What I Think

What I Think
What do you think



"Juna.., " Panggil seorang wanita yang tak asing ditelinga Devan dan Alex.


" Anya " Ucap Devan setelah melihat wanita itu.


"Dev_Devan..," Kemudian dia melihat seorang pria didepan Devan.


"A_lex" Ucapnya lirih.


Luka lama muncul kembali. Mungkin itu yang dirasakan Anya dan Alex. Andai dulu Anya tak mengkhianati Alex mungkin kisah rumit Alex dan Ellena tak pernah terjadi. Sayangnya saat itu Alex sangat bersyukur karena Tuhan sudah mempertemukannya dengan wanita yang sudah bisa merubahnya menjadi pria sejati.


"Lex, apa kabarmu?" Tanya Anya ragu.


"Seperti yang kau lihat" Jawab Alex cuek.


Anya tahu perubahan sikap Alex padanya adalah kesalahannya di masalalu. Andai Anya tak terpengaruh oleh Vito mungkin hubungannya dengan Alex masih lancar-lancar saja.


Devan dan Reyna bermain dengan Juna. Mereka sengaja memberi waktu Anya untuk meminta maaf kepada Alex.


"Maaf.. " Ucap Anya lirih, hatinya sakit karena Alex yang melihatnya sedikitpun meski jarak diantara mereka hanya beberapa centi saja.


"Untuk apa meminta maaf, semuanya sudah terjadi. Berbahagialah dengan keluargamu, hubungan kita sudah selesai. Jadi, tak usah kau permasalahkan" Ucap Alex yang kemudian berjangkit dari tempat duduknya meninggalkan Anya.


'Terimakasih Lex, kau pria yang baik. Semoga hidupmu bahagia'


Batin Anya masih memandangi punggung Alex yang akan menghilang.


"Juna, kita pulang.. Papa sudah menunggu kita" Ajak Anya kepada Juna.


"Uncle.., Aunty.. Besok kita main lagi ya" Seru Juna yang senang bermain dengan Devan dan Reyna.


"Dev, Reyna terimakasih. Jaga Alex, semoga dia bahagia dengan cintanya" Ucap Anya tersenyum sambil berlalu.


"Aku benci melihat cinta kalau pada akhirnya meninggalkan" Keluh Reyna.


"Ha.. Ha.. Ha.. Kau sangat lucu" Devan menertawakan Reyna.


"Apanya yang lucu, bukankah kau juga belum pernah merasakan jatuh cinta" Ejek Reyna.


"What do you think?".


"What I think? Sepertinya akan__" Devan menggantung ucapannya tiba-tiba saja dia teringat wajah Zaskia. Lalu mengendikkan bahunya.


"Hissst.. Kau terlalu banyak bermimpi. Tak ada cewek yang mau bersamamu"


Devan tak menanggapi ejekan Reyna dia ikut berlalu sambil senyum-senyum sendiri mengingat wajah Zaskia.


**


"Ellena, bagaimana dengan Felix dan Fiona?" Tanya Clara.


Saat ini Ellena berada di restoran menggantikan posisi Renata.


Ellena membuang kasar nafasnya.


"Dia sangat kecewa Clara. Aku juga tak menyangka jika Ka Alex akan bersikap seperti itu. Kupikir dia tak akan melibatkan Felix dan Fiona".


"Aku bisa mengerti posisi kalian. Berat juga buat Ka Alex harus melupakan kalian begitu saja. Tapi aku juga mengerti perasaan Ka Lee, bagaimana dia yang saat itu mengalami koma hanya untuk mencari kalian" Ucap Clara mengingat semuanya.


"Clara, aku sangat menyayangi Ka Lee dan kau tahu itu. Tapi aku juga ga bisa melupakan Ka Alex begitu saja. Apalagi Felix dan Fiona__" Ellena sudah tak mampu membendung air matanya.


"Nona, tamu diujung sana ada yang ingin bertemu dengan anda" Salah satu pelayan memanggil Ellena.


"Aku?" Ellena memastikan sambil menyeka air matanya.


"Iya Nona, dia ingin bertemu Nona Ellena"


Ellena dan Clara segera menghampiri tamu yang dimaksud salah satu pelayan restoran tadi.


"Mohon maaf ada bisa kami bantu" Ucap Ellena dengan ramah.


"Kau yang bernama Ellena?" Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik diusianya yang tak muda lagi bertanya kepada Ellena.


"Kau duduklah, ada yang mau saya bicarakan denganmu" Pinta wanita tersebut.


Ellena menoleh kearah Clara meminta persetujuan dengan kode matanya. Clara membalas kode mata Ellena untuk mengikuti permintaan wanita tersebut.


"Mohon maaf nyonya, anda mau pesan minum apa?" Tawar Clara dengan ramah pula.


"Teh hijau hangat saja" Ucapnya dengan senyuman.


"Baik Nyonya, tunggu sebentar" Clara kemudian menuju dapur.


"Kau pasti bingung denganku karena kita belum pernah sama sekali bertemu" Ucap wanita itu.


"Perkenalkan nama saya Widya, saya Mamanya Ryan. Kau pasti mengenal anakku".


DEG!


"Ka Ryan" Ucap Ellena lirih.


"Ryan sahabat Zacklee yang sekarang menjadi suamimu, apa kau ingat?" Ibu Widya ternyata menekankan ucapannya, entah apa maksudnya.


Seperti ada sesuatu, Ellena merasa curiga dia mulai memberanikan diri menatap Ibu Widya dihadapannya.


Sejenak terdiam karena seorang pelayan mengantarkan pesanan dan menaruhnya dimeja.


"Iya saya mengingatnya" Ucapnya dengan tenang.


"Kau sangat cantik rupanya, tak salah jika anakku tergila-gila denganmu. Ibu ingin kau meninggalkan suami kamu" Pinta Widya tanpa basa basi.


"Maksud Ibu?" Ellena mulai menaikkan suaranya.


"Kalau kau tak ingin perusahaan suamimu hancur maka tinggalkan dia dan menikahlah dengan Ryan karena kau harus bertanggungjawab dengan keadaan Ryan saat ini" Widya lalu menyesap teh di cangkirnya.


"Besok temui aku disini" Widya menyodorkan sebuah alamat kehadapan Ellena kemudian berlalu.


Ellena menatap kesal kearah Ibu Widya.


"Seenaknya saja dia nyuruh aku meninggalkan suamiku" Umpat kesal Ellena.


"Apa yang terjadi Ell?" Tanya Clara yang daritadi memperhatikan mereka.


"Ibu itu menyuruhku meninggalkan Ka Lee" Geram Ellena.


"Hah! Emang siapa Ibu itu maen suruh-suruh ninggalin suamimu" Clara yang juga ikut geram.


"Dia Ibunya Ka Ryan"


"Ryan" Sahut Shandy yang baru tiba.


"Ka Shandy.., sejak kapan Kaka disini?" Tanya Ellena yang terkejut.


"Sayang bukannya ini masih jam kerja, kenapa sudah disini?" Tanya Clara juga.


"Coba jelaskan kenapa dengan Ryan" Shandy yang tak menggubris keduanya.


"Tadi Ibunya Ryan kesini, dia meminta Ellena meninggalkan Ka Lee" Clara menjelaskan.


"Anak itu, sudah di Rumah sakit jiwa masih saja berulah" Umpat kesal Shandy.


"Rumah sakit jiwa? Maksud Kaka apa?" Ellena lalu teringat saat Widya menyodorkan sebuah kartu nama, dibukanya kembali dan dia terkejut karena Widya memberinya alamat Rumah sakit jiwa.


"Ryan kejiwaannya terganggu sebab dia tak mendapatkan cintamu Ell.. Kaka, Lee, Revan, Alex dan Devan merahasiakan ini semua darimu" Shandy menjelaskan tentang keadaan Ryan.


"Mungkin karena hal ini orang tua Ryan tak terima dengan kondisi anaknya. Ibu Widya bahkan berusaha untuk menghancurkan perusahaan Lee di London dan Perusahaan Papa di Kanada. Untuk itu Ka Marcel memutuskan untuk kembali kesana mengatasi permasalahan perusahaan disana" Lanjut Shandy menjelaskan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ka reader🙏😘