
“Kau yakin mau berangkat sepagi ini?”
Lian bertanya kepada Baixian lembut, sekarang keduanya ditemani Eva sedang berada di gerbang memasuki Emberfrost. Suasana masih agak gelap bahkan matahari baru mengintip dari balik cakrawala, namun Baixian yang nampaknya kelihatan banyak pikiran usai mendapat kabar mengenai Qinglong hanya mengangkat kedua bahunya cuek.
“Semakin cepat aku pergi maka cepat pula aku kembali, aku tidak akan membiarkanmu sendirian berlama – lama apa lagi pada tempat berbahaya begini”
“Jahatnya....” celetuk Eva cemberut.
“Berisik! Tutup mulutmu gadis manja! Awas ya kalau sampai terjadi sesuatu terhadap Tuanku kau pasti—“
Eva buru – buru sembunyi dibalik punggung Bing Lian saat Baixian mulai mengomel, ia tersenyum senang berhasil menggoda naga tersebut. Lian menggeleng – geleng melihat tingkah mereka, mungkin Baixian adalah satu – satunya orang yang berani memarahi Eva ketika berada dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Fairy Snow.
Puas melepas emosinya Baixian mendengus sambil merapikan jubah bersiap tuk pamit, sekali lagi Eva menawarkan kepadanya untuk diantar hingga menembus penghalang sihir tetapi ditolaknya dengan angkuh, “Cih!? Mainan anak kemarin sore macam begitu mana mungkin dapat menghentikanku”.
“Iya – iya, terserah kaulah Baixan. Bagaimana arahnya? Kita tak mau kau tersesat waktu melakukan perjalanan terlebih melaksanakan misi penting bukan?”
“Gampang, walau belum pernah ke sana aku tinggal melacak Qi milik Jin Chyou”
“Baiklah jika kau berkata demikian”
“Aku pergi dulu” Baixian berbalik hendak lepas landas.
“Hati – hati....”
“Ahhh....aku tau”
SYUUU....!!!
Dalam sekejap dia melesat terbang membelah udara meninggalkan tiupan angin kencang mengibarkan rambut Bing Lian dan Eva, Lian cuma bisa berdoa supaya perjalanannya lancar lalu menghela napas panjang sementara Eva melambaikan tangan sembari berteriak, “Dadah Baixian! Jangan buru – buru buat kembali ya!? Hahaha....”.
“Kenapa kau bilang begitu Tuan Putri?”
“Jika Baixian lama, aku dapat menghabiskan lebih banyak waktu bersamamu. Lagi pula kalau Baixian balik lagi berarti cepat atau lambat kau juga bakal pergi”
“Eeee....ada benarnya sih, melihatmu sesedih itu aku kok jadi merasa bersalah ya? Lupakan, mari membahas rencanamu hari ini” ujar Lian berusaha menghiburnya.
“Hah.....aku ingin kau menemaniku beserta anak – anak menonton cahaya memenuhi langit nanti mal—“
‘Lian?’
‘Hmm? Baixian? Ada apa?’ langkah Bing Lian yang hendak memasuki kota langsung terhenti saat telepati ketir tadi mencapai pikirannya.
‘Kemari sebentar, kau harus melihatnya....’
Tanpa menunggu Lian mengeluarkan salah satu Flying Sword kemudian menaikinya buat berangkat menuju lokasi Baixian, Eva terkejut melihatnya lalu bertanya alasan pemuda tersebut berbuat demikian namun Lian mengabaikannya. Karena khawatir Eva pun menyusul setelah melebarkan kedua sayap sekitar punggungnya.
Mereka menemukan Baixian cukup cepat sebab letaknya memang tidak jauh, tepat sebelum keluar pembatas sihir buatan para Fairy Snow. Bing Lian segera mendekatinya hendak bertanya tapi Baixian masih diam terpaku menatap sesuatu dan akhirnya menunjuk ke satu titik untuk menjawabnya.
Lian mengikuti arah telunjuk Baixian, awalnya ekpresinya masih baik – baik saja. Begitu menyadari apa yang dimaksud oleh Baixian tiba – tiba otot wajahnya menegang, Eva ikut mengamati meski kurang paham sebenarnya dua orang itu menyaksikan apa.
Sebuah kelompok besar tengah terbang menutupi angkasa, banyak sekali sampai – sampai nampak layaknya kerumunan lebah marah. Kemunculannya tiada henti sehingga masing – masing sempat mengira jumlahnya tak memiliki batas, berbondong – berbondong kerumunan barusan bergerak menuju timur terus memberi kesan mengejar arah datangnya sinar matahari.
Eva bergidik pelan akibat perlahan namun pasti aura kurang mengenakan mencapai dirinya, bahkan beberapa tanaman merambat serta pohon layu terpapar aroma kematian yang betebaran menghiasi udara pagi itu. Bing Lian menelan ludah berat sebelum berdesis pelan.
“Pasukan....Undead?”
“Iya....dan mereka mengarah ke lokasi Chyou berada” timpal Baixian menggemertakan giginya murka.
><
“Black Graveyard Sect hendak menyerbu Frozen Swan River?”
Aincrad terperangah mendengar kabar tersebut ketika suasana masih penuh suka cita menyambut datangnya pagi hari, Bing Lian dan Baixian berdiri menghadapnya di ruang tahta dengan ekspresi serius. Usai mengirim bawahan – bawahan untuk mengkonfirmasi informasi pemberian keduanya barulah Aincrad percaya begitu ajudanya mengiyakan pergerakan Undead dalam jumlah besar melintasi teritori Fairy Snow.
“Saya—“
“Aku memberitahumu bukan karena ingin meminta bantuan” potong Bing Lian santai sampai membuat sang Raja memucat akibat gerak – geriknya terbaca dengan amat mudahnya.
“Lalu....apa anda perlu hal lain?”
Lian menundukan sedikit kepalanya sebelum berbalik pergi, tapi Eva muncul menghadang langkah keduanya. Beberapa prajurit berusaha memohon agar dia menyingkir namun Bing Lian mengangkat tangan supaya mereka diam, mata keduanya bertemu tanpa berkedip sedikitpun.
“Mungkin agak terdengar egois...tetapi haruskah? Bagaimana jika kalian tewas? Jumlahnya sangat banyak lho”
“Gadis kecil....kami tidak punya wak—“
“Baixian? Eva maaf aku gagal menepati janjiku, soalnya aku harus pulang melindungi teman – temanku dari orang – orang berbahaya seperti yang menyerang dirimu waktu itu” Bing Lian bicara lirih menghentikan geraman Baixian.
“KALAU BEGITU IZINKAN AKU—“
“Tidak, Ayahmu membutuhkanmu.....”
“Hiks....”
Eva gagal menahan air matanya saat Lian berjalan melewatinya kemudian menepuk lembut kepalanya sembari meminta maaf sekali lagi, keduanya berangkat tanpa ada niatan menoleh sedikitpun.
Ketika sesampainya di luar istana Baixian meregangkan sejenak badannya dan bertransformasi menjadi seekor naga seukuran kereta sepanjang puluhan meter, biasanya dia akan memilih melakukannya sewaktu mencapai tembok pembatas kota Emberfrost namun ini merupakan kondisi darurat. Bing Lian segera menungganginya pada sekitar leher sekaligus memasang Black Yaksha Mask.
“Baixian....terbanglah layaknya kau tak mampu melihat hari esok”
ROAAARRRR!!!
Baixian meraung sampai menyebabkan para penduduk terkejut bukan main apa lagi udara ikut bergetar terkena gelombang suaranya, dengan satu kepakan tangkas Baixian melesat tinggi kemudian dalam hitungan detik begitu Eva ingin melihat mereka, sosoknya sudah bagaikan titik putih kecil awan hitam di langit.
><
“Ketua ini yang terakhir”
“NENEK!”
“DIAM! GADIS BODOH!”
PLAKK!!!
“Xin’er!?”
“Sebaiknya kau ajari dia buat berhenti mengocehh orang tua atau kalian akan memperoleh akibatnya!”
“Hmm?”
Seorang pria duduk memperhatikan tingkah anak buahnya mengumpulkan semua penduduk Seed Repository Village, jika pengamatan juga informasinya benar wanita ringkih barusan merupakan pemimpinya. Ia menghela napas panjang karena harapannya menambah pasukan di situ nampaknya hanya angan – angan kosong.
“Kita apakan mereka Ketua? Sandera untuk ditebus?” tanya bawahannya menunggu perintah.
“Pfft?! Cultivator saja bukan, Frozen Swan River mana sudi menukar sampah – sampah begini dengan sesuatu berharga. Habisi saja”
“TIDAKKKK....!!!”
“Dimengerti, ayo waktunya—“
BUMMM!!!!
Sewaktu anggota Black Graveyard Sect hendak melaksanakan niat buruknya bunyi jatuh keras terdengar di tengah – tengah lokasi, angin kencang meniupkan salju kemana – mana sampai seluruh individu dipaksa melindungi matanya. Perlahan dari balik kabut es barusan keluar sosok bertopeng berjalan santai menenteng sebilah pedang berlapis energi Qi luar biasa.
“Enyahlah....atau mati....” ia memperingati penuh aura intimidasi.
Ch.197 (261)
Penasaran kelanjutannya? Jika ingin membaca 64 chapter lebih cepat tau harus kemana bukan? ^^
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui K********a\, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000\,- saja\, pembayaran dapat dilakukan via Gopay\, Ovo\, Transfer Bank\, juga Alfarmart (btw update di sana juga lebih cepat lho\, Ciao!).