What I Think

What I Think
Kepercayaan



Happy Reading...


Diatas balkon dua pria tampan sedang memperhatikan dua wanita cantik dari atas. Zacklee berhasil menemui Alex, meski awalnya dia harus susah membangunkan Alex yang tertidur.


"Apa yang membuatmu tak bisa melupakan istriku Lex?" tanya Zacklee.


Alex yang sedang memperhatikan dua wanita dibawah membuyarkan tatapannya mendengar pertanyaan Zacklee.


"Ketulusannya" jawab Alex singkat.


"Jika ketulusannya yang menjadi alasan, bukan berarti kau tak bisa melupakannya. Kau tentunya tahu bagaimana cara menahan perasaan" sahut Zacklee.


"Bagaimana caranya aku menahan perasaan seperti yang kau ucapkan Zack sedang kau sendiri yang memberi peluang saat itu" sindir Alex.


"Asal kau tahu aku sangat percaya padamu. Percaya jika kau adalah sahabat baikku. Sahabat yang bisa mengerti keadaan yang terjadi padaku saat itu. Sayangnya aku salah, sahabat yang sangat aku percaya malah menusukku dari belakang" membalas sindiran Alex.


Ucapan Zacklee langsung menancap di hati Alex. Rupanya dia tak pernah memberinya peluang, Zacklee melakukan itu karena sebuah kepercayaan. Alex kemudian menoleh kearah dua wanita yang sejak tadi menjadi pusat perhatiannya. Ellena dan Anna.


"Apa kau tau karena sikapmu seperti ini, kau membuat Ellena menjadi sedih. Apa itu tujuanmu, membuatnya sedih?" ucap pria yang sedang memperhatikan istrinya.


"Lebih baik kau kubur perasaanmu secepatnya, beri peluang wanita yang benar-benar tulus mencintaimu bukan menganggapmu sebagai Kakaknya" imbuhnya lagi.


Saat Zacklee akan melangkahkan kakinya keluar Alex memanggilnya,


"Zacklee..," panggil Alex. Alex langsung memeluk sahabatnya.


"Ijinkan aku tetap menjadi sahabatmu dan aku berjanji akan membuka hati kepada wanita lain dan mengubur perasaanku kepada Ellena" Ucapnya pada akhirnya.


"Hei jangan memelukku seperti ini, aku masih waras" sahut Zacklee mendorong tubuh Alex.


"Kau sangat tampan Zack..," Alex kembali ke kenangan saat-saat kebersamaan persahabatan mereka.


"Lex kau membuatku tak na*su"


"Zack..,"


Terjadilah aksi kejar-kejaran Zacklee dan Alex. Melihat tingkah aneh Papanya, Sunny yang sedang mengambil air minum menundanya dan berlari menghampiri Ellena serta Anna yang sedang bercanda di taman belakang.


"Aunty...," teriak Sunny.


"Papa sama Om tampan pacaran" ucapnya.


Zacklee dan Alex tertawa terkekeh mendengar dugaan Sunny. Sedang Ellena dan Anna masih bingung dengan yang terjadi.


"Apa yang kalian lakukan? kenapa saling berpelukan?" tanya Ellena curiga.


Menyadari posisi mereka yang sedang berpelukan, Zacklee maupun Alex saling bertukar pandangan kemudian saling tertawa. Pemandangan yang sudah lama Ellena rindukan, Zacklee maupun Alex saling bercanda seperti saat mereka bersahabat saling berkumpul bersama. Tanpa terasa air mata Ellena mengalir membasahi pipi kemerah-merahannya.


Anna orang baru yang masuk dalam kehidupan Alex juga merasakan haru dari persahabatan keduanya. Alex sendiri pernah tak sengaja menceritakan kehidupannya bersama kelima sahabatnya. Anna tak menyangka jika seorang Alex yang begitu dingin menurutnya bisa memiliki kisah hidup secerah warna pelangi.


"Kau menangis Ell?" sapa Alex melihat Ellena menyeka air matanya. Sedang Zacklee hanya menanggapi dengan tersenyum.


"Aku terharu Ka.. aku sangat merindukan kalian berdamai. Kalian tahu bagiku kalian adalah keluarga kedua, aku sangat bersyukur bisa dekat dengan Ka Revan, Ka Devan, Ka Ryan meski dia memberikan kesan yang buruk" Ellena terkekeh kecil mengingat pertemuan pertamanya dengan Ryan.


"Kakakku sendiri Ka Shandy, Kau cintaku Ka Lee dan Kau Ka Alex orang yang sudah aku anggap sebagai Kakakku. Kalian sudah memberikan warna untuk hidupku, memberikan pengalaman hidup yang mungkin sulit untuk diterima orang lain. Maaf jika aku sempat membuat renggang persahabatan kalian," Ellena tak bisa lagi berkata-kata menundukkan wajahnya mengatur perasaan haru. Anna yang berada disamping Ellena tersenyum kemudian memeluknya.


"Kita sudah membuat orang yang kita sayang menangis Zack, bisakah kita mencarikan cilok untuknya" celetuk Alex.


Ellena yang terharu langsung tersenyum mendengar Alex mengucapkan makanan favoritnya saat bersama dulu.


"Kau tau Lex, dia begitu menggemaskan saat menangis. Aku semakin cinta dengannya" sahut Zacklee langsung disertai gelak tawa bersama.


'Sahabat adalah saudara kandung yang tidak pernah diberikan Tuhan kepada kita'


Mereka semua kemudian bersantai sambil mengadakan barbeque.


"Lex, darimana kau mengenal wanita itu?" tanya Zacklee sedikit kepo.


"Dia karyawan di Cafeku"


"Aku sedang menghukumnya karena kesalahan yang sudah dia buat" sambil mengulas senyum mengingat pertama kali bertemu Anna.


"Kau tak merubah seleramu kan?" selidik Zacklee.


"Aku akan mengikuti jejakmu"


"Sialan kau Lex..," menonjok lengan Alex pelan.


"Bagaimana dengan Rachel? aku baru saja bertemu dengannya"


"Aku sudah memutuskan untuk menjalani hidup masing-masing. Kau tau cinta tak bisa dipaksakan, aku takut Rachel semakin tersiksa bila hidup denganku tanpa aku mencintainya"


"Apa Rachel bisa menerimanya?" tanya Zacklee.


"Mungkin butuh waktu untuk bisa menerimanya"


"Maybe atau sebaliknya, karena aku melihatnya bersama pria lain"


"Dia Bastian"


"Kau mengenalnya?" selidik Zacklee lagi.


"Dia bahkan sudah berterus terang padaku akan membahagiakan Rachel"


"Dia sepertimu," sambil terkekeh kecil.


"Dia berbeda denganku, aku berani membawanya pergi sedang dia tidak"


"Haisssttt... sialan kau Lex!"


"Aw..." pekik Anna.


"Anna..."


"Tante Anna.."


Teriak Ellena dan Sunny bersamaan. Mendengar teriakan keduanya, Zacklee dan Alex sama-sama menghampiri mereka. Alex yang melihat tangan Anna terkena percikan api segera meraihnya dan meniupnya. Anna sendiri terkejut dengan perlakuan Alex, ingin dia segera menarik tangannya tetapi Alex tak memperbolehkannya. Anna tak sengaja memperhatikan wajah tampan Alex yang mendekatkan wajahnya ke tangannya.


'Tuan Alex kalo dilihat dari dekat tampan juga' batin Anna namun kemudian dia segera menepis ucapannya.


Ellena dan Zacklee saling bertukar pandangan melihat pemandangan di depannya, dengan senyuman masing-masing kini mereka bisa menebak tentang perasaan Alex kepada Anna.


"Tante..., apa tangan tante sakit?" tanya Sunny.


Mendengar pertanyaan Sunny Alex menoleh kearah anaknya tanpa melepaskan tangannya dari tangan Anna.


"Sunny bisa Papa minta tolong?" tanya Alex.


"Iya Pa...,"


"Tolong Papa ambilkan Kotak obat di tempat biasanya"


"Baik Pa..," anak itu lalu segera berlari untuk mengambilkan pesanan Papanya dan tak menunggu lama Sunny segera membawakan pesanan Alex.


Ellena selangkah maju ingin membantunya tetapi Zacklee mencegahnya. Zacklee menarik lengan Ellena dan kemudian mengedipkan matanya melarang Ellena. Ellena kemudian tersenyum dia mengerti tujuan Zacklee melarangnya.


"Lain kali hati-hati, kalo ga bisa bilang saja" ucap Alex.


'Ya ampun bukannya dia sendiri yang menyuruhku? kenapa jadi aku yang disalahin' gerutu Anna dalam hati.


"Kalo kau sakit, aku nanti yang repot" imbuhnya sambil mengoleskan salep luka, Alex terus saja mengingatkan Anna. Namun Perkataan Alex bukan membuat Anna marah tetapi malah sebaliknya, Anna merasa terharu karena baru kali ini ada seseorang yang memikirkan kesehatannya.


"Tuan terimakasih banyak" ucap Anna dengan mata berkaca-kaca.


Bersambung.....