengan cepat membungkam mulut Rachel yang sedikit berteriak memanggilnya.
"Kenapa elu disini?" tanya Rachel terkejut.
"Eh, tunggu.. Apa ini salah satu rencana kalian buat__" ucap Rachel memastikan.
Devan mengangguk sambil mengacungkan jempolnya.
"Ellena dimana?" tanya Devan pelan takut terdengar anak buah Madam.
"Dia berada di kamar utama, disana sangat ketat penjagaannya. Andai aku menolak Ellena tadi pasti semua ini tak akan terjadi" ucap Rachel bersedih.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa elu bisa kenal tempat ini?" tanya Devan.
"Aku dijual Ayahku sendiri di tempat ini Dev.., " jawab Rachel membuat Devan menganga tak percaya.
"Gila ya Ayah elu! Otaknya ditaruh mana coba tega ngejual anak sendiri" umpat kesal Devan.
"Dev, pelan-pelan takut kedengeran diluar" Rachel mengingatkan Devan. Devan langsung menyadarinya dan menutup mulutnya.
"Terus rencana kau gimana?" tanya Rachel.
"Kita kelabuhi mereka, Zacklee, Alex dan yang lain sudah bersiap di luar. Kau tenang saja, setelah ini beritahu Ellena apa yang seharusnya dia lakukan untuk kerjasama ini" ucap Devan dengan mata liciknya.
Rachel dan Devan akhirnya bekerjasama mengelabuhi anak buah Madam yang berada diluar.
'Aaaaahhh Tuan, ini sungguh nikmat' teriak Rachel berpura-pura.
'Faster Baby!' teriak Devan juga.
'Aaaaahhh Tuan, kau sangat menggila' teriak Rachel sengaja.
"Bos, mereka sangat gila. Mendingan kita pergi dari sini sebelum khilaf" ucap salah satu anak buah Madam.
"Kau benar, kita disini malah semakin panas" sahut ketua anak buah Madam sambil tertawa.
Merekapun pergi meninggalkan tempat penjagaan mereka.
"Dev, kita berhasil mereka sepertinya sudah pergi" ucap Rachel yang selesai mengintip di lubang kunci pintu.
Devan dengan segera menghubungi Zacklee.
'Aman bro, mereka sudah pergi. Ellena berada di Kamar utama' ucap Devan dalam telfon.
"Mereka berdua berhasil mengusir para penjaga" ucap Zacklee selesai menutup panggilannya.
"Shandy, Revan kau lewat sebelah utara. Aku dan Zacklee akan lewat sebelah selatan.
"Dewa serta anak buahku akan segera tiba" ucap Zacklee.
"Zack, apa Devan sudah mengetahui dimana Ellena?" tanya Shandy.
"Devan bilang Ellena disekap di Kamar utama" jawab Zacklee.
"Sepertinya aku tau dimana letak Kamar itu" sahut Alex.
***
Ceklek.
"Kenapa kau berada di sini Sunny?" tanya Hery yang masuk ke Kamar utama.
"Sunny hanya mencari mainan Sunny yang hilang Tuan" sambil tersenyum manis.
'Tuan' batin Ellena merasa aneh dengan panggilan Sunny kepada Hery Ayah Rachel.
"Kalau belum ketemu nanti aku carikan. Sekarang kau keluarlah dari sini" perintah Hery kepada Sunny.
"Tapi Sunny mau disini dulu Tuan, Sunny masih ingin bermain dengan Aunty cantik" Sunny menggenggam erat tangan Ellena.
"SUNNY APA KAU TAK MENDENGARKANKU!!" Hery meninggikan suaranya dan itu berhasil membuat Sunny ketakutan dan langsung melepas genggaman tangannya.
"Sunny_" panggil Ellena lirih.
......................
Terimakasih para pembaca setia Author🙏
Semoga Rezeki para pembaca dimudahkan serta dilancarkan oleh Allah🤲🤲
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya ka..
LIKE, VOTE, COMMENT plus Mawar merah tercintanya 🌹