What I Think

What I Think
Kutuk jadi istri



Happy Reading...


"Fio...," Dewa sangat terkejut melihat Fiona menangis dipojokan seorang diri.


"Om Dewa," ucap Fiona melihat Dewa menghamlirinya. Fiona lalu berhambur kepelukan Dewa menangis di dada bidang Dewa.


Tangan Dewa yang tadinya diam, lalu mengangkat tangannya untuk membalas pelukan Fiona.


"Om... hiks.. hiks.."


"Kamu kenapa Fio?" tanya Dewa.


"Fiona sedang terkena masalah besar, hiks... hiks..."


"Masalah besar? emangnya apa Fio?" tanya Dewa kembali.


"Om janji bakal bantuin Fio," masih mode merajuk.


"Iya... emangnya apa sih Fio.."


"Om, janji dulu"


"Perasaanku kok jadi ga enak ya" ucap Dewa lirih.


Fiona menarik jari kelingking Dewa dan mentautkan dengan jari kelingkingnya, "janji ya om"


"Iya deh... buruan ngomong,"


"Ih.. sabar kali, orang tua kok ga sabaran" cibir Fiona.


Apa tadi yang dia bilang? orang tua?


"Gini Om, aku dan teman-teman yang lain ingin mengadakan party kecil-kecilan. Fio ingin Om Dewa membantu Fiona meminta ijin Om Devan"


Tuh kan permintaannya ga enak,


"Fio... Fio kan tahu kalau anak sekolah dilarang party-party, daripada party-party mending belajar biar pintar" tolak Dewa dengan halus.


"Orang tua ga asyik," sahut Fiona melengos.


"Mending Om pulang aja, Fio mau nyelesein tugas" lanjut Fiona mengusir Dewa.


"Kok jadi Om di usir?" protes Dewa.


"Daripada Om ga berguna, mending pulang aja" sahut Fiona ceplas-ceplos.


Dewa menarik pergelangan tangan Fiona sehingga Fiona terjeremban di dada bidangnya. Fiona sedikit terkejut, degup jantungnya merasakan sesuatu yang berbeda.


'Ini tak mungkin Fio..' tolak Fiona pada perasaannya.


"Masih mau nemplok disitu neng?" sindir Dewa.


Fiona yang tersadar buru-buru menarik tubuhnya jauh dari tubuh Dewa.


"Pintar banget memutar balikkan fakta,"


"Tapi kau menikmati bukan?" goda Dewa agar wajah Fiona memerah.


"Om ini bener-bener ngeselin ya, pantas aja ga ada cewek yang mau jadi istri Om,"


"Kau salah, aku begini karena masih menunggu seseorang yang sangat berarti dalam hidupku"


"Ga usah sok romantis Om.. kagak pantes sama sekali," sahut Fiona terkekeh.


"Bener-bener ini ya anak orang ngeselin banget, mau aku kutuk jadi istri?"


"Coba aja kutuk, palingan ga mempan" Fiona menjulurkan sedikit lidahnya.


'Aku kutuk beneran jadi istriku Fiona' ucap Dewa dalam hati.


Dewa lalu mengejar Fiona yang berlari terlebih dulu. Mereka berdua pulang di kediaman Zacklee.


Fiona hanya mengangguk,


Fiona masih menatap punggung Dewa yang akan menghilang.


"Ka Fio lagi fall in love ya?" suara Kaisar mengejutkan Fiona.


"Apaan sih..., anak kecil ga usah kepo" sahut Fiona.


"Kau belum bersiap ya dek?" tanya Fiona.


"Uda siap ka..," jawab Kaisar.


"Ya uda ditunggu aja paling bentar lagi Papa datang" ucap Fiona.


"Kai...,"


"Nah itu Papa...,"


"Papa...," panggil Fiona dan Kai bersamaan.


"Kau sudah siap kan Kai?" tanya Zacklee.


"Siap dong Pa...," jawab Kaisar.


"Fiona, tadi Papa sudah berpesan kepada, Dewa untuk sementara waktu ini Papa suruh dia untuk menjaga di kediaman ini,"


'Oups' Fiona melipat bibirnya mendengar ucapan Papanya.


"Papa tak mau sesuatu terjadi pada kalian, terutama kau Fio"


"Kok aku Pa?"


Zacklee tersenyum, disaat usianya yang hampir menginjak tua dia masih terlihat sangat tampan dan matang.


"Iya dong sayang, karena kau puteri satu-satunya yang Papa miliki. Jadi Papa harus ekstra menjaga Fiona" ucap Zacklee sembari mencubit gemas pipi Fiona.


"Ih... Papa, sakit tau.." protes Fiona.


"Fiona sangat sayang Papa," Fiona memeluk Zacklee dengan erat.


Begitupun dengan Fiona, Kaisar ikut memeluk Zacklee bersama.


"Papa juga sangat sayang dengan kalian semua" balas Zacklee.


"Papa belum melihat Felix, dimana dia?" tanya Zacklee menyadari jika Felix tak terlihat.


"Dia lagi galau Pa..," bisik Fiona.


"Galau?"


"Iya Pa.., sepertinya dia sedang jatuh cinta"


"Fall in love?"


Fiona menganggukan kepalanya.


"Sekolah dulu yang bener baru cari cinta" Zacklee tak mau menganggap serius ucapan Fiona.


"Siap bos papa!" sahut Fiona dengan semangat kemerdekaan.


"Dan kau juga!" ucap Zacklee menyindir Fiona.


Fiona hanya bisa tersenyum meringis mendengar ucapan Papanya yang melebihi pedasnya bon cabe.


''Fio, sampaikan ke Felix. Semua kebutuhannya sudah siap di meja biasanya" pesan Zacklee sebelum pergi bersama Kaisar.


"Beres bos" sahut Fiona menirukan gaya bicara Dewa.


Bersambung....