
Happy Reading...
Tok.. tok.. tok..
Klek,
"Kalian...?" ucap Sunny terkejut melihat sahabatnya beneran tiba ke kediamannya.
"Mau ngobrol diluar nih?" sindir Nathan.
"Silahkan masuk," ajak Sunny tersenyum.
"Siapa Sunny..." teriak Mama Anna dari dalam.
"Teman-teman Sunny Mam...," jawab Sunny.
"Kita denger kau sedang tak enak badan, tapi dilihat seger banget Sun..," sahut Nick.
"Gue ga sakit, siapa yang bilang sakit?" tanya Sunny penasaran.
Nick maupun Nathan menoleh kearah Felix.
"Apaan lihat-lihat gue" bentak Felix.
"Kan elu tadi yang bilang kalau Sunny lagi engga enak badan, amnesia ya..," cibir Nathan.
"Emang gue bilang gitu?" Felix mengelak lalu melenggang begitu saja masuk kedalam.
Sunny, Safira, Nick dan Nathan kemudian berbincang bersama. Sedangkan Felix berniat mencari Alex.
"Pa... Papa...," panggil Felix.
"Anak Papa...," Alex yang baru keluar kamarnya membalas sapaan Felix.
"Papa.."
"Baru datang?" tanya Alex.
"Iya Pa..,"
"Bagaimana kondisi Grandfa?" tanya Alex.
"Masih belum sadar Pa.., Mommy dan Papa masih menunggu Grandfa disana,"
"Om Albert itu sangat baik, bule tampan pada jamannya" ucap Alex.
"Pasti Papa akan bilang kalau ketampananku warisan dari Grandfa," sahut Felix.
Alex tertawa mendengar sahutan Felix. Felix sangat hafal ledekan Alex kepadanya.
"Dimana Fio?" tanya Alex tak melihat suara cempreng Fiona.
"Sedang terkena hukuman Pa..,"
"Hukuman?"
"Iya, hukuman gara-gara melamun di jam pelajarannya Mr. Joe"
"Anak itu seperti Ellena selalu saja berulah," sahut Alex mengingat tingkah Ellena.
"Apa Mommy seperti Fiona Pa?"
"Sedikit, lebih bar-bar Mommy" ucap Alex terkekeh.
"Sepertinya Papa sangat dekat dengan Mommy..,"
Alex menarik senyumnya menoleh kearah Felix.
"Mommymu tidak hanya dekat dengan Papa, tetapi dengan semuanya terutama dengan Papa Zacklee. Kau pasti tahu perjuangan Papa Zacklee mendapatkan Mommymu. Berawal dari rasa gengsi menjadi serasi"
"Memang Papa dan Mommy pasangan yang sangat serasi, Felix ingin jika besok memiliki pasangan yang seperti Mommy," Bayangan gadis beberapa hari lalu tiba-tiba terlintas.
'Sial! apa yang kupikirkan kenapa bayangan gadis itu terlintas' batin Felix.
"Felix...," panggil Alex membuyarkan lamunan Felix.
"Eh, iya Pa.."
"Baby Alina dimana Pa?" Felix mengalihkan perhatian Alex.
"Alina sedang bersama Kiara,"
Alex hanya tersenyum, dia tak mengangg5 Kiara sebagai pengasuh melainkan anak angkat.
"Aku akan menemuinya Pa..," Felix beranjak menghampiri Baby Alina yang sedang bermain bersama Kiara dan Anna di ruang tengah.
Baby Alina yang dekat dengan Felix, mengetahui jika Felix sedang mendekatinya. Mata hijau milik Anna serta hidung mancung milik Alex membuat Baby Alina sangat menggemaskan.
"Hai Alina, kau tahu kalau kakak datang" sapa Felix kepada Baby Alina yang tersenyum kepadanya.
"Apa kakakmu ini sangat tampan sehingga kau tersenyum tanpa henti?"
'Suara itu ,sepertinya aku mengenalnya' batin Kiara masih membelakangi Felix.
"Alina, Kakak baru tau kau memiliki pengasuh yang sombong. Alina bilang gih sama pengasuhnya jangan sombong jadi orang, cuma pengasuh aja sombong," sindir Felix.
Felix melirik Kiara dari ujung kepala hingga ujung kaki. Meliriknya dengan jengah.
"Heh, buatin gue minum!" perintah Felix namun Kiara tak sedikitpun bergerak.
"Elu denger kagak sih buatin gue minum!" teriak Felix.
Kiara sudah sangat kesal daritadi Felix sudah menghinanya dan sekarang Felix menyuruhnya dengan seenak jidatnya. Tangannya yang memegangi botol susu mengepal sempurna mengeratkan pegangan botolnya.
"Gue heran, bisa-bisanya Papa memperkerjakanmu. Telinga elu tuli ya!"
Kiara berbalik menghadap Felix dengan wajah memerah serta air mata yang hampir tumpah.
"Kau, terus saja menghinaku. Memang aku tak becus bekerja. Tetapi bukan berarti kau seenaknya menghinaku.. hiks... hiks... hiks..." Kiara tak sanggup lagi menahan air matanya.
'Gadis itu, dia...' batin Felix. Felix terkejut saat Kiara membalikkan tubuhnya menghadap kearahnya.
"Bagaimana bisa kau ada disini?" pertanyaan yang tak mungkin dijawab Kiara karena dia langsung membawa Alina pergi menjauhi Felix.
Mendengar suara keributan, Sunny dan yang lain menghampiri Felix. Sunny yang melihat Kiara merasa heran kenapa Kiara menangis,
"Felix apa yang sedang terjadi? " tanya Sunny.
"Kenapa dia ada disini Sunny?"
"Dia, dia siapa maksudmu Felix?" tanya Sunny belum mengerti.
"Gadis itu, kenapa dia ad disini?"
"Dia sahabatku saat di kota A namanya Kiara. Dia baru saja kehilangan Ayahnya lalu diusir oleh Ibu tirinya. Jadi aku meminta Papa untuk mengajaknya tinggal disini,"
Deg!
Mendengar Ayahnya meninggal, Felix merasa sangat bersalah dia ingin sekali menemui Kiara. Felix lalu melenggang melewati sahabat-sahabatnya mengejar Kiara.
"Apa mereka saling mengenal?" tanya Nick.
"Mungkin iya mungkin tidak" jawab Safira.
"Kalau mereka saling mengenal kenapa gadis itu malah menghindarinya?" tanya Nathan.
"Tanya mereka sendiri aja sonoh.. malas mikirnya," sahut Sunny melewati Nick dan Nathan.
"Anak itu suka sekali membalikkan ucapan kita," sahut Nathan gantian.
**
Kiara tetap menjalankan pekerjaannya dengan profesional. Dia sedang membuat Baby Alina tertidur dengan sebotol susunya.
"Sorry," ucap Felix sengaja tak mengetuk pintu.
Kiara tak menggubrisnya, dia masih fokus memegangi botol susu yang masih menancap di mulut kecil Baby Alina.
"Aku sudah mencarimu kemana-mana tetapi tak menemukanmu. Aku juga turut berduka cita atas meninggalnya Ayahmu," ucap Felix.
"Aku sudah bersiap menerima konsekuensinya. Aku tak akan lari, aku akan mempertanggung jawabkan perbuatanku padamu"
"Huffffffttt..." terdengar jika Kiara sedang menghembuskan nafas berbau mint itu.
"Sebaiknya kau pergi dari sini,"
Bersambung....