
Bing Lian berjalan keluar rumah lalu mendekati Qiu Na yang tengah duduk melamun di bawah pohon cendana, sewaktu jarak mereka tinggal beberapa langkah Lian menyadari sesuatu hal aneh. Ternyata sosok barusan adalah sebuah boneka jerami tiruan terkamuflase oleh gelapnya malam.
Kemudian secara mengejutkan perlahan muncul badan seseorang melalui bayangan Bing Lian, Qiu Na menempelkan bilah tajam pada leher pemuda tersebut seolah tau cepat atau lambat dia pasti akan menyusul.
“Tidak bisakah kau meninggalkan aku sendiri? Bahkan di pekarangan rumahku?”
“Tergantung, jika suasana hatimu baik bakal aku pertimbangkan....” ujar Lian santai.
SRRR....!!!
Qiu Na terkesiap ketika tubuh si pria berubah menjadi puluhan bulu burung gagak berwarna putih, dengan cara kurang lebih mirip Bing Lian berdiri memunggungi Qiu Na. Meski cuma segitu dan sedang tak ditodongkan senjata, Qiu Na merasa berada dalam jangkauan binatang buas berbahaya.
‘Teknik ilusi!? Sejak kapan?’ Qiu Na bermandikan keringat dingin.
“Jadi....apa kau ingin memberitahu masalahmu Saudari Qiu?”
“Bukan urusanmu! Berhenti ikut campur!”
“Sayang sekali....padahal aku berniat menolong” kata Bing Lian menghela napas.
“Tidak perlu! Kenapa kau sangat bersikeras sih!?
“Karena....sekeras apapun kau menyembunyikannya, matamu tak bisa berbohong”
DEG!
Mendengar kalimat barusan Qiu Na tertegun, tanpa mampu mengontrol diri akhirnya air matanya keluar. Ia mencoba menghapusnya tetapi cairan bening itu lanjut merembes walau tidak diiringi isakan sedih, menandakan betapa beratnya beban hidup gadis tersebut dan perasaan tertekan akibat kekurangan tempat buat bercerita maupun bersandar. Lian terdiam cukup lama memberikan jeda supaya Qiu Na lebih tenang.
“Jika kau merasa kurang enak terhadap Nona Chyou, sekarang waktu tepat untuk bercerita. Kita hanya berdua di sini. Aku sudah mendengar semua dari sudut pandangnya”
“Aku membencinya hiks....” Qiu Na mengelap ingus agar nampak tegar.
“Siapa?”
“Ayah sialan itu....”
><
Menurut penuturan Jin Chyou, beberapa generasi sebelumnya Hundred Nights Tower mempunyai sepasang murid berbakat yang punya kemungkinan besar mencapai Heaven Foundation kemudian membawa sekte menuju masa kejayaanya.
Mereka adalah putri Patriach terdahulu serta seorang anak rekrutan desa sekitar, meski berasal dari latar belakang amat berbeda kemampuan keduanya dapat dibilang hampir setara bahkan terus saling bersaing dalam segala bidang.
Akibat hendak mengurangi perselisihan, akhirnya pemuda – pemudi ini mulai dijodohkan dengan harapan dapat membawa dampak baik bagi sekte. Namun terjadilah sebuah skandal saat murid pria Hundred Nights Tower tersebut dikabarkan menikahi cinta pertamanya di kampung halamannya juga telah memiliki buah hati.
Ia sudah waswas takut akan mendapat pembalasan mengerikan dari sektenya sampai selalu berpindah – pindah membawa keluarga kecilnya. Hingga suatu hari dikepung oleh para mantan rekan – rekannya, ironisnya orang yang menemukannya merupakan saingan sekaligus pasangan perjodohannya dulu.
Sesudah bersujud memohon supaya anak maupun istrinya yang pada waktu itu tengah hamil besar dibiarkan hidup, dia ikut pulang menuju Hundred Nights Tower untuk menyelesaikan masalah. Ternyata sesampainya hukuman mengerikan dalam bayangannya selama ini tidak pernah ada, ia disambut ramah banyak petinggi termasuk Patriach lalu memutuskan kembali mengabdi.
Bahkan hubungan antara dia dan putri pemimpin sekte turut membaik dengan ucapan semoga anak keduanya nanti sehat. Laki – laki tersebut bernama Qiu Lang, ayah dari Qiu Na. Sementara si perempuan adalah Matriach Hundred Nights Tower sekarang, sekaligus guru gadis itu kelak.
Sebulan berselang, tepat hari kelahiran anak kedua Qiu Lang. Dia ditugaskan mengerjakan misi rahasia memimpin sepuluh bawahan elit untuk menculik lalu menjual Jin Chyou, cucu Golden Trader ke luar Benua Huawai. Nahas, saat hampir menyelesaikan pekerjaanya Qiu Lang dihalangi oleh dua sosok kuat yang pada akhirnya merengut nyawanya, mereka adalah Tian Mulan beserta suaminya Ji Niu.
Menyadari potensi Qiu Na akhirnya masing – masing setuju membawanya pulang menuju sekte, sebagai gantinya Nyonya Jiao dan Qiu Fang dibiarkan hidup. Mereka mengancam bakal melukai keduanya jika Qiu Na menolak, sementara alasan yang diberikan kepada ibunya adalah Qiu Na sepertinya cocok dibawa agar dapat melanjutkan pekerjaan Qiu Lang.
Meski awalnya berat hati, akhirnya Nyonya Jiao harus merelakan kepergian putrinya. Mulai dari sana dimulailah kisah kemunculan gadis muda berbakat pemilik teknik pembunuh paling hebat, bahkan sulit mencari pesaingnya di antara jajaran generasi muda murid aliran hitam hingga sekarang.
><
“Kok dari sudut pandangku....itu malah merupakan jebakan mereka untuk membalas dendam atas tindakan kurang menyenangkan Ayahmu ya?” gumam Lian pelan usai mendengar kisah pilu tadi merasa bersalah menyebabkan Qiu Na terpaksa mengingat memori buruk tersebut.
“Kau kira aku tidak pernah berpikir ke arah sana? Siapapun yang punya otak pasti mengerti, beginilah kotornya dunia Cultivator. Teman makan teman sudah menjadi hal lumrah, bahkan beberapa rekan pro terhadap ayahku telah memperingatkanku. Namun mau bagaimana jika dalangnya adalah pemimpin sekte?”
“Posisimu sulit ya?”
“Begitulah....jangan mengasihaniku sialan! Lagi pula meskipun demikian Matriach selalu baik kepadaku jadi tak masalah” Qiu Na membela diri.
“Iya benar....karena kau masih berguna untuknya, jika nanti tiba saatnya kau sadarkan dia bakal membuangmu layaknya ayahmu dulu?”
“Ugh....!? Memangnya kau tau apa!?
“Maaf....namun berdasarkan pengalamanku biasanya sih berakhir seperti itu, yang lebih penting....bolehkah aku menanyakan satu pertanyaan lagi? Apa kau sungguh membencinya? Ayahmu....”
“Sangat....! Kalau aku diberi kesempatan menghajarnya dengan kemampuanku seka—“
“Lalu mengapa kau masih selalu mengenakan pemberiannya?” tanya Bing Lian menyibakan pelan rambut perempuan di dekatnya hingga sebuah anting berhias permata hitam indah nampak menempel pada sebelah daun telinga Qiu Na.
Qiu Na kaget bukan main Lian menyadari ia menggunakan peninggalan ayahnya tersebut, perhiasan ini adalah hadiah ulang tahun terakhir Qiu Na bersama Qiu Lang. Di mana memori indahnya bermain ditemani sang ayah masih membekas jelas, ingatannya malah membuat matanya menjadi panas.
Dia tidak mengerti mengapa malam itu menjadi gadis yang sangat cengeng, Lian perlahan menariknya mendekat. Membiarkan Qiu Na melepaskan semua kesedihan juga bebannya selama ini dengan menangis membenamkan wajahnya ke pundak Bing Lian.
Perasaan Lian sendiri campur aduk karena sejujurnya mengenali barang barusan, anting milik Qiu Na beberapa ratus tahun lalu pernah Lian belikan untuk seorang putri dari Patriach sekte kecil dan sekarang pastinya sudah tak berdiri lagi akibat hancur diterpa peperangan tanpa henti.
‘Kai’er....aku gagal memenuhi janjiku mendatangi pernikahanmu....’
“S...Se...Senior Bing? Tolong lepaskan....aku sudah hiks....baik – baik saja”
“Ah! Maaf aku sedikit melamun hahaha....Saudari Qiu? Apa ayahmu pernah bercerita soal nenekmu?” Lian buru – buru mengangkat tangan terus mundur menjauh panik meski masih penasaran.
“Aku....tidak ingat, dia selalu menyembunyikan asal muasalnya. Bahkan kepada ibu sekalipun”
“Begitu rupanya....lupakan, jadi selanjutnya apa rencanamu? Kembali ke sekte?”
“Entahlah....karena sebenarnya aku telah keluar dari Hundred Nights Tower” jawab Qiu Na tersipu malu sambil menunduk.
“Eh? Hahhh.....!?”
Ch.150 (182)
Penasaran kelanjutannya? Jika ingin membaca 32 chapter lebih cepat tau harus kemana bukan? ^^
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui K********a\, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000\,- saja\, pembayaran dapat dilakukan via Gopay\, Ovo\, Transfer Bank\, juga Alfarmart (btw update di sana juga lebih cepat lho\, Ciao!).