
Happy Reading...
......................
Alex tak sengaja melihat Rachel bersama Bastian. Dilihatnya Rachel dan Bastian yang sedang bercanda, terlihat rona bahagia di wajahnya saat ini.
"Pria itu..," ucap Alex lirih memperhatikan pria yang sedang bersama Rachel.
Saat ini tujuannya bukan menemui Rachel tetapi Alex sedang menunggu kliennya di Restoran dekat tempat Rachel bersama Bastian. Tak sengaja Alex melihatnya entah mengapa hatinya tak sakit sama sekali. Berbeda saat dia melihat Ellena sedang bersama Zacklee, Alex merasakan nyeri di sudut hatinya. Mengapa sulit Alex melupakan cintanya kepada Ellena, dia sendiri sebenarnya bingung dengan perasaannya yang mencintai Ellena.
Alex segera memasuki Restoran tersebut setelah Rachel dan Bastian melajukan kendaraannya. Alex mencari sosok yang dia cari sedang melambaikan tangannya.
"Lex..," panggil Reyna.
Reyna sudah berada di tempat itu bersama seseorang yang akan ikut membantu kelancaran bisnis mereka.
"Aku sudah menunggumu daritadi kenapa baru datang?" tanya Reyna.
"Sorry, aku ada urusan" ucap Alex kemudian menatap pria didepannya yang pernah berseteru dengannya beberapa tahun silam.
"Mana klien kita?" tanya Alex lagi.
"Apa kau tak melihatnya.., dia sudah disini bersamaku satu jam yang lalu" dengus kesal Reyna.
"Maksudnya dia," sambil menunjuk Brian dengan dagunya.
Reyna mengangguk membenarkan ucapan Alex.
"Sial! kenapa harus dia" gerutu Alex lirih.
"Selamat malam Tuan Alex" sapa Brian sembari mengulurkan tangannya.
"Selamat malam," sahut Alex dengan sewot.
"Aku sangat senang bisa bekerjasama dengan anda" ucap Brian.
"Udah.. ga usah basa basi, kau sudah bergabung dengan perusahaan kita kuharap kita bisa bekerjasama dengan baik tanpa mencampur adukan perasaan" sahutnya. Alex teringat saat Brian begitu memperdulikan Ellena ketimbang nyawanya saat itu.
Brian terkekeh mendengar ucapan Alex, ternyata dia masih mengira jika dirinya menyukai Ellena.
"Kau tenanglah Lex... kita sama-sama senasib tak perlu kau khawatirkan perasaan kita masing-masing" sahut Brian yang mengerti arah ucapan Alex.
'Sial!' batin Alex.
"Kalian ngomongin apa sih?" pertanyaan Reyna membuat Alex dan Brian menghentikan aksi saling sindirnya.
"Tak apa, kau lanjutkan apa yang mau kau sampaikan" ucap Alex dan benar saja Reyna langsung melipat bibirnya kedalam.
"Jadi nanti kita akan membuka cabang di dekat taman hiburan milik Brian, aku punya project akan membangun sebuah hotel di dekatnya. Jadi nanti para tamu hotel bisa langsung melihat pemandangan yang tak biasa. Gimana menurut kalian?" tanya Reyna meminta pendapat Alex dan Brian.
"Aku setuju dengan idemu calon istriku" ucap Brian.
Uhuk.. uhuk..
Alex hampir menyemburkan minuman yang sudah di pesankan oleh Reyna. Mendengar kata calon istriku Alex melirik tajam kearah keduanya.
"Bisa dijelaskan Reyna?" tanya Alex.
Reyna gugup harus menjelaskan seperti apa. Pasalnya dia dan Brian sepakat untuk saling mengenal terlebih dulu.
"Kita akan segera menikah" Brian memotong ucap Reyna tersenyum menang kearah Reyna yang mendelik.
"Bagaimana bisa kau menikah dengan keponakaknku sedang kalian belum jatuh cinta"
"Lex, cinta ga harus datang sebelum menikah. Cinta juga bisa datang setelah menikah. Kau harus tahu sudah saatnya kita move on ke masa lalu. Ada yang lebih penting dia sedang menunggu, yaitu masa depan" ucapan Brian seperti menampar Alex, bayangan Rachel sempat terlintas dipikirannya lalu setelah itu bayangan Anna yang tersenyum kagum ketika memasuki kediamannya.
Alex segera menepis bayangan dia wanita dari pikirannya kemudian menatap Brian dan Reyna bergantian.
"Semoga hubungan kalian dilancarkan hingga pelaminan"do'a terbaik keluar dari mulut Alex. Kemudian mereka melanjutkan sesi makan serta kerjasamanya.
Sementara di depan kediaman Rachel atau tepatnya Alex, Bastian menghentikan kendaraannya di depan rumah Alex.
"Kau tinggal serumah bersamanya?" tanya Bastian.
Rachel mengangguk.
"Kau jangan berpikir berlebihan meski kita serumah dia tak pernah melirikku sama sekali" ucap Rachel terdengar pilu.
"Rachel tolong pikirkan tawaranku. Aku janji akan membahagiakanmu seumur hidupku" pintar Bastian sekali lagi.
"Bastian, maaf aku belum bisa" sahut Rachel kemudian membalikkan tubuhnya memasuki kediamannya, tentunya dengan hati yang sesak. Rachel menangisi nasibnya tubuhnya longsor dibalik pintu, saat ini yang dia butuhkan adalah Sunny. Kemana Alex membawanya? Rachel terus bertanya pada dirinya dimana Sunny.
Tok.. tok.. tok...
Suara ketukan pintu membuat Rachel segera berjangkit membuka pintu, sebelum membuka pintu Rachel sempat mengusap air matanya.
Klek,
Rachel menarik gagang pintu membukanya, dia terdiam dan kembali menangis saat melihat siapa yang tiba.
"Dimana Sunny?" dua kata yang keluar sambil menahan isak tangisnya.
"Dia baik-baik saja bersamaku" ucap Alex dingin.
Alex kemudian melewati Rachel yang berdiri di depan pintu menuju ruang kerjanya untuk mengambil beberapa dokumennya. Setelah selesai dia melihat Rachel masih berdiri mematung didekat pintu yang tertutup.
Alex meliriknya sekilas, ada rasa iba dihatinya melihat Rachel bersedih. Alex mengambil nafasnya dalam dan mengeluarkannya perlahan.
"Rachel, maaf jika aku membuatmu terluka. Aku hanya berpikir tak pantas bersanding denganmu. Kau wanita baik sudah sepantasnya kau mendapatkan pria baik pula. Maaf sudah menorehkan luka didalam hatimu" ucap Alex yang akhirnya mampu mengungkapkan isi hatinya.
"Kau tahu Alex dari awal aku bertemu denganmu aku sudah jatuh hati kepadamu. Aku sangat berharap kau pun memiliki perasaan yang sama denganku. Sebenarnya hatiku sangat tak yakin saat kau memutuskan untuk menikah denganku, aku tahu kau lakukan itu demi Sunny. Sejak malam itu kau membawa Sunny aku sudah memutuskan untuk tak mengharapkanmu lagi. Aku sudah merelakanmu Lex, berbahagialah bersama wanita yang kelak menjadi pendampingmu. Meski kita tak bisa bersama aku ingin kita tetap merawat dan membesarkan Sunny bersama. Dia bukanlah sebuah kesalahan yang kita buat, tetapi dia adalah seseorang yang membuat kita menjadi lebih dewasa. Ini memang sangat sakit, tapi biarlah aku akan menjadikan ini sebagai pembelajaran jika seekor burung pun mampu terbang dengan sayap patahnya mengapa aku tidak. Terimakasih sudah bisa menerima kehadiran Sunny dalam hidupmu. Mulai saat ini kita adalah masing-masing" ucap Rachel pelan tetapi menusuk lubuk hati terdalam Alex.
Alex terdiam dia merasa ucapan Rachel semuanya benar. Tanpa sepatah kata Alex memeluk tubuh Rachel untuk terakhir kalinya. Jelas bulir bening lolos di pipi keduanya. Mereka tak menyangka jika takdir pada akhirnya tak mempersatukan mereka.
Alex mengendurkan pelukannya, menyeka air matanya.
"Kau tinggallah dirumah ini, aku sudah menyerahkannya untukmu. Aku tak mau Sunny menangis mencarimu" ucap Alex.
"Ijinkan aku menemui Sunny Lex?" pinta Rachel.
"Kau datanglah ke Kota P, disana kau akan bertemu dengannya" ucap Alex kemudian pergi meninggalkan Rachel.
Rachel tersenyum bahagia karena Alex pada akhirnya memperbolehkannya menemui Sunny. Rindu yang sudah tertahan ingin memeluknya sebentar lagi akan terwujud.
Cinta itu terkadang aneh, jika dikejar dia akan menjauh, tetapi tak dikejar dia akan pergi seolah takdir sudah berpesan padanya. Sekelumit kisah Alex dan Rachel membuat cinta tak memihak kepada keduanya, dan pada akhirnya kesendirian kembali berdampingan dengannya.
Bersambung...