
Happy Reading...
Sebuah harapan akan menguatkanmu untuk terus bermimpi, maka teruslah berharap sesuatu yang baik.
......................
Tak.. tak.. tak..
Terdengar langkah seseorang menggunakan jacket hitam serta topi dengan warna senada. Wajahnya tak terlihat sama sekali karena lampu sorot di Jalan sepertinya sudah sengaja di matikan.
Trias yang tak sengaja melihat seseorang tergeletak di tengah Jalan dengan bersimbah darah, pelan-pelan menghampirinya. Dilihatnya seseorang pria yang tak jelas wajahnya berlari saat Trias mendekati pria yang tergeletak tersebut.
"Hai, siapa kau? kenapa kau tak menolongnya?" teriak Trias.
Trias semakin mendekat, di perhatikannya pria yang tergeletak tersebut dari ujung Kepala hingga Kaki. Ada sesuatu yang Trias kenal di jemari pria itu. Sebuah cincin pernikahan yang dia pilihkan untuk pernikahan Lee dan Ellena.
"Hah" Trias menutup mulutnya dengan kedua Tangannya, meyakinkan hatinya jika itu tak seperti dugaannya.
Trias mencoba menata hatinya. Tangan Trias bergetar saat menggerakkan Tangannya untuk menyibak rambut pria tersebut,
"Lee, anakku...," teriak Trias melihat pria yang tergeletak bersimbah darah.
"Anakku... Anakku...," teriak Trias tetapi untungnya Zaskia dan Ellena segera tiba di kediamannya.
"Mama... Mama sadar Ma...," teriak Ellena dan Zaskia menyadarkan Trias.
"Ellena..," panggil Trias lirih saat menyadari jika Ellena berada di hadapannya.
"Iya Ma, ini Ellena" ucap Ellena menangkup wajah Trias dengan kedua Tangannya.
"Ellena, Mama takut" ucap Trias memeluk Ellena dengan kuat.
Ellena merasa hatinya semakin tak tenang melihat Trias seperti ini. Feelingnya mengatakan jika Trias juga bermimpi hal yang sama dengan dirinya dan anak-anaknya.
Zaskia datang membawa segelas air hangat,
"Ma, diminum dulu ya" pinta Zaskia menyodorkan segelas air hangat kepada Trias.
Trias melepaskan pelukannya dan mengambil air hangat yang disodorkan Zaskia dibantu dengan Ellena.
Zaskia kemudian menerima kembali gelas Trias dan menaruhnya di atas nakas. Kemudian meraih Tangan Trias, menggenggam jemarinya.
"Ma, ada apa? cerita kepada Ka Ellena dan Kia, barangkali bisa meringankan kesedihan Mama" ucap Zaskia.
Trias mengambil nafas dalam-dalam kemudian membuangnya kasar. Trias menggenggam jemari Ellena kuat, Tangannya menangkup wajah cantiknya. Ellena seolah mengerti dengan apa yang terjadi pada Trias. Air matanya tertahan di ujung Matanya, Ellena berusaha untuk menahan semuanya.
"Terimakasih sudah mencintai anak Mama, Ellena. Mama mohon, apapun yang terjadi jangan tinggalkan dia" ucap Trias sesenggukan.
Kini Ellena mengerti apa yang terjadi pada Trias. Dia pasti mengalami mimpi yang sama seperti dirinya.
"Ma, tanpa Mama mintapun Ellena akan selalu disamping Ka Lee apapun keadaannya. Ellena sangat mencintai Ka Lee, kami sudah melewati jalan yang berliku bagi Ellena Ka Lee adalah segalanya. Apalagi diantara kita sudah terdapat Felix, Fiona dan dia" Ellena mengelus perutnya yang sedari tadi bergerak terus. Sepertinya dia juga mengerti kegelisahan kedua orangtuanya.
"Mama bersyukur memiliki menantu sepertimu Ellena" ucap Trias menarik tubuh Ellena merangkulnya kembali.
**
Ellena mengepalkan Tangannya erat. Seusai Trias tenang, Trias lalu membahas persoalan tujuh bulanan yang akan di laksanakan minggu depan. Ellena meminta acara di lakukan secara sederhana, mengingat kondisi Trias yang kurang enak badan. Ellena hanya akan melakukan pengajian bersama Ibu-ibu jama'ah kompleks saja.
"Ka...," panggil Zaskia yang sedang mengemudi di samping Ellena.
"Kaka baik-baik saja?" tanya Zaskia curiga karena sepanjang perjalanan Ellena hanya diam.
"Kaka, baik kok. Ki, bisa antarkan Kaka ke Kantor Ka Lee?" pinta Ellena.
"I_ya Ka..," jawab Zaskia menuruti permintaan Ellena.
Ellena dan Zaskia menuju perusahaan Zacklee. Setibanya disana semua Karyawan menyapanya dengan ramah. Saat Ellena menuju ruangan Zacklee, seorang staff menghentikan langkah Ellena dan Zaskia.
"Nyonya Lee.., apa Nyonya mencari Tuan?" tanya seorang staff kepada Ellena.
"Iya, apa suamiku ada di dalam?" tanya Ellena.
"Tuan sudah pergi pagi sekali Nyonya ke Negara S bersama Tuan Revan" ucap seorang staff memberitahu.
"Negara S? ada apa Kakakku kesana? apa ada masalah besar sehingga Kakakku harus mengatasinya?" sahut Zaskia.
"Saya kurang tau Nyonya, tapi jika anda mencari Tuan. Tuan sedang tidak ada di Kantor" ucap seorang staff tersebut.
"Dasar Kakakku selalu saja tak aktif jika di hubungi" keluh Zaskia kemudian mencoba menghubunginya lagi. Tetapi sayang, hasilnya sama saja ponsel Zacklee tak aktif.
"Aku akan menghubungi Papa Ka..., kau tenang saja" ucap Zaskia kemudian menekan tombol kontak Albert.
"Kenapa sama saja, ponsel Papa juga tak aktif. Aku akan menghubungi Bos Revan" Zaskia kemudian menghubungi Revan setelah ponsel Albert tak aktif.
"Ka.., maaf ponsel Bos Revan juga tak aktif" ucap Zaskia nyengir.
"Tak apa Ki, mungkin mereka sedang sibuk" Ellena mencoba menenangkan hatinya sendiri.
"Kalo gitu kita pulang aja yuh Ka..," ajak Zaskia.
Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk kembali ke Rumah. Tetapi sebelum kembali Zaskia meminta Ellena untuk menemaninya untuk memilih cincin pernikahannya dengan Devan. Karena Devan sudah menunggunya disana.
"Hai Ell, apa kabar?" tanya Devan bertemu dengan Ellena.
"Bukannya baru kemarin ketemu, masa' iya tanya kabar?" cibir Zaskia.
"Ell, tumben elu rada pucat. Apa Zacklee membuatmu kelelahan?"
Ini tanya atau nyindir yak?
"Kau apaan sih Ka.., kau membuat Kaka Ipar semakin lelah dengan perkataanmu" sahut Zaskia.
Ellena hanya menanggapi dengan tersenyum, hari ini dia tak seperti biasanya. Ellena masih kepikiran dengan Zacklee. Beberapa hari ini Zacklee tak pernah menceritakan soal pekerjaan atau yang lain. Dia hanya memanjakannya juga memanjakan anak kembarnya dengan penuh kasih sayang.
"Kalian disini juga?" sapa Alex yang juga ada di Toko perhiasan yang sama dengan Devan dan Zaskia.
"Pria galak? apa kau mengikuti kami?" sindir Zaskia.
"Males gue ngikutin kalian, ada juga gue yang kalian ikutin" Alex membalikkan ucapannya.
"Ellena, kau disini juga?" sapa Rachel.
"Aku hanya mengantarkan mereka" ucap Ellena.
"Bagaimana dengan kehamilanmu?" tanya Rachel sambil mengelus perut Ellena.
"Mereka semakin aktif," jawab Ellena.
"Suamimu pasti sangat bahagia dengan kehamilanmu Ell..,"
"Dia sangat bahagia Rachel,"
"Ngomong-ngomong dimana Zack?" tanya Devan.
"Kakakku ke Negara S tanpa memberitahu kita..," jawab Zaskia.
"Negara S?" ucap Devan lirih dia teringat Revan saat bertemu dengannya kemarin. Revan sempat membicarakan persoalan penggelapan uang di Perusahaan Zacklee . Dan penggelapan itu di lakukan oleh seseorang yang diduga sebagai mafia barang persenjataan api ilegal.
Melihat wajah Devan berubah, Alex bisa mengerti ada sesuatu yang terjadi pada Zacklee.
'Aku akan menanyakan pada Devan apa yang terjadi' batin Alex.
Mereka berlima mengakhiri sesi pemilihan perhiasan di Cafe Alex. Sudah lama Ellena tak mengunjunginya, dia merasakan perubahan yang signifikan pada Cafe Alex.
"Kau merubahnya sesuai konsep yang pernah kita buat Ka..," ucap Ellena takjub.
"Kau yang terbaik Ell, berkat ide konsepmu Cafe ini lebih di kenal para kawula muda" sahut Alex membanggakan ide Ellena.
"Aw" pekik Ellena merasakan sakit di Perutnya.
"Kau tak apa Ell?" tanya Alex panik.
"Tak apa Ka, si Kecil sepertinya merindukan Papanya. Dia selalu menendang jika sedang rindu dengan Ka Lee" ucap Ellena sambil mengelus perutnya.
"Sayang, kenalin ini Om Alex. Om Alex yakin kau akan suka bertemu dengan Om" ucap Alex mengajak ngobrol bayi Ellena di dalam kandungan wajahnya mengarah tepat ke perut Ellena.
Devan yang tak sengaja melihatnya tersenyum. Devan tak menyangka jika Alex mampu berubah, berubah lebih menghargai perasaan Rachel demi Ellena. Devan juga bangga kepada Alex karena mampu merubah perasaan cinta kepada Ellena menjadi cinta seorang Kakak dengan adiknya.
'Kau berhasil Lex...,' batin Devan.
Bersambung....