
Happy Reading...
Lanjut lagi part. Alex dan Rachel ya ges...
......................
Selesai Alex bertemu dengan Devan. Dia memutuskan untuk segera kembali ke Apartementnya. Alex yang tiba di Apartementnya langsung mencium aroma yang membuat perut terasa lapar.
"Papa....," teriak Sunny melihat Alex tiba.
"Sunny...," panggil Alex dengan tersenyum kemudian mencium pipi gembulnya.
"Papa, hari ini Mama masak kepiting saos padang katanya kesukaan Papa" cerita Sunny.
Alex tak menyangka jika Rachel masih ingat makanan kesukaannya.
"Kalian makanlah, pumpung masih hangat" ucap Rachel menyapa keduanya yang masih berdiri.
Alex kemudian menuruti permintaan Rachel. Alex duduk bersebelahan dengan Sunny. Rachel sendiri masih melayani keduanya, menuangkan nasi serta lauk di piring keduanya.
Alex menatapnya dengan senyuman, dirinya merasa kembali saat pertama bertemu dengan Rachel. Pertemuan yang menurutnya salah, karena saat itu Alex sedang merasa sakit hati karena mendengar tentang pernikahan Ellena. Dimana Alex harus pergi mencari wanita untuk memuaskan dirinya dan bertemulah dia dengan wanita cantik seperti Rachel.
Dalam hati Alex ingin sekali menertawai dirinya, sosok yang dia tolak sekarang akan menjadi masa depannya. Tentunya dengan pertimbangan yang sangat panjang.
** Flashback
"Apa yang membuat Kaka ragu dengan Rachel? apa karena aku?" tanya Ellena di malam sebelum acara empat bulanan.
Alex terdiam, dia hanya menoleh kearah wanita yang masih bertengger di hatinya.
"Ckk, kehidupan ini sangat lucu" decak Ellena sambil menertawakan takdirnya.
"Aku di pertemukan dengan lima pria yang menurutku arogant waktu itu. Ka Revan, Ka Ryan, Ka Lee, Ka Devan dan kau" Ellena menjeda ucapannya.
"Apa kau menyesal bertemu dengan kita?" tanya Alex.
"Menyesal? aku tak pernah menyesal dengan takdirku. Aku sangat bersyukur bisa di pertemukan dengan kalian. Berkat kalian hubunganku dengan Ka Shandy jauh lebih baik" ucap Ellena, matanya masih menatap langit gelap bertabur bintang.
"Ka Lee, dari awal pertemuanku dengannya di lorong saat itu, tak pernah terpikir jika aku akan jatuh cinta kepadanya. Aku ngerasa semua ini adalah skenario Tuhan, hingga pada saat itu juga kau mengungkapkan rasa yang sama. Ayolah Ka.., aku tau ini berat tapi pikirkan Rachel yang masih berjuang meyakinkan dirimu, kalo dia sangat mencintaimu" rengek Ellena
"Aku sudah mencobanya Ell, tapi __"
"Aku tau itu sangat sulit Ka, tapi percayalah jika Rachel adalah yang terbaik. Aku bisa melihat ketulusannya, setidaknya demi aku Felix dan Fiona jangan lepasin wanita sebaik Rachel" Ellena menggenggam jemari Alex dengan kuat. Ada harapan di setiap sentuhannya, ada kebahagiaan di dalam nanar matanya.
Alex mengelus pucuk Kepala Ellena dengan cinta, cinta seorang Kakak kepada adiknya. Dia mengecup ujung Kepalanya, sedang Ellena memejamkan Matanya saat bibir Alex menyentuh ujung Kepalanya. Menurutnya, biarlah itu menjadi sentuhan terakhir agar Alex mampu melupakannya, melupakan harapannya, melupakan rasa cintanya kepada seseorang yang salah. Seseorang yang sudah memberinya harapan palsu, seseorang yang sudah mempermainkan perasaannya, seseorang yang sudah menyakiti dirinya.
Hubungan kita masih sama seperti pertama bertemu,
Kisah kita masih berlanjut hingga junior kita dewasa,
Maafkan aku karena sudah menyakitimu,
Semoga kau ikhlas menerima keputusan ini.
** Flash On
Semenjak Malam itu, Alex mencoba membuka hati untuk Rachel. Beban yang ada dalam pikiran serta hatinya hilang begitu saja saat mereka sudah melepaskan semuanya.
Ellena sudah berbahagia dengan Zacklee, Alex yakin jika Zacklee mampu menjaga Ellena, menjaga dirinya, menjaga cintanya bersama anak-anaknya kelak.
"Papa..., ayo di cobain... kenapa melamun?" tanya Sunny.
"Papa akan mencoba masakan Mama," ucap Alex kemudian menyendok suapan pertama masuk ke dalam mulutnya.
"Cie... cie... cie..," sorak Sunny.
"Sunny, kau mendapatkan kalimat itu darimana?" tanya Alex terkejut.
"Aunty cantik Pa, katanya kalo Papa mesra sama Mama harus di sorakin cie.. cie.. memangnya cie.. cie.. itu artinya apa sih Ma, Pa?" tanya Alea lugu.
'Dasar Ellena, awas besok kalo ketemu,' batin Alex yang sebenarnya bahagia.
"Cie.. cie itu artinya so sweet sayang" ucap Alex.
"Mana ada cie.. cie.. artinya so sweet Lex?" protes Rachel.
"Emang menurutmu artinya apa?"
"Itu kan hanya kalimat untuk membuat orang malu?" sahut Rachel.
"Malu bagaimana? orang aku yang di gituin ga merasa malu"
"Kau memang tak malu, tapi aku__" Rachel hampir saja kelepasan dengan perasaannya.
"Aku kenapa Chel?" tanya Alex penasaran karena Rachel langsung melipat bibirnya.
"Ah ga apa-apa, lupakan" Rachel menahan senyumnya.
Bagaimana dengan Sunny, dia tentunya sangat bahagia karena baru pertama semenjak dirinya tinggal bersama Alex dan Rachel, Sunny baru melihat mereka saling berbicara tanpa beban. Sunny merasa apa yang dia inginkan memiliki Keluarga seperti Keluarga Felix dan Fiona terwujud. Sunny selalu berkeluh kesah kepada Ellena melihat Alex dan Rachel begitu dingin setiap kali bertemu. Disitu Ellena benar-benar mulai menyadari harus segera bertindak agar Sunny tak kesepian seperti dirinya dulu. Tanpa canda tawa kedua orang tua yang belum pernah dia temui sama sekali. Ellena merasa jika melihat Sunny dia seperti melihat dirinya sendiri di masa lalu. Maka dari itu, Ellena tak mau jika Sunny mengalami hal sama seperti dirinya.
Hidup tanpa mengetahui siapa dan bagaimana wajah kedua Orang tua bukanlah hal yang mudah. Ellena mencoba untuk menguatkan hati saat orang-orang bertanya 'dimana Mamamu? dimana Papamu?' untungnya Marcel selalu ada di sampingnya dalam keadaan apapun. Berbeda dengan Sunny, dia dari lahir sudah dipisahkan oleh Kakeknya dari Rachel dan Alex. Bahkan setelah menyadari semuanya, Sunny tak langsung mendapatkan pengakuan dari Alex. Itulah alasan mengapa Ellena harus segera berbicara dengan Alex, agar Sunny tak berlarut-larut seperti dirinya di masa lalu.
Malam itu merupakan makan malam mereka bertiga sangat hangat layaknya Keluarga beneran. Selesai Makan malam, Sunny juga mendapat kasih sayang tak biasanya, Alex dan Rachel mereka bersama membacakan dongeng sebelum tidur.
"Sssttt...," Rachel menyuruh Alex untuk berhenti membacakan dongeng, karena Sunny sudah terlelap.
Kemudian mereka beranjak dari ranjang Sunny dengan sangat pelan, takut mengganggu tidurnya.
"Rachel...," panggil Alex pelan.
"Boleh kita bicara sebentar?" pinta Alex.
Rachel mengangguk dan mengikuti Alex menuju balkon.
"Rachel, kau tau kenapa aku ingin menikah denganmu? bukan karena__"
"Aku tahu Lex, jika kau belum siap tak apa. Aku tak masalah. Aku sadar siapa aku, cinta tak bisa dipaksakan. Kau bisa menerima Sunny adalah anugerah buatku" ucap Rachel memotong ucapan Alex.
"Aku akan berusaha untuk mencintaimu Rachel demi Sunny" sahut Alex membuat Rachel terkejut dan terharu. Dia tak menyangka jika Alex akan mengatakan itu.
"Rachel, maukah kau menikah denganku?" pinta Alex kali ini dia mengeluarkan sebuah kotak bludru berwarna tosca.
"Aku bukan pria romantis, tak banyak kata tetapi aku akan membuktikan kesungguhanku untuk menikahimu. Mari kita mulai dari awal hanya ada kau, aku dan Sunny"
Rachel menyeka air matanya, dia terharu dengan keromantisan Alex yang meminta untuk menikah dengannya.
Rachel mengangguk,
"Iya Lex, aku akan menikah denganmu" ucapnya.
Bersambung....
......................