
Hai... Hai.. Hai... apa kabarnya para readers semua...
Othor mau infoin nih kenapa othor ga bikin judul baru aja buat kelanjutan kisah Felix dan Fiona?
Jawabannya karena othor pingin aja kisah ini berlanjut sepanjang jalan kenangan kita... hehe..
Jadi untuk yang kemarin chat kenapa ga di bikin judul baru jawabannya itu ya...
Apa nanti ada judul baru buat kisah lain? tentu ada... ditunggu saja ya kisah barunya🥰
Dukung terus karya othor ya ka....
Happy Reading.....
...****************...
Kini Reyna harus mempertanggung jawabkan kelakuannya di jeruji besi. Menyesal itu pasti, karena Alex sebagai saudara sepupunya tak mampu memaafkan kelakuannya. Bahkan Brian mantan suaminya sangat membenci Reyna setelah apa yang dia lakukan kepada Ellena sekeluarga.
Untung saja waktu itu Felix tak memukul wajahnya hingga hancur jika bukan karena leraian Ellena. Semua perkataan yang keluar dari Ellena, Felix tak mampu hanya sekedar menolaknya. Meski saat itu Felix sangat ingin membunuhnya. Untung saja Zacklee beserta yang lain tiba dengan tepat waktu. Ucapan Zackle benar jika anak Singa jauh lebih mengerikan ketimbang induknya.
Felix sudah membuktikan jika dia adalah anak Singa yang sangat mengerikan, setiap aumannya mampu membuat para musuh bergetar merinding. Nick sebagai sahabat Felix dari kecil baru menyadari sifat asli sebenarnya.
"Kalau saja Mommy tak meleraiku sudah kupastikan dia akan mati ditanganku," ucap Felix.
"Elu lebih mengerikan dari Devil, gue jadi merinding deket-deket sama elu" sahut Nick berada disampingnya.
Felix hanya meliriknya saja tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Mari kita semua pulang," ucap Revan menatap kesal kearah kedua pria remaja didepannya. Revan kesal bukan Reyna yang mencoba mencelakai Ellena melainkan karena anaknya yang terlihat sangat cuek dan malas berbicara ternyata memiliki sisi kejam seperti Dhea.
Nick bisa melihat raut kekecewaan dari Revan saat ini, jadi Revan hanya menuruti dan mengikuti Revan dari belakang. Sedangkan Felix dia sama sekali belum ingin beranjak dari tempat duduknya, dia masih ingin dipertemukan dengan Reyna kembali. Untungnya Dewa dan yang lain berhasil membujuknya sehingga Felix mau melepaskan kursi duduknya.
"Aku sama uncle Dewa," pinta Felix sebelum Zacklee dan Alex memintanya semobil dengannya.
Zacklee dan Alex saling melemparkan pandangan, menuruti keinginan Felix.
"Dia bukan lagi pria kecil kita yang dulu, beri dia waktu" bisik Ellena lirih.
Zacklee dan Alex akhirnya menuruti keinginan Felix untuk satu mobil dengan Dewa.
Dewa tersenyum melirik ke sampingnya, dia sangat senang dan bangga karena Felix tumbuh menjadi pria yang tangguh.
"Apa kau ingin langsung pulang?" tanya Dewa mencairkan suasana karena Felix sedari tadi hanya diam. Sepertinya dia sangat kesal.
"Serah Uncle dah...," sahut Felix.
"Baiklah bos kecil... aku akan membawamu ketempat dimana pria-pria tangguh sangat suka," Dewa langsung menginjak gasnya untuk melaju lebih kencang lagi.
** Revan dan Nick.
"Pa, maafkan Nick..." ucap Nick membuka obrolan.
"Apa yang perlu di maafkan, bukankah tadi perbuatan yang baik. Kau sudah menolong Aunty Ellena dan Felix dengan baik," sahut Revan sudah lama tak pernah mengobrol dengan salah satu putra kembarnya.
"Jadi Papa ga marah?" Nick memastikan.
"Putra Papa sangat luar biasa, tak ada alasan untuk Papa marah" sahut Revan.
"Terimakasih Pa...," Nick mulai bercerita dengan akrab dengan Revan. Mereka tertawa bersama membahas soal Dhea yang cerewet tapi sangat menyayangi mereka.
"Apa kau tak takut dengan Mama?" tanya Revan.
"Takut lah Pa... kalo dikutuk jadi orang jelek bisa payah,"
"Makanya Pa, Nick lebih memilih diam kalau Mama sudah panas"
"Sudah panas?" otak Revan ternyata menyahut hal yang lain mengenai panas yang didera istrinya.
"Panas mau ngomel Pa... Ha.. Ha.. Ha,"
"Sudah-sudah... Mama dan Nathan sudah menunggu kita daritadi," sahut Revan.
"Emangnya ada acara apa Pa?" tanya Nick belum mengetahui yang sebenarnya.
"Kau nti akan mengetahuinya,".
Sesampainya di sebuah restauran Revan segera memarkirkan kendaraannya. Mereka berdua turun dan segera menemui Orang yang sudah menunggunya dari tadi.
"Tumben kita kesini Pa?" sindir Nick. Karena sudah lama mereka tak mengadakan moment keluarga.
"Apa kau lupa juga kalau hari ini hari jadi Mamamu!" sahut Revan.
Nick menghentikan langkahnya, dia sudah melupakan hari lahir Mamanya. Nick yang terlalu cuek karena terlalu sibuk membaca buku bersama Felix.
"Ada apa lagi kau berhenti?" tanya Revan.
"Jangan bilang kalau kau terlalu sibuk" terka Revan.
"Aku memang sibuk Pa... sehingga melupakan moment bahagia Mama," ucap Nick bersedih.
"Kau tak perlu sedih, Mamamu pasti bisa mengerti" Revan merangkul putranya dan segera mengajaknya masuk kedalam.
Dari kejauhan terlihat senyum dari seorang yang 17 tahun yang lalu sudah melahirkannya. Senyuman itu selalu sama dan tak ada yang berbeda. Senyum dimana dalam keadaan lelah, marah, pusing selalu senyum itu yang selalu ditunjukkan.
Nick sedikit berlari berhambur kepelukan Dhea. Dhea membalas pelukan Nick yang memeluknya dengan erat.
"Mam, I'm sorry... Nick sudah melupakan hari istimewa Mama" ucap Nick.
"Setiap hari adalah hari paling istimewa untuk Mama, apa lagi setelah kelahiran kalian berdua Mama tak akan pernah melupakan moment itu," ucap Dhea bahagia mengingat kelahiran Nick dan Nathan.
"Pa, mereka curang tak mengajak kita kedalam pelukannya," celetuk Nathan.
Dhea dan Nick yang mendengar melepaskan pelukannya dan terkekeh kearah Nathan.
"Apa kita harus berpelukan seperti mereka Nath?" ucap Revan pura-pura.
"Sepertinya boleh Pa...," Nathan memeluk Revan dengan bahagia. Dhea dan Nick ikut mendekati mereka ikut berhambur kedalam pelukannya.
Hati Dhea saat ini sangat bahagia merasa dilindungi tiga pria yang sangat dia sayangi. Moment kebersamaan yang sangat dirindukan hari ini terbayar sudah. Revan sudah memenuhi janjinya, untuk membawa kedua anaknya serta dirinya berkumpul saat mereka masih kecil dimana moment itu sangat dirindukan oleh seorang Ibu yang memiliki dua anak pria.
Dhea sendiri sebenarnya baru mengungkapkan keinginannya tadi malam, saat itu dia terjaga dari tidurnya, sedangkan Revan masih sibuk berkutat dengan berkasnya. Nick dan Nathan dimana? jangan ditanya semenjak mereka remaja jarang sekali Dhea bisa berkumpul dengan mereka. Nick yang sibuk dengan bukunya serta Nathan yang super sibuk dengan kegiatannya bersama teman-temannya.
Revan yang waktu itu baru selesai mengerjakan tugas kantornya yang sengaja dia bawa pulang kerumah melihat Dhea menonton televisi sendirian, terlihat sekali dia sangat sedih karena Dhea tidak menonton televisi melainkan hanya menggonta-ganti chanel televisinya. Melihat Dhea seperti itu Revan lantas mendekatinya, disamping dia sedikit merasa bersalah itu juga karena Revan ingin mengetahui ada apa dengan istrinya.
"What do you think sayang?" tanya Revan.
"I just feel bored alone" jawab Dhea.
"Bosan?" Revan memastikan.
"Sangat bosan karena kalian semua tak pernah ada waktu untuk bersama. Apa kalian tak ingin meluangkan waktu hanya sekedar bercanda?" sahut Dhea kemudian beranjak dari duduknya dan berlalu.
Revan terdiam pastinya hatinya sangat tersentil dengan ucapan istrinya barusan. Dia baru menyadari jika Dhea sangat merindukan moment kebersamaan keluarga. Akhirnya dia terpikir untuk membuat acara hari ini.
"Thank's Ka Revan..," ucap Dhea bahagia.