What I Think

What I Think
Pertemuan 2



Happy Reading...


"Aku sudah mencarimu kemana-mana tetapi tak menemukanmu. Aku juga turut berduka cita atas meninggalnya Ayahmu," ucap Felix.


"Aku sudah bersiap menerima konsekuensinya. Aku tak akan lari, aku akan mempertanggung jawabkan perbuatanku padamu"


"Huffffffttt..." terdengar jika Kiara sedang menghembuskan nafas berbau mint itu.


"Sebaiknya kau pergi dari sini," usir Kiara tak ingin membahas soal itu.


"Tapi__"


"Aku sedang tak ingin membahasnya, aku harap kau bisa mengerti" ucapan Kiara mampu membuat Felix terdiam dan memutuskan untuk membiarkan Kiara sendirian.


Felix berjalan dengan pikirannya yang serba salah, dia menyesal sudah membuat Kiara menderita. Andai siang itu dia berhasil menemukan Kiara, mungkin akibatnya tak akan sefatal ini kejadiannya.


"Felix, sudah bertemu Alina?" tanya Alex turun dari lantai atas.


"Sudah Pa, Felix pamit pulang dulu" ucap Felix datar tanpa ekspresi.


Alex yang melihatnya merasa aneh.


"Kenapa lagi dengan anak itu?"


"Felix... tante sudah buatkan makanan kesukaanmu" panggil Anna baru selesai dari dapur namun tak menemukan sosok Felix.


Melihat suaminya juga berada disana, Anna lalu menanyakan keberadaan Felix.


"Kau tahu dimana Felix? aku sudah membuatkan masakan kesukaannya" ucap Anna.


"Dia baru saja berpamitan pulang,"


"Kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Anna merasa aneh.


"Aku bingung saja kenapa lagi dengan anak itu, setelah menemui Alina wajahnya berubah. Seperti sedang mendapatkan masalah besar," ucap Alex.


"Mungkin karena Alina sudah tidur, jadi dia tak bisa bermain dengannya" terka Anna.


"Mungkin..," Alex mengendikkan kedua bahunya.


"Kau masak apa sayang?" tanya Alex merangkul sang istri.


"Sop iga sapi,"


"Mau dong disuapin...,"


"Idih.. makan sendiri, malu sama anaknya" sahut Anna terkekeh melihat suaminya bersikap manja.


Mereka berdua bertingkah layaknya seperti ABG bersikap saling manja. Sunny yang tak sengaja lewat melihat kedua orang tuanya tersenyum bahagia.


Setelah Felix mengajak sahabatnya kembali, Sunny memutuskan untuk menemui Kiara. Melihat Kiara telaten merawat dan menjaga Alina, Sunny tersenyum.


"Kir... Kiara," panggil Sunny dengan lirih takut baby Alina terbangun.


Kiara dengan cepat menyeka air matanya. Dia lalu menoleh kearah Sunny yang berada dibelakangnya. Kiara menyunggingkan senyum.


"Kiara kau menangis?" tanya Sunny yang melihat mata sembab Kiara.


"O.. ini tak sengaja terkena gerakan jari Alina tadi," berusaha menutupi pertemuannya dengan Felix.


"Baby Alina sekarang aktif banget, tapi dia sangat menggemaskan" sembari menyentuh pipi gembulnya dengan lembut.


"Eh, tadi aku pingin kenalin kamu dengan sahabat-sahabat aku. Tapi, mereka buru-buru balik. Next time kau harus mengenal mereka," ucap Sunny bahagia menceritakan sahabatnya.


'Apa pria tadi juga sahabatnya Sunny?' tanya Kiara dalam hatinya.


"Kiara.. makan yuk, Mama sudah manggil tuh..," ajak Sunny.


Kiara sebenarnya masih sungkan dengan perlakuan keluarga Sunny. Bukannya kemarin mereka menyuruhnya untuk mengasuh baby Alina, tetapi kenyataannya Kiara diperlakukan seperti keluarganya.


**


"Masih kurang ga ice creamnya?" tanya Dewa.


"Masih Om.., Fio masih pingin yang rasa matcha" jawab Fiona.


Setelah kejadian tadi, untuk mencairkan suasana Fiona meminta Dewa untuk mengajaknya ke kedai es krim tak jauh dari sekolahnya.


"Fio, kau sudah menghabiskan enam mangkuk ice cream dan ingin menambahnya lagi?" ucap Dewa.


Fiona hanya menanggapinya dengan gerakan menganggukkan kepalanya. Masih belum selesai menghabiskan masuk es krim ke lima, Fiona masih ingin menambahnya lagi.


"Ini sangat enak Om.. apa Om tak mau mencicipinya?"


"Om tak suka. Itu hanya akan membuat dingin"


"Ye.. tau ga Om, ice cream ini bisa membuat relaksasi pikiran kita yang tegang menjadi normal,"


"Ih.. Om malah mesum deh," cibir Fiona.


"Kamu yang mesum, emang mikirnya gimana?"


"Itu, yang tegang yang bawah apa coba maksudnya?"


Dewa tertawa terpingkal-pingkal karena Fiona mengartikan ucapannya lain yang dimaksud Fiona.


'Issssttt... menyebabkan!"


"Fio... ini ice creamnya jadi yang matcha ga?" rayu Dewa.


"Ogah! udah basi,"


Dewa semakin tertawa mendengar ice cream bisa basi segala. Dewa mengejar Fiona yang sudah beranjak terlebih dulu.


"Fio... udahan dong marahnya, Om kan cuma bercanda" ucap Dewa setelah berhasil meranggah tangan Fiona.


"Om, Fiona masih anak sekolah kalau ngomong jangan mesum dong...," protes Fiona.


"O.. jadi masih anak sekolah nih" sambil mengetuk-ngetuk dagunya yang ditumbuhi bulu-bulu halus.


"Kemarin yang coba-coba nonton drama percintaan dewasa siapa dong?" sindir Dewa waktu itu tak sengaja melihat Fiona sedang menonton drama Korea.


"Nyindir Fio ya Om?" merasa tak terima.


"Enggak. Om ga nyindir siapa-siapa, tapi kalau ada yang ngerasa, bagus dong..," masih dengan menyindir.


"Ini orang tua nyebelin banget,"


"Eh, siapa yang orang tua?"


"Disini yang tua diantara kita siapa?" Fio menjeda ucapannya.


"Om kan?"


'Gue ga tua tapi kharismatik Fio...' batin Dewa.


"Fio...," panggil seorang pria muda melambaikan tangannya kearah Fio.


"Hai.. Ka Sean," balas Fiona.


"Sedang apa disini?" tanya Sean kakak kelas Fiona.


"Selesai membeli ice cream, kalau kakak?" tanya Fiona.


"Kakak juga selesai membeli ice cream. Ini buat kamu" sembari menyodorkan satu cup ice creamnya.


"Terimakasih Ka Sean..,"


"Sama-sama Fio, kakak pamit duluan ya..,"


"Hati-hati Ka Sean...,"


Melihat kedekatan Fiona dengan kakak kelasnya, entah mengapa Dewa merasa tak suka.


Fiona tersenyum membuka ice creamnya tetapi Dewa langsung menyahutnya dan membuangnya ke tempat sampah.


"Om Dewa apa-apaan..., itu ice cream punyaku kenapa main buang-buang seenaknya sih...," Fiona merasa kesal karena Dewa membuang ice cream pemberian Sean ke tempat sampah.


"Ada racunnya," sahut Dewa mengesalkan. Alasan tak masuk akal yang diucapkan Dewa.


"Dasar Om bule somplak....!" teriak Fiona.


Sesampainya di Rumah Dewa mengantarkan Fiona hanya sampai di pintu gerbang. Bibir Fiona yang mengerucut sudah bisa dipastikan jika dia masih kesal dengan Dewa.


"Turunnya mau digendong?" tawar Dewa.


Tak menggubrisnya, Fiona langsung membuka pintu mobil Dewa. Sayangnya pintu itu masih terkunci Dewa sengaja masih menguncinya.


"Buka Om pintunya!"


Dewa bukannya membuka kunci mobilnya, malah dia mendekatkan wajahnya ke Fiona. Fiona langsung menutup matanya. Dia mengira jika Dewa akan menciumnya. Degup jantung yang sulit untuk dikontrol membuat Fiona tak bisa membedakan antara takut, kaget serta jatuh cinta.


"Sudah" ucap Dewa ternyata membantu Fiona membuka seat beltnya.


Fiona membuka matanya, merasa sangat lega karena yang ada dipikirannya tak terjadi. Fiona sampai tak mampu untuk menatap wajah atau mata Dewa saat ini. Dia turun dari mobilnya masih dengan posisi menunduk. Fiona sangat malu menatap Dewa.


"Om langsung pulang Fio...,"


Fiona tak mampu berucap apa-apa, dia hanya menganggukkan kepalanya.


'Fio... sadar Fio...'


Bersambung....