What I Think

What I Think
Duka part. 2



🍃🍃


Zacklee meminta Mamanya dan Kia untuk membantunya mendiamkan tangis si Kembar akibat ulah Alex yang cuek kepadanya. Mendengar tangis kedua anaknya, Ellena memutuskan untuk keluar kamar menghampiri mereka. Sedangkan Zacklee sendiri harus segera berangkat ke Kantor setelah beberapa hari mengambil cuti untuk merawat Ellena.


" Mommy..! ". Felix dan Fiona berhambur ke pelukan Ellena.


" Apa yang terjadi pada anak-anak Mommy? Kenapa tangis kalian seperti ini, bahkan membuat sedih Mommy ". Ellena berpura-pura menangis untuk merayu kedua anaknya agar tak menangis lagi. Tepat rencana Ellena Felix dan Fiona berhenti menangis.


" Waow, Kaka ipar.. Kau luar biasa. Bisa membuat mereka berhenti menangis ". Ucap Zaskia sambil bertepuk tangan.


" Aku bahkan hampir menyerah untuk membuat mereka diam menangis ". Keluh nya sambil memasang wajah sedih.


" Mama juga bingung tadi harus gimana, ga biasanya mereka menangis sampai seperti ini ". Sahut Trias.


Ellena tersenyum masih dengan memeluk kedua anaknya.


" Apa yang terjadi, ceritakan kepada Mommy ". Lanjutnya.


" Papa Alex Mom.. Felix dan Fiona hanya ingin memperlihatkan hasil gambar ini, tapi Papa tak sedikitpun melihatnya bahkan dia pergi tanpa pamit dengan kita. Papa Alex jahat! ". Cerita Felix sambil memperlihatkan hasil gambarnya kepada Ellena, dan disetujui Fiona.


" Sayang.., ". Ellena menarik kedua anaknya kedalam pelukannya.


" Kadang yang terlihat belum tentu benar dengan pikiran kita. Tetap pergunakan hati kalian berfikir positif. Mungkin Papa Alex sedang banyak masalah, kalian harus bisa mengerti ".


Mereka berdua mendongak mendengar penjelasan dari Mommynya.


" Berarti Felix harus minta maaf ke Papa Alex ya Mom? ". Ucap Felix.


" Fiona juga ya Mom? ". Lanjut Fiona.


Ellena tersenyum mengangguk.


" Besok kita harus minta maaf ke Papa Alex ya ka ". Felix pun mengangguk setuju.


Trias tersenyum bahagia karena Ellena selalu mampu membuat kedua anak kembarnya merasa tenang dan nyaman. Sedang Zaskia semakin kagum dengan sosok Ellena yang cantik, lembut dan penyayang.


" Kaka ipar, boleh aku menanyakan sesuatu? ". Tanya Zaskia yang kini tinggal berdua dengan Ellena. Sedang Felix dan Fiona bermain bersama Trias.


Ellena mengangguk sambil menata mainan si kembar yang tercecer didepannya.


" Kenapa Felix dan Fiona memanggil pria galak itu dengan panggilan Papa? ".


Ellena menghela nafas dalam. Zaskia pasti merasa ada yang aneh dengan panggilan anaknya kepada Alex.


Melihat Ellena yang terdiam setelah menghela nafasnya, Zaskia menghentikan pertanyaannya.


" Kaka ipar sudahlah tak usah dijawab, aku hanya bercanda ". Ucap Zaskia.


" Setiap orang pasti memiliki masa lalu, tinggal bagaimana kita bisa berdamai dengan itu ". Sahut Ellena, memori tentang hubungan antara Zacklee dan Alex diantaranya terlintas. Tak seharusnya dulu dia bisa memiliki rasa cinta yang lain selain Zacklee.


***


Alex yang lebih dulu berjalan, menghentikan langkahnya saat melihat tubuh wanita yang dikenalinya meringkuk memegang lututnya, menenggelamkan wajahnya didepan jenazah sangat Ibu. Masih terdengar suara isak tangisnya. Disampingnya terdapat pria yang menggandeng tangan Rachel waktu itu. Pria itu mundur saat menyadari Alex tiba.


" Bastian, bagaimana keadaan wanita itu? ". Tanya Dimas dengan pelan.


Bastian memberi kode Dimas untuk keluar memberi ruang untuk Alex dan Rachel. Dimas dengan sejuta pertanyaan menuruti perintah Bastian.


Alex masih berdiri memperhatikan wanita yang masih meringkuk menangis, sesekali dia berganti menoleh kearah Jenazah yang sudah terbujur kaku didepannya.


Dengan langkah pelan Alex mendekati jenazah tersebut memberinya penghormatan terakhir. Alex berganti berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan posisi Rachel yang meringkuk.


Rachel yang merasakan deru nafas menghangatkan ujung kepalanya dengan perlahan memperlihatkan wajahnya basah akibat terlalu banyak menangis. Antara sedih atau bahagia saat manik mata itu bertemu dengan manik mata yang selalu dirindukan.


Alex menggerakkan tangannya menarik tubuh Rachel kedalam pelukannya. Pelukan yang selalu menjadi candu dikala mereka bersama waktu dulu. Rachel kembali menangis di pelukan Alex. Tak ada kata yang terucap hanya suara tangis Rachel.


Beberapa petugas Rumah sakit bagian pengurus jenazah memasuki ruangan, Alex mengajak Rachel berdiri masih dalam pelukannya. Alex dan Rachel menyaksikan para petugas untuk memandikan serta membungkus tubuh Ibunya dengan kain putih yang sudah disiapkan. Sebelum wajah itu benar-benar tertutup, Rachel mendekati jenazah Ibunya untuk terakhir kali dengan masih dituntun oleh Alex.


" I_bu, dia datang. Apa kau tak ingin bangun? ". Ucapnya dengan lirih ditelinga sang Ibu, berharap jika Ibunya hidup kembali. Rachel menciumi kedua pipi Ibunya, air matanya tak henti-hentinya mengalir.


Alex dengan cepat menangkap tubuh Rachel yang sedikit limbung. Mata mereka saling bertemu tapi lagi-lagi wajah Ellena yang selalu terlintas dipikiran Alex. Alex menyadarkan dirinya, kemudian membantu Rachel duduk dan menyaksikan jenazah Ibunya yang akan dibungkus.


Sekarang mereka semua sedang mengikuti iring-iringan pemakaman Ibu Sovi. Alex terus berada di dekat Rachel, hatinya merasa tak tega melihat kesedihan wanita yang pernah mengisi malam-malam kelamnya.


Selesai acara pemakaman, Rachel masih duduk disamping pusara Ibunya, tangannya memegang nisan Ibunya, air matanya tak berhenti karena kenangan-kenangan bersama sang Ibu selalu saja terlintas. Terutama pesan terakhir Ibunya yang menginginkan bertemu Alex.


Zacklee, Revan, Shandy dan Devan ternyata juga berada disana setelah Dokter Dimas bercerita. Dokter Dimas sendiri sebenarnya tak begitu tahu hubungan antara Alex dan Rachel.


" Sejak kapan mereka sedekat ini Shand? "


Tanya Devan, karena setahu Devan Rachel pernah bekerja di perusahaannya menggantikan posisi Ellena.


" Bukannya elu lebih tau Dev? ". Tanya Revan.


" Yang gue tahu cewek spesial dia itu pertama Anya kedua Ellena. Tapi yang lebih spesial dihatinya cuma Ellena ". Celetuk Devan.


Zacklee menoleh dengan tatapan tajamnya.


" Oups ". Dengan cepat Devan melipat bibirnya.


Revan dan Shandy menggeleng melihat sikap keduanya. Zacklee yang sekarang lebih protective terhadap Ellena tak mau jika ada orang yang membahas tentang hubungan istrinya dengan Alex.


" Sebelumnya Rachel menemuiku untuk dipertemukan dengan Alex ". Ucap Zacklee yang langsung membuat sahabatnya berpikir ada apa.


" Trus apa yang elu lakukan? ". Tanya Shandy.


" Gue sudah mempertemukan mereka ". Jawabnya menggantung.


" Trus selanjutnya? ". Tanya Devan yang penasaran.


Zacklee mengendikkan bahunya, membuat semuanya kecewa.


" Sepertinya hubungan mereka selama diranjang berakhir dihati ". Pendapat Revan.


Percakapan mereka ternyata terdengar oleh Bastian dan Dimas. Bastian teringat pandangan mata mereka saat bertemu di Rumah sakit kemarin.


Zacklee dan yang lain ikut berpamitan dan memberi Do'a kepada Ibu Rachel setelah para pelayat satu persatu meninggalkan pemakaman.


" Terimakasih Pak, Ibu pasti senang karena Rachel sudah bisa bertemu dengan orang-orang hebat seperti anda ". Ucap Rachel yang sudah bisa mengatur perasaan sedihnya.


" Rachel, ada pesan dari Istriku dia ikut berbelasungkawa atas meninggalnya Ibu sovia. Semoga Ibu Sovia damai dalam surga ". Zacklee menyampaikan pesan dari Ellena karena kondisinya yang belum bisa ikut.


" Sampaikan rasa terimakasih saya kepada Nona ". Rachel sambil membungkukkan badannya sedikit kearah Zacklee.


" Rachel, besok setelah hatimu tenang kau kembalilah ke Kantor ". Pesan Shandy yang langsung mendapatkan senyum dari Rachel.


Merekapun berjalan menuju mobilnya dan meninggalkan pemakaman tanpa Alex yang masih berada disisi Rachel.


" Chel.., gue tunggu dimobil ". Ucap Bastian sambil menepuk bahu Rachel pelan.


Bastian lalu melirik kearah Alex yang sepertinya tak suka dengan kedekatan dirinya dengan Rachel. Terlihat dari sorot mata Alex yang menatapnya dengan aneh. Dimas juga mengikuti Bastian, menunggu Alex di mobil.


" Lex, gue tunggu di mobil ". Ucap Dimas kepada Alex.


Sekarang tinggallah Alex dan Rachel berdua di depan pusara Ibunya.


" Pergilah Lex, aku masih mau disini bersama Ibuku ". Usir Rachel tanpa menatap wajah Alex.


" Kenapa kau tak pernah menceritakan tentang Ibumu? ". Pertanyaan dari Alex yang sudah ditahan sejak tadi akhirnya keluar juga.


" Apa pedulimu dengan kehidupanku! ". Sahut Rachel ketus.


" Kenapa kau menjadi seperti ini Chel? Apa karena aku tak bisa membalas perasaanmu? ". Pertanyaan dari Alex membuat air mata Rachel kembali menetes. Sakit hatinya ditinggalkan oleh Ibunya saja belum kering, Alex sudah menambahkan sayatannya kembali.


Rachel menyerahkan sebuah kertas ditangan Alex tanpa suara. Air matanya sudah mampu menjawab pertanyaan Alex. Rachel melewati Alex meninggalkannya mematung memandangi kertas yang dipegangnya.


Dimas kaget karena Alex hanya berdiri disamping pintu mobilnya dengan diam. Dimas merasa ada sesuatu yang telah terjadi antara Rachel dan Alex. Dimas membukakan pintu mobilnya dan Alex duduk dengan tatapan kosong.


Sekitar 30 menit perjalanan, Dimas memberhentikan mobilnya di Cafe milik Alex. Pria itu masih saja diam.


" Lex, gue balik. Kalau ada apa-apa elu segera hubungi gue aja ". Pamit Dimas yang tak mendapatkan tanggapan dari Alex. Dimas kemudian melajukan mobilnya.


Di ruang kerjanya yang sebetulnya lebih mirip dengan kamar, Alex berdiri di dekat kaca yang langsung berhadapan dengan langit gelap diluar sana. Alex membuka lipatan kertas yang diberikan Rachel saat di pemakaman tadi.


'Nak, sudah lama Ibu ingin bertemu denganmu karna setiap detik setiap menit dan setiap waktu Rachel lebih banyak menceritakanmu daripada ceritanya sendiri. Ibu hanya ingin mengucapkan terimakasih karena kau telah menolong Rachel dari jual beli Ayahnya. Sebenarnya Ibu juga ingin mengundangmu sekedar makan malam tapi Rachel bilang kau terlalu sibuk. Nak, terimakasih sudah membuat hidup Rachel menjadi bahagia, entah berapa lama lagi Ibu akan melihat kebahagiaan di wajahnya. Ibu berpesan, tolong jagalah dia, karena Ibu tak tahu harus menitipkan dia kepada siapa jika Ibu telah tiada. Ibu percaya denganmu karena Ibu yakin kau pria yang baik'.


Alex memejamkan matanya, hatinya bergetar tiap membaca kata-perkata pesan dari Ibu Sovia.


" Rachel, maafkan aku ". Ucap Alex.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ceritanya mulai serius nih🤔


Kira-kira gimana kelanjutannya??


Tinggalkan jejaknya ya Ka.. biar Othor Semangat 45 🔥


Like, Vote, Comment plus Mawar merah merona nya🌹😘