
🍃🍃
Dimas Dokter yang pernah memeriksa Ellena tujuh tahun yang lalu teringat Alex saat melihat Ellena dengan luka tembak di perutnya.
Dimas memang dulu sempat bertugas di Negara yang terkenal akan Ginsengnya, tapi karena dia menemukan tambatan hatinya di Negara I akhirnya Dimas memutuskan kembali ke Negara I dan di tempat kan di Rumah Sakit milik keluarga besar Mahendra.
" Dokter, ada pasien dalam keadaan darurat. Dia terkena luka tembak di bagian perutnya ". Seorang suster mencoba menghentikan langkah Dimas yang akan segera pergi.
" Bukannya Dokter Wahyu sedang berjaga? Aku harus segera rapat ".
" Tapi Dokter.. Dokter Wahyu sedang dinas luar kota mendadak tadi ".
" Issshh.. Kenapa Wahyu selalu pergi tanpa memberitahuku ". Gumam Dimas.
Dimas dan Seorang perawat bergegas menuju ruang UGD. Dimas melihat seorang pria yang familiar di otaknya tapi tak sempat menyapanya. Dengan Teresa - gesa Dimas memasuki ruangan dan betapa terkejutnya saat melihat siapa pasiennya saat ini.
" Ellena ". Ucapnya dengan lirih.
Dimas segera menyuruh para team medisnya untuk memasangkan alat bantu pernafasan, karena denyut nadi Ellena mulai melemah. Wajahnya terlihat sangat pucat.
" Dokter... Dokter! ". Teriak perawat saat melihat monitor hampir bergaris lurus.
Dimas sangat panik, dia segera memerintahkan perawat untuk Memberikan beberapa suntikan dan mengambil alat kejut jantung. Satu kali alat itu di sentuhkan ke tubuh Ellena tak merespon, kedua sampai ketiga kali. Keringat di dahi Dimas makin mengucur, bahkan detak jantung Dimas ikut berlomba.
" Lu kudu bertahan Ell! ". Dimas mulai menempelkan alat kejut jantung itu sekali lagi dan..
" Dokter.. Detak jantungnya mulai normal ". Dimas merasa sedikit lega melihat perubahan di monitor detak jantung Ellena.
" Kalian siapkan ruang operasi sekarang juga ". Titah Dimas dengan cepat.
Dimas segera mengambil ponselnya menghubungi Alex, tapi ponsel Alex tak aktif. Kemudian mengirimkan pesan.
'Lex, cewek elu di Rumah Sakit. Dia terkena luka tembak'. Dan mengirim nya.
**
" Lee.. Bagaimana kondisi menantu Mama ". Trias dan Albert tiba karena Revan sudah memberitahunya.
" Pa, Mama.. Ellen ". Zacklee tak bisa menahan air matanya. Zacklee sangat takut sekali kehilangan Ellena. Trias memeluk putranya yang ketakutan. Padahal dalam hatinya pun merasakan ketakutan seperti yang putranya rasakan.
Mata Trias mengarah tajam ke sosok wanita yang tertunduk diujung mereka berdiri. Trias mengendurkan pelukannya dan berjalan mendekati sosok yang dikenalnya.
PLAKK!
Tamparan keras mendarat di Pipi Tasya.
" Tante ". Tasya memegangi pipinya yang sedikit terasa panas akibat tamparan dari Trias. Dengan mata berkaca - kaca Tasya menatap Trias yang sangat dihormatinya.
" Kau pantas mendapatkan itu ".
" Tan_"
" JANGAN PANGGIL AKU TANTE KARENA MULAI SAAT INI KAU BUKAN SIAPA - SIAPA LAGI !". Trias memotong ucapan Tasya dan menekankan ucapannya.
Tasya menangis sesenggukan menahan rasa Sakit atas ucapan Trias. Dirinya sebenarnya juga seorang korban. korban atas keserakahan Attar.
" Sudah lah Ma.. Yang terpenting sekarang adalah Ellena ". Albert menenangkan istrinya, sebenarnya dia juga tak tega melihat Tasya sekarang ini.
Marcel, Veer dan Shandy datang dengan wajah yang cemas.
" Ellen mana Lee! ". Shandy meneriaki Zacklee yang terduduk lemas dilantai.
" Shandy.. Tahan emosimu ". Marcel menenangkan Shandy.
Perawat membawa keluar Ellena menuju ruang Operasi. Dimas yang keluar belakangan terasa berat harus mengatakan hal ini kepada keluarga Ellena.
" Suami Nyonya Ellena ". Panggil Dimas.
Zacklee yang sudah tidak sabar berjalan mendekati Dimas.
" Tuan harus saya sampaikan jika Nyonya Ellena sekarang telah kehilangan janinnya yang baru berumur 2 minggu, dan maaf kami tak bisa menolongnya mengingat jarak peluru yang dekat dengan posisi janin ". Ucap Dimas berat hati.
Zacklee terkejut mendengar apa yang di sampaikan Dokter Dimas. Pasalnya Zacklee baru mengetahui tentang kehamilan Ellena. Zacklee mengusap wajahnya kasar, dia sangat menyesal karena tak bisa melindungi buah hatinya yang baru seumur jagung dirahim Ellena.
Semua yang mendengar begitu terkejut, Ellena tak pernah memberitahunya sama sekali atau bahkan Ellena sendiri pun belum mengetahuinya.
Marcel menghempaskan nafasnya, dia lebih memikirkan psikologis adiknya. Shandy bagaimana? Dia juga merasa terpukul.
" Saya permisi Tuan akan segera melakukan Operasi Nyonya Lee ".
Alex dan Devan datang dan mendengar semuanya. Alex sudah mengepalkan tangannya, emosinya sudah tak bisa di tahan lagi.
Devan sudah tak bisa mencegah kemarahan Alex,
BUGHK!
" Gue nyerahin Ellena karena gue percaya elu bisa jaga dia tapi ternyata apa?! ".
Alex bersiap memukul Zacklee kedua kali tapi tangannya mengenai wajah Tasya.
" JANGANNN! ". Teriak Tasya dan langsung terjatuh karena terkena pukulan Alex.
Veer yang tak tahan membalas pukulan Alex.
" Veer, ini Rumah Sakit ingat ". Marcel melerai perkelahian Veer dan Alex.
" Aku peringatin ke kamu Lex, jangan suka menyakiti wanita ". Veer menekankan kalimat Terakhirnya lalu membantu Tasya berdiri.
" Kau tak apa? ". Tanya Veer kepada Tasya Dan Tasya menggeleng.
" Aku tak apa Ka ".
" Lex, jangan kau salahkan Zacklee. Ini semua salahku, kalau saja Aku tak meminta Lee menemuiku mungkin Ellena ga akan sampai disini. Tapi Aku juga ga tau rencana Papaku. Tolong jangan salahkan Lee ". Tasya membentak Alex sambil meneteskan air matanya.
" Tasya benar Lex.. Lee baru saja kehilangan calon bayinya dan sekarang harus memikirkan kondisi Ellena ". Devan yang setuju dengan Tasya.
Alex terdiam, pikirannya sekarang hanya tertuju kepada Ellena.
*Flash off
Alex yang akan menemui Rachel untuk meminta maaf membuka ponsel nya.
" Ternyata ponselku mati, pantas saja tak ada yang menghubungiku ". Keluh Alex melihat ponselnya.
Setelah ponsel Alex aktif, panggilan dari Devan masuk ke ponsel Alex.
'Lu dimana? '
'Kangen gue lu'
'Gue lagi ga mau bercanda, Ellena di Rumah Sakit'
Devan memutuskan sambungannya.
Alex yang terkejut segera mengecek pesan di ponsel nya.
Pesan dari Dimas Alex buka, hati Alex merasa Sakit. Tangannya dikepalkan seolah ingin memukul seseorang. Ya seseorang yang sudah berjanji akan melindungi dan menjaga wanita yang dicintainya.
Alex bergegas mengambil kunci mobilnya dan melupakan rencananya menemui Rachel untuk meminta maaf.
Alex bertemu Devan di depan Rumah Sakit, kemudian mereka masuk kedalam bersama. Dan betapa terkejutnya mereka berdua saat mendengar Ellena kehilangan janinnya.
* Flash on
Mereka semua menunggu di depan ruang operasi Ellena. Hampir Tiga puluh menit Dokter Dimas belum keluar.
Drrrrtt.. Drrrttt..
Zacklee ragu untuk mengangkat ponselnya,
" Sayang, biar Mama yang mengangkatnya ". Trias yang melihat panggilan dari cucu kembarnya.
" Tidak Mam.. Lee akan mengangkatnya ". Zacklee lalu menekan tombol hijau di ponselnya setelah mengatur nafasnya.
'Papa kapan pulang?'
'Fiona sayang kalian sementara bersama Onti Renata dan Clara, jangan nakal ya'.
'Mommy mana Pa? '
'Mommy tidur sayang'. Zacklee beralasan.
'Cepat pulang Pa.. Mom.. Kami merindukan kalian'
Zacklee menahan sesak tangisnya mendengar suara kedua anaknya. Kemudian memutuskan sambungannya.
Marcel memeluk adik Iparnya. Menepuk bahunya menguatkannya.
" Semua akan baik - baik saja ". Bisiknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
😱😱 othor juga terkejut dengan hasil pemeriksaan Dokter Dimas..
yang sabar Bang Zacklee.. nanti digempur lagi deh 😁
Dasar othor somplak😒
Jangan lupa tinggalkan jejaknya geng's😘