What I Think

What I Think
Met bobo Om



Happy Reading...


"Anak itu.. kenapa aku jadi memikirkannya?" ucap Dewa bermonolog pada dirinya sendiri.


Dewa tanpa sadar sudah melupakan prinsipnya untuk tidak tertarik dengan seorang wanita. Kenyataannya dia malah memikirkan Fiona.


Entah ini yang dinamakan takdir kebetulan, Dewa maupun Fiona sudah dipertemukan sejak lama tetapi baru merasakan kedekatan disaat usia Fiona akan menginjak 17 tahun. Tak jauh berbeda dengan Dewa, Fiona disana juga sedang merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan Dewa.


"Fio.. sadar Fio...," Fio menyadarkan pikirannya sendiri.


"Om Dewa... kenapa aku jadi memikirkanmu" keluh Fiona lalu beringsut diantara bantalnya.


Drrrttt.. drrrttt...


Ponsel Fio bergetar, dia segera mengangkat kepalanya dan melihat ke layar ponselnya.


"Om Dewa! mau apalagi dia?" Fio terkejut karena Dewa melakukan panggilan kepadanya.


"Angkat_enggak_angkat_enggak" perlahan Fiona menggeser tombol hijau di layar ponselnya.


"Hal_lo..," ucap Fiona setelah berhasil berani menggeser tombol hijaunya.


"Lama banget sih Fio.., Om sampai keluar jamur nungguin kamu angkat telfon Om" sahut Dewa.


"Ngapain Om telfon malam-malam sih," sahut Fiona sewot.


"Sewot amat sih Fi..,"


"Terus Kakak maunya Fio gimana?" tanya gadis yang sebenarnya sedang berbunga-bunga hatinya.


"Ngucapin apa gitu.., met bobo atau mimpi yang indah gitu..," jawab Dewa.


"Ya udah deh... Met bobo Om Dewa..,"


"Kok ya udah.., ga ikhlas nih ngucapinnya" protes Dewa.


Fiona menarik nafasnya dalam, menata hatinya agar berani mengucapkan seperti yang Dewa perintah.


"Met bobo Om Dewa yang tampan, baik hati, tidak sombong, rajin menabung, dan suka bohong semoga mimpiin Fiona..," ucap Fiona pada akhirnya.


Terdengar suara Dewa terkekeh mendengar ucapan Fiona. Entah mengapa kalimatnya membuatnya hatinya bahagia. Dewa kemudian menutup panggilannya. Pada akhirnya Dewa bisa tertidur dengan tenang.


**


Di kamar bersebelahan dengan Fiona, Felix sedang merutukki dirinya. Pertemuannya dengan Kiara siang tadi membuatnya semakin bersalah.


"Sial! harusnya aku mencarinya. Kenapa jadi begini... shiiiit!" umpat kesal Felix.


"Aku harus menemuinya sekali lagi," ucap Felix.


Tok.. tok.. tok..


"Apa kau belum tidur?" tanya Ellena.


"Belum Mom...," jawab Felix.


Ceklek,


"Mommy..," panggil Felix.


"Apa kau belum tidur?" tanya Ellena.


"Mommy kapan pulang?"


"Baru saja,"


"Papa dan Kaisar?"


"Mereka sudah di kamar masing-masing. Mommy tadi tak sengaja mendengar umpatanmu. Apa yang sedang terjadi?" tanya Ellena.


"Mom, bagaimana kondisi Grandfa?" tanya Felix.


"Grandfa sudah baikan, dia menitip salam untuk kalian," ucap Ellena.


"Apa kau merindukan Grandfa?" tanya Ellena lagi.


"Sangat Mom..,"


"Papa dan Mommy berencana mengajak kalian minggu depan kerumah Grandfa," Ellena kemudian beranjak dari duduknya.


"Mom, bagaimana cara meminta maaf kepada seorang wanita?"


Ellena yang sudah melangkahkan kakinya, berhenti begitu saja. Dia selalu tahu apa yang dipikirkan anaknya terutama Felix yang sangat dekat dengannya.


"Sentuh hatinya dengan lembut," jawab Ellena tersenyum kemudian meninggalkan Felix untuk berfikir.


"Sentuh hatinya? bagaimana caranya?" Felix sedikit berpikir keras untuk mencerna kalimat Ellena.


**


"Darimana kau sayang?" tanya Zacklee.


"Ke pacar keduaku," jawab Ellena. Zacklee tersenyum dia sudah mengerti maksud pacar kedua istrinya adalah anaknya sendiri. Ellena yang awet muda sering banget dikira orang-orang yang melihatnya berjalan bersama Felix sebagai kekasihnya.


"Sudah jam segini, apa dia tak tidur?" tanya Zacklee memastikan.


"Sepertinya dia sedang ada masalah, tapi biarlah.. dia sepertimu setiap ada masalah selalu tak bisa tidur dengan tenang," sindir Ellena.


"Sayang... kau sengaja menggodaku..," Zacklee langsung meraih pinggang istrinya merapatkan dengan tubuhnya.


"Ka.., apa kau menginginkannya?" tanya Ellena.


Bukannya menjawab, Zacklee menciumi tengkuk leher istrinya. Tangan yang semula melingkar di pinggangnya sudah bergerilya kemana-mana. Meskipun mereka berdua sudah memiliki putra putri yang hampir dewasa untuk persoalan kemesraan mereka berdua masih mengutamakannya.


Keesokan pagi**


"Felix, Fiona, Kai..." panggil Ellena seperti pagi-pagi biasanya.


"Mereka belum turun sayang..," tanya Zacklee yang baru keluar kamar.


"Belum sayang, aku sudah memanggilnya berulang kali" jawab Ellena kesal, karena tak biasanya ketiga anaknya telat di jam sarapan pagi.


"Pagi Nona cantik," sapa Dewa yang baru tiba.


"Dewa, apa suamiku yang menyuruhmu datang sepagi ini?" tanya Ellena dengan mata yang membulat sempurna melirik tajam ke suaminya yang sedang menyeruput secangkir kopi hangatnya.


"Apa kau mencurigaiku sayang? aku sama sekali tak menyuruhnya datang sepagi ini," Zacklee gantian melirik tajam kearah Dewa yang sedang cengar-cengir ga jelas.


"Pagi Mom..., pagi Pa..., Pagi Om Dewa...," sapa Fiona, orang yang menjadi tersangka kedatangan Dewa pagi ini.


"Mommy... apa Mommy mengetahui tugasku yang ku simpan di dekat sini?" Kaisar menunjuk ke arah meja kerja mini yang berada di ujung ruangan.


"Lain kali simpan tugasmu dengan baik," ucap Felix dingin sembari menyodorkan tugas Kaisar.


"Terimakasih Ka Felix," ucap Kaisar.


Zacklee melirik sang putra yang duduk di sampingnya.


"Dewa, kau ikutlah sarapan bersama kita" ajak Ellena.


"Terimakasih Nona atas ajakannya, dengan senang hati" Dewa langsung mendudukkan bokongnya di kursi samping Fiona.


'Sial! kenapa dia sangat cuek'


Bersambung....