
ππ
Jika batu bisa hancur karena air. Begitulah Alex dan Zacklee, mereka berdua sudah saling menerima keadaan satu dengan yang lain. Hanya satu tujuan mereka melindungi dan menjaga Ellena.
"Sial! Mereka membawa Ellena pergi" Umpat kesal Zacklee setelah masuk keruangan Ryan. Tak ada satupun orang didalam sana.
Alex pun sama dia kesal karena Ryan dan Tante Widya berhasil membawa Ellena pergi. Dia memeriksa keseluruhan ruangan. Alex merasa curiga karena tak ada jalan keluar di lokasi itu.
"Zack, apa kau tak merasa aneh?" Tanya Alex yang merasa curiga.
"Ellena..," Shandy dan Revan masuk mereka mencari keberadaan Ellena.
"Kita terlambat Shand" Ucap Alex.
"Mereka sudah membawa Ellena pergi" Imbuhnya.
"Ryan.., seharusnya malam itu kau mati saja" Shandy sambil mengepalkan tangannya.
Alex teringat peristiwa malam itu saat Ellena akan dilecehkan oleh Ryan.
"Itu tak boleh terjadi, kita harus segera menemukan Ellena. Lokasi ini aneh, seharusnya mereka tak bisa keluar dari sini" Alex masih mengecek keadaan sekitar. Revan pun ikut mengecek dan merasakan keanehan pula.
"Alex benar, mereka tak seharusnya bisa keluar dari sini. Dan ini apa?" Revan menemukan sesuatu. Sehelai sobekan baju yang dikenakan Ellena terjatuh di dekat tembok besar yang menjadi pembatas ruang kamar.
Zacklee langsung menyahut sobekan yang ditemukan Revan, dia memperhatikan dengan pasti bahwa itu milik Ellena. Wajah Zacklee memerah menahan amarah.
"Breng*** kau Ryan! Kalau saja dia menyentuh Ellena sedikitpun, aku tak akan segan-segan menghabisinya" Ucapnya dengan amarah yang sudah meluap-luap.
'Sayang, aku akan segera menyelamatkamu' Batin Zacklee menggenggam sobekan baju Ellena.
"Sepertinya ini bukan tembok biasa" Revan sambil memukul-mukul tembok di depannya.
Drrt.. Drrt.. Drrt..
Alex segera mengangkat panggilan dari Devan lalu mengeraskan volume panggilannya 'loudspeaker' agar semuanya mendengar.
'Aku sudah bisa meretas keberadaan tante Widya. Dia berada di sebuah ruangan yang menghubungkan dengan mansion rahasia yang pernah Ryan ceritakan' Ucap Devan yang sudah berhasil meretas keberadaan Ryan.
"Maksudnya mansion yang Ryan jadikan sebagai tempat persembunyiannya dulu" Shandy memastikan.
'Iya Shand.., jadi memang Ryan itu pernah memiliki riwayat gangguan kejiwaan sebelumnya. Tante Widya sengaja mendirikan Rumah Sakit Kejiwaan untuk mengelabuhi para petugas terkait untuk menutupi masa lalunya. Tante Widya dan Ryan yang masih berusia 15th ternyata ikut terlibat dalam pembunuhan Papanya sendiri dan selingkuhannya' Devan menjelaskan panjang lebar. Dirinya sendiri sangat terkejut setelah menemukan data riwayat kejiwaan Tante Widya dan Ryan.
'Kalian segeralah temukan Ellena, dia tidak jauh dari tempatmu' imbuhnya Devan yang melihat laptopnya jarak titik kuning masih dekat dengan keberadaan sahabatnya.
"Devan, apa kau bisa mencari petunjuk lagi? Kita belum bisa menemukan letak pintu rahasia itu" Sahut Revan.
Dengan lihai tangan Devan mulai menari di atas keyboard laptopnya.
'Ketemu' Ucap Devan berhasil menemukan pintu rahasia.
'Lex, tembok sebelah utaramu itu adalah pintu rahasianya. Kalian carilah tombol untuk membukanya' Ucap Devan sambil memperhatikan laptopnya.
Alex dan yang lain mencari tombol yang diarahkan Devan.
Zacklee menemukan sebuah tombol yang tertutup sebuah nakas.
"Dev, aku menemukannya tapi ini menggunakan sebuah kata sandi untuk membukanya" Ucap Zacklee.
"Devan, apa kau bisa menembus kata sandi ini?" Tanya Shandy.
'Aku belum bisa menemukannya'. Sahut Devan.
"Ryan itu sosok seorang yang ambisius. Dia selalu terobsesi dengan tujuannya. Apa mungkin kata Shandy ini menggunakan nama Ellena atau identitas lainnya?" Pendapat Revan.
Zacklee lalu menekan identitas kelahiran istrinya. Dan benar saja tembok tersebut bergerak membuka.
"Dia ternyata masih sangat terobsesi dengan Ellena" Gumam Alex yang semakin kesal.
''Devan pintunya terbuka, beritahu kami harus kearah mana? Barat atau timur?" Tanya Alex yang bingung dengan kedua arah didepannya.
'Kalian kearah Timur, aku akan mencoba menutup akses sebelah barat untuk menghadang anak buah Tante Widya yang mulai mendekat' Ujar Devan yang melihat pergerakan anak buah Tante Widya semakin banyak.
'Zacklee, mintalah Dewa untuk datang membantu kalian' Pesan Devan.
Zacklee segera mengikuti perintah Devan menghubungi Dewa. Tanpa menunggu lama Dewa segera bergegas menerima tugas bosnya.
"Zack, apa yang kau pikirkan. Ayo kita pergi dari sini" Panggil Alex yang melihat Zacklee masih berdiam diri.
"Aku hanya mengkhawatirkan istriku Lex"
" Istrimu pasti bisa mencari cara supaya kita segera sampai kesana. Ingat, dia pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya " Sahut Alex yang belum dimengerti Zacklee.
Zacklee sedikit berpikir, tapi segera dia tepis karena suara Anak buah Widya sudah terdengar dekat dengan mereka.
''Devan, segera tutup pintunya dan rubah kata sandinya'' Teriak Alex yang langsung diterima Devan. Dan dia berhasil menutup tembok tempat masuk dan sebelah barat.
**
'Apa yang harus aku lakukan' Batin Ellena bingung karena Ryan benar-benar nekat akan menikahinya.
"Aku harus katakan apa? Aku harus mengulur waktu agar Ka Lee segera datang. Aku yakin Ka Lee akan datang menolongku" Ellena bermonolog pada dirinya sendiri dengan lirih.
"Belum suster, aku sedikit kesulitan memakainya karena gaunnya terlalu sempit di tubuhku" Ellena beralasan.
"Apa itu sangat sempit Nona?" Tanya suster sekali lagi.
"Iya suster, " Ellena lalu keluar dengan gaun yang tak bisa di resleting.
"Lihatlah Sus.. Ini sangat sempit sekali di tubuhku. Sehabis aku melahirkan si Kembar, aku sedikit gendutan" Ucap Ellena Berpura-pura.
"Nona sudah pernah melahirkan?" Tanya suster terkejut.
"Iya Suster, aku melahirkan 2 anak sekaligus" Jawab Ellena yang berhasil menarik simpati suster tersebut.
"Tapi, Nyonya Widya mengatakan jika Nona masih single"
"Suster, bagaimana aku bisa single sedang aku masih sah istri dari Zacklee Mahendra" Jawabnya jumawa membanggakan suaminya yang terkenal di dunia bisnis itu.
"Tuan Zack_lee" Suster itu tak percaya sampai menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Nona, maafkan saya. Saya tak tahu jika anda adalah istri dari Tuan Zacklee yang sudah menolong Bapak saya yang sedang sakit di Rumah sakit milik suami Nona" Suster itu sedikit membungkuk memberi hormat.
"Nona, lalu kenapa Nona mau menikah dengan Tuan Ryan?" Lanjutnya merasa heran.
"Suster.., " Panggil Ellena mendekat membisikkan sesuatu kepada suster tersebut.
"Baik Nona, sebagai balas budiku kepada Tuan Zacklee aku akan membantu Nona keluar dari sini" Ucapnya setelah mendapat bisikan dari Ellena.
Hampir 1 jam Ryan, Widya dan penghulu menunggu Ellena keluar.
"Ma, ini sudah hampir 1 jam tapi kenapa Ellena belum keluar juga" Ryan yang sudah rapi dengan kemeja dan jaznya.
"Kau sabarlah sayang, sebentar lagi mereka keluar" Ucap Widya menenangkan Ryan. Sebenarnya dia pun merasa aneh dengan lamanya Ellena berdandan. Widya lalu berjangkit dari tempat duduknya untuk menghampiri Ellena. Tetapi di langkah keduanya mereka berdua masuk.
"Kalian, kenapa lama sekali" Bentak Widya.
"Dan kau Ellena, kenapa gaunmu seperti ini?" Widya protes saat melihat Ellena tak menggunakan gaun pengantin yang berbeda dari pilihannya. Gaun pengantin ini lebih besar menggunakan tutup kepala yang menjulang ke wajah pengantin.
"Maaf Nyonya, gaun pengantin sebelumnya tak muat di tubuh Nona Ellena. Makanya tadi saya menggantikan gaun sebelumnya dengan gaun sekarang yang dipakai oleh Nona" Jawab Suster dengan tenang.
"Ma.., sudahlah. Kalau Mama masih protes seperti ini Ryan kapan nikahnya" Sahut Ryan yang sudah tak sabar menikahi Ellena.
Widya pun menuruti putranya. Dia menyuruh suster untuk segera menggandeng Ellena mendekati putranya yang sudah bersiap didepan penghulu.
"Bisa saya mulai Tuan?" Tanya penghulu.
"Bisa Pak penghulu, segera nikahkan saya dengan wanita yang sangat saya cintai" Ucap Ryan bahagia.
Sedang wanita bergaun pengantin disampingnya hanya terdiam. Widya tersenyum bahagia akhirnya dia bisa membuat Ryan bahagia.
"Baiklah saya mulai" Lalu pak penghulu mengulurkan tangannya, menjabatkan tangannya dengan tangan Ryan.
"Saya nikahkan ananda Ellena Malik Maheswari dengan Ryan Rando Aliandra dengan mas kawin berlian serta mahar sebesar 50 Milyar dibayar tunai" Titah penghulu mengucap Ijab Qabul.
"Saya Terima Nikah dan kawinnya Ellena__"
BRAKKK!
Ryan menghentikan ucapannya saat mendengar sesuatu terjatuh dengan keras. Ryan berlari kearah sumber suara.
'Nona, Mudah-mudahan kau sudah berhasil lari darisini' Batin suster dengan perasaan cemas.
Melihat gerak-gerik suster yang mencurigakan, Widya membuka paksa tudung yang dipakai pengantin wanita. Betapa terkejutnya Widya jika pengantin itu bukanlah Ellena.
"SUSTER KAU SUDAH MENGKHIANATIKU" Teriak Widya dengan mata yang sudah dipenuhi amarah.
JLEB!
"Aaarrgh Nyonya" Keluh Suster kesakitan karena pisau yang menancap di perutnya.
"Ini adalah hukuman bagi orang yang berkhianat" Ucapnya lalu mencabut pisau itu.
"Aaaarrrggghhh" Teriak wanita yang menggantikan posisi Ellena melihat Widya yang psikopat.
Widya lalu menoleh kearah wanita itu dengan tatapan membunuh.
"Sekarang giliranmu karena sudah bersekongkol dengan pengkhianat" Ucap Widya lalu menancapkan pisau tersebut ke dada wanita itu.
Widya tertawa terbahak-bahak merasa puas karena sudah membunuh dua wanita yang mengkhianatinya.
"Ma.., Ellena kabur aku harus mengejarnya" Teriak Ryan yang mulai gila.
"Ellena, kau harus mati karena sudah bermain-main denganku" Widya sambil menempelkan pisau berlumuran darah itu di pipinya.
...----------------...
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya gesssπβ€