What I Think

What I Think
Kiara berduka cita



Lanjut lagi ya ka...


Happy Reading....


"A_ku dimana?" tanya Kiara setelah sadar.


"Kiara.. kau sedang berada di Rumah sakit," jawab Sunny yang berada disamping ranjangnya.


Mendengar dirinya berada di Rumah sakit, Kiara merasa bingung untuk kehidupan sehari-harinya saja dia harus makan sehari satu kali itupun jika masih ada sisa dari Ibu tirinya, jika tidak Kiara harus bisa menahan rasa laparnya dengan mengganjal perutnya dengan banyak minum. Berada di Rumah sakit membuat kepalanya semakin pusing, darimana dia harus mencari biaya untuk Rumah sakitnya, sedang saat ini dia harus segera mendapatkan obat untuk Ayahnya.


"Sunny, aku harus pulang saat ini juga Ayahku sedang sakit, aku harus segera mencari obatnya yang terjatuh" ucap Kiara tentunya dengan mata yang menahan air matanya.


"Kiara..," panggil Sunny menggenggam jemarinya, justru kali ini air mata Sunny yang lebih dulu lolos daripada Kiara.


"Kiara, ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi selama ini.. hiks.. hiks.. hiks..," tanya Sunny.


Kiara menundukkan wajahnya, air mata yang tertahan akhirnya lolos juga. Sunny sendiri bisa mengerti jika sahabatnya sedang tak baik-baik saja.


"Sunny, aku malu padamu" ucap Kiara lirih.


"Aku malu kalau nantinya aku dekat denganmu akan membuatmu malu" lanjutnya lagi.


"Apa maksudmu Kiara, kita adalah sahabat.. kau orang pertama yang mau menerimaku jadi temanmu saat itu. Saat teman-teman yang lain tak mau berteman denganku karena aku tak memiliki seorang Mama," Sunny mencoba mengingatkan Kiara waktu pertama kali dulu berteman dengannya.


Anna serta Alex yang juga ikut mendengarkannya ikut terharu. Alex sendiri tak menyangka jika Sunny memiliki permasalahan yang berat saat itu.


"Sunny maafkan aku..," ucap Kiara masih dengan isak tangisnya. Kini kedua sahabat itu saling memeluk menguatkan satu sama lain. Cukup lama mereka saling menguatkan, akhirnya Kiara mampu menceritakan yang sebenarnya.


"Siapa yang dengan sengaja menabrakmu Kiara?" tanya Sunny dengan nada suara agak tinggi.


"Sudahlah Sunny, lagipula aku yang salah. Aku berjalan tanpa melihat jalanan..," jawab Kiara.


"Terus gimana kondisi Ayahmu?"


"Sunny bolehkah aku menghubungi Ayahku? aku sangat mengkhawatirkannya," pinta Kiara.


"Tentu boleh Kiara..," Sunny lalu menyodorkan ponselnya, karena ponsel Kiara mati terkena air hujan jadi Kiara tak bisa menghubungi Ayahnya.


.....


"Ayah.., maafkan Kiara belum juga pulang kerumah. Kiara janji akan segera pulang setelah mendapatkan obatnya" ucap Kiara.


"Kemana saja kau anak durhaka! Ayahmu sudah menyusul Ibumu. Kalau kau masih mau menjadi anaknya segeralah pulang!" bentak Ibu tiri Kiara dalam ponsel.


"Ayaaaaah....!" teriak Kiara histeris setelah Ibu tirinya memutuskan panggilannya.


"Ayahku Sunny.., Ayahku meninggal dunia.. hiks.. hiks.. hiks..,"


Sunny ikut menangis mendengar meninggalnya Ayah sahabatnya.


"Kiara, kau yang sabar ya.. Tante dan Om turut berduka cita" ucap Anna memeluk Kiara.


"Om akan bicara dengan Dokter Dimas agar kau bisa pulang malam ini juga soal biaya dan yang lainnya tak usah kau pikirkan. Ini semua akan menjadi tanggung jawab Om dan tante" ucap Alex.


"Sunny, Om dan tante.. Kiara sangat berterimakasih. Kiara janji akan membalas semua kebaikan kalian semua.. hiks.. hiks.. hiks..," balas Kiara dengan terisak.


Kemudian Alex menemui Dimas, dia menceritakan semuanya tentang kondisi Kiara yang baru kehilangan Ayahnya.


"Aku turut berduka cita atas meninggalnya Tuan__"


"Tuan Subarjo, Dim.."


"Iya itu Lex.., pasti sangat sulit untuk anak itu menjalani kehidupannya"


"Aku dan Anna berencana membantunya untuk bekerja di perusahaanku untuk menyambung kehidupannya. Itupun kalau anak itu menerima, kalau tidak aku tak bisa memaksanya" ucap Alex mengungkapkan rencananya.


"Karena bagaimanapun, anak itu sudah banyak membantu Sunny melewati masa sulitnya saat aku membawanya jauh dari Rachel,"


"Kau sudah melakukan yang terbaik. Oh ya bagaimana kabar Rachel?" tanya Dimas.


"Sudah hampir sepuluh tahun dia tak pernah memberi kabar apapun," jawab Alex.


"Apa kau tak ingin mencari kabar Rachel? karena bagaimanapun dia Ibu kandung Sunny,"


"Sepertinya tak perlu, Sunny tak membutuhkannya ada Anna yang sangat sayang kepadanya,"


"Lex.. aku tahu kau sangat kecewa kepada Rachel, tapi.. cobalah kau berfikir apa Sunny juga memiliki rasa kecewa sama sepertimu? atau malah sebaliknya Sunny diam-diam memiliki perasaan rindu yang sangat dalam kepada Rachel,"


Alex terdiam, bukan tak ingin menjawab tetapi setelah pernikahan Rachel, Rachel seakan memutuskan hubungannya dengan Alex dan Sunny.


"Lex, Sunny dan Kiara sudah bersiap" obrolan Alex dan Dimas terputus saat Anna yang menggendong baby Alina menghampiri mereka.


"Anak Papa sudah bangun..," Alex meraih baby Alina ke gendongannya. Alex mencium pipi gembul baby yang baru berusia empat bulan itu. Dan seperti biasanya, baby itu akan terkekeh lucu setiap bertemu dengan Papa tampannya.


"Sial! disaat semua anak-anak tumbuh besar kenapa kau baru memiliki bayi Lex...," sindir Dimas.


"Iri bilang Dim...," sahut Alex melenggang begitu saja.


Bersambung....