What I Think

What I Think
Saatnya beraksi



☘☘


Alex berhasil lolos dari kejaran anak buah Paolo dan melihat ada Rumah sakit di depannya.


"Ell, bertahanlah sebentar lagi kita sampai" ucap Alex.


"Aaarrgh... sakit Ka" pekik Ellena mencengkram bahu Alex.


Alex segera memarkirkan kendaraannya, dan membopong Ellena masuk ke dalam Rumah sakit.


"Dokter... Suster cepat kalian tolonglah kami...," teriak Alex.


Para petugas yang melihat Alex membopong Ellena segera mendorong brankar kearahnya. Kemudian Alex meletakkan Ellena keatas brankar dan para petugas segera membawanya ke ruangan Gawat darurat.


Ellena masih menggenggam erat jemari Alex yang mengikuti disampingnya.


"Ell, bertahanlah... kau pasti kuat" semangat diberikan Alex tanpa lelah. Dia sangat sedih dengan yang terjadi pada Ellena. Ingatan saat menemaninya melahirkan Felix dan Fiona terlintas, dulu Alex lah yang menemaninya melewati perjuangan Ellena melahirkan si kembar.


"Apa yang terjadi Tuan?" tanya Dokter melihat kondisi Ellena dan Alex yang terluka di pelipis, ujung bibirnya serta tangannya.


"Dokter, dia merasakan sakit di perutnya. Kau segera selamatkan dia dan bayinya.


" Kami akan memeriksanya terlebih dahulu, silahkan anda keluar Tuan" pinta Dokter bernama Nana di name tagnya.


Alex menuruti perintah Dokter Nana dan melepaskan genggaman Ellena yang masih kesakitan.


'Kau harus bertahan Ell...,' batin Alex sedih melihat yang terjadi pada Ellena.


**


"Kau mau pergi kemana lagi baji****!" teriak Dewa.


"Dasar bocah tengil, bisanya hanya menggertak" sahut Paolo.


"Cih... Ajalmu segera tiba, kau masih saja angkuh!" decih Dewa.


"Dasar bocah tengil, akan kubunuh kau!" Paolo segera menyerang Dewa, pukulan Paolo masih sangat kuat dia terus menghujam Dewa. Untungnya Dewa memiliki skill beladiri diatas rata-rata jadi dia bisa sedikit mengimbangi kekuatan Paolo.


"Hahaha.., kekuatanmu hanya segitu saja Tuan. Kau bahkan tak pantas menjadi ketua Black Panther. Kau pantasnya menjadi kekuatan Black borot" ejek Dewa.


Benar saja Paolo sangat mudah terpancing emosi, di terus menyerang Dewa. Untungnya Dewa bisa menghindari setiap pukulannya, sampai Dewa bisa menjatuhkan Paolo. Dewa menginjak pergelangan Tangan Paolo sehingga terdengar suara Paolo memekik.


"Gimana Tuan, apa kau masih menganggapku bocah tengil" sindir Dewa semakin memperdalam injakannya.


Tanpa Dewa sadari, Tangan Paolo satunya segera mengambil belati di balik celananya dan menancapkannya di Kaki Dewa. Otomatis Dewa melepaskan injakannya dan langsung menendang tubuh Paolo.


Saat Dewa sedikit lengah mencabut belati di Kakinya, Paolo sudah bersiap menembakkan senjata apinya ke arah Dewa.


DOR...


Tubuh Dewa terjatuh bersama Zacklee,


"Bos..," panggil Dewa yang menyadari jika Zacklee menolongnya.


"Kau tak apa Dewa?" tanya Zacklee khawatir.


"Aku tak apa Bos, hanya luka kecil tak masalah" ucapnya.


Kemudian mereka berdua berdiri, mata mereka berdua sudah menatap tajam kearah Paolo.


"Hahaha..., ternyata kau sedang menjemput ajalmu Zacklee. Aku tak perlu susah-susah lagi untuk mencarimu" ucap Paolo.


"Sebaiknya simpan saja ocehanmu di Neraka Paolo, karena sekarang ajal sudah mendekatimu" sahut Zacklee.


Zacklee dan Paolo saling menghujam pukulan, mereka saling nenggila dengan pukulan mereka di sisa tenaganya. Zacklee berhasil menjatuhkan Paolo, meski Paolo sempat memukul punggung Zacklee yang terluka. Tetapi Zacklee berusaha kuat, dia harus menuntaskan semuanya. Paolo harus mati agar dia tak menjadi toxic bagi orang-orang disekitarnya.


Revan dan Shandy tiba disaat Zacklee dan Dewa menghajar Paolo hingga tak berdaya dan kehilangan nyawa. Tiba-tiba dia melihat Ethan dengan tubuh yang terluka sedang mengarahkan senjata api ke Zacklee dan Dewa.


Revan dan Shandy yang melihatnya berlari mengejar Ethan tapi sayang, timah panas itu mengenai Zacklee.


DOR..


DOR..


DOR..


Revan dengan segera memukul pergelangan Tangan Ethan sehingga senjata apinya terjatuh, dan Shandy segera mengambilnya mendaratkan timah panas tepat ke Kepala Ethan.


DOR..


DOR..


DOR..


Darah dari Kepala Ethan mengenai wajah Shandy. Ethan sendiri langsung terjatuh kehilangan nyawanya.


"Bos, bertahanlah..." teriak Dewa.


Shandy dan Revan segera menghampiri Zacklee dan segera membawa Zacklee dan Dewa yang terluka.


Untung saja Devan tiba tepat waktu, Revan dan Shandy kemudian segera meletakkan Zacklee yang tak sadarkan diri serta Dewa yang terluka di Kakinya.


"Dev, saatnya beraksi" ucap Shandy.


Devan kemudian melajukan kendaraannya diatas rata-rata agar segera sampai ke Rumah sakit.


"Dev, lebih cepat lagi. Denyut nadi Zacklee semakin lemah" ucap Revan khawatir.


"Bos, kau harus bertahan. Demi istri dan anak-anakmu...," teriak Dewa. Dewa sendiri baru kali ini merasa khawatir dengan yang terjadi Bosnya. Bayang-bayang pertemuan pertama dengan Zacklee terlintas, saat pertama Zacklee menolongnya dan menjadikannya saudara laki-lakinya.


"Dewa, dia pasti kuat. Kau tenanglah.., " ucap Shandy menenangkan Dewa, padahal didalam hatinya dia juga sama takutnya seperti Dewa.


"Zack, bertahanlah...," ucap Revan yang juga khawatir melihat luka tembak Zacklee yang banyak mengeluarkan darah.


Devan, jangan ditanya dia benar-benar beraksi seperti pembalap F1, sampai-sampai dia tak menghiraukan lampu lalu lintas.


Mereka akhirnya tiba di Rumah sakit tempat Brian dan Ellena sedang dalam pemeriksaan. Brian sendiri dibawa ke Rumah Sakit oleh Albert yang tiba bersama anak buahnya. Shandy meminta Albert untuk menolong Brian karena kondisinya sedikit lemah. Albert yang masih berada di Rumah Sakit bertemu dengan Revan, Shandy dan Dewa dia terkejut saat melihat pria yang berada di brankar.


"Lee, anakku..," teriak Albert.


Dokter dan perawat segera membawa Zacklee ke ruang pemeriksaan.


"Om.., tenang Om...," ucap Shandy menenangkan.


"Lee..," Albert menangisi keadaan Zacklee yang tak sadarkan diri dengan beberapa luka tembak di tubuhnya.


Revan, Shandy, Devan dan Dewa ikut bersedih melihat Albert menangisi Zacklee.


"Dimana Ellena Revan?" tanya Albert menyadari tidak ada Ellena bersama mereka.


"Ellena berada di Rumah sakit ini juga Om bersama Alex" ucap Shandy menjelaskan.


"Shand, Zacklee akan baik-baik saja kan... hiks.. hiks.." tanya Albert kembali menangisi putranya.


"Shandy yakin, Lee pasti kuat Om" jawab Shandy menenangkan.


**


"Suami Nyonya Ellena..," panggil Dokter Nana yang keluar dari ruangan Ellena.


"Maaf Dokter, saya bukan suaminya tetapi sahabat dekatnya" ucap Alex.


"Dimana suami Nyonya Ellena, ada hal penting yang harus saya sampaikan mengenai kondisi Nyonya Ellena" ucap Dokter Nana.


"Dokter, bisa bicara dengan saya saja karena suami dari Ellena sedang bertugas" Alex beralasan.


"Baik Tuan, begi Nyonya Ellena akan melahirkan hari ini. Kami tidak bisa menunggu bayi Nyonya Ellena sampai usia 36 minggu karena kondisi yang sangat darurat" ujar Dokter Nana menjelaskan.


"Bagaimana bisa Dokter? usia kehamilan Ellena baru menginjak 30 minggu" tanya Alex.


"Begini Tuan, Nyonya Ellena mungkin sedang mengalami stres berat yang disebabkan oleh pengalaman traumatis. Hal ini dapat menyebabkan pelepasan hormon yang memicu kelahiran sehingga bayi harus dilahirkan secara prematur. Kami tidak bisa menunggu lagi Tua, Nyonya Ellena harus segera mendapatkan keputusan karena kalo tidak Ibu dan bayi tak akan terselamatkan melihat kondisi Nyonya seperti ini" Dokter Nana menjelaskan.


Alex menatap kearah jendela, dilihatnya Ellena yang sedang kesakitan. Dia tak mungkin menunggu Zacklee, Alex harus segera memutuskan.


"Dokter, lakukan yang terbaik. Selamatkan keduanya" ucap Alex.


Bersambung....