What I Think

What I Think
Hot daddy



Happy Reading...


Seperti pagi-pagi biasanya, Ellena dan Zacklee bekerjasama menjalani peran sebagai orangtua. Ellena yang bertugas memasak sedang Zacklee bertugas memandikan baby Kai.


"Mommy...," panggil Felix seperti biasanya membantu pekerjaan Mommynya.


"Felix bisa ambilkan Mama gula disana," menunjuk kearah rak bumbu yang menempel di tembok.


Tanpa bicara Felix melangkahkan Kakinya mengambil gula lalu memberikannya kepada Ellena.


"Felix kau panggil Papa dan Fiona sarapan sudah siap," pinta Ellena, Felix tak bergeming dari tempatnya berdiri, dia masih berdiri dibelakangnya. Merasa sang putra tak bergerak sama sekali, Ellena mematikan kompornya dan berbalik menatap putranya.


"What do you think Felix?" tanya Ellena.


Felix hanya menggeleng tak mengucapkan apa-apa. Ellena kemudian merangkul sang putra mengajaknya untuk duduk sekedar berbincang.


"Mom.. kapan kita liburan? Felix sudah kangen sekali ingin liburan bersama"


Ellena tertawa mendengar keinginan putra tampannya. Zacklee yang tak sengaja mendengarnya ikut tersenyum, ternyata dia melupakan kebersamaan keluarganya. Zacklee menyerahkan baby Kai ke pangkuan Ellena, Fiona ikut bersender di lengan Ellena sembari memasang wajah imutnya seolah merayu kedua orangtuanya.


"Ayolah Mom.. Pa.. benar kata Ka Felix kita sudah sangat rindu liburan keluarga," rayu Fiona.


"Kau juga sayang ingin liburan seperti kedua Kakakmu?" Ellena bertanya ke baby Kai yang tersenyum padanya.


"Selesai acara tante Rachel, Papa janji akan mengajak liburan keluarga," sahut Zacklee.


"Serius Pa?" Felix memastikan.


Zacklee menganggukkan kepalanya.


"Hore... kita liburan Kak..," sorak gembira Fiona.


"Papa, Mommy terimakasih.. Felix sayang Papa dan Mommy" mencium pipi Zacklee dan Ellena bergantian.


"Kalian semua segera sarapan,"


"Siap Mommy..," sahut Felix dan Fiona bersamaan.


"Sayang kau masih bau," mengendus Zacklee.


"Sayang meski aku belum mandi aku masih terlihat tampan, kau tahu sekarang aku mendapat julukan Hot daddy" membanggakan dirinya.


"Hissshh...," desis Ellena.


"Ka.. apa Ka Alex hadir juga?" tanya Ellena.


"Dia pasti datang," sembari mengajak bermain baby Kai dipangkuan Ellena.


"Maksudku, apa dia akan datang bersama Anna?" tanyanya lagi.


"Apa kau setuju jika dia bersama Anna?"


"Sangat setuju," sahutnya dengan cepat.


"Setidaknya dia tak mengincarmu lagi,"


"Kau masih cemburu?"


"Tidak, hanya marah jika pria lain menginginkan istriku satu-satunya,"


"So sweet..,"


**


"Anna.. apa kau sudah selesai," teriak Alex.


"Sebentar lagi Tuan," balas teriak Anna dari atas.


"Apa semua wanita seperti ini?" keluh Alex menunggu Anna berdandan karena Alex sengaja mengajaknya ke pernikahan Rachel dan Bastian.


Tap.. Tap.. Tap..


Disela keluhan Alex matanya menoleh setelah mendengar suara hentakan kaki. Alex tak berkedip menatap wanita yang membuatnya hilang konsentrasi. Dengan make up natural serta rambut dibiarkan terurai Anna terlihat sangat cantik. Dress berwarna broken white hampir senada dengan warna kulitnya Anna mampu membuat Alex merasakan degup jantung berdetak tak seperti biasanya.



"Tuan.. maaf sudah menunggu lama" ucap Anna sampai dihadapan Alex.


Alex masih terus menatap Anna tanpa berkedip. Merasakan keanehan majikannya, Anna menggerakkan telapak tangannya kehadapan wajah Alex.


"Tuan.. Tuan.. apa anda baik-baik saja?" tanya Anna masih menggerakkan telapak tangannya.


Alex berkedip menyadarkan dirinya. Anna tersenyum kearahnya, Alex memutar bola matanya menutupi kegugupannya.


"Kau terlalu lama Anna..," sembari membalikkan badannya dan memasang kacamata sunglasses hitamnya. Bibirnya menyunggingkan senyuman entah mengapa hatinya terasa bahagia. Sengaja melangkahkan Kaki agar Anna mengejarnya.


Alex terus saja menyunggingkan senyuman, rasa bahagia menyelimuti hatinya saat ini. Dengan setelan jaz berwarna hitam Alex terlihat sangat keren.


Keduanya memasuki kuda besi yang sudah terparkir didepan, tak biasanya Alex membukakan pintu untuk Anna. Anna sendiri merasa canggung dengan perlakuan Alex, dengan gugup Anna memasuki kuda besi pengeluaran eropa berwarna hitam metalik. Selesai menutup pintu mobil sportnya, Alex segera masuk dan menduduki kursi kemudinya.



Sepanjang perjalanan Alex terus saja melirik Anna lewat kaca spionnya .


'Sial! dia begitu cantik' batin Alex.


Alex dan Anna tiba di gedung pernikahan Rachel dan Bastian. Alex membukakan pintu mobil Anna. Saat ini Anna sangat canggung, beberapa kali dia salah tingkah dengan perlakuan Alex.


"Kenapa kau diam saja?" tanya Alex melihat Anna hanya berdiri tanpa melangkahkan kakinya.


"Tuan.. bisakah saya pulang saja?" tanya Anna ragu.


"Apa yang kau bicarakan," Alex menarik tangan Anna dan menggenggamnya.


Anna tak bisa berkata-kata sentuhan tangan Alex menggandengnya membuat seluruh tubuh Anna bergetar, jantung yang berpacu normal seakan kacau kala sentuhan jemari itu menggenggam dengan erat. Tanpa malu Alex tersenyum kepada semua orang yang menatapnya.


"Om..," panggil bocah pria seumuran Sunny.


Alex dan Anna menoleh kearahnya. Alex melepas genggamannya berjongkok mensejajarkan tingginya dengan bocah tersebut.


"Apa yang sedang terjadi?" tanya Alex pada bocah tersebut.


"Om menginjak pesawat kertasku," sambil menunjuk kearah pesawat kertas yang terinjak oleh sepatu Alex.


"Oups.. Sorry.., Om tak sengaja" ucap Alex setelah melihat pesawat kertas dibawah sepatunya.


"Aku sudah membuatnya susah payah tetapi Om malah merusaknya," gerutu bocah pria tersebut.


"Mau Om buatin lagi?" tawar Alex.


"Memangnya Om bisa? aku saja sampai belajar selama dua bulan untuk bisa membuatnya,"


Alex dan Anna tersenyum mendengar cerita usaha anak kecil itu,


"Apa istimewanya pesawat kertas itu?"


"Sangat istimewa Om.., Mami bilang kalo Pesawat kertas gak pernah tau di mana dia bakalan berhenti ketika angin sudah berbicara. Sama kayak manusia, manusia gak pernah tau kapan mereka terjatuh ketika semesta berkehendak," ucap pria kecil dengan jelas.


Deg!


Alex terdiam mengingat sesuatu, kalimat pria kecil itu sama seperti yang pernah dia ucapkan kepada seseorang yang pernah hadir pertama kalinya dalam hatinya.


"Juna..," panggil seorang wanita tak asing ditelinga Alex. Setelah begitu dekat Alex tersenyum masih dengan menundukkan kepalanya.


"Mami menemukanku?" tanya pria kecil bernama Juna.


"Darimana saja kau, Edward adikmu sedang mencarimu daritadi,"


"Aku sedang bermain pesawat kertas Mami tetapi Om ini malah merusaknya," keluh Juna.


"Sudah berapa kali Mami bilang padamu jangan bermain pesawat kertas ditempat umum" memarahi Juna.


"Tuan saya meminta maaf atas perilaku anak saya," sembari sedikit membungkukkan badan.


"Anya.. anakmu sangat cerdas, dia tak begitu mengganggu" ucap Alex berjangkit dari jongkoknya.


Gadis yang dipanggil Mami itu adalah Anya cinta pertama Alex. Mereka tak menyangka akan dipertemukan kembali.


"A_lex..," ucap Anya terkejut.


"Maaf Lex jika anakku mengganggumu" imbuh Anya kemudian menarik tubuh Juna lalu berbalik.


"Kau mengajarkan anakmu untuk membuat pesawat kertas,"


Anya tak melanjutkan langkahnya,


"Setidaknya aku bisa selalu mengingat kesalahan yang sudah aku perbuat di masalalu" sahutnya kemudian melangkahkan Kakinya.


"Kau masih sama seperti dulu Anya..," ucap Alex lirih.


"Tuan..," panggil Anna.


Alex menarik jemari Anna kembali dan mengajaknya untuk segera masuk. Anna merasa bingung dan canggung dengan sikap Alex, detak jantungnya berirama lebih cepat dari biasanya. Jika diperbolehkan untuk pingsan, mungkin saat ini dirinya akan memilih pingsan daripada harus mengalami hal yang tidak pernah terjadi pada dirinya.


...----------------...


Jangan lupa tinggalkan jejaknya gess🙏