What I Think

What I Think
Do'a Mama menyertai kalian



Happy Reading....


**@@


Sembari menunggu Ellena menidurkan baby Kai, Zacklee dan yang lain menyusun rencana untuk menangkap Dion. Bahkan saat ini pengacara Abigail juga bersama mereka.


"Tuan seperti biasa anda harus berhati-hati karena kalo tidak jaminan anda tak bisa di tangguhkan,"


"Anda tenang saja Tuan, kita akan bermain bersih" sahut Alex.


Pengacara Abigail dan Albert kemudian bersiap dengan rencananya. Shandy, Dewa dan Devan mempersiapkan apa yang akan mereka bawa.


Alex yang hendak menyusul Shandy dan yang lain terhenti melihat Zacklee sedang memikirkan sesuatu.


"Kita akan melindunginya bersama-sama," ucap Alex seolah mengerti yang dipikirkan Zacklee.


"Elu benar Lex, kita akan melindunginya" sahutnya dengan sangat yakin.


Selang beberapa menit Ellena yang sudah bersiap berpamitan dan meminta do'a restu kepada Mama mertuanya tentunya diiringi dengan isak tangis. Trias sendiri sebenarnya tak setuju tetapi melihat Dhea, Nick dan Nathan hati Trias merasa tak tega. Dengan dukungan dari Albert juga sahabat-sahabat Zacklee yang sudah Trias anggap seperti anak sendiri, pada akhirnya Trias merelakan.


"Ma.. maafkan Ellena jika keputusan Ellena membuat hati Mama sedih.., Ellena harus pergi demi Dhea, Nick dan Nathan" pamit Ellena.


"Segeralah pulang Felix, Fiona dan Kaisar menunggumu dan Lee" ucap Trias lalu memeluk menantunya.


"Sayang__" Zacklee memotong ucapannya melihat Mama dan istrinya sedang berpelukan. Zacklee sendiri merasa sedih, sebenarnya dia tak ingin Ellena terlibat tetapi demi Revan sahabatnya Zacklee menyetujui keputusannya.


Zacklee menghampiri mereka selesai mereka melepas pelukannya. Dari keduanya saling menyeka air mata masing-masing. Zacklee langsung merangkul keduanya.


"Wanita hebatku sedang berpelukan tanpa aku, kalian berdua curang" ledek Zacklee.


"Lee segeralah pulang dengan selamat. Do'a Mama selalu menyertai kalian" ucap Trias bersandar di dada bidang putranya yang sedang merangkulnya. Zacklee maupun Ellena tersenyum bersama.


"Ellena...," panggil Dhea sebelum Ellena memasuki mobilnya.


"Dhea..,"


"Berjanjilah kalian akan pulang dengan selamat," pinta Dhea sembari memeluk Ellena.


Ellena tak sanggup berkata-kata, dia menganggukkan kepala dan langsung membalas pelukan Dhea, bahkan Clara dan Zaskia yang dibelakangnya ikut memeluk keduanya.


Pemandangan sebuah persahabatan yang sangat luar biasa dari mereka semua. Persahabatan yang tak mengenal kau dan aku tetapi hanya mengenal kita, kita untuk menjadi satu bahagia bersama. Benar kata pepatah jika persahabatan bagaimana kepompong berawal dari ulat lalu berubah menjadi kupu-kupu.


Selesai meminta restu Trias mereka semua pergi untuk menemui Dion, mereka menuju ke alamat yang sudah dikirim. Zacklee terus menggenggam jemari Ellena, dia tahu jika sebenarnya Ellena sedang ketakutan. Zacklee menenangkan Ellena lewat sentuhan genggaman jemarinya. Tak ada kata yang terucap didalam mobil, mereka semua memikirkan hal yang sama.


Anak buah Dewa sudah berada di sekitar lokasi menyamar menjadi penduduk sekitar. Ternyata Dion tak cukup cerdik, dia mengirim alamat di pertengahan kota. Berbeda dengan pikiran Zacklee dan Alex ini terasa aneh kenapa Dion mengajaknya bertemu di pertengahan kota, bukankah ini hal yang sangat mencurigakan.


"Zack, apa kau merasakan sesuatu yang aneh?" tanya Alex.


"Aku percayakan Ellena padamu, jaga dia Lex" pesan Zacklee sebelum Ellena dan Alex turun dari mobilnya.


"Ka...,"


"Sayang tetaplah tenang ada aku dan yang lain bersamamu,"


Ellena berusaha meyakinkan dirinya jika dia mampu mengatasi ketakutannya. Ellena menuruni mobil bersama dengan Alex. Di depan dia sudah ditunggu oleh salah seorang petugas yang menjemputnya. Zacklee yang menyamar sebagai sopir menggunakan topi serta kumis dan jenggot palsu memperhatikan Ellena dan Alex.


"Nona Ellena serta Tuan Alex mari ikut saya, tetapi sebelumnya kami akan memeriksa anda" ucap petugas tersebut.


Ellena maupun Alex mengikuti yang diperintahkan petugas tersebut. Mereka menggeledah yang ada ditubuh Ellena dan Alex menggunakan alat khusus. Untungnya mereka sudah mempersiapkan sebelumnya.


Ellena menoleh kearah Alex. Alex memberi kode agar Ellena tetap tenang. Mereka mengikuti langkah petugas tersebut. Ellena memperhatikan setiap tempat yang dilewatinya ini tak seperti sebuah markas, bahkan ini bisa di bilang perusahaan biasa. Tetapi saat mereka masuk kedalam sebuah lorong petugas tersebut berhenti di sebuah lift Ellena dan Alex masih mengikutinya masuk kedalam lift tersebut, kemudian petugas tersebut menekan angka 9.


'Tempat yang aneh didalam lorong terdapat sebuah lift' batin Ellena.


'Untung Ka Lee sudah mempersiapkan semuanya'


Pintu lift terbuka, Ellena dan Alex sangat terkejut dengan ruangan didepannya dengan design kaca menyeluruh. Mereka berdua juga terkejut dengan seorang pria yang sedikit lemah menundukkan kepalanya dengan kedua tangan terborgol di kursi.


"Ka Revan," ucap Ellena hampir keceplosan. Untung Alex segera mengingatkan Ellena. Alex memberi kode agar Ellena tenang.


Tap.. tap.. tap..


Suara derap langkah seseorang keluar dari belakang Revan. Ellena dan Alex membelalakkan matanya, mereka terkejut ternyata benar orang yang selama ini berinisial GD adalah Dion. Dion yang pernah mereka kalahkan di waktu event Louise di Negeri ginseng. Di belakangnya terdapat Siska, wanita yang sudah berani bermain-main dengannya.


"Selamat malam Nona Ellena dan Tuan Alex, apa kabar kalian?" tanya Dion basa-basi.


"Tak usah bertele-tele aku tak membutuhkannya. segera lepaskan sahabatku sekarang juga," jawab Alex merasa geram.


Dion menanggapi dengan senyuman.


"Tuan Alex lama kita tak bertemu dan kau masih saja bersikap sewot kepadaku" sahut Dion.


"Aku sudah memenuhi permintaanmu untuk datang kemari, sekarang gantian kau yang harus memenuhi permintaan kami," ucap Alex tegas dan berani.


"Kalau aku tak mau apa yang akan kau lakukan Tuan?" sahutnya seenaknya.


"Sebenarnya maumu apa!" bentak Ellena sudah tak tahan.


"Dan kau," menunjuk kearah Siska.


"Ternyata ini semua rencanamu, aku tak menyangka jika kau bersikap seperti ini, menjual mayat ayahmu sendiri demi uang" ucap Ellena sangat geram.


Siska ingin menampar Ellena tetapi ditahan oleh Dion.


"Ingat tugasmu," Dion mengingatkan Siska yang tersulut amarah.


'Sial! kenapa dia tak terpancing sedikitpun' batin Ellena mengeluh.


"Nona Ellena bagaimana dengan juliet rosenya. Juliet rose itu di petik langsung dari kebunnya sebelum dikirim kepadamu. Apa kau menyukainya?"


"Sebelumnya terimakasih Tuan, anda tak perlu repot-repot untuk mengirimkan bucket bunga juliet rose kepadaku karena Suamiku sudah setiap hari membawa Juliet rose kepadaku" jawab Ellena supaya Dion sadar diri.


Dion mengepalkan tangan,


'Sulit sekali menaklukkan wanita ini' batin Dion.


"Tak apa Nona, aku tak mempermasalahkannya, yang terpenting saat ini aku bisa bertemu denganmu kembali" ucap Dion.


"Sudahlah Tuan sebenarnya apa yang kau inginkan dari kami agar kami bisa membawa Kakakku kembali? jika untuk membuat GS kembali seperti dulu aku akan mempertimbangkannya," sahut Ellena tak mau berbasa-basi lagi.


"Ternyata kau suka sesuatu yang langsung Nona. Baiklah jika itu yang kalian inginkan. Tawaran anda memang menggiurkan, tetapi aku tak mau" sembari mengedikkan bahunya mengitari Ellena dan Alex lalu berhenti dihadapan Ellena.


"Aku hanya menginginkan dirimu Ellena"


????


Bersambung....