The Rebirth Of Ice Emperor S2

The Rebirth Of Ice Emperor S2
Chapter 188 - Bangun



“Cukup Jenderal....”


Potong Raja Fairy Snow menghentikan celotehan Taeral yang langsung membuatnya diam dengan wajah sepucat susu basi. Raja menghela napas panjang jelas sekali tidak menikmati cerita karangan Taeral mengenai penyebab kegagalan utama misinya adalah bocah laki – laki di hadapannya sekarang, apa lagi cukup sekali lihat dia bisa tau kemampuannya masih sangat rendah.


“Hamba mohon ampun Yang Mulia....”


“Jadi....maksudmu, kau hendak berkata tugas pemberianku buat menghancurkan sekte yang telah melukai Putriku rata dengan tanah cuma karena kalian dihalangi oleh anak ini? Kau anggap perintahku lelucon?”


“Mana berani saya Yang Mulia”


“DIAMMM!!!”


“Ayah....” gadis Fairy Snow dekat singgasananya buru – buru menarik lengan pria itu sambil menggeleng – geleng memintanya tenang.


“Tangkap mereka semua lalu eksekusi tanpa tersisa, biar aku habisi tahanan ini berbekal tanganku sendiri.....”


Raja pun menuruni tahtanya sekaligus meninggalkan anak perempuannya, amarahnya nampak menggebu – gebu dan merupakan hal wajar. Banyak kejadian beberapa waktu belakangan memenuhi pikiranya sampai kepalanya terasa mau pecah, mulai dari pertemuan Fifteen Peak Catastrophes demi mengambil suara untuk memutuskan Revolusi Beast di Benua Huawai, penyerangan terhadap keluarganya, ditambah sekarang satu lagi ketidakbecusan orang suruhannya.


Kalau bukan seorang Raja, dia akan turun menyerang Frozen Swan River sendirian tanpa meminta bantuan siapapun. Dalam satu gerakan tangkas sang Raja Fairy Snow menciptakan tombak es panjang yang keluar begitu saja melalui udara kosong, mengarahkan ujungnya tepat menuju pemuda terikat barusan siap menikam kepalanya sesegera mungkin. Namun gerakannya terhenti seketika usai mendengar celetukan, “Jika aku jadi kau....ketimbang membuang – buang tenaga membunuh musuh aku lebih memilih memperhatikan keluargaku. Kau pasti menyadarinya bukan? Kondisi Putrimu buruk sekali”.


Seluruh ruangan tahta tiba – tiba terdiam, semua mencari – cari asal datangnya perkataan tadi tetapai Raja menatap lurus tepat ke pria dengan rambut berantakan tersebut sebab yakin atas pendengarannya pribadi.


“Manusia....? Kau mampu berbicara menggunakan lidah kami?”


“Umm....apa itu belum cukup sebagai bukti mengapa aku dapat menggagalkan misi anak buahmu? Mereka tidak bersalah ayolah....kenapa kau repot – repot mengurangi populasi kalian yang sejak awal memang sedikit?”


“MAKHLUK HINA! JAGA MULUTMU DASAR BEDEBAH! KAU PIKIR TENGAH BICARA BERSAMA SIAPA HAH!?” seorang Fairy Snow di sana langsung meneriakinya kasar.


“Kau kelihatan familiar....apakah kita pernah bertemu sebelumnya?”


“Oh....apa akhirnya kau mengingatku? Lama tidak berjumpa Pangeran Aincrad” ujar Bing Lian menyibakan helaian – helaian rambut yang menutupi mukanya.


><


Ekspresi Raja Fairy Snow langsung membeku, perasaanya campur aduk antara cemas, takut, dan bingung. Suara – suara sekitar mulai berubah menjadi dengungan menyakitkan sampai sulit buat didengar, warna pada pengelihatannya juga memudar sehingga sekarang hanya menunjukan hitam serta putih saja.


Pandanganya masih terkunci menatap wajah tersenyum pemuda yang dibawa pulang oleh Taeral, sebuah pecahan memori kembali tersusun cepat menghiasi benaknya. Kejadian itu berlangsung ratusan tahun lalu, dia sendiri telah lupa kapan pastinya. Ia yang masih kecil menemani ayahnya menghadiri pertemuan besar.


Kehangatan lengan Raja terdahulu masih dapat terasa seolah semuanya baru terjadi kemarin, banyak Spirit Beast berkemampuan tinggi ikut serta. Mereka duduk mengelilingi sebuah tribun besar demi menyaksikan seseorang bicara, pria berambut putih panjang karismatik. Walaupun merupakan satu – satunya manusia di situ dia masih bersikap santai bahkan cenderung mendominasi keseluruhan acara. Namun Aincrad paling mengingat momen ayahnya berpesan sembari berbisik lembut.



“Nak? Semisal suatu hari kau diharuskan berurusan dengan orang itu jangan pernah lakukan, kalau perlu larilah menjauh semampumu”


“Kenapa demikian Ayah?”


“Dia....berbahaya.....”


><


“Mustahil mustahil mustahil....hah....”


GEDEBUK!


Aincrad berjalan mundur secepat dirinya bisa sampai – sampai tidak menyadari anak tangga menuju altar singgasana dan mengakibatkannya terjatuh. Badannya bergidik hebat ditambah napas memburu bagaikan orang yang sedang terkena serangan panik.


Belum saja keterkejutan mereka mengetahui tahanan perang yang dibawa dapat berbicara fasih menggunakan bahasa Beast pulih, sekarang ditambah lagi menyaksikan kondisi kepayahan Raja menimbulkan tanda tanya besar pada benak masing – masing tentang siapa sebenarnya anak muda berambut putih itu.


“Nona...aku tidak pernah melakukan apa – apa selain menyapa Ayahmu, lihat ini....” Bing Lian menunjukan tangan terikatnya kepada semua orang.


“Penjaga jangan hanya diam saja! Serang dia!”


“S...Si...Siap Tuan Putri!”


“Hadeh....kenapa situasinya malah jadi kacau begini?”


Keluh Lian menghela napas panjang usai dikelilingi beberapa prajurit Fairy Snow dengan perlengkapan perang, setiap anggota siap menebas atau menusuknya kapan saja. Jika dalam kondisi normal dia mungkin tak panik serta pusing menghadapinya, namun masalahnya sekarang Qi miliknya sedang dikekang lalu membuatnya tidak lebih dari manusia biasa saja.


Sejenak pandangan matanya bertemu Taeral, tapi si Jenderal segera buru – buru membuang muka sepertinya takut Bing Lian meminta pertolongannya. Lian tersenyum tipis menanggapi sikapnya tadi, mustahil baginya memberi uluran tangan kali ini makanya dia bersikeras menawarkan untuk melepaskan Bing Lian saat masih di luar Emberfrost.


Kalau sampai ketahuan membantu dengan banyaknya saksi begini bisa – bisa dia dicap sebagai pengkhianat rasnya sendiri kemudian bukan mustahil keluarganya akan ikut terseret. Lingkaran pengepungnya mulai bergerak sehingga Bing Lian mengambil ancang – ancang, semisal harus mati sekalipun ia menolak tanpa perlawanan berarti meskipun lawannya sekumpulan Spirit Beast tingkat Foundation Realm.


“Eva mundurlah, kau tidak boleh terlalu banyak bergerak”


“Ayah?”


“Kalian semua juga menjauh darinya” ujar Aincrad memberi perintah terus berjalan menghampiri Bing Lian selesai melepaskan genggaman anak perempuannya sambil membawa tombaknya. Kelihatanya dia sudah berhasil menguasai diri.


Setiap prajurit langsung mematuhi perintah kemudian memberikan ruang supaya Raja dapat lewat, Aincrad berhenti di hadapan Lian dan mengangkat senjatanya berbekal satu tangan bersiap menancapkan ujung tajamnya menembus kepala manusia tersebut.


“Orang itu telah lama mati....rasmu sendiri mengakuinya. Meski kau mempunyai penampilan sekaligus pengetahuan sepertinya sekalipun....kau pikir aku sudi menerima omong kosong tak masuk akal ini? Jika memang kau masih hidup....mengapa mereka bersikeras memulai gerakan peperangan tanpa arti?”


“Begitu rupanya, maaf namun aku tidak mengerti kau tengah membicarakan apa” Lian tersenyum tipis memiringkan kepalanya penasaran.


“Bukan urusanmu....”


“Eeee....lalu kenapa kau repot – repot memberitahu? Apa ada cara lain agar aku dapat memperjelas identitasku kepadamu?”


“Tutup mulutmu dan matilah....sampaikan salamku untuk leluhur—“


SHESSS! TINGG! BAMMM!!!


Sewaktu Aincrad melayangkan hunjamannya secara tiba – tiba Galaxy Ring milik Lian mengeluarkan cahaya terang disertai suara aneh sebelum disusul ledakan Qi luar biasa. Aincrad terpental mundur bersama setiap orang dekat posisi Bing Lian, kejadian tadi menyebabkan istana bergetar hebat sekaligus kemunculan kabut misterius yang menghalangi pemandangan. Aincrad memicingkan matanya berusaha mencari keberadaan Lian.


“Hoammm....tidurku nyenyak seka—tempat ini kok dingin banget sih!? Di mana kita? Kemana kau membawaku selama tidur oi!?”


“Momentum berakhirnya hibernasimu sangat pas hingga aku berandai – andai bahwa kau memang sengaja melakukannya” kata Lian melirik seorang laki – laki tinggi melayang dekat tempatnya berdiri.



“Apa maksud—eh? Sebentar....kenapa kau bicara menggunakan Archaic Wor—hei Bing Lian? Sebenarnya kau berbuat apa saja saat aku naik tingkat sampai dikepung kecoak – kecoak es begini hah?!”


Ch.188 (246)


Penasaran kelanjutannya? Jika ingin membaca 58 chapter lebih cepat tau harus kemana bukan? ^^


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui K********a\, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000\,- saja\, pembayaran dapat dilakukan via Gopay\, Ovo\, Transfer Bank\, juga Alfarmart (btw update di sana juga lebih cepat lho\, Ciao!).