
Happy Reading....
Disuatu sudut kota seorang pria muda sedang mengamati secangkir kopi hangatnya.
"Kau melakukan yang terbaik Felix," ucap seorang wanita bertudung dan berkacamata hitam membuyarkan lamunan Felix.
"Kau mengikuti?" sahut Felix sebenarnya merasa kesal, karena wanita itu diam-diam mengikutinya.
"Felix aku tak mengikutimu hanya saja aku tak sengaja melihatmu, jadi aku memutuskan untuk berhenti" wanita itu beralasan.
Felix tak lagi peduli dengan wanita itu, dia mengaduk secangkir kopi hangatnya lalu menyesapnya pelan.
"Felix aku harap kau segera memberikan keputusan untuk kedua orang tuamu, apa kau tak merasa kasihan terhadap Mommy yang sudah melahirkanmu?" wanita itu mulai memprovokasi.
"Apa kau memerlukan bantuanku?" Pura-pura menyodorkan bantuan.
"Aku bisa melakukannya sendiri. Tak ada yang bisa menyakiti Mommy termasuk Papa" ucapnya kemudian berjangkit meninggalkan wanita itu.
"Zacklee sebentar lagi keluargamu akan hancur," geram Reyna menatap punggung Felix dengan senyum smirknya.
Saat ini Felix kembali ke kost-kostannya, untungnya hari ini libur Sekolah jadi dia tak harus berangkat kesana, sebab dia yakin jika Papanya akan menunggunya.
Felix menjatuhkan tubuhnya terlentang dengan kedua tangan bertumpu dibawah kepalanya.
"Apa aku harus mempercayai wanita itu?" gumam Felix.
"Selama ini antara Mommy dan Papa tak ada masalah apapun, mereka terlihat sangat bahagia" Felix mencoba mengurutkan ingan kebahagiaan kedua orang tuanya.
"Apa wanita itu pernah memiliki masalah dengan Mommy dan Papa di masa lalu?" Felix merasakan ada sesuatu yang ganjal.
"Mom, Pa.. maafkan Felix. Felix sangat merindukan kalian," perasaan seperti itulah yang sedang menyelimuti isi hatinya.
Tok.. tok.. tok..,
Lamunan Felix buyar saat mendengar suara ketukan pintu.
"Ck, dasar wanita tua itu selalu saja mengikutiku" terka Felix mengumpat Reyna.
Tok.. tok.. tok...,
Ketukan kedua terdengar kembali, Felix memang tak ingin membukanya sebab dia merasa jengah dengan sikap Reyna.
Tok.. tok.. tok...,
Felix akhirnya beranjak saat ketukan ketiga terdengar, dengan rasa yang teramat malas dia berteriak,
"Iya.. bentar..," lalu membuka pintu tersebut.
"Ngapain anda datang kes__" ucapan Felix terhenti saat menyadari sosok wanita di hadapannya. Wanita yang baru saja dia rindukan.
"Mom_my," ucap Felix terkejut.
"Boleh Mommy masuk?" tanya wanita berusia 39 tahun yang masih tampak cantik.
Felix hanya bisa mengangguk dan memberikan jalan untuk Mommynya masuk.
"Kau pasti lapar, Mommy sudah membuatkan masakan kesukaan kamu" ucap Ellena membuka tentengan di tangannya dan segera menyajikan makanannya di atas meja kecil.
Felix tertegun tak mampu berucap apa-apa, dia terus menatap wajah Mommynya yang tersenyum.
"Kau harus makan, Mommy dan Papa sangat bersusah payah untuk memasaknya" mengambilkan nasi serta lauk dan akan menyuapi putranya.
"Sebelum makan berdo'a dulu," Ellena mengingatkan putranya sebelum memakan makanan yang disuapi oleh Mommynya.
Felixpun segera menuruti perintah Mommynya, dia menunduk membaca do'a lalu meraih makanan itu dengan mulutnya.
"Kau tahu Felix dari kalian berada di rahim Mommy, Mommy sangat mencintai kalian bahkan nyawa Mommy siap untuk Mommy pertaruhkan" ucap Ellena sambil menyuapi putranya.
"Meskipun Papa Alex tak berhasil mendapatkannya, tetapi Papa berhasil menggantinya dengan cilok buatannya" lanjutnya bercerita.
"Bagaimana dengan Papa kandungku Mom? dimana dia selama Mommy mengandungku dan Fio?" tanya Felix menghentikan gerakan Ellena menyuapinya.
Ellena tersenyum, kemudian mengambilkan sebotol air mineral dan memberikannya kepada Felix.
"Setiap keluarga pasti memiliki persoalan masing-masing yang mungkin belum kalian mengerti saat itu. Mommy dan Papa terpisah karena suatu kesalah pahaman,"
"Salah paham?"
Ellena mengangguk, " Mommy salah paham sudah mengira Papa tak mencintai Mommy, dengan keras kepalanya Mommy saat itu Mommy memutuskan pergi. Saat itu Mommy juga tak mengetahui jika Mommy sedang mengandung kalian,"
"Kemana Papa saat itu? apa yang membuat Papa tak mencari kita?"
"Papa dijebak seseorang yang menginginkan rumah tangga kita pecah belah. Seharusnya Mommy tak memutuskan untuk pergi saat itu," ucap Ellena matanya mulai berkaca-kaca menahan tangis.
Felix bisa melihat kebenaran di mata Mommynya saat ini, hatinya merasa teriris melihat sangat Mommy menahan tangis karena ulahnya.
"Mom...," ucap Felix.
"Kau tahu Felix, Papa mencari kita dengan susah payah bahkan Papa sampai mengalami koma dalam mencari kita,"
Felix terkejut saat mendengar cerita Mommynya, ternyata benar feelingnya beberapa jam yang lalu dia merasa ada kejanggalan pada wanita yang memprovokasinya.
"Papa mencari kita tetapi kenapa baru 7 tahun dia menemukan kita Mom?" Felix mencoba memastikannya lagi.
"Itu karena Mommy yang sangat keras kepala tak mau bertemu dengan Papamu, tetapi Mommy salah karena ternyata Papamu masih setia menunggu Mommy dan kalian kembali.. hiks.. hiks.. hiks..," air mata Ellena akhirnya lolos mengingat penyesalannya di masa lalu.
"Mom..," Felix memeluk tubuh Mommynya. Dia juga merasakan penyesalan seperti yang dirasakan Ellena saat ini.
"Apa kalian hanya akan berpelukan berdua saja?" suara Zacklee memprotes Ellena dan Felix.
Felix mengendurkan pelukannya dan menoleh kearah sumber suara. Zacklee, Fiona dan Kaisar entah berapa lama sudah berdiri disana memperhatikan mereka berdua. Fiona yang tak mampu membendung rasa sedihnya buru-buru berhambur kepelukan saudara kembarnya.
"Ka Felix...,"
"Kaka jahat kenapa meninggalkan Fiona dan Kaisar," rengek Fiona.
"Kakak kan tau kalau Fiona tak bisa kalau harus jauh dari saudara Fio,".
Tanpa kata Felix terus mempererat pelukannya, dia benar-benar menyesal karena sudah membuat kekacauan di keluarganya.
" Kai.. kemarilah," pinta Felix melihat Kai tersenyum kearahnya.
Kai berlari ikut memeluk kedua kakaknya, " Kakak...," panggil Kai sembari memeluk kedua Kakaknya.
"Pa..," Felix mengendurkan pelukannya menatap kearah Papanya kemudian melangkahkan kaki kearah Zacklee yang tersenyum kepadanya.
"Papa tak pernah mengajarkan jagoan Papa untuk menangis," ucap Zacklee saat Felix berada tepat dihadapannya dengan mata basahnya.
Felix mengabaikan ucapan Zacklee, dia sudah tak sabar ingin memeluk Papa yang sudah 1 bulan pergi bekerja.
"Maafkan Felix Pa.., Felix tak bermaksud membuat Mommy dan Papa bersedih," ucap Felix sesenggukan.
Zacklee mendorong tubuh Felix melepaskan pelukannya, "Anak Papa tak pernah sedikitpun membuat sedih Papa dan Mommy. Tumbuhlah menjadi pria yang kuat dan berpikir smart serta keren seperti Papa,"
"Pa... Felix sangat bangga memiliki Papa dan Mommy," ucap Felix.
Setelah acara kesalah pahaman berakhir, Felix menceritakan asal mulai kenapa dirinya bisa menjadi salah paham kepada kedua orang tuanya terutama kepada Zacklee dan Alex.
Sekarang Ellena serta Zacklee bisa mengetahui siapa dalang dibalik semua.
"Sekarang Papa tau apa yang harus kau lakukan nak...,"
Bersambung....