What I Think

What I Think
Hukuman Mr. Joe



Happy Reading...


"Om Dewa..." teriak Fiona didalam kelas saat Mr. Joe memberinya pertanyaan.


Huuuuu.....


Suara sorak satu kelas Fiona.


"Fiona is coming forward right now!" perintah Mr. Joe.


"Fio, ada apa denganmu hari ini?" tanya Safira berbisik.


Fiona hanya tersenyum memamerkan rentetan giginya yang putih. Tak biasanya Fiona seperti ini. Safira sendiri memperhatikan keanehan Fiona saat masuk kelas pertama kali.


Fiona terpaksa harus menuruti perintah Mr. Joe.


"Sebagai hukuman karena kau tak memperhatikan pelajaran saya, maka saat ini kau harus membersihkan lorong selesai jam pulang sekolah,"


Glegeg!


Fiona menelan ludahnya dalam-dalam mendengar hukuman yang harus dia laksanakan beberapa menit yang akan datang.


'Ini semua gara-gara Om Dewa' batin Fiona.


'Awas nanti kalau ketemu, akan aku balas'


Tet... Tet... Teeett...


Bunyi bel pulang berdentang, seluruh siswa maupun siswi berhamburan keluar untuk segera pulang. Tetapi tidak untuk Fiona, dia masih harus mengerjakan hukuman yang diberikan Mr. Joe membersihkan lorong.


"Fio.. sebenarnya ada apa sih? ga biasanya kau aneh begini. Pake panggil-panggil Om Dewa di kelas, emmmph" Fiona segera membungkam mulut Safira takut ada yang mendengar jika dia memanggil nama Dewa di kelas.


"Ga usah keras-keras Safira..kalau sampai kedengeran yang lain aku bisa jadi bahan ejekan," keluh Fiona.


"Iya.. iya aku akan mengecilkan suaraku agar tak terdengar yang lain," sahut Safira terkekeh kecil.


"Fio... apa yang kau lakukan?" suara Felix membuat Fiona maupun Safira terkejut, untung saja percakapan mereka mengenai Dewa tak terdengar oleh Felix.


"Ka_kak, sejak kapan Kakak disini?" pertanyaan Fiona mengalihkan pertanyaan Felix.


"Sejak daritadi adikku sayang,"


"Idih.. kalau ada sayangnya pasti ada maunya," sindir Fiona.


"Kakak, Nick dan Nathan mau ketempat Sunny kalian ikut ga?"


"I_kut...," teriak Safira.


"Tunggu bentar lagi Kak.. aku mau nyelesein hukumanku dari Mr. Joe," pinta Fiona.


"Karena Om De__," hampir saja Fiona keceplosan menyebut nama Dewa.


"Om Deri penjaga perpus gara-garanya Fiona salah pinjam buku" kilah Fiona.


"Makanya dek kalau Mr. Joe ngomong tuh di dengerin jangan banyak melamun..," ledek Felix.


"Ayo Felix..," ajak Nathan.


"Tungguin aku, sebentar lagi selesai kok..."


"Kelamaan kalau nunggu dia, jam 3 sore kita masih harus lanjut ujian Bu Gita" Nathan mengingatkan.


"Fio, kau kan sudah menyelesaikan ujian semuanya. Nanti Kakak akan minta bantu Om Dewa untuk menjemputmu dan mengantarkan ketempat Sunny," tawar Felix.


"Apa? Om Dewa lagi?" ucap Fiona lirih tentunya dengan wajah yang terlihat bingung.


"Fio, kakak sudah mengirim pesan Om Dewa. Kau selesaikan hukumanmu, Kakak berangkat dulu... bye..,"


"Fio.. aku ikut mereka ya...," pamit Safira pula.


"Safira.... tega banget ninggalin aku sendirian," rengek Fiona.


Setelah sahabatnya pergi, kini tinggal Fiona sendiri membersihkan lorong.


"Ini semua gara-gara Om Dewa, aku harus menerima hukuman ini!" umpat kesal Fiona.


Fiona dengan cepat membersihkan lorong agar bisa menjemput sahabatnya di kediaman Sunny. Informasi yang didapat hari ini Sunny tak masuk sekolah akibat salah satu kerabatnya meninggal dunia. Untuk itu Felix dan yang lain berinisiatif untuk menghibur Sunny.


"Done, saatnya pulang...," ucap Fiona bahagia. Saat dia berbalik dan melangkah tiba-tiba kakinya terpleset lantai yang belum kering, untungnya Dewa tiba disaat yang tepat. Dewa yang melihat dua kali kejadian Fiona terpleset berlari meraih tubuh Fiona. Sayangnya dia malah terpleset juga, sehingga mereka berdua jatuh bersama. Dengan posisi Fiona berada dibawah tubuh Dewa salah satu tangan Dewa menjadi tumpuan kepala Fiona.


Fiona yang merasa ada yang melindunginya membuka matanya perlahan. Wajah Dewa yang sangat dekat serta hidung mancung yang saling menempel dari terpleset sebelumnya membuat keduanya merasakan degupan jantung yang aneh kembali.


'Tuhan, jangan bangunkan aku dalam mimpi ini' batin Fiona.


'Sial! kenapa dengan jantungku setiap dekat dengannya berdetak berbeda' batin Dewa.


Aku tak tau.. apakah kau rasakan juga rindu?


Jika kau pergi,


Apakah aku bisa menemukanmu?


Andai kau tetap di sini, bisakah kita mulai hari baru?


Dengan kasih sayang tanpa bimbang merajut asa dalam satu kisah.


Bersambung....