
Happy Reading...
Mungkinkah Dewa mulai bucin?
Seperti pagi ini, selesai sarapan Dewa yang masih berpura-pura cuek kepada Fiona membuat Fiona semakin kesal. Bibirnya yang mengerucut sangat terlihat jelas. Dewa sendiri menahan tawanya setiap melirik kearah Fiona.
"Dewa, mulai hari kau bisa kan mengantar jemput Fiona dan Kai?" tanya Zacklee.
"Karena mulai nanti sore aku dan Ellena akan menemani Papa berobat ke Singapura,"
'Mommy dan Papa akan ke Singapura, itu tandanya kebersamaanku dengan Om Dewa semakin sering' batin Fiona
"Felix kau jaga adikmu selama Mommy dan Papa tak dirumah" pesan Zacklee yang hanya ditanggapi dengan anggukan oleh Felix.
"Kau tenang saja bos, bos kecil aman bersamaku" ucapnya jemawa tetap tanpa menoleh kearah Fiona. Hal itu membuat Fiona semakin kesal.
Fiona mengambil segelas minumannya dengan kasar lalu menenggakknya hingga habis. Fiona lalu berjangkit dari duduknya tanpa menoleh kearah Dewa.
"Pa, Fiona berangkat dulu" ucapnya dengan ketua.
Mendengar Fiona akan berangkat, Dewa melirik kearahnya.
"Kemana anak itu pergi?" tanya Ellena heran.
"Entahlah sayang, sepertinya dia sedang PMS" jawab Zacklee.
"Dewa kau mau kemana?" tanya Ellena berganti menyapa Dewa yang ikut berjangkit dari duduknya.
"Melaksanakan tugas dari bos, nona cantik" jawab Dewa lalu mengejar Fiona.
Diluar sana, Fiona sudah melambaikan tangan pada sebuah taxi yang melintas.
"Fio...," panggil Dewa, sayangnya Fiona sudah keburu masuk kedalam taxi tersebut.
"Sial!" umpat Dewa kesal. Buru-buru dia berbalik memasuki kendaraannya mengejar taxi yang ditumpangi Fiona.
Ditengah perjalanannya Dewa yang terbiasa cuek dengan sikap Fiona, saat ini uring-uringan tak jelas. Merasa kecewa karena Fiona cuek dan meninggalkannya entah mengapa membuat hati Dewa beringsutan.
"Awas kau Fio, kalau ketangkep jangan harap lepas dari hukumanku" gerutu Dewa.
Dewa menginjak gasnya lebih dalam agar bisa mengejar taxi yang ditumpangi Fiona. Bukan Dewa namanya jika tak bisa mengejar sebuah taxi yang dikemudian oleh seorang pria separuh baya, dengan keahlian mengemudinya Dewa berhasil menghadang taxi tersebut.
"Aduh pak," ucap Fiona gara-gara pak sopir mengerem mendadak dan dahi Fiona membentur kursi depan.
"Maaf neng, itu didepan ada mobil yang tiba-tiba berhenti" ucap pak sopir.
'Pasti dia' batin Fiona.
"Mundur saja pak, biarin tuh orang" sahut Fiona masih kesal.
Dewa membuka pintu mobilnya dan segera turun. Dia menghampiri taxi tersebut dan mengetuk jendelanya.
Tok.. tok..
"Pak, udah engga usah dibuka" saran Fiona.
Tok.. tok.. tok..
Dewa kembali mengetuk jendela mobil taxi tersebut dengan lebih keras, membuat pak sopir ketakutan dan segera menurunkan jendelanya.
"Pak, bisakah anda turun dari sana?" pinta Dewa memasang wajah garang.
"I--iya Tuan,"
"Pak gimana sih, aku keburu telat nih...,"
"Pak, apa anda tak dengar?" sindir Dewa sengaja membuat Fiona kesal.
"Maaf neng, bapak keluar dulu" pamitnya dengan nada ketakutan.
"Udah pak, biar aku yang turun. Bapak amanin aja taxinya" sahut Fiona meninggikan suaranya.
Dewa menyunggingkan senyum tampannya berhasil membuat Fiona keluar dari taxi. Masih dengan bibir cemberut, Fiona menutup pintu dengan kencang.
'Tak apa dia marah, yang penting hari ini aku bisa bersamanya' batin Dewa.
Dewa lalu mengeluarkan sepuluh lembar uang bernilai dollar dari saku dan memberikannya ke sopir tersebut.
"Terimakasih Tuan...," ucap pak sopir bahagia tak menyangka akan mendapatkan rezeki nomplok di pagi hari.
Dewa hanya mengangkat sebelah tangannya untuk mengusir sopir tersebut. Melihat Dewa berhasil mengusir sopir taxi tersebut, Fiona semakin kesal. Dia bahkan melenggang meninggalkan Dewa dengan jalan kaki.
"Fio...," panggil Dewa mengejar Fio.
"Fi.., kau kenapa sih?" tanya Dewa berhasil mensejajarkan dirinya disebelah Fiona yang masih memasang bibir kerucutnya.
Bukannya menjawab, Fiona malah memanggil Nick yang tak sengaja melewatinya menggunakan motor sportnya.
"Nick...," teriak Fiona membuat Nick berhenti.
Tanpa berdosa maupun bersalah, Fiona lanjut menaiki motor sportnya. Dewa lalu menarik lengan tangan Fiona.
"Kau tak bisa begini Fiona," tolak Dewa.
"Terserah Fio dong Om, ngapain coba tarik-tarik tangan aku," sindir Fiona dengan wajah kesal tetapi hatinya bahagia karena Dewa memperdulikannya.
"Gak bisa! bos sudah memberiku amanat. Kau tak bisa seenaknya," ucap Dewa beralasan, bertolak belakang dengan hatinya yang sebenarnya.
"Kalian kalau mau debat jangan disini bisa gak? puyeng kepalaku," sindir Nick.
Dewa maupun Fiona menoleh kearah Nick, sepertinya mereka melupakan tempat serta Nick yang berada bersamanya.
"Om Dewa, mending Om aja yang antar Fiona ke Sekolah. Masalahnya aku mau menjemput Safira" ucap Nick.
"Ma--af Nick," ucap Fiona kalah, karena dia harus turun kembali dari motor sport Nick.
Bersambung....