
Happy Reading....
...----------------...
Alex yang tersungkur hanya bisa melirik kearah Ellena dan Revan yang mencoba membuka pintu kaca tersebut selanjutnya dia sedikit melirik kearah detikan Bom yang akan menghancurkan semuanya. Devan sendiri sedang mencoba membuka pintu tersebut melalui laptopnya, tangannya terus bergerak menerobos untuk bisa membukanya. Alex berusaha untuk bangkit dengan tubuh yang sempoyongan akibat pukulan dari Dion serta anak buahnya.
"Apa kau menginginkan kematianmu di segerakan bung," ledek Dion.
"Apa begini cara seorang pemimpin GS melawan musuhnya," sindir Alex.
"Aku pastikan setelah ini orang-orang semakin tak menganggapmu Dion" Imbuh Alex.
Dion menghujam pukulan kearah Alex tetapi bisa ditepisnya. Alex hanya ingin memancing Dion untuk mengucapkan sandi untuk membuka pintu tersebut.
"Guiren Dion pria yang diam-diam tak memiliki rasa cinta terhadap wanita yang disukainya," ucap Alex.
"Apa judul berita seperti itu yang kau inginkan Dion," lanjut Alex sambil menahan pukulan Dion.
"Aku hanya melakukan yang terbaik Alex, jika aku tak bisa mendapatkannya makan yang lain juga tidak. jadi untuk apa aku membiarkan cintaku hidup," alasan Dion.
"Oke baiklah, kita akan mati disini bersama-sama bung," sahut Alex mendorong tubuh Dion lalu memukul perutnya.
Alex kemudian melawan anak buah Dion yang ikut menyerangnya bersama-sama. Kali ini Alex berhasil melawannya hingga mereka tersungkur satu persatu. Dion berusaha kabur untungnya pintu yang berhasil dibobol Devan terbuka dengan cepat Zacklee dan Shandy mengejar Dion. Zacklee menendang kaki Dion agar tak bisa berlari lagi.
"Mau lari kemana kau Dion!" bentak Zacklee. Dion tak menjawab dia membalas pukulan Zacklee. Zacklee dengan cekatan bisa menghindari pukulan dari Dion, disaat terdapat celah Zacklee berhasil menumbangkan Dion.
"Cepat kau buka pintu itu Dion!" teriak Zacklee.
Dion yang berada di bawah Zacklee dengan darah diujung bibirnya serta hidungnya tertawa puas melihat Zacklee merasa ketakutan.
"Aku sangat kasihan terhadapmu Lee memiliki seorang istri cantik tetapi tak bisa melindunginya," Dion mecoba memprovokasi.
BUGHK!
"Cepat kau buka pintu itu!" perintah Zacklee dengan suara keras.
"Aku tak bisa membukanya, karena aku memprogam ruangan ini di akhir kata tutup dan setelah itu pintu ini tak akan bisa terbuka selamanya," sahut Dion setelahnya.
Dewa tiba dia ikut menyusul Zacklee keatas. Dewa yang melihat Siska akan pergi diam-diam mencekalnya.
"Eits.. Mau kemana ka?" tanya Dewa berhasil mencekal Siska.
"Si_siapa kau?" bentak Siska.
"Aku pria tampan yang sedang haus darah," sambil menjilat sisa darah di tangannya. Siska yang melihatnya sangat ketakutan. Dia ingin tetapi tangan Dewa masih mencekal pergelangannya sehingga membuat Siska tak bisa berbuat apa-apa.
"Cepat katakan yang kau ketahui soal pintu itu, atau kalo tidak..... " Dewa tak melanjutkan ucapannya, Siska sepertinya mengerti apa yang dimaksud Dewa, apalagi Dewa sambil mengeluarkan belatinya. Belati itu mampu membuat Siska beringsut dan mengucapkan sesuatu,
"Semua dalam kendali bos Dion, aku tak mengetahui apa-apa," sahut Siska.
"Kau berbohong, kau tak ingin kan wajah cantikmu aku ukir kalimat kematian yang menakutkan," ancam Dewa sembari menempelkan ujung belatinya di wajah Siska yang mulai tergores.
"Aw..," pekik Siska merasakan perih di wajahnya.
"Tolong Tuan jangan lakukan itu, aku akan memberitahu Tuan" ucap Siska ketakutan. Dewa lalu mendorong tubuh Siska kembali masuk ke ruangan tersebut.
Dion terkejut karena Siska berhasil ditangkap oleh Dewa. Dia menatap tajam kearah Siska.
"Cepat kau segera buka pintu itu," teriak Dion dengan wajah kejamnya sembari mendorong tubuh Siska.
Ellena dan Revan terus saja mendobrak pintu tersebut, mereka sangat ketakutan karena mereka hanya butuh waktu 2 menit saja untuk bisa selamat dari sana.
"Ka Revan, maafkan Ellena" ucap Ellena sembari menangis.
"Apa yang kau katakan Ell.., tak usah berpikir yang aneh-aneh kita pasti akan selamat," sahut Revan.
"Kalau saja aku tak membiarkan Kakak mengikutinya hal ini tak akan terjadi... Hiks.. Hiks.. Hiks..,"
"Terimakasih sudah mempertemukanku dengan wanita sesempurna Dhea, berkatmu aku bisa melanjutkan rasa cintaku yang pernah aku torehkan untukmu. Percayalah kita pasti akan selamat," ucap Revan.
"Ka Revan... Hiks.. Hiks.. Hiks..,"
**
Siska menekan kode rahasia di komputernya, ternyata Siska adalah salah satu wanita yang sangat ahli IT bertugas untuk membobol dokumen musuhnya. Wajar jika Dion menggunakannya untuk melancarkan aksi jahatnya.
Di sisi lain Devan terus saja berusaha untuk membobol kode rahasia diruangan itu,
"Kenapa ini sangat sulit, aku yakin ada seseorang yang sangat ahli dibidang ini," gumam Devan.
"Oke terpaksa aku menggunakan ini," ucapnya kemudian mengklik sebuah virus buatannya dan mengirimnya ke komputer Siska.
Ditempat Siska,
'Sial! dia sudah merubah semua kode sandiku dan sekarang dia sedang mengirim virus ke komputerku' umpat kesal Siska.
Siska sengaja tak mengikuti perintah Dewa dia malah sebaliknya ingin membuat Ellena terkunci didalam sana. Di menit yang berubah menjadi satu Siska ternyata tak berhasil merubah kode sandi yang dirubah Devan. Pintu itu terbuka dan Zacklee segera menghampiri istrinya.
"Sayang....," teriak Zacklee melihat pintu itu terbuka.
"Ka Lee...," Ellena membalas pelukan Zacklee dengan sangat erat. Terlihat dia sangat ketakutan.
"Kita segera pergi dari sini," perintah Zacklee diangguki oleh Revan.
Shandy memapah Revan keluar dari ruang tersebut, sedang Zacklee merangkul sang istri.
"Alex, Dewa kalian bawa dia. Cepat!"
Alex dan Dewa membawa Dion dan Siska keluar dari ruangan tersebut.
10... 9... 8... 7... 6... 5... 4... 3... 2... 1...
Semuanya menundukkan kepala setelah berhasisuaminya dan segera memasuki lift.
BOM...!
Zacklee menutupi tubuh Ellena agar tak terkena serpihan kaca. Sedang Ellena terus memeluk tubuh suaminya. Dibawah sana Albert dan yang lain sudah menunggu dengan cemas. Zacklee dan yang lain keluar dalam keadaan selamat. Petugas Kepolisian juga sudah bersiap menangkap Dion dan Siska. Sedang anak buah Dion yang masih hidup sudah berhasil diringkus oleh para petugas tersebut.
"Pa..," panggil Zacklee sampai dihadapannya.
Albert tak bisa berkata apa-apa, dia langsung memeluk Zacklee, Revan, Dewa, Alex dan Shandy. Bagi Albert mereka semua adalah anak-anaknya. Albert sudah menganggapnya seperti anak kandungnya.
"Anak-anak Papa yang sangat hebat," ucap Albert terharu.
"Om mertua kau melupakanku," protes Devan baru tiba.
Semuanya tertawa mendengar ucapan Devan. Albert lalu meraih tubuh Devan dan memeluknya.
"Kemana menantuku?" Albert mencari Ellena. Albert dan yang lain lalu menoleh melihat Ellena sedang memeluk Siska sebelum para petugas membawanya.
"Kenapa kau melakukan ini padaku Nona?" tanya Siska merasa bersalah.
"Aku hanya melakukan yang seharusnya aku lakukan. Aku harap setelah ini kau merubah cara berpikirmu. Masa depan anakmu jauh lebih penting meski tanpa Dion," sahut Ellena.
Siska tak mampu lagi menahan air matanya, dia benar-benar merasa malu kepada Ellena. Meski dia telah membuat Ellena seperti ini, dengan hati yang lapang Ellena mampu memaafkannya.
Petugas segera membawa Siska, perlahan jemarinya melepaskan jemari Ellena.
"Kau melakukan yang terbaik sayang..," ucap Zacklee merangkul tubuh istrinya.
Ellena tersenyum menoleh kearah suaminya lalu menoleh kearah Siska yang akan memasuki mobil petugas.
Bersambung....