
π₯π₯
Mendengar kabar jika Ellena sudah menemui Tante Widya, Zacklee buru-buru masuk untuk mencegahnya. Tetapi saat di depan gerbang Rumah Sakit, anak buah Tante Widya menghadang Zacklee beserta sahabatnya untuk masuk dan tak urung jika membuat Zacklee emosi.
"Tuan Lee, anda tidak diperkenankan masuk" Ucap salah satu ketua preman tersebut.
"Atas dasar apa aku tidak diperkenankan masuk" Tanya Zacklee.
"Saya hanya menjalankan tugas Tuan.., Nyonya besar tidak mengizinkan siapapun menengok Tuan Muda Ryan" Ujar salah satu yang menjadi ketua anak buah Nyonya Widya.
Zacklee mengeratkan giginya, rahangnya yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus mengeras. Sedang tangannya mengepal sudah siap melayangkan pukulan kepada orang-orang yang tak memperbolehkan dirinya menemui istrinya didalam sana.
BUGHK!
Shandy ternyata lebih dulu melakukan apa yang sudah ingin sekali Zacklee lakukan.
"Kau masuklah, biar si tengik ini aku yang urus" Perintah Shandy yang sudah bersiap memukul kembali lawannya.
Sedang Revan dan Alex mereka sedang mengasah keahlian pukul memukul yang sudah lama tak mereka lakukan.
"Lex, kau bantulah Zacklee untuk bisa masuk ke dalam. Aku dan Shandy akan bermain-main dengan mereka sampai Dewa tiba bersama anak buahnya" Ucap Revan yang masih bermain cantik di wajah para anak buah Widya.
Alex mengangguk setuju, dia lalu membantu Zacklee menghabisi para anak buah Widya yang menghadangnya.
Rumah sakit jiwa Astra ini memang milik pribadi keluarga Ryan. Ibu Widya sebelumnya juga pernah mengalami gangguan jiwa akibat perselingkuhan suaminya. Ryan yang waktu itu menghilang ternyata mendampingi Ibunya di Rumah sakit di Jepang. Setelah Ibunya sehat kembali, mereka memutuskan untuk membangun Rumah sakit kejiwaan di kota A. Tak disangka di Rumah Sakit tersebut selain pasien dari luar diisi oleh anak kesayangan Widya satu-satunya.
Awalnya Widya ingin sekali bertemu dengan wanita yang sudah membuat anak kesayangannya berubah menjadi lebih bertanggungjawab. Tetapi sayang, sejak kejadian malam itu Widya menemukan anak kesayangannya dengan kondisi babak belur akibat pukulan Alex dan Shandy yang membuatnya tak sadarkan diri didekat club malam terbesar di kota A. Widya sebagai orang yang memiliki riwayat gangguan kejiwaan, justru lansung mengumpulkan anak buahnya untuk menghancurkan orang-orang yang sudah membuat anak kesayangannya menjadi seperti ini.
Widya lalu membawa Ryan ke Rumah sakit, selesai ditangani keadaan Ryan bukan semakin membaik tetapi sebaliknya. Ryan mengalami depresi hebat. Ryan bahkan kadang memukul-mukul dirinya sendiri.
"Ryan, apa yang kau lakukan nakal?" Widya berteriak histeris melihat Ryan tak terkendali sama sekali. Ryan terus saja memukuli dirinya sendiri, bahkan dia hampir membunuh dirinya dengan pecahan gelas yang dia pecah untuk menyayat pergelangan tangannya.
Saat itu terjadi, para Dokter dan suster terlihat sangat panik kala Ryan benar-benar menggoreskan pecahan itu dipergelangan tangannya.
Ryan terus meracau jika dirinya tak mendapatkan Ellena lebih baik meninggalkan dunia ini.
"Maafkan aku Ellena, aku benar-benar tak bisa hidup tanpamu. Aku sangat mencintaimu" Racau Ryan kalau itu.
Untungnya salah satu security Rumah sakit berhasil menggagalkan kegilaan Ryan yang ingin melukai dirinya sendiri. Suster dan para perawat segera memegangi Ryan yang berontak. Lalu, Dokter segera menyuntikkan obat penenang kepada Ryan. Ryan yang sudah disuntikkan obat penenang kemudian tertidur.
"Nyonya, untuk sementara saya akan memberikan obat suntikan penenang kepada Tuan Ryan. Karena kalau tidak, saya takut psikis Tuan Muda semakin drop" Ujar Dokter yang menangani keadaan Ryan.
Widya memandangi wajah putranya yang tertidur dengan deraian air mata. Rasa naluri seorang Ibu tak dapat ditahan, ingin sekali Widya menggantikan rasa sakit putranya.
"Mama tak akan membiarkan mereka bahagia Nak. Mama akan membalas semua perbuatan mereka terhadapmu. Dan kau yang bernama Ellena, kau harus bertanggungjawab, kau harus menjadi istri anakku" Ucap Widya dengan nada mengancam balas dendam.
**
'Ellena apa itu kau' Batin Ryan masih menatap wajah wanita dihadapannya.
Mata mereka saling bertemu. Sorotan mata yang sangat teduh itu mampu dirasakan Ryan kembali. Bahkan gangguan kejiwaan yang diderita Ryan seolah hilang begitu saja saat Ellena dihadapannya.
"Ka Ryan.., " Ucap Ellena lirih. Ada sedikit ketakutan pada dirinya mengingat perbuatan Ryan yang sempat akan melecehkannya.
Ryan mendekatkan dirinya kepada Ellena yang berdiri mematung, tangannya akan meraih wajah Ellena. Untung Ellena segera mundur satu langkah agar Ryan tak menyentuhnya.
"Ellena, akhirnya kau akhirnya datang menemuiku" Ucap Ryan yang tak mendapatkan jawaban Ellena.
"Baiklah, aku janji tak akan menyentuhmu sampai kau benar-benar menyerahkannya sendiri padaku" Imbuhnya lagi.
Ellena semakin mundur karena Ryan semakin mendekatinya. Bahkan sekarang Ryan semakin dekat sehingga Ellena terjerembab ke dinding.
PLAK!
Ellena segera menampar keras pipi Ryan karena posisinya yang sangat gila.
Ryan menyentuh pipinya, bukannya sadar dia malah tersenyum manis kepada Ellena.
Melihat sikap Ellena seperti itu, Widya menghampiri Ellena dan akan menampar wajahnya. Tapi tangan itu berhenti saat Ryan menahannya.
"Apa yang akan Mama lakukan kepada wanitaku" Ucap Ryan dengan tatapan yang tajam.
"Jawab Ryan Ma! Apa yang akan Mama lakukan kepada gadisku" Suara Ryan meninggi menggema di seluruh ruangan.
"Mama hanya ingin memberikan dia pelajaran agar tak semena-mena hatinya denganmu" Jawab Widya dengan menurunkan egonya.
'Sial! anak kesayanganku benar-benar berlutut di kaki wanita gila ini' Umpat kesal Widya dalam hati.
"Jika Mama berani menyentuh wanitaku sedikit saja, Ryan akan bikin perhitungan dengan Mama" Jelasnya dengan nada mengancam.
Widya terhenyak dengan sikap putra kesayangannya yang berani mengancamnya.
"Kau duduklah disini Ellena" Ryan menunjukkan agar Ellena duduk disampingnya.
'Apa yang harus aku lakukan, aku benar-benar masuk kandang Gorila kali ini' Batin Ellena panik ketakutan melihat wajah Ryan.
"Aku sudah datang kesini, kuharap Nyonya segera lepaskan permasalahan perusahaan Suami dan Kakakku" Ucap Ellena memberanikan diri mengalihkan permintaan Ryan.
"Ngomong apa Kau.., aku bahkan tak tahu soal perusahaan" Widya tertawa seperti orang gila.
"Jadi kau membohongiku Nyonya" Geram Ellena karena telah dibohongi.
"Kau aku suruh kemari untuk segera menikah dengan anakku" Tersenyum puas karena berhasil menjebak Ellena.
Beberapa suster kemudian masuk kedalam ruangan dan membawakan gaun pengantin.
"Sepertinya sudah waktunya sayang, Mama ingin melihatmu bahagia dengan wanita yang kau suka" Widya membelai ujung kepala Ryan yang ikut tertawa bahagia.
"Ellena, kali ini kau tak boleh meninggalkanku. Kau milikku" Ucap Ryan benar-benar gila.
"Kau tak bisa melakukan ini. Aku sudah bersuami dan memiliki seorang anak" Teriak Ellena yang sebenarnya sudah ketakutan.
Ryan beranjak dari duduknya dan kali ini berbuat gila. Dia, segera menarik tangan Ellena dengan mata melototnya setengah berteriak.
"KAU ADALAH MILIKKU" Ucapnya.
"Ka.., lepasin aku. Aku mau kembali ke keluargaku" Mata teduh itu akhirnya menumpahkan air matanya. Kali ini Ellena sedikit memelas agar emosi Ryan stabil.
'Dia benar-benar gila. Ka Lee tolong aku' Batin Ellena ketakutan.
"Suster cepat ganti bajunya, aku sudah tak sabar untuk menikah" Ucap Ryan dilanjutkan tawa terbahak-bahak.
**
"Ini gembong orang gila atau orang jahat sih" Gerutu Alex yang daritadi masih memukuli lawannya.
"Yang pasti ini tempat orang gila" Sahut Zacklee sambil menghantam musuhnya hingga pingsan.
"Menunduk" perintah Alex yang melihat musuhnya akan memukul Zacklee.
"Ada untungnya kau disini Lex" Ucap Zacklee sambil tersenyum.
"Kau tak perlu khawatir tentangku, karena aku sudah memutuskan memulai dari awal" Lanjut Alex masih dengan posisi memukuli musuhnya.
Zacklee terdiam mencerna ucapan Alex.
"Zacklee, belakangmu" Teriak Alex.
BUGHK!
Zacklee berhasil melumpuhkan musuhnya.
"Lex, terimakasih" Ucap Zacklee.
"Kita masih sahabat" Sahut Alex dengan senyuman playboynya.
...****************...
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya Laπ