
Lanjut lagi ya...
Happy Reading...
••°°@@
"Juliet rose lagi?" pekik Dhea.
"Memangnya dari siapa sih Clara?" tanya Dhea penasaran.
"Aku ga tau, tadi ada kurir yang mengirim ini. Setelah aku lihat di selembar note kata-katanya sama seperti kemarin" jawab Clara.
"Untuk wanita tercantik Ellena Malik Maheswari" Clara membacakan tulisan di selembar note tersebut.
"Apa dia pengagum rahasia Kaka ipar ya?" terka Zaskia.
"Emang elu punya fans ya Ell?" pertanyaan konyol yang di lemparkan Dhea.
"Ini ribut-ribut ada apa sih?" suara Shandy membuyarkan keempat wanita yang sedang menebak siapa pengagum berat Ellena.
"Kau sudah selesai bekerja sayang?" sapa Clara melingkarkan tangannya ke lengan Shandy.
"Kalo aku lembur bekerja kau pasti mengunci kamar lagi dan aku ga mau itu terjadi" sindir Shandy langsung membuat Clara merasa malu.
"Ini ada apa ribut-ribut?" mengulangi pertanyaannya.
"Ini ada seseorang yang selalu mengirim juliet rose untuk Ellena tapi tak tahu siapa pengirimnya" sambil mengendikkan kedua bahunya.
"Mungkin saja benar kata Zaskia, pengagum rahasia kau Ell..," Shandy sedikit terkekeh dengan ucapannya.
"Pengagum berat? siapa yang mengagumi istriku?" suara Zacklee yang baru ikut bergabung setelah berdiskusi dengan Revan dan Devan.
"Noh istri elu ada yang kirim bunga lagi," seloroh Shandy.
Zacklee buru-buru menyahut bucket yang di pegang istrinya, dia mengambil selembar note di dalamnya dan memperhatikan inisial yang berada di ujungnya.
'GD. Siapa dia sebenarnya' batin Zacklee.
Zacklee kemudian membuang bucket tersebut ke tong sampah dengan wajah kesal. Ellena kini tahu mengapa semalam Zacklee mendiamkannya, ternyata dia sedang cemburu dengan pengirim bucket tersebut.
Semua orang terdiam melihat reaksi Zacklee, Shandy dan sahabat yang lain merasa jika Zacklee sudah mengetahui sesuatu.
"Ini sudah hampir larut malam kita sebaiknya pulang. Kasihan anak-anak," ucap Dhea mencairkan suasana.
"Kau benar cintaku sebaiknya kita pulang dan segera beristirahat" sahut Revan menyetujui pendapat istrinya.
"Zack, Shand gue pulang dulu.." pamit Revan dan Dhea. Kemudian diikuti Devan dan Zaskia serta Shandy dan Clara.
"Sayang kita lebih baik ikut pulang," ucap Zacklee dingin.
Ellena terdiam dengan berlari dia memeluk Zacklee dari belakang.
"Ka, maafkan aku... seharusnya aku tak menerima bucket bunga itu jika membuat hatimu sakit" ucap Ellena sembari menangis menyesali perbuatannya.
Zacklee memegang tangan Ellena yang melingkar di perutnya. Perlahan merubah posisinya saling berhadapan, Zacklee merengkuh tubuh istrinya kedalam pelukannya bagaimanapin dia tak mau jika istrinya bersedih.
"Lebih baik kita pulang," ucapnya sedikit memapah langkah istrinya.
Saat mereka turun dari lantai atas dengan posisi saling bergandengan tangan serta tangan Zacklee yang melingkar di bahu Ellena membuat semua mata pengunjung beralih menatap mereka. Tak peduli dengan tatapan mereka Zacklee dan Ellena berlenggang biasa dihadapan mereka semua.
Zacklee membukakan pintu untuk istrinya, Sebelum Zacklee membiarkan Ellena masuk, Zacklee dengan sengaja mencium bibirnya. Ellena tersenyum kemudian segera masuk kedalam.
Zacklee kemudian masuk ke kursi kemudi dan segera melajukan kendaraannya.
'Kau rupanya sedang mengawasi istriku' batin Zacklee melewati mobil yang berhenti didepan restauran.
Zacklee dengan sengaja membelokkan setirnya menuju sebuah hotel berbintang untuk mengelabuhi mobil yang menguntitnya. Untung saja Ellena sudah tertidur, jika tidak dia bisa protes karena Zacklee bukan membawanya ke kediaman Trias melainkan ke hotel. Benar saja mobil itu tak lagi mengikutinya saat Zacklee berhenti diparkiran hotel. Malam ini terpaksa Zacklee dan Ellena harus bermalam di hotel. Ellena yang tertidur sangat lelap tak merasakan jika Zacklee menggendongnya ala bridal style menuju kamar yang sudah Zacklee pesan.
"Itu kan Tuan Zacklee, sudah lama aku tak bertemu dengannya" gumam Reyna lirih tak sengaja melihat Zacklee.
'Kau mengatakan dia sangat setia kepada istrinya lalu ini apa?' isi pesan Reyna ke ponsel Alex. Sayangnya pesan itu tak segera dibuka oleh Alex.
"Mungkin kau sudah tidur, sudah hampir pukul dua malam" ucap Reyna melirik jam tangan mewah yang mangkat di pergelangan tangannya. Kemudian Reyna segera menuju ke Kamarnya.
**
Zacklee meletakkan istrinya keatas ranjang lalu melepas sepatu yang melekat di kakinya. Selesai menaikkan selimut, Zacklee segera menghubungi Revan kembali.
"Revan kita bisa ketemu sekarang juga? ada hal penting yang harus kita bicarakan"
"Aku baru saja akan memulai aksiku dan kau malah menggangguku Zack," umpat kesal Revan yang sudah setengah telan**ng.
"Kau tenang saja setelah misi selesai aku janji akan memberimu cuti akhir bulan" rayu Zacklee kemudian menutup panggilannya. Setelah itu Zacklee menghubungi Dewa untuk menemuinya juga setelah itu mengirim pesan letak pertemuannya.
Zacklee kemudian menghampiri sang istri yang masih terlelap, mendekatkan wajahnya menyelipkan rambutnya yang menutupi wajah cantiknya.
"Aku tak akan membiarkan orang-orang itu memisahkan kita. Aku akan membuat mereka menyesal karena telah mengusik kita" ucap Zacklee lirih. Kecupan hangat mendarat di kening Ellena kemudian beralih ke bibir berwarna pink miliknya. Ellena sedikit menggeliat karena Zacklee sedikit mengganggu tidurnya. Zacklee tersenyum saat Ellena tidur dengan membelakanginya.
"Malam ini tidurlah yang nyenyak sayang karena tak akan ada pengganggu. Aku sudah mengabari Mama dan Papa untuk menjaga Felix dan Kaisar" ucapnya dengan kembali lirih.
Drrrttt.. drrrttt...
Ponsel Zacklee bergetar dia tersenyum setelah melihat siapa yang sudah menghubunginya. Kemudian Zacklee segera turun menemui Revan yang sudah tiba.
Zacklee segera menemui Revan.
"Revan, Dewa..," panggil Zacklee melihat Revan dan Dewa sedang duduk sambil menyesap kopi hangatnya.
"Sialan lu Zack! kayak ga ada hari aja. Besok kan kita ketemu" cecar Revan kesal karena ritual malamnya terganggu.
"Nah elu ngapain nginap dihotel enak-enakan sendiri. Hissssttt...," desis Revan semakin kesal menyadari Zacklee malah berada di hotel.
Pletak!
Zacklee sengaja memukul kepala Revan agar dia tak mengoceh lebih panjang.
"Sakit...," sindir Zacklee melihat Revan mengelus kepalanya sendiri.
"Oke, gue kesel karena elu sudah mengganggu ritual gue malam ini. Maklum kalo gue uring-uringan, kepala gue sudah senut-senut rasanya" sembari menjambak rambutnya.
Zacklee dan Dewa yang melihatnya menahan tawa, padahal Zacklee sendiri juga sama gilanya saat menahan ritual yang tertunda.
"Apa ritual itu sangat menyiksa bos?" tanya Dewa menyindir kedua bosnya.
"Makanya nikah Wa..., jangan kebanyakan kawin ga ada feelnya kalo kawin tanpa nikah" seloroh Revan.
"Kalo menikah pusing bos bisa gila gara-gara teriakan istri dan anak. Apalagi kalo sudah mode singa, singa jantan dijamin kalah telak" dia tak menyadari jika ucapannya sedang menyindir kedua pria didepannya.
Saat Dewa menyadari ucapannya salah dia pura-pura menyesap kopinya tak perduli tatapan mata yang ingin menelannya hidup-hidup.
'Anak ini sengaja menyindir rupanya' batin Zacklee dan Revan sama.
"Ada orang yang mengikuti tadi, jadi aku terpaksa harus berbelok kesini" ucap Zacklee langsung membuat Revan terdiam membulatkan matanya.
"Siapa Zack?" tanya Revan serius.
"Gue belum tahu, gue curiga dia orang yang sama dengan orang yang mengirim bucket bunga untuk Ellena" jawab Zacklee.
"Apa kau menemukan suatu petunjuk?" tanya Revan lagi.
Zacklee mengambil selembar kertas note yang berada di dalam sakunya lalu meletakkannya diatas meja kemudian Revan mengambilnya meneliti isi di dalam note tersebut.
"GD" ucap Revan mengingat inisial yang berada di tulisan tersebut.
"Guiren Dion"
Jeng... jeng.. jeng...
Bersambung.....