
Happy Reading...
Sebelumnya Othor mau berterimakasih kepada para Readers yang sudah memberi dukungan kepada Karya Othor🙏
Semoga para Readers di murahkan rezekinya selalu🤲
Sekalian Othor mau promo karya berjudul "Kali kedua bersamamu". Mohon dukungan Like, Vote dan commentnya ya ka🙏
...----------------...
" Selamat datang Tuan Lee...," Dokter Dimas menyambut kedatangan Zacklee.
"Hm," hanya jawaban itu yang keluar dari mulut Zacklee.
Melihat sang suami hanya menanggapinya dingin Ellena menyahut ucapan Dokter Dimas.
"Terimakasih Ka Dimas, maaf menunggu lama. Tadi aku ketempat Dokter Nana terlebih dahulu, Baby Kai ada jadwal imunisasi hari ini"
"Tak apa Nyonya Lee, Dokter Nana sudah memberitahuku tadi. Mari Tuan," Dokter Dimas kemudian mengecek kondisi Zacklee.
"Kondisi Tuan sudah sangat membaik, lukanya pun sudah mulai mengering" ucap Dokter Dimas selesai mengecek kondisi Zacklee.
"Aku sudah bilang padamu Dokter, aku baik-baik saja. Kalian tak usah khawatir, aku akan bersemangat menjalani hidupku demi istri dan anak-anakku" ucapan yang menurut Ellena sederhana namun terasa romantis.
"Ka Lee.. Terimakasih sudah berjuang untuk kita" ucap Ellena terharu.
'Haissst... sial kenapa mereka malah bermesraan disini' umpat kesal Dimas melihat kemesraan Zacklee dan Ellena.
"Ka, boleh aku menanyakan sesuatu?" tanya Ellena setelah selesai pemeriksaan Zacklee. Kini Zacklee dan Baby Kai sedang berjalan-jalan di area Taman Rumah sakit.
"Iya Ell, apa yang mau kau tanyakan?"
"Kau tahu informasi tentang Ka Alex?"
"Alex? kenapa kau tiba-tiba menanyakan soal Alex?"
"Aku tadi tak sengaja bertemu dengan Rachel, dia sedang bersama seorang pria" cerita Rachel mengingat pertemuannya dengan Rachel.
Dimas sedikit berpikir,
"Rachel dan Alex sudah memutuskan untuk menjalani kehidupan masing-masing"
"Maksud Kaka, mereka tak jadi menikah?" tanya Ellena terkejut.
Dimas mengangguk, membenarkan ucapan Ellena.
"Terus bagaimana dengan Sunny?"
"Sunny bersama Alex"
Kemudian Dimas menceritakan semua yang terjadi antara Rachel dan Alex. Mendengar cerita dari Dimas, Ellena merasa sangat bersalah. Dia tak menyangka jika Alex mengingkari janjinya untuk menikahi Rachel.
Ellena keluar ruangan Dimas dengan rasa sedih, sambil berjalan menelusuri lorong dengan pikiran yang berkecamuk. Mendengar Zacklee sedang bercanda Ellena tersadar, kemudian dia menghampiri Zacklee dan Baby Kai di taman.
"Sudah selesai mencari informasi dari Dimas mengenai Alex?" Ellena gugup, dirinya tak menyangka jika Zacklee mengetahui maksud dirinya menemui Dimas.
"Maaf Ka," ucap Ellena merasa bersalah.
"Sayang, kau tak usah merasa bersalah. Aku sudah mengetahui semua soal hubungan Alex dan Rachel yang kandas" sahut Zacklee.
"Maaf, aku sengaja tak memberitahumu. Aku hanya tak mau kau disalahkan soal ini. Aku tak tahu seberapa besar cinta Alex padamu sehingga dia tak mampu untuk menggantikan namamu dihatinya. Awalnya aku sangat sakit hati mendengar Alex dengan terang-terangan tak bisa melupakanmu. Tetapi aku sadar ini semua berawal dari kesalahanku saat itu. Andai waktu bisa diputar aku tak akan pernah memberikan kesempatan pria lain mendekatimu sesungguhnya aku sangat tak rela melihatmu di cintai pria lain. Meski pada akhirnya kau hidup bersamaku" ucap Zacklee terlihat dia sangat menyesal.
Ellena terdiam, dia merasa bersalah karena sudah memberi harapan kepada Alex. Ellena meraih jemari Zacklee, dengan wajah tertunduk Ellena merasa malu kepada suaminya.
Zacklee meraih tubuh istrinya, kepalanya dia sandarkan di bahunya kemudian mengecup ujung kepalanya.
"Kita selesaikan perasaan Alex sekarang juga. Aku tak mau dia juga menderita karena perasaannya sendiri. Dia sahabatku juga, aku harus bisa membuatnya tak memikirkan mu" ucap Zacklee.
Kemudian Zacklee mengajak Ellena ke tempat Mamanya untuk menitipkan Baby Kai serta si kembar.
"Kalian selesaikan urusan kalian, biar cucu-cucuku disini" ucap Trias memangku Baby Kai.
"Iya Ka, urusan anak-anak Kia ahlinya" sahut Zaskia bahagia karena pada akhirnya dia bisa bermain dengan puas bersama keponakan-keponakannya.
"Terimakasih Ma, Kia. Aku dan Ka Lee pergi dulu" pamit Ellena.
"Sayang.. ingat kalian tak boleh merepotkan Grandma dan Aunty" pesan Ellena kepada Felix dan Fiona.
"Siap Mommy...," ucap mereka bersamaan.
"Kalian menggemaskan sekali seperti Papa" Ellena mencubit Pipi keduanya dan mencium pipi mereka bergantian.
Ellena dan Zacklee kemudian melanjutkan perjalanannya menuju kota P untuk menemui Alex.
Hanya perlu waktu satu jam mereka tiba di kota P. Zacklee lalu menuju sebuah kediaman Alex.
"Sepetinya Alex sengaja menghindari kita," terka Zacklee.
Kemudian mereka berdua mengetuk pintu,
Tok.. tok..
Klek,
Tak menunggu lama seorang wanita muda segera membukakan pintu.
"Maaf, mau mencari siapa Tuan Nonya?" tanya Anna.
"Aku mau mencari Alex" jawab Zacklee dingin.
'Tuhan, apa komunitas bosku itu orang-orang sedingin es' batin Anna yang lebih takut melihat Zacklee.
"Mari Tuan, Nonya silahkan masuk"
"Aunty...," teriak Sunny melihat kedatangan Ellena.
"Sunny..." Ellena sedikit membungkuk melebarkan tangannya untuk menangkap tubuh Sunny yang berhambur ke pelukannya.
"Apa kabarmu sayang?" Ellena menyelipkan rambut Sunny yang menutupi wajahnya kebelakang telinga.
"Baik Aunty.., Aunty Ka Felix dan Fiona mana?" Sunny mengira jika Ellena tiba bersama si kembar.
"Maaf sayang.., Aunty tak mengajaknya. Next time Aunty janji akan mengajak mereka kesini. Aunty sangat rindu Sunny"
'Apa wanita ini yang selalu diceritakan Tuan Alex' batin Anna mengira-ngira.
"Om tampan...," Sunny beralih berhambur kepelukan Zacklee.
"Sunny, apa Papamu dirumah?" tanya Zacklee.
"Papa sedang di kamarnya. Sunny panggilin ya Om..,"
"Tak usah Sunny, biar Om yang menghampirinya" sahut Zacklee lalu menurunkan Sunny dari gendongannya. Kemudian Zacklee menaiki tangga menuju kamar Alex setelah Sunny memberitahu letak kamarnya.
Ellena terus menatap Anna.
"Apa kau bekerja disini?" tanya Ellena kepada Anna.
"Hm, Nonya sedang bertanya denganku?" tanya Anna.
"Kau sangat lucu, kita belum berkenalan. Perkenalkan namaku Ellena" sambil mengulurkan tangannya.
"An_Anna. Namaku Anna Nonya" Anna menyambut uluran tangan Ellena.
"Kau masih sangat muda, berapa usiamu?" tanya Ellena sembari mendampingi Sunny yang sedang bermain disampingnya.
"Dua puluh tahun Nonya" jawab Anna.
"Waw... kau masih sangat muda. Benar saja Ka rusuh membawamu kemari" canda Ellena.
"Ka rusuh...?" Anna mengulangi ucapan Ellena.
"Iya, Ka rusuh. Aku memanggilnya dengan sebutan rusuh karena dia memang sangat rusuh" Ellena terkekeh mengingat kerusuhan Alex saat masih bersama-sama bekerja.
"Nona, aku akan membuatkan minum terlebih dulu" pamit Anna. Ellena tersenyum mengangguk mempersilahkan Anna melakukan tugasnya.
"Aunty, Sunny mau memperlihatkan sesuatu kepada Aunty" Sunny tiba-tiba mengajak Ellena kesebuah taman dibelakang kediaman Alex.
"Tempat ini sangat indah..," ucap Ellena kagum dengan desain yang sepertinya Ellena ingat.
"Sunny kalo merindukan Mama selalu disini Aunty" ucap Sunny.
"Sayang, kau sangat merindukan Mama?" tanya Ellena merangkul bahu Sunny.
"Iya Aunty. Terakhir bertemu hanya sebentar karena Mama harus segera bekerja, dan sampai saat ini Mama belum pernah mengunjungi Sunny" keluh Sunny.
Ellena tersenyum kemudian mendekap tubuh kecil Sunny.
"Sayang kau tak perlu bersedih lagi, mungkin Mama benar sedang sibuk bekerja. Sunny baik-baik dirumah kan ada Papa"
"Papa jarang di rumah Aunty..., Sunny selalu bersama tante Anna"
"Eh ngomong-ngomong tante Anna sangat cantik ya..," Ellena berusaha mengalihkan kesedihan Sunny.
"Tante Anna sangat baik Aunty.., Sunny bahagia bersama tante Anna" pada akhirnya Sunny mampu melupakan kesedihannya.
"Kau anak baik Sunny" Ellena mencubit pipi gembul Sunny.
Bersambung...