
☘☘
Seorang wanita berkulit putih, memiliki rambut panjang hitam yang di kuncir mirip ekor Kuda berbusana dress berwarna sky blue sedang menatap seorang pria yang masih betah di tidur lamanya. Dengan cekatan jari lentik itu membasuh perlahan tubuh sang pria menggunakan handuk basah secara menyeluruh. Setelah selesai membasuhnya wanita itu segera mengeringkan tubuh si pria menggunakan handuk kering.
Ellena dengan telaten merawat sang suami yang masih koma setelah tiga hari dirinya melahirkan. Tak ada keluhan sama sekali Ellena merawatnya. Seperti biasa setelah selesai dirinya memompa ASInya untuk babynya, Ellena kemudian merawat sang suami. Memandikan dengan handuk basah, kemudian bercerita berharap sang suami merespon apa yang dia ceritakan.
Setelah selesai membasuh tubuh sang suami, Ellena meminta bantuan Albert dan Shandy untuk membantu menggantikan pakaian pasien.
"Ell, sebaiknya kau istirahat sudah hampir satu bulan kau merawat Zacklee dan baby sendirian" ucap Albert.
"Pa.., bukankah sudah sewajibnya seorang istri berbakti kepada suaminya. Aku tak merasa keberatan mereka berdua, mereka adalah hidupku saat ini, tanpa mereka mungkin aku tak akan sanggup untuk berdiri disini" sahut Ellena menyeka air matanya.
"Ya sudah, Papa hanya takut kau kelelahan apalagi bayimu masih sangat membutuhkanmu"
"Papa tak usah khawatir, Ellena bisa menjaga diri Ellena" sahutnya kembali merapikan pakaian pasien yang di gunakan Zacklee.
"Ell, tadi Kakak beliin kamu Susu Ibu menyusui biar Babymu tak kekurangan ASI"
"Terimakasih Kak..," ucap Ellena.
"Kak, apa Kakak tau kabar anak kembarku? kenapa belum ada yang memberitahuku" tanya Ellena.
"Kau tenanglah, mereka baik-baik saja"
"Aku merindukannya Ka.. siapa tahu dengan kehadiran mereka bisa membuat Ka Lee ada perkembanganya"
"Sebelumnya Lee pernah mengalami koma seperti ini saat kehilanganmu, kau yakinlah jika Zacklee pasti kuat dan bisa melewatinya"
"Shandy betul Ell, kau bersabarlah. Papa bersyukur bisa memiliki menantu sepertimu yang sangat peduli sekali kepada keluarga" sahut Albert.
"Terimakasih Pa.., Ellena juga bersyukur memiliki keluarga yang luar biasa seperti ini"
"Sudahlah nak. Papa pamit ke Kantor dulu kalo ada apa-apa segera hubungi Papa" pesan Albert.
Ellena mengangguk, dia sangat bangga kepada Papa mertuanya. Papa mertua serasa Papa kandung tak membedakan antara anak dan menantu.
"Shand, Om ke Kantor dulu" pamit Albert kepada Shandy.
"Iya Om.., hati-hati di jalan" ucap Shandy.
Ellena kembali menatap wajah sang suami, menggenggam Tangannya dengan lembut. Shandy yang melihatnya perlahan keluar dari ruangan, dia tahu jika Ellena butuh sekedar bercerita dengan Zacklee. Dokter Robert sendiri menyarankan jika pasien koma harus sering-sering diajak mengobrol untuk menstimulus responnya.
"Selamat pagi sayang, kau terlihat sangat tampan meski tubuhmu sedikit kurusan itu tak membuat tampanmu berkurang sedikitpun. Kau tahu Sayang hari ini anak kita berat badannya sudah mencapai 2.2kg sebentar lagi dia akan keluar dari ruangannya untuk segera bertemu Papanya yang sangat tampan. Kau tahu sayang dia sangat aktif seperti kedua Kakaknya, dan dia sangat mudah lapar sepertimu" Ellena terkekeh menceritakan perkembangan bayinya.
"Setelah pulang nanti aku akan memasak besar untuk kalian karena kalian memiliki hoby yang sama. Sayang aku belum memberi nama untuk anak kita yang ini, karena kau sudah berjanji akan mengumumkan namanya sendiri. Kau selalu menyebutnya baby K tanpa boleh aku ketahui kepanjangan K itu apa. Kau curang sayang tak memberitahukan padaku, padahal aku Papa serta sahabat-sababatmu sedang menunggu kepanjangan K itu apa" Ellena terkekeh kembali.
"Sayang, cepatlah bangun apa kau ingin melihat wajah tampan putramu? dia sangat mirip denganmu. Dia memiliki bentuk hidung yang sama persis dengan hidungmu, dia memiliki mata tajam seperti tajamnya mata milikmu. Bangunlah sayang, aku sangat merindukanmu.. hiks.. hiks.." tangis itu akhirnya pecah, Ellena menenggelamkan wajahnya ke Dada bidang Zacklee yang masih betah tertidur dengan tangis yang menyesakkan hati, menghimpit sebuah rongga di dalamnya.
Sebuah tangan mendarat di punggung Ellena yang sedang menangis. Ellena mendongakkan wajahnya dia langsung menenggelamkan wajahnya dalam pelukannya. Alex pria yang selalu menguatkan Ellena disaat dia rapuh melihat kedua orang tercintanya sedang berjuang melawan maut.
"Ada yang ingin bertemu denganmu," bisik Alex pelan.
Alex sedikit menggeser tubuhnya dilihatnya Felix dan Fiona sudah berada di tengah pintu dengan wajah yang sudah basah melihat kondisi Papanya.
Ellena beranjak dari duduknya menghampiri kedua anaknya dan memeluknya dengan erat. Menciumi seluruh wajah anak kembarnya dengan bergantian.
"Mommy.., hiks.. hiks.." rengek keduanya.
"Mommy sangat merindukan kalian sayang" ucap Ellena kembali mendaratkan ciuman di seluruh wajah keduanya.
"Mommy..," panggil Felix dan Fiona bersamaan.
Trias berdiri mematung bukan menatap pertemuan Ibu dengan anaknya, melainkan dia bergetar melihat sang putra yang terbaring dengan alat kesehatan yang memenuhi tubuhnya.
Trias melangkah dengan perlahan sembari menata hatinya yang tak karuan melihat sang putra sedang tak berdaya yang kedua kalinya.
Trias yang diikuti Zaskia mendekati Zacklee tentunya dengan deraian air mata yang tak bisa di tahan. Lintasan-lintasan Zacklee yang tersenyum atau sekedar menggodanya teringat di memori mereka berdua. Zaskia yang tak kuat memilih untuk menghentikan langkahnya di bantu Devan yang memegangi. Sedang Trias menyentuh seluruh wajah putranya dan menciuminya dengan rasa rindu yang tak bisa diungkapkan dengan sebuah kata.
"Nak, Mama datang" bisik Trias di telinga Zacklee.
Ellena dan si kembar masih terus menatap Papanya yang belum merespon semuanya.
"Nak, tidakkah kau merindukan Mama? kau lihat kedua anakmu sudah berada disini, Felix juga sudah sembuh kau harus bangun Nak, mereka sangat ingin bermain denganmu" bisik Trias kembali.
"Pa_pa..," panggil Felix mendekati Zacklee.
Ellena dan Fiona ikut mendekati Zacklee.
"Pa_pa..," panggil keduanya.
Suasana haru di ruangan membuat hati ketiga pria yang ikut berada di dalamnya merasakan sama yang mereka rasakan. Apalagi Alex dia sangat tak tega melihat Ellena yang harus mendapatkan cobaan dari orang-orang yang sangat dia cintai. Alex makanya memutuskan untuk menunda pernikahannya meski saat itu Ellena tak menyetujuinya. Bukan tanpa alasan Alex menolak pendapat Ellena, sebab masih ada rasa cinta dihatinya yang membuat Alex enggan melanjutkan pernikahannya.
Alex memang dengan sengaja menjaga dan menemani Ellena dari awal, dia takut jika Ellena ikut drop dengan situasi yang menimpanya.
"Papa wake up we are here to invite you to play like you promised" ucap Felix sedikit mengguncang tubuh Zacklee.
(Papa bangun kami sudah disini untuk mengajakmu bermain seperti yang kau janjikan) .
Ellena yang tak tahan memilih untuk keluar ruangan, hatinya sangat sesak sekali melihat Zacklee tak merespon kedua anak kembarnya.
Alex yang ikut mengejar dihadang oleh Dhea dan Clara, dia memberi kode jika Rachel sedang melihatnya. Pada akhirnya Dhea dan Clara yang mengejar Ellena.
Di Taman Rumah sakit, Ellena meluapkan isi hatinya lewat tangisnya. Dhea dan Clara ikut mendekat. Dhea membawa Ellena dalam pelukannya.
"Dhea, aku ga kuat.. aku ga kuat menerima cobaan ini" keluh Ellena.
Dhea dan Clara ikut menangis dia juga merasakan apa yang sahabatnya rasakan. Berat pastinya Ellena menjalani semua ini seorang diri.
"Kau percaya Ell, jika Tuhan tak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuanmu. Bertahanlah.. mereka sedang berjuang demi dirimu yang sudah lelah menanti mereka" ucap Dhea menenangkan.
Bersambung.....