What I Think

What I Think
Bir pletok



Happy Reading...


°°••@@


Masih dengan terdiam memikirkan ucapan wanita gila bukan lain adalah Siska membuat Ellena sedikit pusing. Dhea berusaha mendekatinya setelah Zacklee tak berhasil bertanya.


"Minumlah ini, kau akan merasa segar" sambil menyodorkan segelas minuman rempah menu baru di Restaurantnya.


Ellena menerima segelas minuman tersebut kemudian segera menyesapnya.


"Minuman apa ini? sedikit pedas rasanya..," sahut Ellena selesai menyesap minumannya.


"Ini menu baru di restaurant namanya Bir pletok" ujar Dhea memperkenalkan menu baru resepnya.



"Bir pletok.. namanya lucu," senyum yang daritadi ditahan akhirnya tersemat juga.


"Iya Ell, Bir pletok adalah minuman khas Betawi yang dibuat dari campuran beberapa rempah, yaitu jahe, daun pandan wangi, dan serai. Minuman ini tak memabukkan melainkan membuat tubuh menjadi hangat serta pikiran menjadi fresh kembali" Dhea menjelaskan.


"What do you think Ell?" imbuhnya menanyakan yang dipikirkan Ellena.


Ellena meletakkan segelas minumannya, menarik nafas dalam dan mengeluarkannya dengan kasar.


"I'm afraid of losing my husband, someone asked my husband to be responsible for everything" sembari menatap sang suami yang sedang mengobrol dengan sahabat serta adiknya.


(Aku takut kehilangan suamiku,seseorang meminta suamiku untuk mempertanggung jawabkan semuanya)


"Aku tak paham Ell, maksudnya gimana?" Dhea meminta Ellena untuk menjelaskan maksud ucapannya.


"Ka Lee baru saja menabrak seseorang dengan tak sengaja. Salah satu diantaranya meninggal dunia"


Dhea terkejut menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Kenapa suamiku tak menceritakan soal ini," umpat kesal Dhea kepada Revan.


"Salah seorangnya lagi selamat dari tragedi tabrakan itu. Dia seorang wanita putri dari pria yang meninggal tadi" Ellena melanjutkan ceritanya.


"Lalu apa dia menuntut Ka tampan?" tanyanya lagi.


"Dia meminta Ka Lee untuk bertanggung jawab"


"Bukankah suamimu tipe pria yang sangat bertanggung jawab, terus apalagi masalahnya?"


"Dia meminta Ka Lee untuk bertanggung jawab melindungi dirinya serta bayi yang ada di dalam kandungannya" Ellena mengucapkan dengan sedih, berat serta suara sedikit parau.


"WHAT!!" Dhea tak sengaja menggebrak meja membuat semuanya berganti menatapnya.


Zacklee yang tak sengaja melihat Ellena tertunduk menangis segera menghampiri mereka menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Sayang apa yang terjadi?" tanya Zacklee merangkul sang istri yang masih menundukkan wajahnya.


Bahkan sekarang Revan, Devan, Zaskia dan Clara ikut mendekati mereka.


"Ini ga bisa di biarin Ka..., bukannya Kakak sudah melakukan tanggung jawab semestinya. Kenapa dia malah membuat rumit" cecar Dhea.


Tak mengerti dengan yang terjadi, Revan menarik istrinya dan menanyakan apa sudah terjadi.


"Sayang sebenarnya apa yang terjadi?" bisik Revan.


"Aku sebenarnya sangat marah padamu. Kenapa tak memberitahuku soal Ka tampan yang menabrak seseorang hingga mati. Sepertinya kau tak mempercayaiku lagi" Dhea melengos agar Revan sadar dengan perbuatannya yang salah.


Ekspresi Revan sendiri hanya bisa pasrah sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Kau tahu gara-gara persoalan ini sahabatku dilanda galau level tertinggi bon cabe" sambil meletup-letup.



Revan masih setia mendengarkan istrinya yang sedang emosi.


"Kau tahu gara-gara perbuatanmu tak memberitahuku, Ellena bingung harus memilih dua pilihan yang sulit" ujarnya lagi.


"Pilihan yang sulit, maksudnya gimana? aku tak mengerti" sahut Revan.


"Wanita itu memberi dua pilihan Ka.., memberikan suaminya atau melanjutkan ke proses hukum" ucap Dhea ikut sedih.


"Maksudnya memberikan Zacklee gitu?" Revan masih memastikan.


"Iya Ka...," ucap Dhea sedih.



"Ma_maaf Ka...," Dhea malah menjadi salah tingkah karena sang suami malah balik menyalahkannya.


"Kenapa Kakak malah menyalahkanku. Aku sudah menceritakan semuanya, seharusnya Kakak berterimakasih padaku" sahutnya tiba-tiba tak mau disalahkan.


Revan kembali ke mode pasrah dan mengalah, pada akhirnya dia meminta maaf kepada Dhea. Sesalah apapun wanita dia tetap yang maha benar.


"Aku akan membicarakan dengan Zacklee" ucapnya setelah membuat tenang istrinya.


Ditempat Zacklee dan Ellena, Ellena masih enggan menceritakan semuanya. Dan sekarang Ellena sedang beringsut di pelukan sang suami tak perduli ada banyak mata yang sedang melihat.


"Sayang..., udahan sedihnya yuk" rayu Zacklee.


Ellena tak bergeming, dia masih nyaman dengan posisi dibawah ketiak Zacklee.


"Itu kenapa Ellena? uda mirip anak monyet nemplok sama emaknya" cicit Devan.


"Ih.... ngawur deh kamu Kak,"


"Iya lah..., tuh elu perhatikan nemploknya mirip banget ama ini" sambil memperlihatkan ponselnya bergambar seekor anak monyet sedang di gendongan emaknya.


"Au... ah.. serah Kakak" sahut Zaskia.



Melihat Zaskia tak menggubrisnya, Devan tersenyum melihat tingkah Zaskia.



"Dimana Clara?" tanya Dhea yang tak melihat Clara.


"Kak Clara katanya ada tamu dibawah" sahut Zaskia.


"Zack, kita perlu bicara sebentar" pinta Revan serius.


"Sayang kau disini sebentar aku tak akan lama," ucap Zacklee mengendurkan pelukan sang istri. Posisi Zacklee digantikan oleh Dhea dan Zaskia karena Devan juga ikut bersama mereka.


"Emangnya ada apa Rev?" tanya Zacklee penasaran karena harus berbicara di tempat yang sedikit jauh dari istrinya.


"Soal bini elu" sahut Revan serius.


Zacklee dan Devan mendengarkan dengan serius.


"Bini elu lagi bingung karena Zaskia memberinya pilihan kepadanya" lanjut Revan.


"Pilihan apa maksudnya?" tanya Zacklee memastikan.


"Kalo ngomong yang jelas Rev, belibet tau ga" cibir Devan.


"Ini baru mau ngomong yang jelas kalian malah pada berondong pertanyaan" jawab Revan sewot.


"Siska ngasih pilihan ke Ellena antara memberikanmu kepadanya untuk mempertanggung jawabkan semuanya atau lanjut proses hukum. Elu kan tau kalo proses hukum lanjutnya kemana, itu yang jadi pikiran bini elu" lanjut Revan menceritakan semuanya.


"Busyet...., kagak nyangka gue tuh cewek diam-diam ngarepin elu Zack" sahut Devan.


"Gue juga ga nyangka kelihatannya aja polos tapi sama aja kayak Felicia dan Tasya" cibir Revan.


Zacklee terdiam kini dia mengerti kenapa Ellena terdiam selesai dari pemakaman. Sedang tamparan itu jelas jika Ellena tak terima dengan ucapan Siska.


"Gue siap lewat jalur hukum" ucap Zacklee serius.


"Gue setuju dengan keputusan elu Zack," ucap Revan.


"Gue juga. Berarti tuh cewek ngelunjak ga tau malu. Kalo gue jadi Ellena uda aku buang langsung tuh cewek ke tong sampah biar sadar sudah di kasih hati minta ampela" kali ini bukan Zacklee maupun Revan yang emosi melainkan Devan yang ikut kesal dengan Siska.


"Revan elu urus semuanya. Siapkan pengacara yang terbaik dan elu Devan bantu gue cari bukti jika sewaktu-waktu mereka menggunakannya untuk menjatuhkanku" perintah Zacklee.


"Elu tenang aja Zack, urusan ini sangat kecil buatku. Mending elu ajak pulang Ellena, tenangkan hatinya buang jauh segala yang menjadi kekhawatirannya" ucap Devan terdengar bijak.


"Tumben otak elu encer" puji Revan.


"Calon adik ipar harus bisa berpikiran tak jauh dari Kakak ipar" sahut Devan bangga.


"Terserah kalian, gue ajak Ellena pulang terlebih dulu," ucap Zacklee bahagia merasa lega karena bisa merasakan lega.


Bersambung....