
Happy Reading....
°°••@@
"Sudahlah Tuan sebenarnya apa yang kau inginkan dari kami agar kami bisa membawa Kakakku kembali? jika untuk membuat GS kembali seperti dulu aku akan mempertimbangkannya," sahut Ellena tak mau berbasa-basi lagi.
"Ternyata kau suka sesuatu yang langsung Nona. Baiklah jika itu yang kalian inginkan. Tawaran anda memang menggiurkan, tetapi aku tak mau" sembari mengendikkan bahunya mengitari Ellena dan Alex lalu berhenti dihadapan Ellena.
"Aku hanya menginginkan dirimu Ellena" ucap Dion mendekati Ellena.
Melihat Dion mendekati Ellena, Alex lantas menarik tubuh Ellena dan menyembunyikannya dibelakang tubuh kekarnya.
Dion tersenyum geli dengan sikap Alex. Sebenarnya dalam hatinya dia sudah tidak sangat sabar untuk menghajar Alex, tetapi dia tahan, karena permainan belum dimulai.
"Aku sudah mendengar semua tentangmu Tuan Alex. Kupikir rumor itu hanya gosip belaka ternyata aku menyaksikannya sendiri" tersenyum mengejek.
"Kau yang mencintai istri sahabatmu sendiri dan ingin memilikinya, apa itu namanya bukan pengkhianatan" cibir Dion.
"Tuan apa anda sudah selesai mencibirku? jika tujuan Tuan untuk memancing emosiku maka itu hanya sia-sia"
"Rupanya kau pintar mengelak Tuan Alex, aku semakin berkeinginan memperlihatkan sesuatu padamu," memberi kode Siska.
Sebuah alat setrum mulai di nyalakan, Revan yang tadinya tertunduk tiba-tiba histeris kesakitan.
"Aaaaarggghhhh!" pekik Revan.
"Revan..,"
"Ka Revan..,"
Teriak Ellena dan Alex.
"Dasar breng*ek kau Dion," Alex terpancing emosi dengan sikap Dion, dia melawan Dion dan Dion balik melawannya.
Ellena bingung dengan suasana di ruangan sana karena anak buah Dion juga ikut melawan Alex. Ellena kemudian terfokus dengan kondisi Revan yang masih tersetrum, matanya mencari sumber awal dari setruman itu. Mata Ellena menelisik seorang wanita yang sedang mengendalikan sebuah alat, Ellena lalu mencari celah sembari menunggu Zacklee dan yang lain tiba.
"Dewa, sekarang!" perintah Zacklee menghubungi Dewa.
"Shandy, Devan saatnya dimulai" teriak Zacklee mengkode semuanya agar segera bergerak.
Sebelumnya Zacklee meminta Ellena untuk melepas antingnya, ternyata Zacklee sudah memasang alat rekam yang nyaris tak terlihat di antingnya. Dari situ Zacklee bisa mengetahui situasi dan keadaan didalam.
Melihat Alex dan Revan sedang membutuhkannya Zacklee lantas menghubungi semuanya. Zacklee memasuki perusahaan tersebut tetapi seorang penjaga menghadangnya.
"Anda tak diperkenankan masuk Tuan," hadang pria tersebut.
Zacklee hanya meliriknya sekilas tak menggubris ucapannya, dia tetap menerobos masuk. Akhirnya penjaga itu memberi kode yang lain untuk melawan Zacklee. Ternyata para pekerja di dalam perusahaan tersebut sangat ahli dalam bela diri. Para wanitanya juga memiliki skill bela diri yang tak kalah dengannya. Zacklee sempat kewalahan melawan mereka semua, meski dirinya mampu menghindari pukulan mereka tetapi tetap dia merasa kewalahan. Disaat Zacklee mulai terjepit karena serangan mereka Dewa beserta anak buahnya berhasil menerobos kedalam dan membantu Zacklee.
"Kau datang tepat waktu Dewa,"
"Bos kau segeralah masuk, biar wanita-wanita itu menjadi urusanku,"
Kemudian mereka kembali menyerang, Zacklee mencari celah untuk bisa memasuki lorong rahasia itu. Dia terus menghajar orang yang menyerangnya hingga pada akhirnya Zacklee sampai ke pintu lorong tersebut, sayangnya pintu tersebut memiliki sebuah sandi. Zacklee kemudian menghubungi Devan lewat earphonenya.
"Devan, pintu lorong ini memiliki sebuah sandi"
"Kau tunggulah aku sedang menerobos" sahut Devan jemarinya masih menari diatas keyboard laptopnya.
Saat Zacklee juga berusaha menekan sandi apapun salah seorang anak buah Dion akan memukulnya,
Brakk!
Bukan Zacklee yang tumbang melainkan anak buah Dion yang akan menyerangnya. Zacklee menoleh kebelakang, ternyata Shandy yang melakukannya,
"Shandy bukan saatnya bercanda, bantu membuka pintu lorong ini!" sahut Zacklee serius.
Shandy memutar bola matanya lalu ikut membantu mencari sandi yang tepat untuk membuka pintu lorong tersebut.
"Aku berhasil Zack," teriak Devan melalui alat komunikasinya.
Benar saja pintu segera terbuka, Zacklee dan Shandy segera memasuki dan berlari menyusuri lorong tersebut. Mereka menemukan pintu lift dan segera masuk kedalamnya.
"Lantai berapa Zack," tanya Shandy.
Zacklee menekan tombol angka 9 seperti yang terlihat di video rekaman Ellena. Lift mulai berjalan keatas. Tak menunggu lama pintu lift mulai terbuka. Mereka terkejut melihat Alex sedang tersungkur sedang Ellena dan Revan terkunci di dalam ruang kaca. Rupanya Ellena berhasil mencari celah untuk bisa masuk menolong Revan. Ellena memukul Siska agar segera mematikan alat setrumnya. Ellena juga berhasil membuat Siska keluar dari ruang kaca tersebut, tetapi sayangnya dia terjebak. Siska menutup pintu ruang kaca tersebut dan Dion mulai menyalakan menitan Bom didalamnya.
Zacklee dan Shandy berusaha membuka pintu kaca tersebut tetapi tak bisa karena semua ruangan sudah dibuat menggunakan sandi.
"Devan... cepat kau buka pintunya" teriak Zacklee.
"Aku sedang berusaha, mereka ternyata sudah mempersiapkan ini semua" balas Devan.
"Zacklee, apa yang harus kita lakukan?" sahut Shandy belum menemukan sesuatu.
Zacklee menatap istri serta kedua sahabatnya di dalam. Zacklee sedikit berpikir untuk bisa memasuki ruangan tersebut.
**Didalam ruang kaca
"Ka Revan kau harus bertahan aku akan menolongmu" ucap Ellena berusaha mencari cara untuk melepaskan borgol yang menempel di tangannya.
"Ell_le_na..," ucap Revan terbata-bata.
"Ka.. bertahanlah, aku sedang berusaha"
"Ell_le_na kau tekan tombol yang ada di bawah sana," sambil menunjuk dengan sorot matanya yang lemah.
Ellena menoleh kearah yang ditunjukkan oleh Revan. Kemudian mencarinya,
'Ellena... kau harus menemukannya...' batin Ellena.
Ellena terasa gugup karena suara menitan pada Bom terus saja berdetak mendekati waktu untuk memporak porandakan semuanya. Tak terasa air mata Ellena basah, dia merasa menyerah tak menemukan tombol tersebut. Terlintas semua kenangan bersama keluarga, suami dan anak-anaknya. Lalu tiba-tiba teringat wajah Dhea,
'Berjanjilah kalian akan pulang dengan selamat,' ucapan Dhea terngiang di telinganya.
'Aku harus berjuang demi kalian semua' batin Ellena. Dia mulai bangkit kembali berjuang mencari tombol tersebut.
"Ka Revan aku menemukannya..," pekik Ellena berhasil menemukan tombol tersebut dibalik gulungan kabel.
Ellena menekannya dan berhasil membuka borgol tersebut kemudian menoleh kearah Revan yang mulai lemas, Ellena segera menangkap tubuh Revan yang akan terjatuh.
"Ka Revan..., Kaka tak apa-apa?" tanya Ellena.
"Kita harus segera keluar dari sini Ell," jawabnya terbata-bata.
Ellena memapah Revan sedikit cepat, tapi sayang sesampainya di pintu, pintu itu tak bisa terbuka. Ellena maupun Revan kebingungan, Revan berusaha untuk kuat. Dia melepas tangan Ellena dari rangkulannya dan meraih pintu tersebut. Revan berusaha untuk mencari cara untuk membuka pintu tersebut.
Sedangkan di luar ruang kaca tersebut, Alex yang sudah tersungkur kaki Dion berada diatas punggungnya.
"Waktumu hanya lima menit saja Lex," ucap Dion.
Bersambung....