
“Sarjana Yao? Kau baik – baik saja?”
“Eh?” Yao Quon tersentak kaget.
Bing Lian memiringkan kepala sambil menggerakan tangannya di depan Alchemist Bachelor karena melihat pria itu termenung cukup lama, sesudah kembali menguasai tubuhnya dan segala ingatan masa lalunya lenyap bak debu tertiup angin. Dia mulai menangis gagal menahan air matanya untuk tidak menetes.
Lian tentu terkejut melihat responnya, sebelum ia sempat bertanya Yao Quon langsung bersujud mencium kakinya ditambah merengek kencang layaknya bayi dewasa. Bing Lian berusaha memaksanya berdiri tetapi Yao Quon memeluk erat bagian bawah tubuhnya sehingga membuatnya kesulitan menghentikan tindakannya.
“PAHLAWAN BING....!? HUA....APAKAH INI KEAJAIBAN ATAU AKU SEDANG BERMIMPI!? AKU TAU! KAU PASTI ARWAH YANG DATANG MENGHANTUIKU BUKAN!? HIKS!? MAAF AKU TERLAMBAT! HUHUHU AMPUNI AKU TAK DATANG MENOLONG SAAT KAU MENGHADAP DEMON KING! KAU BOLEH MEMBUNUHKU SEBAGAI GANTINYA...!!! HUAA.....!?”
Lian yang mendengar semua pengakuannya perlahan berhenti mencoba membantunya bangkit, ia merasa mungkin memang harus begitu agar Yao Quon dapat mengampuni dirinya. Seluruh emosinya selama lima ratus terakhir biar dikeluarkan tanpa tersisa, setiap penyesalan sejak kehilangan gurunya, Bai Wen, sampai Bing Lian nampaknya benar – benar membebani mental Alchemist nomor satu Benua Huawai tersebut.
Sembari sesunggukan dia mendongakan kepala kemudian menemukan wajah tersenyum Lian balik menatapnya, Yao Quon buru – buru mengelap bekas tangis maupun ingusnya. Kalau situasinya normal kemungkinan Bing Lian akan tertawa menyaksikan seorang Nascent Soul sekaliber Yao Quon terisak di hadapan bocah Forging Qi. Misal ada saksi mata kejadian ini bisa jadi aib baginya.
“Anda.....huh....tidak menghilang?”
“Tentu, aku sungguhan bukan hantu atau semacamnya. Kau memeluk kakiku ingat? Ahahaha....” jawab Bing Lian tertawa canggung.
“Ukh.....”
“Tolong jangan menangis lagi, jika dilanjutkan lagi kapan selesainya?”
Bubu menonton tingkah mereka berdua sambil mengunyah santai daging hasil buruan Lian pada Pos Pertama Granite Sanctuary, dia kurang mengerti mengapa Tuan Besarnya terus menangis menghadap Si Pangeran Putih mirip burung baru menetas meminta makan kepada induknya.
><
Keduanya memasuki kediaman Yao Sheyan saat keadaan mulai kondusif, Lian agak merasa janggal karena malah dia sebagai tamu membuatkan teh untuk pemilik sah lokasi itu. Usai dituangkan oleh Bing Lian, Yao Quon langsung meneguknya sekali gerakan sehingga kelihatan seperti orang minum arak.
Ia merebut teko pada tangan Lian lalu mengisi kembali gelasnya seolah belum pernah meneguk sesuatu berbulan – bulan lamanya, Bing Lian menatapnya heran sembari memasang senyum miring sementara Bubu memposisikan diri senyaman mungkin di atas pangkuannya.
“AHHH....!”
“Haruskah aku menyeduh lagi Sarjana Yao?”
“Uhuk! Uhuk! Tidak perlu Pahlawan Bing! Uhuk! Uhuk!” Yao Quon terbatuk – batuk menyadari tingkah kurang ajarnya.
“Hehehe....baiklah, aku tau kau mempunyai banyak pertanyaan. Tapi aku ingatkan sedari awal kalaupun mau aku mustahil menjelaskan secara detail bagaimana. Satu hal yang dapat kusampaikan, aku adalah orang persis sama dengan sosok kau temui lima ratus tahun lalu terlepas apapun keadaanku sekarang”
Yao Quon mengangguk, memang dia tak berniat mengorek lebih jauh soal kejanggalan ini. Sebenarnya tanpa diberitahu Yao Quon tau betul pemuda di hadapannya berkata sejujurnya. Sebab baginya hanya terdapat satu orang saja pernah memanggilnya Sarjana Yao selain Putri Bai Wen yaitu Lian sendiri.
Ditambah pengetahuan, suara, dan rupanya sangat mirip dengan ingatannya dulu walau kelihatan jauh lebih muda. Faktor terakhir penguat keyakinan Yao Quon merupakan fakta adanya Forging Qi mampu bertahan atau tidak goyah sesudah memperoleh tekanan darinya, sewajarnya anak paling berbakat sekalipun pada generasi ini minimal bakal gemetar melawannya bicara. Sedang bocah laki – laki berambut putih tersebut kelihatan amat rileks menanggapinya.
“Aku ingin menanyakan sesuatu....”
“Mengenai kabar pengkhianatanku?”
“Eh? Bagai—“
“Apa menurutmu aku melakukannya?” potong Lian balik bertanya lembut.
Yao Quon akhirnya menggelengkan kepala, dia mengutuk diri mengapa memastikan hal jelas begitu. Pengakuan Yu Gang terlalu aneh meski memiliki surat pengalihan kepemimpinan bertanda tangan Bing Lian, karena kalau berkhianat untuk apa Demon King menghabisi calon rekan seriliabel Ice Emperor?.
“Aku mengerti, apakah kau mempunyai urusan selain tentang permintaan bantuan Yin Nuan makanya datang menemuiku Pahlawan Bing?”
“Mari pingggirkan dahulu keperluanku soalnya ada sesuatu lebih penting untuk diutamakan”
“Aku mendengarkan, ngomong – ngomong aku terkesan kau berhubungan dengannya” Yao Quon menaikan sebelah alisnya.
“Ahahaha....sekarang aku anggota White Crow Sect”
“Pfft!? Uhuk! Uhuk! Kau serius?!”
“Ya, nanti kita bicarakan lagi. Kembali ke permasalahan utama, ini soal Yao Sheyan” kata Lian memasang ekspresi bersungguh – sungguh.
“Cucuku? Apakah dia memperlakukanmu secara buruk?”
“Tidak, dia menerimaku layaknya tuan rumah—“
“Oh!? Oh!? Pahlawan Bing tertarik padanya? Aku tau dia mempesona, aku senang hati menerima lamaranmu namun ia baru kuizinkan menikah ketika berumur dua puluh tahun makanya kusarankan Pahlawan Bing bersa—“
“Sarjana Yao tolong!? Dengarkan dan izinkan aku menyelesaikan kata – kataku”
Bing Lian bicara pelan tapi nadanya sedikit naik seingga menyadarkan Yao Quon kalau dirinya agak berlebihan, Lian menghela napas panjang mencoba menghilangkan urat saraf pertanda kesal menghiasi pelipisnya. Alchemist Bachelor duduk manis sembari menutup mulutnya rapat – rapat mirip seorang murid tengah dimarahi gurunya.
Saat akhirnya Lian mengangkat topik Gift Bizzare Eyes milik cucunya, barulah Yao Quon mengerti kemana arah diskusi barusan. Dia mengiyakan sewaktu Bing Lian menanyakan apakah dia mengetahui kondisi Sheyan kian parah jika tak segera ditangani, bukan hanya fisik tapi mentalnya juga bakal terkena dampaknya.
“Aku malu mengakuinya Pahlawan Bing....walau disebut ahli pengobatan nomor satu, aku tidak mengetahui cara menolong cucuku sendiri”
“Itu diluar kekuasaanmu Sarjana Yao, namun kalau begini terus sangat berbahaya baginya maupun siapapun orang sekitarnya. Minimal kita harus membuatnya bisa mengendalikannya”
“Mustahil....kau mengetahui jenisnya bukan? Pahlawan Bing?” Yao Quon menunduk sedih.
“Petrified Gaze....”
“Benar, mata tersebut bukan berkah. Melainkan kutukan Medusa”
“Ceritakan kepadaku kisah awal mula kau menemukannya dan mengangkatnya menjadi cucu” timpal Bing Lian memperbaiki posisi duduknya serta memasang telinga baik – baik.
Dia harus menemukan garis merah pengubung yang dapat digunakan menyelamatkan Yao Sheyan dari penderitaanya, jika setiap lepas kendali Sheyan mengacau seperti kemarin bukan tak mungkin gadis itu berusia pendek. Hal paling Lian takutkan adalah kalau fakta mengenai Petrified Gaze tersebar maka nanti banyak Cultivator – Cultivator memburunya terlepas ia mempunyai hubungan dengan Yao Quon. Entah dijadikan senjata pembantai massal atau dilenyapkan karena dianggap sebagai ancaman.
- Medusa Curse Arc Status : Finished -
Ch.265 (362)
Penasaran kelanjutannya? Jika ingin membaca 97 chapter lebih cepat tau harus kemana bukan? ^^
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui K********a\, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000\,- saja\, pembayaran dapat dilakukan via Gopay\, Ovo\, Transfer Bank\, juga Alfarmart (btw update di sana juga lebih cepat lho\, Ciao!).