
Happy Reading..
......................
Ceklek,
Mendengar suara seseorang membukakan pintu, Ellena segera beranjak dari duduknya dan segera menyeka air matanya.
Derup langkah kaki memasuki ruangan, Brian yang menyadari jika itu Ellena membelalakkan matanya. Dia tak menyangka jika wanita yang di maksud Paolo adalah Ellena.
'Ellena' ucap Brian dalam hati.
Paolo memperhatikan makanan Ellena yang masih utuh kemudian,
Prang..!
Paolo membuang nampan berisi makanan dan minuman untuk Ellena.
Ellena dan Brian terkejut dengan tingkah Paolo. Apalagi Ellena, dia terlihat ketakutan melihat tingkah Paolo air mata yang sempat mengering mengalir lagi.
Sedangkan Brian dia hanya diam, dia tahu seperti apa Paolo jika sedang marah dia tak mau membuat Paolo semakin marah.
Paolo mendekati Ellena yang sedang menangis,
"Kau ternyata sangat cantik dari aslinya," ucap Aldo sambil menyentuh Pipi Ellena, tetapi Ellena tepis tangan Paolo.
"Hahahaha...," tawa Paolo melihat sikap Ellena yang menepis Tangan Paolo.
"Kau seperti suamimu, Sama-sama angkuh!"
Mendengar Paolo menyebut suami, Ellena menatap Paolo dengan tajam,
"Darimana kau mengenal suamiku?" tanya Ellena dengan ketus.
"Siapa yang tak mengenal suamimu, pria yang sudah berani ikut campur dengan Black Panther" pekik Paolo.
'Black panther? aku bahkan tak mengenal nya. Siapa sebenarnya mereka?' batin Ellena.
Pandangan Ellena tak sengaja mengarah kepada sosok yang di kenalnya, dia memberi kode Ellena agar berpura-pura tak mengenalnya. Ellena yang paham, kemudian beralih menoleh kearah Paolo kembali. Ada rasa lega di dalam hatinya saat melihat Brian. Tetapi Ellena juga heran kenapa Brian ada disini juga, ada hubungan apa Brian dan Black Panther. Ellena kemudian memendam pikirannya, yang dia pikir saat ini bagaimana cara dia bisa pergi dari tempat gila ini.
"Suamimu sudah bermain-main denganku, dan sekarang gantian aku yang akan bermain-main denganmu Ellena" ucap Paolo mendekati Ellena.
"Mau apa kau?" tanya Ellena sedikit ketakutan, langkahnya mundur menghindari Paolo yang semakin mendekatinya sehingga Ellena terjerembab ke tembok di belakangnya. Wajah Paolo semakin mendekati Ellena, tubuhnya yang kekar sudah mengunci tubuh Ellena. Melihat Paolo mendekati Ellena, Brian sengaja memanggil Paolo,
"Hai bro, apa kau akan bermain dengan wanita bunting?" ucap Brian memanggil Paolo dengan sengaja.
Paolo memberhentikan gerakannya,
"Sepertinya aku akan mencobanya, aku belum pernah bermain dengan wanita bunting" sahut Paolo dengan senyum smirknya.
"Sial! dia tak mendengarkanku" gerutu Brian, dia harus memikirkan cara lain agar Paolo tak menyentuh Ellena.
Paolo kembali mendekati Ellena, Ellena benar-benar ketakutan kali ini. Dia sangat berharap Brian bisa mencegah perbuatan Paolo.
"Bro, kau sedang terluka lebih baik malam ini kau istirahat. Biar besok kau bisa membunuh targetmu" akhirnya alasan itu yang Brian lontarkan agar Paolo tak menyentuh Ellena.
Tepat dugaan Brian, Paolo menghentikan aktivitasnya mendekati Ellena.
"Kau sangat cantik Ellena, setelah ini aku malah menginginkanmu tak perduli kau sedang hamil. Kau sudah membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama" ucap Paolo yang tak disangka oleh Ellena dan Brian.
Ellena tak menggubris ucapan Paolo, dia berharap agar bisa segera keluar dari tempat itu.
"Ayolah bro.., kau tak perlu berlama-lama disini. Kita harus merencanakan penyerangan sebelum targetmu menyerahkan bukti-bukti itu kepada Negara" rayu Brian.
Paolo sedikit berpikir, kemudian menyetujui saran Brian.
"Kali ini, kau harus menjadi milikku Ellena" ucap Paolo sebelum meninggalkan ruangan yang dibuat menyekap Ellena.
Brian dan Ellena lega akhirnya Paolo bisa keluar dari ruangannya.
"Aku harus segera keluar dari sini, tapi bagaimana? pria itu sudah benar-benar gila, dia akan mencelakai Ka Lee. Aku harus segera memberitahunya" gumam Ellena pada dirinya sendiri.
Dia terus berpikir bagaimana bisa menghubungi Zacklee dan yang lain.
Disatu tempat, Brian terus memikirkan Ellena. Brian berencana untuk segera memberitahu Zacklee atau yang lain mengenai keberadaan Ellena. Tetapi sebelumnya, dia harus berpikir untuk membawa Ellena pergi dari tempat ini.
"Brian, apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Paolo melihat Brian yang sedang melamun.
"Aku hanya berpikir, bagaimana kalo kita jebak pria itu di pulau mati" ucap Brian.
"Pulau mati?"
"Ya, pulau mati disana kau bisa sepuasnya menghajar dan menghabisi pria itu dan membuang mayatnya kedalam buaya-buaya peliharaanmu" saran Brian.
"Kau benar Brian," sahut Paolo dengan senyum smirknya.
'Oke, selama kau mengurusi anak buatmu disana aku akan gunakan kesempatan ini untuk membawa Ellena pergi dari sini' batin Brian.
**
"Sial! dia sudah membawa Ellena kedalam markasnya" ucap Shandy melihat sebuah kiriman bingkisan berisi foto-foto Ellena.
"Dev, apa kau sudah menemukan tanda keberadaan mereka?" tanya Revan.
"Aku belum bisa menembus data mereka, sepertinya mereka tau jika kita sedang melacaknya Rev," jawab Devan.
Drrrttt... drrrttt...
"Dev, ponsel elu tuh"
Devan kemudian menghentikan jemarinya yang menari diatas keyboard, lalu mengangkat panggilan ponselnya.
"Ka, apa kau sedang bersama Ka Lee?" tanya Zaskia.
"Dia sedang bersama Dewa. Ada apa?" tanya Devan.
"Aku bingung dengan keadaan Felix, hari ini dia tak sadarkan diri Ka, aku takut terjadi apa-apa dengannya.. hiks.. hiks..,"
"Ada apa Dev?" tanya Alex yang melihat kepanikan Devan. Alex lantas segera menyahut ponselnya.
"Ki, ada apa?" tanya Alex panik.
"Ka, Felix tak sadarkan diri" jawab Zaskia.
"Felix? bagaimana bisa Felix tak sadarkan diri?"
"Aku tak tahu Ka, Felix berteriak memanggil Ka Lee dan Ka Ellena setelah itu tak sadarkan diri"
"Bagaimana dengan Fiona?"
"Fiona sedang bersama Rachel dan Sunny, sepertinya jiwa mereka sedang terguncang Ka.. hiks.. hiks..," terdengar tangisan dari Zaskia.
"Kau tenanglah, aku akan menghubungi Dimas untuk memantau kondisi Felix dan Fiona" ucap Alex kemudian menutup panggilannya.
"Kita tak bisa menunggu lama, kita harus segera temukan Ellena secepatnya" ucap Alex.
"Kau benar Lex, kita tak bisa menunggu lama kita harus segera menemukan Ellena" sahut Shandy.
"Bos...," teriak Dewa memasuki ruangan.
"Kenapa kau berteriak Dewa? apa kau sudah menemukan dimana markas Paolo?" tanya Revan.
"Anak buahku sudah menemukan Nona Ellena di sekap. Tetapi Paolo meminta Tuan bos untuk menemuinya di Pulau mati" ucap Dewa.
"Pulau mati? apa ini sebuah jebakan lagi? akses ke pulau itu sangat sulit. Jika kita kesana bisa jadi kita terjebak disana" ucap Alex berpendapat.
"Dimana Lee?" tanya Shandy.
"Aku sedang mencarinya Bos, aku kira dia ada disini" jawab Dewa.
"Sepertinya aku tahu dimana dia" ucap Alex kemudian beranjak dari tempat duduknya.
Dugaan Alex benar, Zacklee sedang berada di atap.
"Aku mencarimu, rupanya elu disini" ucap Alex sembari mengambil rokok di saku celananya. Alex menyodorkan rokoknya kepada Zacklee tetapi Zacklee menolaknya.
"Ellena sudah banyak merubahmu ternyata" ucap Alex lagi.
"Kau tahu dia selalu bilang jika kau yang terbaik dalam hidupnya. Dia wanita yang berbeda dengan wanita-wanita yang lain, banyak pria yang mendekatinya tetapi hanya kau pemenangnya"
"Lex, gue nyesel andai hari itu aku tak pergi mungkin Felix, Fiona dan Ellena tak akan mengalami hal ini" ucap Zacklee menyesal.
"Semua sudah terjadi Zack, kau harus memenangkan pertarungan ini. Kalahkan Paolo dan bawa kembali Ellena" sahut Alex memberi semangat.
"Gue selalu ada buat elu..,"
"Gue juga Lee," sahut Shandy.
"Gue juga selalu bersama elu" ucap Revan.
"Sampai kapanpun persahabatan kita tak akan pernah putus," sahut Devan.
"Bos, aku juga selalu setia denganmu. Kita akan bersama-sama melawan Paolo dan Black panther" ucap Dewa.
Zacklee tak menyangka jika sahabatnya akan seperti ini. Dia sedikit terharu, kini semangatnya muncul kembali dia harus segera menemukan istrinya.
Bersambung...
**Akankah Zacklee menemukan Ellena?
simak terus kelanjutannya ges....