What I Think

What I Think
Otot yang kaku



Happy Reading...


Sore itu Dewa mengajak Felix untuk sekedar bermain di tempat latihan dia meregangkan otot-ototnya yang kaku.


"Aku baru tau kalau uncle punya tempat hebat seperti ini," ucap Felix.


"Ini tak seperti punya Papamu, punya Papamu jauh lebih hebat dari ini" sahut Dewa.


Felix tersenyum, menurutnya milik Dewa jauh lebih hebat dari milik Papanya.


"Aku kecewa dengan Mommy, kenapa Mommy melarangku untuk menghabisi wanita gila itu. Andai Mommy tak melarangku dia pasti sudah habis di tanganku," sembari mengepalkan tangannya.


"Kau memiliki wajah tampan seperti Papamu serta mata yang teduh seperti Mommymu, tetapi kau memiliki hati yang arogan sepertiku Felix" ucap Dewa terkekeh.


"Kau tahu Mommymu sangat menyayangimu, dia tak mau sampai kau masuk kedalam penjara. Seharusnya kau mengerti itu" imbuhnya.


Felix sedikit berpikir ucapan Dewa, dia sampai lupa mengenai hal itu. Tak mungkin Mommynya membiarkannya masuk kedalam penjara.


"Kau benar uncle, Mommy tak mungkin membiarkanku masuk kedalam penjara. Aku hampir menyesal tak menurutinya" ucap Felix.


"Kau boleh bermain sepuasnya disini, setelah bosan kau panggil uncle lagi kita akan pulang," sahut Dewa meninggalkan Felix untuk berfikir.


**


"Sayang, kau segera tidur biar aku yang menunggu Felix" tawar Zacklee melihat Ellena mondar-mandir menunggu sang putra kembali.


"Tidak Ka, aku akan menunggu anakku hingga pulan,"


Melihat Ellena gelisah dan panik, Zacklee ingin sekali membuat perhitungan kepada Dewa. Kenapa dia tak mampu membujuk putranya untuk pulang sehingga tak membuat istrinya khawatir.


'Awas kau Dewa lima belas menit tak segera sampai aku ambil semua fasilitas yang sudah kuberikan' isi pesan Zacklee dikirimkan ke ponsel Dewa.


"Mom...," panggil Fiona.


"Iya sayang..,"


"Sayang, sepertinya Fio membutuhkanmu" ucap Zacklee agar Ellena sedikit melupakan ke khawatirannya.


Ellena tersenyum kemudian menghampiri Fiona yang sedang bingung memilih kebaya untuk acara perpisahan sekolahnya yang akan dilaksanakan dua bulan kedepan.


Acara yang akan berlangsung dua jam kedepan tetapi Fiona sudah sibuk mempersiapkannya dari sekarang, bukan karena sesuatu tetapi untuk mengalihkan kekhawatiran Mommynya. Begitupun dengan Fiona, Kaisar juga ikut berkomplotan dengan Fiona untuk mengalihkan kekhawatiran Mommynya.


"Mom, Fiona bingung acara perpisahan besok Fiona pantesnya pakai kebaya warna apa?" rengek Fiona pura-pura.


"Kaisar juga bingung Mom, sebentar lagi acara pameran disekolah Kaisar, bagusnya Kaisar mamerin apa ya Mom?" Kaisar ikut membantu Fiona.


"Fiona, Kaisar terimakasih sudah mengkhawatirkan Mommy" ucap Ellena seakan tahu apa yang direncanakan keduanya.


"Mom...," panggil keduanya.


"Mommy mengerti kekhawatiran kalian, Mommy hanya menunggu kakak kalian. Ada sesuatu yang ingin Mommy tanyakan padanya. Kalian tenang saja Mommy tak seperti yang kalian pikirkan," ucap Ellena.


"Dan kau Ka, terimakasih sudah sangat mengkhawatirkanku" Ellena memeluk suaminya.


Kemesraan mereka memang sengaja tak ditutupi dari anak-anak mereka. Ketiganya sangat bersyukur memiliki kedua orang tua yang saling menyayangi.


"Mom...," suara yang ditunggu-tunggu akhirnya terdengar. Ellena segera melepaskan pelukannya dan tersenyum menghampiri sang putra.


"Kenapa kau lama sekali nak, Mommy ingin sekali bertemu denganmu" ucap Ellena setelah menemukan sosok Felix.


"Maaf Mom, aku hanya latihan meregangkan otot-otot yang kaku bersama uncle Dewa,"


Mata Dewa mendelik saat Felix memberitahu kedua orang tuanya soal meregangkan otot, saat ini dia tak berani melirik kearah bosnya karena Zacklee sudah bersiap untuk menghukum Dewa karena sudah membiarkan putranya belajar bertarung.


"Sudahlah, Mommy ingin menanyakan hal yang sangat penting padamu. Apa kau melupakan sesuatu Felix?" tanya Ellena.


"Sesuatu yang penting apa Mom?" Felix malah balik bertanya.


Ellena mengambil sesuatu dari dalam laci, dia menyerahkan sekantung obat kepada Felix.


"Mommy ingin kau menjelaskan tentang ini Felix," pinta Ellena.


Felix terdiam dia juga terlihat sedikit sedih karena belum bisa menemukan wanita pemilik sekantung obat ini lagi.


Ellena dan yang lain terkejut mendengar ucapan Felix.


"Kau menabrak seorang gadis, dimana Felix?" kali ini Dewa yang bertanya.


"Ka, apa dia baik-baik saja?" tanya Fiona.


"Hisssttt... kalian tanyanya pelan-pelan jangan bersamaan gini" desis Felix merasa pusing diberondong pertanyaan.


Dewa maupun Fiona tersenyum, mereka baru menyadari tingkahnya.


"Felix ga sengaja Pa.. Mom.., Felix tadi sedikit terburu-buru karena teringat Mommy yang sendirian di kost-kostsan" ujar Felix.


"Gadis itu segera pergi setelah Felix menawarinya membawanya ke klinik"


Setelah mendengar penjelasan Felix, Ellena maupun Zacklee mengerti jika gadis itu memang sedang mengalami suatu masalah.


"Ka, kau coba hubungi Ka Dimas. Dia pasti mengetahui pasien yang berada di resep ini" pinta Ellena kepada Zacklee.


"Sayang, kita tak tahu apa itu pasien Dimas atau bukan..,"


"Ka.. kau tahu kan ini obat pasti sangat penting, kita juga harus meminta maaf kepada mereka karena ulah anak kita"


"Tapi sayang__"


"Ka... apa kau akan membiarkan mereka kesusahan gara-gara mencari obatnya?"


"Baiklah sayang," akhirnya Zacklee mengalah dan menghubungi Dimas.


"Dim, apa kau meresepkan obat kepada pasien bernama Barjo?" tanya Zacklee dalam ponselnya.


"Coba aku tanyakan di group teman-teman dokter lainnya? memangnya ada apa Lee?"


"Aku membutuhkannya, kau kabari aku secepatnya jika sudah berhasil menemukannya" Zacklee mengakhiri panggilannya.


"Bagaimana Ka?" tanya Ellena cemas.


"Dimas tak mengetahuinya, dia baru akan mencari informasi tentang Barjo" ucap Zacklee.


"Maafkan Felix ya Mom..,"


Ellena hanya menganggukkan kepalanya.


**


"Apa kau tak memikirkan cara untuk bisa menebus obat ayahmu Kiara!" bentak seorang wanita kepada gadis yang masih berstatus pelajar bernama Kiara.


"Ma_maaf Ibu, Kiara salah.." ucap gadis bernama Kiara dengan menunduk.


"Lihat Ayahmu sekarang, nasibnya tergantung padamu. Aku sudah tak sudi mengurusnya!" sahut seorang wanita paruh baya dengan membentak Kiara lalu meninggalkannya begitu saja.


BRAK!


Bahkan wanita paruh baya itu menutup pintu ruangan Ayah Kiara dengan keras sehingga menimbulkan suara yang memekikkan telinga.


Kiara kembali meneteskan air matanya, seharusnya dia tak meninggalkan obat itu ditempat saat dia tak sengaja tertabrak motor Felix.


"Ayah... maafkan Kiara.. hiks.. hiks.. hiks..," ucap Kiara.


"Kiara tak perlu meminta maaf, Ayah tak menyalahkanmu kau sudah menjadi anak baik untuk Ayahmu ini. Maafkan Ayah jika tak bisa menemanimu lagi kau jaga dirimu baik-baik. Ayah merasa sangat berdosa karena sudah menyia-nyiakan anak sebaik kamu, mungkin ini karma yang sudah Ayah lakukan pada Ibumu dulu. Ayah minta maaf Kiara...,"


"Ayah... apa yang ayah katakan, ayah tetap menjadi ayah terbaikku karena ibu selalu berpesan jadilah anak yang baik untuk ayahmu"


"Sita.. maafkan aku karena sudah menyakitimu...,"


"Ayah, sudahlah Ibu pasti sudah memaafkan ayah disana. Sekarang Ibu sudah tenang, dia pasti bahagia karena ayah mau menerimaku pada akhirnya," sahut Kiara.


"Ayah istirahatlah, aku akan mencari bantuan untuk menebus obat-obatmu"


Bersambung....