What I Think

What I Think
Wanita gila



••• @@


Sesampainya di rumah Zacklee akhirnya tak tahan ingin menanyakan perihal bucket juliet rose yang dibawa Ellena tadi.


** Flashback


"Ka Lee..., kau bisa membawakan bucket bunga mahalku?" sembari menyerahkan bucket bunga ke tangan Zacklee.


Zacklee hanya melirik sekilas, dia sangat malas menerima permintaan Ellena untuk membawakan bucket bunga yang dibilangnya mahal.


Sambil memutar bola matanya jengah, Zacklee akhirnya menerima permintaan Ellena. Dengan langkah yang malam Zacklee membukakan pintu mobilnya dan menutupnya kembali setelah Ellena dan baby Kai memasukinya. Zacklee juga dengan sengaja melempar bucket bunga asal-asalan ke kursi penumpang.


"Ka..., itu bunga mahal kau melemparnya seperti sampah" protes Ellena.


Zacklee hanya menaikkan satu ujung bibirnya. Kemudian segera melajukan kendaraannya. Sepanjang perjalanan Zacklee hanya terdiam, dia hanya sesekali melirik Ellena yang sedang bercanda tawa dengan baby Kai yang terbangun.


'Kenapa dia sangat mementingkan bucket bunga yang tak jelas siapa pengirimnya. Aku akan memberikan juliet rose sekebonnya' gerutu Zacklee dalam hati.


** Flash on


Setelah meletakkan baby Kai yang terlelap, Ellena segera membersihkan dirinya di dalam Kamar mandi. Melihat Ellena masuk Kamar mandi, Zacklee memeriksa note yang ada di dalam bucket bunga tersebut.


'Untuk orang tercantik, Ellena Malik Maheswari'


Zacklee mendengus kesal membaca note di dalam bucket.


"Kau ternyata ingin bermain-main denganku" ucap Zacklee kesal. Kemudian dia terus memperhatikan tulisan itu terdapat inisial 'GD' di ujungnya. Zacklee mengingat inisial tersebut karena inisial tersebut tak asing di pikirannya. Saat Zacklee berusaha mengingat lagi ponselnya berdering, Zacklee harus segera mengangkatnya karena suara ponselnya sangat mengganggu, Zacklee takut jika baby Kai terbangun.


"Bukannya aku sudah menyuruhmu untuk mengurus semuanya? kenapa masih menghubungiku?" ucap Zacklee.


"Kau harus ke rumah sakit sekarang juga karena wanita itu mencoba untuk bunuh diri" sahut Revan bingung.


"Apa kau tak bisa mengatasinya?" sahut Zacklee.


"Aku dan Devan sudah mencobanya tetapi wanita itu sangat kuat, Zaskia saja sampai terjatuh akibat wanita itu mendorongnya" Revan memberitahu apa yang terjadi.


"Aku tak bisa kesana, biarkan dia melakukan apa yang dia inginkan aku sudah tak peduli" ucap Zacklee.


"Peduli dengan siapa?" ternyata sedari tadi Ellena sedang mendengarkan percakapan Zacklee dan Revan di telfon.


Zacklee terlihat gugup dia segera menutup panggilannya. Manik mata yang biasanya tenang kini terlihat sedang menyembunyikan sesuatu.


"Aku tanya Ka.., peduli dengan siapa?" tanya Ellena mengulangi pertanyaannya.


"Kita sudah berjanji untuk saling terbuka satu sama lain, kuharap kau tak melakukan hal yang dulu" ucap Ellena langsung menusuk hati Zacklee.


"Sayang..," Zacklee kemudian meraih tangan Ellena.


"Maaf tadi aku sedikit berbohong padamu saat aku telat menjemput kalian aku tak sengaja menabrak seseorang yang sedang menyeberang jalanan menggunakan sepeda motornya. Dan salah satu dari mereka meninggal dunia"


"Ka Lee...," pekik Ellena terkejut.


"Terus gimana Ka? Kakak dalam masalah besar" Ellena sangat khawatir.


"Sayang kau tenanglah..., Revan sudah aku suruh urus semuanya. Tetapi Revan mengabariku jika wanita bernama Siska sedang mencoba untuk bunuh diri" wajah Zacklee berubah menjadi bingung, Ellena bisa mengerti keadaan ini.


"Kita temui mereka" ajak Ellena.


"Sayang, ini sudah malam kita tak mungkin kesana. Kau tak memikirkan baby Kai?" Zacklee mengingatkan Ellena jika ada baby Kai yang sedang terlelap.


"Maaf Ka.., tapi jika dia beneran bunuh diri Kakak bisa masuk jeruji besi dan aku ga mau hal itu terjadi" air mata Ellena langsung berair.


Zacklee menyeka air matanya, menariknya kedalam pelukannya. Sambil membelai rambutnya,


"Kau tenanglah sayang, aku akan selalu bersamamu"


'Tak akan ada yang bisa memisahkan kita selain maut' batin Zacklee.


**


Selesai acara pemakaman, Ellena memperhatikan seorang wanita masih betah duduk disamping pusara Pak Harso.


"Ayo sayang kita pulang," ajak Zacklee.


"Tunggu Ka..," Ellena menahan Zacklee lalu menghampiri Siska.


Zacklee berusaha menahan Ellena tetapi Ellena bersikeras untuk menghampiri Siska pada akhirnya.


"Aku turut berdukacita atas meninggalnya Pak Harso" ucap Ellena.


Siska menoleh kearah Ellena,


"Siapa anda?" tanya Siska.


"Perkenalkan aku Ellena istri dari pria yang tak sengaja menabrak kalian" jawab Ellena sembari duduk disebelah Siska.


"Kau istri dari pembunuh Ayahku rupanya" sambil menaikkan satu ujung bibirnya.


"Untuk apa kalian kesini? kalo hanya untuk berpura-pura lebih baik kalian pergi" usir Siska.


"Nona jangan berpikiran negatif, kami datang kemari tulus tak ada niatan lain. Kuharap Nona tak berpikiran aneh tentang kami" mencoba menenangkan.


"Semua orang kaya sama saja, setelah dia menginjak-injak orang miskin sepertiku pasti setelahnya akan membuat kami seperti sampah" ucapnya dengan tatapan menanggung beban yang berat.


"Nona tak semua orang seperti yang Nona pikirkan. Mungkin ada orang yang seperti itu tetapi tak semuanya. Kalo suamiku seperti yang Nona pikirkan dia tak akan bertanggung jawab sampai sejauh ini"


"Ckk, Bertanggung jawab" Siska berdecak dengan kesal.


"Lalu siapa yang akan bertanggung jawab dengan kehamilanku Nona. Apa suami anda juga akan mempertanggung jawabkan juga? " cibir Siska.


"Jika suamimu bertanggung jawab atas kehamilanku juga mungkin aku akan memaafkannya dan tak melaporkannya ke pihak yang berwajib" sembari tersenyum.


Ellena sedikit geram, dia menahan perasaannya masih setia mendengar ucapan Siska.


"Selama ini Ayahku selalu melindungi aku dan kandunganku, tetapi sekarang siapa orang yang akan melindungiku? orang yang sudah memperko*aku sudah hilang entah kemana. Hanya Ayahku yang selalu melindungiku. Apa suamimu siap menggantikan posisi Ayahku melindungiku dan kandunganku?"


PLAKK!


Zacklee, Revan, Zaskia dan Devan terkejut mendengar sebuah tamparan di pipi Siska.


"Kau sangat lancang Nona. Kau bahkan tak tahu malu karena sudah terang-terangan meminta suamiku mempertanggung jawabkan yang bukan perbuatannya. Suamiku sudah bertanggung jawab sesuai dengan semestinya dan kau meminta yang bukan hakmu. Aku sangat kecewa karena sudah berpikir positif tentangmu" cecar Ellena.


Siska masih memegangi pipinya yang terasa panas akibat tamparan Ellena.


"Seharusnya kau malu mengucapkan itu didepan makam Ayahmu. Aku yakin Ayahmu tak akan setuju jika putrinya harus menjadi wanita perebut suami orang lain" imbuhnya masih dengan kesal. Lalu menyeka air matanya sembari meninggalkan Siska yang masih terdiam menundukkan wajahnya.


Ellena memasuki mobil tanpa bersuara, Zacklee sedikit aneh melihat sang Istri yang berubah. Terlihat mata sembabnya serta mata basahnya, Zacklee yakin pasti sudah terjadi sesuatu padanya saat menemui Siska.


Revan, Zaskia dan Devan yang melihat ekspresi Ellena saling bertukar pandangan sesaat kemudian mereka saling mengendikkan kedua bahu mereka lalu memasuki mobil masing-masing.


Mereka berlima berkumpul di restauran Ellena. Mereka berada di room privat lantai atas. Clara dan Dhea saling bertukar pandang penasaran dengan apa yang sedang terjadi.


"Sayang apa yang terjadi denganmu?" tanya Zacklee.


Ellena masih saja terdiam, hanya sekilas melirik suaminya.


"Sayang katakan apa yang terjadi?"


Ellena masih tak menjawab pertanyaan Zacklee. Sebenarnya dia sedang bingung disatu sisi dia takut jika Siska melaporkan suaminya ke pihak yang berwajib, di sisi satunya lagi dia tak sudi menerima permintaan Siska yang sangat gila.


'Aku tak akan membiarkan wanita gila itu mengganggu Rumah tanggaku' batin Ellena.