
Happy Reading...
...----------------...
Akhirnya aku mampu melepasmu pergi,
meski yang kudapat ialah perih.
Karena seburuk apapun sebuah perpisahan, cinta terbaik akan selalu pulang dalam dekapan.
Seperti halnya punggung
yang dengan setia berjuang,
pada akhirnya akan menemukan
rusuknya yang hilang.
...----------------...
"Bastian, bagaimana dengan perusahaan Papamu?" tanya Rachel.
"Hm, oh soal itu aku sudah memutuskannya. Aku mengikuti apa yang ada didalam hatiku. Aku lebih memilih untuk berdiri sendiri" jawab Bastian.
"Kau membantah Papamu?" tanya Rachel kembali.
"Dasar anak pembangkang! kau tahu, itu tak baik untuk perjalanan hidupmu kedepan karena do'a orang tua pembuka segala jalan" imbuhnya lagi.
Bastian menatap wajah Rachel yang memarahinya. Sebenarnya alasannya bukan itu melainkan karena dirinya. Bastian sengaja mendekati Rachel kembali, berharap jika Rachel menerimanya.
"Rachel..,"
"Ya"
"Apa kau sudah mendapatkan jawaban pertanyaanku waktu itu?"
Rachel terdiam, dia meletakkan alat makannya. Bola mata tenangnya sekarang berubah menjadi gugup.
"Bastian, sebenarnya.. aku sudah memiliki anak" ucap Rachel lirih.
Deg,
Bastian jelas terkejut, selama dia berteman dengan Rachel tak pernah sedikitpun Rachel menceritakan tentang anak.
"Kau memiliki anak? kenapa tak menceritakannya padaku?"
"Maaf. Aku terpisah dengan anakku sejak melahirkannya. Ayahku membuangnya ketempat lokalisasi," kali ini air mata Rachel mengalir membasahi pipinya. Menjeda kalimatnya untuk mencari udara untuk mengisi kerongkongan serta paru-parunya yang mulai merasakan sesak.
Bastian meraih jemari Rachel, memberinya motivasi lewat sentuhan itu.
"Sekarang berada dimana dia?"
Rachel menyeka air matanya, mengingat Alex sudah membawanya pergi entah kemana.
"Dia bersama Papanya," jawab Rachel singkat.
"Siapa Papanya Rachel?" Rachel tak menjawab pertanyaan Bastian.
"Apa dia Alex, pria yang kau sukai?" tebak Bastian dan langsung membuat Rachel terdiam.
Bastian merasakan sakit di hatinya karena wanita yang dia suka telah memiliki anak dengan pria yang dia suka pula.
"Apa kalian sudah menikah?" pertanyaan Bastian membuat Rachel terdiam lagi, menundukkan kepala menangis dalam diam.
Kini tanpa Rachel jawab, Bastian bisa mengerti apa yang sudah terjadi. Bastian beranjak dari tempat duduknya memeluk tubuh Rachel. Seolah mengerti Bastian ikut merasakan rasa sakit yang Rachel alami saat ini.
'Aku akan membahagiakanmu Rachel dengan segenap jiwa dan raga yang aku punya' batin Bastian.
**
"Selamat malam Tuan," sapa salah satu pegawainya.
"Selamat malam," jawabnya dingin. Alex memang tak ingin seperti dulu memberikan harapan ke setiap wanita-wanita yang dia sapa. Alex sudah berjanji untuk lebih berhati-hati dalam memilih pasangan hidup. Rasa cinta yang tak terbalas dua kali mampu membuatnya belajar lebih dewasa lagi.
"Aw... huaaaa..," tangis Alea terjatuh karena tak sengaja menabrak salah satu pegawainya yang sedang membawa juice, alhasil juice itu malah mengguyur Sunny.
"Sayang kau tak apa?" Alex segera memapah tubuh putrinya. Kemudian Alex menatap tajam kearah wanita yang entah sengaja atau tidak menjatuhkan juice ke tubuh Alea.
"Kau, segera keruangan ku" nada suara horor mampu membuat yang mendengar merasakan bergidik ngeri.
Pegawai wanita itu segera mengekori Tuannya dengan rasa bersalah. Masih dengan tubuh sedikit gemetar serta keringat yang membasahi seluruh dahi serta telapak tangannya, wanita itu mencoba berdo'a agar Tuannya tak melaporkannya ke aparat Negara.
Dengan tubuh yang masih berdiri tegap, wanita itu menunggu eksekusi apa yang akan diberikan Bosnya.
Selesai menggantikan pakaian putrinya, Alex meminta salah satu pegawainya membawa Alea bermain di luar, karena saat ini dirinya akan segera mengeksekusi pegawai yang sudah lalai dalam pekerjaannya.
Alex menatap wanita itu dari ujung rambut hingga ujung Kaki.
"Kau anak baru," tiga kata keluar dari mulut Alex terdengar seperti suara malaikat pencabut nyawa.
"I_iya Tuan," jawab wanita yang diperkirakan berusia 20 tahun. Masih sangat muda, terlihat dari wajahnya yang masih seperti anak SMA.
"Kau tahu apa kesalahanmu?" suara tajam Alex membuat wanita itu ingin segera berlari terbirit-birit.
"Ma_maaf Tuan, saya tak sengaja" jawab wanita itu dengan ketakutan.
"Kau tahu ulahmu tadi bisa membahayakan putriku. Kalo putriku sampai terkena pecahan gelas apa kau siap bertanggung jawab? hah!"
Semakin ciut saja nyali wanita dihadapannya.
"Ma_maaf Tuan" hanya kata maaf yang keluar dari bibirnya. Rasa ketakutan menyelimuti dirinya, seolah membeku karena Alex terus menatapnya dengan sinis. Bak penjahat internasional wanita itu seperti diinterogasi oleh agen inteligensi CIA. Terlalu berlebihan memang, rasa takut pegawai baru itu melebihi rasa takut ketika di hukum pasung.
"Siapa namamu?" tanya Alex lagi.
"An_Anna Tuan" jawab wanita itu.
Melihat wanita bernama Anna sangat ketakutan membuat Alex mengurungkan niatnya untuk lebih seram.
"Kau tahu, setiap kesalahan pasti ada sanksinya? dan sebagai sanksinya kau harus menjaga putriku 24 jam"
"Ta_tapi Tuan...," Anna mendongakkan wajahnya, terlihat dia masih sangat muda. Alex sempat terpana sekilas tetapi dia tepis. Alex kemudian meninggalkan Anna. Keputusannya tak bisa dirubah. Sekarang wajah Anna sangat sengsara, dia melirik Tuan bosnya yang melewatinya.
Anna keluar dengan wajah muram, bagaimana bisa dia menjaga anak bosnya 24 jam. Hari ini dia sangat bingung.
"Aku harus menanyakan si Bos, bagaimana cara aku menjaga anaknya 24 jam?" Anna bermonolog pada dirinya sendiri.
"Anna...," panggil salah satu temannya.
"Iya,"
"Kau di panggil Bos lagi didepan" ucap teman Anna.
"Tuhan..., baru saja aku merasakan lega kau sudah membuat aku jantungan kembali" gumam Anna.
Anna dengan pasrah mengikuti langkah temannya menemui Bos Alex kembali. Masih dengan wajah dingin, Alex hanya meliriknya sekilas.
"Mulai hari ini kau sudah bisa melaksanakan hukumanmu, bereskan barang-barangmu dan cepat kembali kesini karena aku tak suka dengan yang namanya menunggumu" ucap Alex ketus.
"Ba_baik Tuan" sahut Anna gugup, dia segera kembali ke kontrakannya yang kecil di gang sempit belakang Cafe tempat dia bekerja.
Anna merupakan yatim piatu. Semenjak Ayahnya meninggal saat Anna duduk di bangku SMA, Anna harus meneruskan hidupnya seorang diri. Dia bahkan tak melanjutkan studynya akibat tak memiliki biaya. Terpaksa Anna harus ikut orang-orang yang mengasihinya dengan memberikan pekerjaan ringan untuknya dengan bayaran tak seberapa. Anna memutuskan untuk pergi dari kampung halamannya berharap jika suatu hari bisa merubah kehidupannya menjadi lebih baik. Hingga suatu hari dia melihat ada pengumuman lowongan kerja di Cafe Alex, dengan tekad yang kuat Anna dengan pedenya memasukkan surat lamaran dengan menggunakan ijazah SMAnya.
Salah satu pegawai disana sangat tertarik dengan kecerdasan Anna, maka dari itu entah karena keberuntungan sedang bersamanya Anna bisa diterima di Cafe Alex.
Bersambung....