
🍃🍃
Mata tajam Shandy menghunus tajam ke arah seorang pria dihadapannya. Seharusnya Shandy menyadari jika perilaku Ryan waktu itu akan membuat bahaya Ellena.
" Sejak kapan elu suka adik gue ". Kalimat yang keluar dari mulut Shandy.
Ryan menatap tajam balik.
BRAKKK!!
Shandy yang sudah tidak bisa bersabar menggebrak nakas samping Ryan dengan keras lalu menarik kerah baju Ryan.
" SEJAK KAPAN ELU SUKA ADIK GUE ! ".
Suara Shandy semakin keras mengisi ruangan yang berisi empat orang.
" Sejak elu tak menganggapnya ". Jawab Ryan dingin.
Shandy mengangkat genggaman tangannya dan Akan memukulkannya ke wajah Ryan, tapi Shandy menghentikannya. Dia teringat masa - masa saat dirinya tak menganggap Ellena. Rasa menyesal Shandy pun datang. Shandy melepaskan cengkramannya.
" Kenapa? kau baru menyesalinya? ". Shut Ryan yang melihat ekspresi Shandy.
" Dia terlalu baik bahkan gue terlalu berharap padanya ".
" Tak seharusnya elu seperti ini Yan ". Ucap Revan.
" Bukannya elu juga pernah merasakan yang gue rasain sekarang? ". Protest Ryan.
Jlebb!
Shandy menoleh ke arah Revan. Dan Revan sedikit gugup, dia tak mau Shandy salah paham.
" Itu dulu Yan sebelum gue mengenal istri gue . Seharusnya elu bisa melupakan semuanya ". Sahut Revan.
" Kalian menyukai Ellena? ". Tanya Shandy dingin.
" Kenapa kalian menyukai Ellena? "
" Karena dia pantas bahagia ".
Jawab Ryan dan Revan bersamaan.
Shandy membulatkan matanya mendengar jawaban kedua sahabatnya. Shandy tak menyangka jika sahabatnya menyukai wanita yang sama tidak lain tidak bukan adalah Ellena adiknya sendiri.
" Semuanya telah berlalu Shand, sekarang gue bahagia dengan keluarga kecil gue. Dan Ellena tetap gue ingat hanya sebatas sahabat ". Ucap Revan menjelaskan.
" Gimana dengan elu Yan? ".Tanya Devan.
" Gue Akan membawa kenangan cinta ini ke Kanada ". Jawab Ryan.
" Semakin gue dekat dengannya semakin sulit gue melupakan semuanya ".
\=\=@@
" Dimas gimana keadaan teman gue? ". Tanya Alex yang masih panik.
Alex membawa Ellena ke appartementnya, dia menghubungi sahabat sekaligus dokter keluarganya untuk memeriksa Ellena.
Dimas tersenyum manis.
" Tenang aja bro cewek elu baik - baik saja, lukanya uda gue obatin ". Ucapnya.
" Elu pintar pilih tu cewek uda cantik baik pula hatinya ". Lanjutnya sebelum berpamitan.
Ingin sekali Alex menjelaskan siapa Ellena ke Dimas tapi tak pernah ada celah untuk memberitahunya karena Dimas selalu meledeknya.
Selesai Dimas pulang, Alex mendekat ke pintu kamarnya yang digunakan Ellena. Alex ingin sekali mengetuk pintu kamarnya tapi takut mengganggu Ellena. Dimas bilang jika Ellena sudah siuman dan bercerita jika matanya sedikit sembab seperti memikirkan sesuatu. Alex khawatir sekali dengan keterangan Dimas. Dengan rasa penasaran Alex mengetuk pintu lalu membukanya.
Alex merasa tenang karena sosok yang dikhawatirkannya sedang duduk disamping jendela menatap langit.
" Elu sudah siuman Ell ". Sapa Alex yang baru memasuki kamarnya.
Ellena tak menjawab badannya masih berbalik menghadap jendela.
" Apa mau gue bikinin cilok? ". Alex mengatur kegugupannya dengan sedikit bercanda karena Ellena tak menanggapinya.
" Kenapa Kau lakukan ini Ka? ". Tanya Ellena dengan suara sedikit parau.
Alex terdiam dia merasakan jika Ellena kecewa dengannya.
" Kenapa Kau mencintaiku Ka? Kau tau jika aku dan Ka Lee__". Ellena menghentikan ucapannya lalu beranjak berdiri menghadap Alex.
" Kenapa Kau lakukan ini Ka ". Ellena sudah tak sanggup membendung air matanya.
Alex mendekati Ellena menarik tubuhnya kedekapannya. Ellena semakin terisak dipelukan Alex. Begitupun dengan Alex tak terasa air matanya mengalir, dia semakin kencang mendekap Ellena. Rasanya tak ingin melepaskan Ellena lagi.
" Maafin gue Ell ". Bisik Alex dengan suara tercekat.
" Aku yang salah ". Jawab Ellena.
Alex mengendurkan pelukannya dan melihat mata Ellena yang basah.
" Kenapa elu yang salah? Elu tak pernah salah ". Ucap Alex.
" Aku terlalu membuatmu berharap Ka ". Ellena kembali terisak tangisnya.
Alex kembali memeluknya. Mereka berdua saling melampiaskan kesedihan. Menangis dalam hening malam.
Shandy, Revan dan Devan yang baru tiba tak sengaja mendengar dan melihat mereka berdua. Mereka merasakan sedih yang sama.
Ellena sedikit mendorong tubuh Alex lalu menepuk kedua lengan Alex.
" Terimakasih atas semuanya Ka, lupakan semua yang sudah terjadi diantara kita. Hubungan kita hanya sebatas disini ". Ellena tak henti - hentinya menangis mengucapkan ini semua.
Alex memegang kedua tangan Ellena dan menatap kedalam matanya.
" Kau harus berjanji Akan terus selalu bahagia ".
" Kau tak perlu khawatir Ka ". Ellena berjalan selangkah membelakangi Alex.
" Kita masih berteman ". Ucap Alex sebelum Ellena meninggalkannya.
Ellena menghentikan langkahnya mengusap air matanya menahan sesak didadanya.
" Berjanjilah padaku untuk tidak datang ketempat itu lagi ". Lalu meninggalkan Alex.
Alex memegang dadanya yang terasa sakit. Akhirnya Ellena mengetahui perasaan cintanya.
" Apa yang elu lakukan sudah benar Lex ". Ucap Devan menepuk bahu sahabatnya
" Cinta tak harus dimiliki, jika ini yang terbaik ". Lanjut Ucap Revan.
\=\=@@ Diperjalanan.
Shandy kembali fokus menyetir.
" Kau tak boleh mencintaiku Ka.. karena Aku mencintai Ka Lee ". Batin Ellena menangis.
Jam menunjukkan pukul 03.00 dinihari. Shandy dan Ellena memasuki rumah diam - diam agar tak mengganggu orang - orang. Tetapi tidak dengan Clara dia menunggu suaminya pulang. Clara melihat Shandy dan Ellena yang terluka didahinya membuatnya terkejut dan bertanya - tanya apa yang sedang terjadi. Clara buru - buru masuk kamarnya saat menyadari Shandy menuju kearahnya.
Ceklek!
" Kau belum tidur sayang? ". Tanya Shandy yang melihat Clara duduk diatas ranjangnya.
" Bagaimana Aku bisa tidur tanpamu? ". Jawab Clara yang langsung mendapat kecupan di keningnya.
" Apa yang sedang terjadi? kenapa Ellena terluka? ". Tanya Clara.
Shandy terdiam.
" Sayang apa pertanyaanku salah? ". Tanya
Clara yang menyahut ekspresi suaminya.
" Aku merasa bersalah Clara.. kenapa dulu Aku tak mengakui Ellena adik kandungku ". Shandy menangkup wajahnya sendiri.
Clara memegang tangan Shandy yang menangkup wajahnya sendiri.
" Apa yang terjadi sayang? ". Air mata Clara mulai menetes.
" Ryan.. Ryan sahabatku hampir mencelakai Ellena sedang Aku tak bisa melindunginya ". Tangis Shandy pecah menyesali semuanya.
" Kau Kaka terbaik, itu yang selalu Ellena ucapkan ".
" Tidak Clara.. Aku bukan Kaka yang terbaik. Dari kecil Aku tak pernah membuatnya bahagia ".
Clara memeluk suaminya, menenangkannya.
\=\=@@ Keesokan pagi
Seperti biasa dimeja makan sudah berkumpul semuanya terkecuali Ellena.
" Ellen mana mam? ". Tanya Marcel.
" Pagi - pagi tadi dia berpamitan sama Mama mau mengecek Restaurant sebelum hari pernikahannya ". Jawab Riska yang sedang menuang nasi ke piring suaminya.
" Dia selalu bertanggung jawab dengan pekerjaannya ". Ucap Malik.
" Tapi tadi Mama sedikit khawatir Pa, dahi Ellena terluka. Mama Tanya katanya kejedot pintu Kamar Mandi "
" Dia selalu ceroboh Mam ". Sahut Shandy.
" Marcel ..Shandy ". Panggil Riska.
" Iya Mam ". Jawab Marcel Dan Shandy bersamaan.
" Mama dan Papa Berencana setelah pernikahan Adikmu, Mama dan Papa akan pergi ke Kanada ".
" Apa Ellen tau Mam? "
" Papa ga yakin cerita ke dia. Pasti banyak seribu alasan menahan Mama dan Papa". Ucap Malik terkekeh.
Marcel dan semuanya ikut terkekeh pasalnya mereka mengerti jika Ellena tak Akan memperbolehkannya.
" Kalian ". Malik menunjuk kearah Marcel dan Shandy.
" Jaga adik kalian baik - baik ".
Marcel , Renata, Shandy dan Clara ikut mengangguk.
\=\=@@ Perusahaan Mahendra
" Kenapa elu ga kasih tau gue Rev! elu kan tau apapun yang berhubungan dengan Ellena gue harus tau ". Ucap Zacklee kesal kepada Revan.
Sebelumnya Zacklee mendapat kabar Dari sopirnya yang semalam Akan keapotek tak sengaja melihat Calon Nona mudanya sedang pingsan dijalan saat lampu merah menyala. Sopir itu juga menceritakan jika melihat Revan dibelakang mobil yang membawa Ellena.
" Sorry Zack.. gue benar - benar ga bermaksud nutupin ini semua dari elu ".
" Siapa yang membuat Ellena seperti itu? Apa Alex! gue bakal bikin perhitungan dengannya ".
" Loe salah jika menyalahkan Alex. Karena ini semua perbuatan Ryan ".
" Ryan "
" Bukannya dia sudah pergi mengikuti Mamanya ".
" Tidak, selama ini dia disini karena dia menyukai Ellena ".
Tangan Zacklee menggenggam, matanya yang tajam serasa ingin membunuh seseorang apalagi jika itu mengenai wanitanya.
Zacklee lalu meninggalkan Revan. Saat membuka pintu ternyata Tasya sudah didepannya Akan mengetuk pintu nya.
Zacklee meliriknya kemudian melewatinya.
" Lee ". Teriak Tasya.
Zacklee memberhentikan langkahnya.
" Lee bisakah kita bicara? Aku merindukanmu ". Ucap Tasya.
" Sebaiknya kau pulang ". Jawab Zacklee lalu melanjutkan langkahnya meninggalkan Tasya.
Tasya menangis diatas kursi Rodanya. Ekspetasinya salah dia pikir Zacklee Akan bahagia bertemu dengannya.
\=\=@@
Zacklee terus memumukul kemudinya meluapkan kesalnya.
" Kenapa Revan menutupi Alex! jelas - jelas semalam Alex yang menggendong Ellena pingsan. Sebenarnya apa yang terjadi semalam? dan kau Ell.. kenapa kau tak menghubungiku? kenapa harus Alex ". Umpat kesal Zacklee sambil memukul kemudinya. Kemudian menghentikan kemudinya.
Zacklee memejamkan matanya dalam menyesali perbuatannya yang sudah mengabaikan Ellena.
" Aku sudah terlalu jauh mengabaikanmu Ell sehingga membuat Ryan dan Alex memasukinya ". Zacklee yang menyesali perbuatannya.
" Aku tak bisa lagi menunggu lama kita percepat pernikahan kita ". Ucap Zacklee.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aduh babang Zacklee uda kagak sabar main cepet - cepet aja..
Jahitan baju kondyangan othor belum jadi nih 😜
Hayuh.. hayuh... Like, vote, commentnya biar dikasih undangan babang Zacklee 😁❤