
...----------------...
Disudut kamar, manik mata berkaca-kaca memandangi sosok wanita paruh baya yang sedang berjuang melawan maut.
" Ibu, bertahanlah ". Sambil menggenggam jemari wanita tua tersebut, Rachel mengeluarkan suara yang terhimpit di tenggorokannya.
Kenangan-kenangan masa kecil bersama Ibunya teringat jelas di memorinya. Mata yang tadi berkaca-kaca sekarang sudah tak dapat membendung air mata yang sudah menumpuk.
Rachel menenggelamkan wajahnya ditangan Ibunya yang terpasang infus membasahi tangan Ibunya.
Bastian merasa sedih melihat Rachel seperti ini. Sebenarnya dia ingin sekali menanyakan perihal pria yang datang menemui Rachel waktu itu. Bastian teringat jika pancaran mata antara keduanya seperti ada sesuatu yang spesial diantara mereka.
" Ra_chel.., ". Ibu Sovi bangun setelah merasakan ada sesuatu yang mengganggu istirahatnya. Dengan suara yang berat, dia berusaha memanggil Rachel yang menangis.
" Ibu.., ". Rachel merasa senang saat mendongak melihat wajah lembut Ibunya.
" Ibu, mau Rachel ambilkan minum? ". Tawar Rachel. Dan seperti biasa Bu Sovi akan tersenyum.
Bu Sovi menggelengkan kepalanya,
" Tidak usah Rachel, Ibu merasa jika sebentar lagi Kakek dan Nenekmu akan segera menjemput Ibu ".
" Jangan katakan itu lagi Ibu.., Rachel yakin jika Ibu akan sembuh ". Ucap Rachel bersamaan dengan tangisnya.
" Dimana pria yang kau ceritakan kepada Ibu, Nak? Ibu sangat ingin sekali bertemu dengannya ". Ucapnya masih dengan terbata-bata.
" Ibu, sudahlah jangan pikirkan dia. Yang terpenting sekarang adalah kesembuhan Ibu ". Rachel tak mau melihat Ibunya sedih.
" Bolehkah Ibu bertemu dengannya sekali saja"
Rachel makin bingung saja dengan permintaan Ibunya. Pasalnya dia tahu jika Alex tak mungkin mau karena Rachel sudah menyuruhnya untuk melupakannya.
" I_bu.. ".
" Tante tenang saja, aku akan menghubunginya ". Sahut Bastian.
Rachel menatap tajam Bastian, bagaimana mungkin dia membawa Alex kehadapan Ibunya.
' Kau membuatku dalam masalah besar Bastian '. Gerutu Rachel.
Tetapi belum sempat Bastian mencari info, suara monitor denyut jantung tiba-tiba berbunyi.
" Ibu..! Ibu harus bertahan! ". Rachel menangis dan berteriak,
Sedang Bastian keluar memanggil suster yang berjaga.
" Nak.., berikan surat ini kepada pria yang sering kau ceritakan itu. Maafkan Ibu harus meninggalkanmu ".
" IBU.. ! IBU.. ! ". Rachel histeris mengguncang-guncangkan tubuh Ibunya, tapi takdir berbicara lain.
Dokter dan Suster memasuki Ruang Ibu Sovi. Dokter mengambil alat kejut jantung, satu-dua-tiga kali detak jantung itu tak berubah sama sekali malah terlihat vertikal. Dokter mengkomando suster untuk melepas semua peralatan ditubuh Ibu Sovi.
" IBU..! ". Teriak Rachel histeris melihat Dokter menggelengkan kepala. Sedang Bastian mencoba menahan tubuh Rachel yang hampir tersungkur.
" Ikhlaskan tante Chel..., ". Bastian menenangkan Rachel. Kepala Rachel bersandar di dada Bastian. Tangannya menggenggam sebuah kertas yang dititipkan kepadanya untuk Alex.
' Maafkan Rachel Ibu karena belum bisa membuatmu bahagia '. Batin Rachel masih dengan isak tangisnya.
***
" Siapa Dim? Kenapa wajahmu berubah setelah menerima telfon? ". Tanya Alex yang sedikit curiga.
" Gue akan ke Rumah sakit sekarang ". Jawab Dimas.
" Siapa yang sakit? ". Pertanyaan yang sepertinya tak memerlukan jawaban terlontar dari mulut Alex.
Dimas melirik sinis kepada Alex.
" Elu pikir sendiri seperti apa pekerjaan gue ". Jawabnya kesal.
Alex terkeukeh menyadari pekerjaan Dimas tidak jauh-jauh dari Rumah Sakit.
" Ell, suamimu dimana? Kalau gue ga pamit bisa habis gaji gue ". Kali ini Dimas tak semanis biasanya memanggil Ellena yang duduk di atas ranjang bersama Zaskia.
" Ka Lee menemui Papa sebentar. Ada apa Ka? ". Tanya Ellena yang juga penasaran.
" Gue balik ke Rumah sakit dulu, gue dapat kabar jika pasien 219 telah meninggal. Pasien itu Mamanya sahabat gue ". Jelas Dimas.
" Ka, Ellena ikut berdukacita ya ". Ucap Ellena.
" Aku juga Dokter tampan, ikut berdukacita. Semoga tenang di alam sana ". Zaskia yang ikut mendo'akan.
" 219? ". Ucap Alex lirih memutar ingatannya.
" 219, 21__". Belum sempat Alex melanjutkan memori ingatannya teringat akan sesuatu,
" Dim, katakan siapa nama pasien itu ".
" Emang kenapa Lex? ". Tanya Dimas.
" Katakan saja! Apa susahnya kau mengatakannya dengan jelas ". Bentaknya.
Manik mata Alex berubah menjadi serius, nada bicaranya menandakan ada sesuatu yang disimpan. Hati Ellena mengatakan seperti itu saat melihat ekspresi yang tersirat di wajah Alex.
" Dia bernama Ibu Sovia, Sovia Andara ". Ujar Dimas memberitahunya.
" Sovia Andara__ Oh tidak! ". Alex berbalik langkahnya dengan cepat keluar dari Kamar Ellena, saat Felix dan Fiona memanggilnya Alex seakan tak peduli. Langkahnya semakin cepat sehingga membuat Dimas kewalahan mengejarnya.
Zacklee yang baru keluar dari ruang kerja pribadi Papanya,mendengar Dimas memanggil-manggil Alex .
" Dokter.. ! ". Panggil Zacklee.
" Tuan, saya pamit kembali ke Rumah Sakit. Salah satu Pasien saya meninggal dunia ". Ucap Dimas lalu membungkukkan badannya sedikit dan berbalik melangkahkan kakinya setelah Zacklee mengizinkannya.
Zacklee mendengar tangisan kedua anaknya dan menghampirinya.
" Sayangnya Papa kenapa menangis? ". Zacklee sambil memeluk kedua anak kembarnya.
" Pa_pa A_lex.. Hiks.. Hiks.. Hiks.. ". Ucap Fiona sambil menangis.
" Iya Pa.. Papa Alex jahat, Felix dan Fiona hanya ingin Papa Alex melihat hasil gambar kami tapi Papa Alex tak mau melihatnya bahkan dia pergi tanpa pamit sama kita ". Felix menceritakan.
' Apa yang sebenarnya terjadi Lex '. Batin Zacklee yang juga penasaran.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa tinggalkan jejak ya ka🙏
Selamat weekend 🎉