What I Think

What I Think
Sebuah petunjuk



Happy Reading....


......................


"Mommy....," teriak keduanya berhambur kepelukan Ellena.


"Mom.. kenapa lama?" tanya keduanya.


"Mana Papa?" keduanya mencari sosok Papa yang menjadi idolanya disetiap harinya.


" Mom,where's daddy?"


Ellena tak mampu menjelaskan, dia hanya bisa memeluk kedua anaknya. Menahan air matanya adalah hal terbaik yang saat ini dia lakukan. Ellena menatap kearah Shandy yang juga sedang menatapnya, menguatkan jika semuanya akan baik-baik saja.


Baby Kai sedang diasuh oleh para pembantu dikediaman Trias, sedang Zaskia sedang menemani Trias yang bersedih.


"Ma.., Mama makan dulu ya.. nanti Mama sakit kalo tak makan" rayu Zaskia.


Trias hanya terdiam memandang keluar jendela sambil memegangi foto Lee kecil. Mengingat saat pertama Lee kecil lahir dan bermain, bercanda ria hingga saat-saat sekolah. Lee selalu saja bilang, 'Jika aku besar nanti aku akan melindungi Mama dan Papa serta anak dan istri cantikku kelak'.


Klek,


Ellena membuka pintu kamar Ibu mertuanya setelah selesai berbincang ringan dengan Felix dan Fiona yang menanyakan tentang Papanya.


"Ma...," panggil Ellena, lalu mengambil alih piring di tangan Zaskia.


"Mama makan dulu, Ellena akan menyuapi Mama" ucapnya sebenarnya hatinya terasa sedih melihat kondisi sang Mama seperti ini.


Trias tak bergeming, dia terus menatap kearah luar jendela.


"Ma, tadi Ka Lee berpesan agar aku memperhatikan kondisi Mama" pancing Ellena.


Benar saja, Trias terpancing karena Ellena mengatakan soal Zacklee.


"Apa dia sudah makan juga?" tanya Trias.


"Ellena bisa pastikan jika Ka Lee sudah makan. Sekarang gantian Mama yang makan, kalo Mama sakit Ka Lee pulang dan melihatnya apa Mama tak kasihan?"


"Kalo begitu Mama akan makan agar Lee tak sedih melihat Mama,"


Ellena tersenyum dengan mengangguk senang karena pada akhirnya Trias berhasil dibujuk. Begitupun dengan Zaskia, dia tersenyum dan mengacungkan jempolnya ke arah Ellena.


'Kau selalu bisa membujuk Mama Ka,' batin Zaskia bangga memiliki Kaka ipar seperti Ellena.


Melihat Ellena menyuapi Trias tidak hanya Zaskia yang bahagia, Shandy dan Devan juga merasakan hal yang sama.


Ponsel Shandy tiba-tiba berdering di sela-sela dia sedang memperhatikan Ellena menyuapi Trias.


"Sayang ada apa? apa ada yang terjadi di restoran?" tanya Shandy dalam ponselnya.


"Tidak sayang, aku hanya ingin menanyakan soal berita yang telah beredar apa itu benar?" tanya Clara penasaran.


"Hmm," Shandy hanya menjawab dengan deheman.


"Aku berpesan padamu jika ada orang yang bertanya tentang ini kau lebih baik diam saja"


"Baik sayang. Bagaimana dengan Ellena?"


"Dia sedang menenangkan Tante,"


"Pasti berat yang dirasakan Tante Trias dan Ellena," keluh Clara.


"Sayang aku baru saja menerima bucket bunga juliet rose lagi untuk Ellena" Clara hampir lupa memberitahu soal bucket bunga itu.


"Anak itu sudah punya suami masih ada aja yang mengidolakannya" sahut Zacklee yang belum mengerti.


"Sayang aku tutup dulu. Restoran hari ini tiba-tiba ramai pengunjung mereka ingin sekali bertemu dengan Ellena"


"Ingat pesanku Clara jangan sampai kau kelepasan," Shandy sekali lagi mengingatkan Clara.


"Iya sayang..," sahut Clara kemudian menutup ponselnya.


*


"Devan apa kau mengetahui sesuatu?" tanya Revan.


"Aku tak yakin, aku mengira ini semua hanya jebakan" Devan sedikit curiga.


"Siapa yang kau curigai?"


"Wanita bernama Siska putra Bapak Harso. Pria yang meninggal di peristiwa tabrakan itu"


"Apa sebelumnya ada yang terasa mencurigakan?" tanya Shandy lagi.


"Waktu di pemakaman entah apa yang Ellena dan Siska perbincangkan, tiba-tiba saja Ellena menampar Pipi Siska sehingga Siska terlihat sangat marah.


"Pertama yang harus kita tanyai adalah Ellena," Devan setuju dengan pendapat Shandy. Karena bagaimanapun dia harus tahu mengapa seorang Siska berani melaporkan Zacklee yang sudah bertanggung jawab dengan semestinya.


"Sedang apa Ka?" tanya Zaskia yang baru keluar dari Kamar Trias


"Gimana dengan Mama?" tanya Devan.


"Kaka ipar sangat hebat dia bisa menaklukkan Mama dengan mudahnya" puji Zaskia.


"Sekarang dia sedang menemani Mama tidur,"


Baru saja dibicarakan, Ellena keluar dari kamar Trias.


"Kalian kenapa berkumpul disini?" tanya Ellena lirih.


Shandy dan semuanya kemudian berpindah ke lantai atas. Sambil memangku baby Kai dan memberinya Susu ASI yang berada di botol Ellena mendengarkan pertanyaan Shandy.


"Sebenarnya apa yang sedang terjadi Ell?" tanya Shandy.


Ellena menarik botol susu dari mulut baby Kai yang sudah terlelap di pangkuannya lalu menaruhnya ke sebuah baby swing.



"Dia meminta suamiku untuk bertanggung jawab atas masa depan anak yang di kandungannya. Karena menurutnya selama dia seperti ini, ayahnya lah yang sudah melindunginya" Ellena lebih tegar dari sebelumnya.


"Enak saja wanita gila itu meminta Kakakku untuk mempertanggung jawabkan yang sama sekali bukan perbuatannya. Sepertinya aku perlu menemuinya Kak, aku ingin memberinya pelajaran yang sangat berarti agar dia tak semena-mena" cerocos Zaskia emosi.


"Ki.. yang sabar..," sambil menyodorkan air mineral kearahnya.


"Kesal banget aku sama dia. Kakakku sudah memberinya tempat tinggal, pengobatan sampai dia sembuh serta memberinya pekerjaan yang layak seumur hidup. Apa gini balasannya?" kembali naik pitam karena rasa kesalnya semakin kerasa ke pulung hati.


"Tadi aku sempat menemuinya," Zaskia langsung kicep dia lalu mendengarkan cerita Ellena.


"Aku dan Ka Revan tak sengaja melihatnya bersama seorang pria misterius entah membicarakan apa," lanjut cerita Ellena.


"Apa kau mengenalnya?" tanya Shandy dibalas Ellena dengan menggelengkan kepalanya.


"Dia memakai jacket hody yang menutupi kepalanya serta masker yang menutupi mulutnya. Aku menyuruh Ka Revan untuk mengikutinya, tapi sampai sekarang belum ada kabar," ucap Ellena teringat Revan.


"Ka, apa kau bisa menghubungi Ka Revan? kenapa aku menjadi lupa soal yang satu ini," Ellena berkacak pinggang terkadang menggigit kuku jarinya dengan berjalan mondar-mandir.


"Apa sebelumnya kau pernah memiliki masalah dengan orang lain?" tanya Shandy.


Ellena mencoba mengingat, tetapi dia tak mengingat apapun.


"Menurutku aku tak pernah memiliki permasalahan dengan orang lain,"


"Kau yakin?" Shandy memastikan.


"Aku hanya memiliki permasalahan dulu dengan seorang pria saat acara event MF di Negara penghasil ginseng. Tapi itu tak berlanjut lama karena kita setelah itu bekerjasama dengan baik" Ellena mengingat sesuatu.


"Dengan siapa Ell?" tanya Shandy.


"Kalo tak salah dia bernama Di_ Di_ Dion. Ya ka, namanya Dion. Kami sempat berseteru. Tapi..., aku ragu jika dia Ka. Jika dia, kenapa harus Ka Lee yang dia jatuhkan?" Ellena sedikit berpikir keras.


"Aku akan menghubungi Revan," Shandy segera menghubungi Revan sayangnya ponsel Revan tak aktif.


Dua tiga empat lima kali panggilannya Revan tak juga mengangkatnya, Shandy dan Devan merasa curiga dengan yang terjadi pada Devan.


"Dev...," panggil Shandy. Sepertinya Devan tahu harus berbuat apa.


Selagi Shandy dan Devan melakukan tugasnya, Ellena dan Zaskia segera menghubungi Alex dan Albert papanya.


Mereka mengatakan jika Zacklee sedang dalam proses pembebasan bersyarat. Ellena maupun Zaskia sangat senang mendengar berita ini. Meski hanya bersyarat Ellena sangat bersyukur atas apa yang sudah diberikan Tuhan pada keluarganya. Setidaknya anak-anaknya bisa bersama Papanya.


"Mom...," panggil Felix yang baru bangun dari tidur siangnya.


"Kau sudah bangun?" sembari memangku anak tampannya.


"Papa belum pulang ya? Felix mau memberitahu buku terbaru Felix yang baru Felix bersama Grandfa,"



"Memangnya buku apa yang ingin Felix tunjukkan ke Papa?" tanya Ellena.


"Rahasia Mom...," jawabnya menggemaskan.


Mata teduh dengan bulu mata yang lentik itu berkedip perlahan, Zaskia yang diam-diam memperhatikan mencubit gemas pipinya.


"Aw..., sakit Aunty" pekik Felix.


"Boleh ga Aunty jadi pacar keponakan Aunty yang sangat tampan ini," sahut Zaskia.


"Aunty genit, Felix jadi takut..." menghindar dari Zaskia.


"Felix..., Aunty sangat mencintaimu" teriak Zaskia. Untungnya baby Kai tak terganggu dengan teriakan Zaskia.


"Kau sedang mengusirnya Kia?"


"Sepertinya iya Ka.., ada yang mau aku beritahukan ke Kakak. Ka Clara mengirimku ini," sambil memberitahu pesan di ponselnya. Gambar bucket bunga juliet rose yang sama dengan yang sebelumnya.


"Juliet rose?"


"Iya Ka.., apa Kakak tak merasa aneh? bungan yang sama, pesan yang sama dalam satu hari tiga kali pengiriman juliet rose"


Ellena tampak berpikir, sebelumnya dia juga merasa aneh ada orang yang dengan entengnya mengirimnya bunga yang sangat mahal pertangkainya sedang orang itu mengirimnya tidak hanya satu tangkai tetapi berupa bucket.


Ellena memperhatikan selembar note itu, ada sebuah inisial di pojokan note tersebut. Ellena memperbesar layar ponsel Kia,


"GD?" ucap Ellena.


"GD? apa itu GD ka?" tanya Zaskia.


"Kau lihat ini Kia, disini ada sebuah inisial GD, berarti???"


Ellena maupun Zaskia saling melemparkan pandangan. Kini dia menemukan petunjuk baru.


Jeng... jeng... jeng....


Bersambung.....