
Happy Reading...
Setelah kepergian Zacklee dan Kaisar, Fiona masuk kedalam kamarnya. Menggerakkan tubuhnya ke kanan dan kiri sepertinya Fiona sedikit kelelahan.
"Aku mau tidur sebentar sebelum yang lain menjemput" ucap Fiona membaringkan tubuhnya diatas bednya.
Dibawah sana, Felix yang baru tiba mencari keberadaan adik-adiknya.
"Fiona.. Kaisar.. " panggil Felix.
"Apa mereka belum sampai rumah? tapi, mommy bilang papa sudah menjemput Kai..," Felix melangkahkan kaki menuju lantai atas, dilihatnya adiknya sedang tertidur hingga lupa menutup pintu kamar.
"Dasar Fio...," ucap Felix melihat Fiona tertidur dengan posisi asal. Felix lalu membenarkan posisi tidur adiknya lalu menaikkan selimut hingga ke setengah badannya. Felix menutup pintu kamar Fiona lalu kembali kebawah.
"Om ngapain disini?" tanya Felix melihat Dewa tiba.
"Jaga kalian, terutama Fiona" jawab Dewa.
"Pasti papa yang nyuruh," sahut Felix sangat mengerti.
"Kau tahu, terkadang aku iri dengan kalian. Memiliki keluarga utuh yang sangat perhatian serta penuh kasih sayang," ucap Dewa.
"Sejak kapan Om jadi begini? seorang Dewa maut berucap melow" sahut Felix menertawakan seorang Dewa Mandala.
"Apa sebentar lagi Om Dewa juga akan merasakan yang namanya jatuh cinta" sindir Felix.
Dewa hanya tersenyum menanggapi ucapan Felix. Kedua pria beda generasi itu seolah saling mengerti yang sedang dialami.
"Aku akan belajar dengan papamu mengenai ini," sahut Dewa.
"Om, bagaimana cara meminta maaf kepada seorang wanita?" tanya Felix.
"Apa yang sedang terjadi, tak biasanya kau membicarakan seorang wanita" Dewa memicingkan sebelah matanya.
"Aku hanya tak sengaja membuatnya sebatang kara," ucap Felix pada akhirnya.
Dewa menatap Felix dengan tatapan pertanyaan maksud ucapan Felix sembari mengambil air minum disampingnya.
"Andai saat itu aku langsung mencarinya dia pasti tak akan mengalami hal ini," ucap Felix lagi.
"Aku kurang mengerti soal hati wanita, yang pasti coba saja kau sentuh hatinya" balas Dewa sama dengan yang diucapkan Ellena kepada Felix.
"Sepertinya sulit Om, dia sudah terlanjur membenciku,"
"Om yakin dia memiliki alasan lain, sebaiknya kau segera dekati dia sebelum semuanya berakhir dengan penyesalan," ucap Dewa.
**
"Sunny, kita nunggu apalagi?" tanya Kiara.
"Tunggu sebentar lagi," jawab Sunny tersenyum.
Mobil sedan pengeluaran eropa berwarna hitam metalik berhenti tepat didepan keduanya.
"Akhirnya dia datang," ucap Sunny.
"Buruan masuk," suara Nick memerintahkan Sunny dan Kiara untuk segera masuk.
Sunny menarik tangan Kiara untuk ikut masuk kedalam. Saat mereka sudah memasuki mobil tersebut, Kiara terkejut mendapati Felix berada di kurs kemudi.
Sebenarnya Kiara tak memiliki rasa benci kepada Felix sama sekali. Kematian ayahnya sudah dia sadari jika itu semua adalah takdir. Keluar dari bayang-bayang ibu tirinya sudah sejak lama dia harapkan. Tetapi entah mengapa dirinya merasa membenci Felix karena sikapnya yang sombong dan dingin saat itu. Apa karena Felix anak orang kaya jadi dia bersikap seperti itu, entahlah karena Kiara belum begitu mengenalnya.
Felix sesekali melirik Kiara dari kaca spionnya. Kiara yang terkadang menyadari langsung saja membuang muka saat mata itu saling bertemu.
"Felix, apa Fiona sudah berhasil?" tanya Sunny tentang rencana kumpul-kumpulnya di cafe Devan.
"Dia sudah dilokasi dengan om Dewa," jawab Felix singkat seperti biasanya.
"Mereka itu pasangan yang cocok ya," sahut Sunny.
"Siapa Sunn?" tanya Nick.
"Fiona dan Om Dewa. Meski usia mereka terpaut jauh tapi aku melihatnya mereka pasangan yang sangat serasi," jawab Sunny terkekeh.
"Kalau mereka jadian apa kau setuju Felix?" tanya Sunny beralih kepada Felix.
"Kasihan Om Dewa kalau harus urusin Fiona, manjanya ga ketulungan" jawab Felix.
Sunny maupun Nick tertawa membenarkan ucapan Felix. Sedangkan Kiara masih menatap luar jendela menikmati pemandangan yang mereka lewati.
"Nick apa setelah ini kau dan Felix akan melanjutkan study ke London?" tanya Sunny mode serius.
"Sepertinya iya Sunny, tapi tau Felix"
Felix hanya menanggapi dengan senyuman.
"Felix, bagaimana keadaan kakek Albert?" tanya Sunny lagi.
"Bantu Do'akan yang terbaik untuk Grandfa..,"
"Kita pasti mendo'akan yang terbaik," sahutN Nick sembari menepuk bahu Felix pelan.
Lima belas menit perjalanan akhirnya mereka tiba di sebuah pertokoan. Alex meminta Sunny untuk mengantarkan Kiara mencari perlengkapan pribadinya.
"Fiona, kenapa harus disini?" tanya Kiara ragu.
"Sudahlah Kiara, kau tenang saja" jawab Sunny mengerti kekhawatiran Kiara.
"Sunny, ini terlalu berlebihan memberiku tempat tinggal itu sudah lebih dari cukup. Aku takut tak mampu membalas kebaikanmu dan keluargamu" sahut Kiara tampak sangat khawatir.
"Kiara, jangan merasakan seperti ini. Kita adalah sahabat dan sudah menjadi satu keluarga. Aku berharap kau tak berpikir seperti ini lagi. Karena yang aku dan keluargaku berikan benar-benar tulus dari dalam hati," Sunny menggenggam jemari Kiara.
Terlihat Kiara sedang menahan air matanya. Dia sangat terharu dengan kebaikan Sunny dan keluarganya.
"Berasa live sinetron ikan terbang ya Felix," sindir Nick melihat Sunny dan Kiara.
"Berisik kalian," sahut Sunny sewot.
Sementara Sunny dan Kiara memilih barang-barang, Felix dan Nick menunggu sambil mengobrol santai di dekat sana.
"Felix, apa kau tak merasa aneh dengan wanita bernama Kiara itu?"
"Aneh gimana maksudnya?"
"Aneh, gila cantiknya" Nick sengaja memancing reaksi Felix. Sebenarnya Nick merasa curiga dengan apa yang terjadi antara Felix dan Kiara. Entah mengapa sifat cuek dan dinginnya berubah 180 derajat. Nick berubah menjadi orang yang kepo.
"Kau menyukainya?" pertanyaan yang berbalik dari tujuan awal.
"Aku belum memikirkan soal itu, fokusku hanya kepada prestasi" sahut Nick kembali ke mode awal.
Lama mereka berbincang, Sunny dan Kiara menghampiri mereka berdua. Tubuh Kiara yang kurus dengan membawa barang belanjaan membuat rasa empati Felix muncul. Tanpa bersuara, Felix bergerak untuk membantu Kiara. Meski Kiara menolak, tetapi yang namanya Felix dia tetap membantu Kiara membawa barang-barangnya.
"Ehem.. Ehem," suara deheman Sunny.
"Ngapain Sunn?"
"Rasanya gerah ya," sembari mengipaskan telapak tangannya.
"Kagak ada panas bilangnya gerah, ga normal ya Sunn" sahut Nick yang belum mengerti.
Sunny menarik tangan Nick memberi ruang Felix dan Kiara untuk menyelesaikan kesalah pahaman yang terjadi antara mereka.
**Sebelumnya
Sunny yang tak sengaja melewati kamar Alia tak sengaja mendengar percakapan Felix dan Kiara. Awalnya Sunny terkejut karena mereka sudah saling mengenal.
"Lebih baik kau pergi dari sini, karena sudah tidak ada lagi yang kita bahas," ucap Kiara mengusir Felix.
"Aku harap kau bisa memaafkanku," ucap Felix kemudian meninggalkan Kiara yang masih tak mau melihatnya.
Sunny langsung menyembunyikan dirinya agar tak terlihat Felix saat itu. Sunny melihat Felix terlihat sangat sedih. Dan akhirnya Sunny memiliki ide untuk mempertemukan mereka berdua.
Bersambung....