The Rebirth Of Ice Emperor S2

The Rebirth Of Ice Emperor S2
Chapter 255 - Yao Quon Origin II



“Pergilah, kalian telah membantai keluarga anak itu dan masih ingin lebih? Ini peringatan”


“Kau pikir siapa dirimu bocah!?” ketua bandit membalas sengit.


“Belum cukupkah kalian merampok kekayaan mereka, cari lawan setimpal atau lemparanku berikutnya tidak bakal meleset lagi”


“Hehehehe.....huahahaha hei!? Kalian dengar kata – kata angkuhnya kepada kita? Pfftt....?! Serang! Turunkan dia lalu biarkan aku mencabik – cabik tubuhnya!”



“Seharusnya kau tau posisimu serta kapan harus berhenti....”


PSYU!


Yao Quon menyaksikan senyum tipis pemuda berambut putih barusan sewaktu pemimpin perampok tersebut menyemangati para anak buahnya, usai mengeluarkan golok kemudian mengubah sasaran dari Yao Quon ke pohon tempat orang itu bertengger duduk. Suara berdesir bagai bisikan saat barang melesat dengan kecepatan tinggi terdengar memenuhi udara.


Awalnya belum ada satupun menyadari apa yang telah terjadi sampai tiba – tiba ketua bandit sebelumnya tumbang masih memasang senyum konyol menghiasi wajahnya, bawahan sekitarnya tentu menoleh terkejut penasaran apa gerangan menimpa pimpinan mereka.


Warna muka masing – masing segera memucat menemukan lubang seukuran kerikil nampak di dahinya pertanda baru saja dilewati oleh lemparan si lawan, Yao Quon menutup mulut menahan mual sebab darah juga otak berceceran perlahan mulai menyelimuti tanah hutan. Kepanikan dalam sekejap pecah, seluruh kelompok berlarian sadar berurusan menghadapi sosok berbahaya tetapi ia hanya diam memperhatikan sembari bertopang dagu.


“WOAAA!??”


“LARI!!! SELAMATKAN HIDUPMU....!”


“Tadi berisik saat bergerombol, baru disenggol sedikit malah terbirit – birit hihihi....”


“A...ap...apa anda tak bakal mengejar mereka?” Yao Quon menyeletuk ketika situasi kembali sunyi dan pria itu kelihatan mau pergi.


“Hmm? Memangnya kenapa? Kau khawatir akan ada lagi korban berjatuhan? Tenang saja aku jamin mereka pasti berhenti merampok selama sisa hidupnya”


“Begitu ya....”


“Dah.....”


“T...tu...tunggu sebentar Tuan Pendekar”


“Bing Lian”


“Eh?”


“Kau boleh memanggilku demikian.....” sahutnya tersenyum ramah.


“Ahh....maaf, perkenalkan namaku Yao Quon. Senang berkenalan denganmu Pahlawan Bing”


“Eeee....aku tidak berharap kau memberi julukan seperti tadi tapi ya sudahlah, kau perlu sesuatu Saudara Yao?”


“Mungkin terdengar kurang sopan setelah semua pertolonganmu namun bisakah Pahlawan Bing membantu membawa anak ini, aorta miliknya robek. Aku khawatir mustahil dirinya selamat jika mengantarkannya sendiri karena lokasi tabib terdekat berjarak hampir satu hari dari sini?” Yao Quon berkata cepat menjelaskan sembari menutup luka berlumuran darah korban berbekal barang seadanya.


“Hmm? Kau mengetahui cukup baik anatomi tubuh manusia, apa Saudara Yao adalah seorang dokter?”


“Hah? Ahh....bukan, aku hanya tau beberapa hal saja”


Pria bernama Bing Lian menunjukan eskpresi tertarik terus mengeluarkan sesuatu mirip permen melalui udara kosong, ia meminta Yao Quon memberikannya kepada anak kecil tersebut sekaligus memberitahunya barang tadi bakal menolong. Yao Quon memutuskan mengikuti perintahnya tanpa berkomentar walau ingin sekali berkata pemberiannya tidak dapat berbuat banyak terhadap orang dengan pembuluh darah robek.


Tapi selang sebentar Yao Quon memasukan pil sebelumnya menuju mulut si bocah, betapa kagetnya dia sebab pendarahannya langsung berhenti total meski lukanya masih menganga terbuka. Lian kemudian memanggil supaya Yao Quon ikut menyertainya menemui seseorang yang kemungkinan mampu membantu.


Akhirnya perasaan kasihannya terhadap korban penyergapan bandit malah mendorongnya mengubah arah pulang jadi menyusul pendekar misterius barusan, Yao Quon tak pernah menyangka keputusannya inilah nanti berhasil mengubah hidupnya seratus delapan puluh derajat.


“Saudara Yao?”


“I...iy...ya?”


“Apa kau mengetahui soal Cultivator?” tanya Lian menengok belakang.


“Eeeeh....bukankah semacam perkumpulan orang – orang sakti begitu?”


“Pfftt!? Huahahaha.....lucu sekali, kau harusnya bicara jujur saja. Aku tak menuntut kau mesti menjawab serius lho”


“Ahahaha....tidak, di desaku dulu jarang ada pengunjung. Bahkan ketika belajar ke Weadalia Empire aku sama sekali belum mendengarnya” Yao Quon tertawa canggung.


“Ohh...pantas, mereka agak menyaring informasi supaya dapat mengontrol wilahnya kau tau? Pengetahuan bagi Weadalia Empire merupakan sumder daya paling berharga, mmm....berarti tempat tinggalmu juga termasuk cukup terpencil ya?”


Keduanya mulai bertukar cerita, Lian secara bertahap menerangkan mengenai ilmu kultivasi dan hal – hal bisa diperbuat oleh para Cultivator. Kisahnya sungguh menyebabkan Yao Quon terpesona sebab mirip dongeng – dongeng pengantar tidur, mungkin nalarnya bakal menolak kalau belum melihat menggunakan mata kepala sendiri bagaimana Bing Lian melemparkan batu menembus kepala seseorang.


Penjelasan paling menarik menurut Yao Quon adalah tentang teknik pengobatan pendekar – pendekar ini, cara mereka mengatasi cedera – cedera hampir mustahil diselamatkan bagi manusia biasa berbekal Qi maupun permen ajaib pemberian terakhir Lian yang disebut olehnya sebagai pil.


Bing Lian selanjutnya meminta Yao Quon giliran menceritakan pengalamannya untuk mengganti segala informasi darinya barusan. Meski Yao Quon sempat menolak sebab pikirnya selama hidupnya dia merupakan pecundang, Lian terus membujuk sampai akhirnya Yao Quon kesulitan karena merasa kurang enak hati.


Anehnya Bing Lian menjadi pendengar luar biasa baik dan hanya berkomentar saat Yao Quon memberinya makin kesempatan, perbuatannya malah membuat Yao Quon bertambah nyaman serta rileks sehingga terbuka. Pembicaraan mereka perlahan berubah lebih mirip keluh – kesah Yao Quon akan nasib malangnya.


“Saudara Yao?”


“Hmm?’’


“Aku ingin mengatakan sesuatu tapi terkesan agak kasar, jadi aku hendak mengkonfirmasi apakah kau bersedia mendengarnya? Jika menolak aku akan membiarkan pikiranku lewat begitu saja” celetuk Bing Lian tersenyum hangat.


“Silahkan....Pahlawan Bing, aku tak keberatan sama sekali”


“Gadis itu....hanya memanfaatkanmu”


“Apa?”


“Misal sejak awal memang mencintaimu, mustahil dirinya menerima lamaran kakak tertuamu walau orang tuanya memaksa karena kalian merupakan keluarga terpandang. Seharusnya ia akan mencarimu lalu mengajak kabur entah kemana kalau memang dugaanmu benar, dari sudut pandangku....dia menghampirimu untuk mendekati saudaramu disebabkan harta. Perempuan tersebut tidak lebih seeokor rubah betina licik”


Yao Quon berhenti melangkah seolah telah menerima tamparan keras tepat menghantam pipinya, hatinya terasa ditusuk belati berkali – kali. Sakit sekali meski tanpa adanya luka menghiasinya, air matanya perlahan menetes sulit dibendung. Hal paling menambah hancurnya Yao Quon adalah ucapan Lian pernah terbersit dalam benaknya namun selalu ia buang jauh – jauh, medengar orang lain mengatakannya menarik kembali pikiran – pikiran buruk itu memenuhi kepalanya.


“Sosok asing....hiks....sepertimu....tau apa....?” desisnya ketir.


Yao Quon menutup mata bersiap dihabisi oleh Lian akibat sikap kurang ajarnya, tetapi bukannya marah sang pemuda berambut putih malah langsung meminta maaf sambil berkata harus menjaga lisannya lebih baik lagi. Diapun sengaja tak menoleh agar Yao Quon mampu mengelap bekas tangisanya, selama sisa perjalanan keduanya tidak terlalu banyak bicara lagi seakan kejadian tadi tak pernah terjadi.


Namun sejak momen tersebut Bing Lian memanggilnya dengan sebutan Sarjana Yao berapa kalipun Yao Quon memberitahunya jika dia belum berhasil diterima dan gagal saat mengikuti ujian di Weadalia Empire. Akhirnya setelah cukup lama menerobos hutan, turun naik bukit, mereka tiba dekat sebuah aliran sungai.



Yao Quon bingung sebab mengira bakal dibawa menuju rumah mewah tempat tinggalnya kenalan Bing Lian, mengingat dirinya berkata ia mampu menolong gadis terluka. Sewaktu hendak bertanya lebih jauh, Lian sudah melambaikan tangan kepada pria misterius berjenggot panjang yang duduk bersila pada atas batu besar.


Ch.255 (346)


Penasaran kelanjutannya? Jika ingin membaca 91 chapter lebih cepat tau harus kemana bukan? ^^


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui K********a\, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000\,- saja\, pembayaran dapat dilakukan via Gopay\, Ovo\, Transfer Bank\, juga Alfarmart (btw update di sana juga lebih cepat lho\, Ciao!).