
“Oi Arata? Sudahlah lupakan....mustahil manusia biasa seperti kita menang melawan Cultivator”
“Ssssttt....kalau kau tidak mau mendukung setidaknya diamlah, percayalah Meimei. Aku punya rencana” Arata mengacungkan jempolnya percaya diri.
Selama seminggu Arata berkeliling kota Mianqiu menyiapkan perlombaan dengan sepenuh hati, berbekal bantuan anak – anak budak lain serta kenalannya Arata mulai menyusun sebuah acara yang mana dia pasti dapat menangkan.
Meski cemas dan takut akan bagaimana kelanjutan kasus ini nantinya ia berusaha menguatkan diri demi satu tujuan, mengembalikan uang hasil jualan bakpaonya kepada sang ibu. Meski beliau berkata telah mengikhlaskannya, Arata tau betapa keras ibunya membuat semua dagangan tersebut di sela – sela mengerjakannya tugasnya sebagai seorang budak.
Tuan mereka sangatlah tak berperikemanusiaan sehingga jika bukan orang telaten maka mustahil bisa menyisihkan waktu memasak demi tambahan mencari nafkah walau sebenarnya diberikan makanan oleh si majikan. Makanya Arata berkukuh bekerja tanpa henti agar minimal ibunya mampu tertebus terus menjadi manusia merdeka.
Sementara Long Yawen sendiri selagi menunggu datangnya hari lomba lebih sering bersantai sekalian melarikan diri dari kejaran para prajurit istana yang mencarinya, dia beberapa kali memergoki Arata tengah berkeliling kota namun memilih cuek karena tau kemungkinan bakal kalah tidak mencapai satu persen apapun nanti pertandingan pilihannya.
Untungnya kemarin Yawen berhasil menyusup pulang menuju kamarnya untuk mengambil uang sehingga sekarang mempunyai tempat berteduh sekaligus mampu membeli makanan jika lapar. Meski hampir tertangkap sebab Teng Xinyi memasang jebakan di sana, nasip mujurnya nyatanya belum habis. Jerat pengikat Long Yawen dapat mudah diputus menggunakan gigi kuatnya.
><
“Pfft!? Huahahaha....kau serius?” tanya Yawen tergelak keras hampir menangis.
“Ya....bagaimana? Kau menyetujuinya?”
“Siapa takut?”
Arata menghela napas lega Long Yawen sepakat tanpa menanyakan apapun lebih jauh, walau jujur dia bersama teman – temannya merasa tertekan begitu gadis tersebut menertawakan hasil kerja mereka. Satu – satunya harapan Arata sekarang kalau rencananya akan berjalan lancar juga dapat menghilangkan senyum di wajah Yawen.
Perlombaan yang diajukan oleh Arata adalah mengadu kecepatan, keduanya memulai dari batu karang berjarak sekitar lima ratus meter sebelum bibir pantai Mianqiu dan berakhir di pusat kota. Siapapun yang berhasil mendapatkan bendera biru pada pegangan patung Black Dragon King ialah pemenangnya.
Arata maupun Long Yawen diantarkan menuju garis start oleh seorang nelayan kenalan Arata, cuaca hari itu cerah serta ombakpun tenang seolah dunia pun merestui kejadian ini. Selagi melakukan pemanasan Arata dapat melihat anak – anak lain bersorak menyemangatinya, beberapa orang pelabuhan ikut menonton sehingga seiring waktu jumlahnya kian bertambah akibat timbulnya rasa penasaran mengapa bisa terbentuk kerumunan sekitar sana.
“Kau baik – baik saja? Jangan sampai tenggelam ya? Hihihi....”
“Khawatirkan dirimu sendiri....” Arata membalas ejekan Yawen dengan tegas meskipun sudah berkeringat dingin ditambah kaki yang tak mau berhenti gemetar.
“Bersiap....”
Si nelayan berperan menjadi pengantar peserta sekalian pengadil, pria itu mulai memberikan aba – aba. Keduanya segera mengambil posisi, seiring hitungan mundur terdengar degup jantung Arata semakin kencang sampai dia merasa Yawen dapat mendengarnya.
Saat wasit meniup peluitnya, tidak lama deru mesin langsung memecahkan kesunyian. Long Yawen menoleh heran mencari sumber datangnya bunyi bising barusan, tiba – tiba melalui belakang karang muncul sebuah speedboat melompat mengagetkan semua orang.
“Arata!? Tangkap!”
Seseorang melemparkan sebuah tali kepada Arata, dia sigap menangkapnya kemudian mengeluarkan papan kayu untuk tempat berpijak. Dalam sekejap Arata melesat karena tarikan kendaraan tersebut, meluncur di atas air hingga dapat dipastikan mencapai pelabuhan kurang dari satu menit.
“Jadi begitu rencananya? Aku memang tak berharap kau bakal berenang sih ke sana karena....” Yawen masih bersikap santai lalu mengalirkan Qi nya menuju telapak kaki.
JDUASSSH!!!
Suara samar – samar agak tertutup deru angin membuat Arata menoleh, matanya melebar menyaksikan bagaimana Long Yawen memangkas jarak antara mereka cuma berbekal satu hentakan kaki. Saking luar biasa lajunya air laut terbelah dan membalikan speedboat yang membawa Arata saat dirinya menyalip mereka.
“Nanti semuanya terlalu mudah!”
><
Selagi Arata berjuang keluar untuk mencari napas, Long Yawen telah mencapai pelabuhan dan melanjutkan perjalanannya. Orang – orang segera memberinya jalan, para teman Arata menatap ngeri perbuatan gadis itu.
Bahkan kapal yang digunakan mengantar mereka ke batu karang sebelumnya terdorong satu kilometer akibat ombak ciptaan Yawen sewaktu dirinya melesat. Semuanya langsung bergerak ke pinggir laut diselimuti perasaan cemas, tanpa terduga Arata keluar dari permukaan air sembari menjulurkan tangan.
“Uhuk! Uhuk! Uhuk! Tarik aku cepat! Terima kasih atas tumpangannya Wu! Nanti aku traktir cumi – cumi bakar!”
“Jangan dipikirkan! Pergi sana! Maaf karena aku menggagalkan siasatmu!” temannya berteriak dari atas speedboat terbalik.
“Tidak sama sekali! Lihat saja aku pasti menang! Kemana dia?”
Seluruh temannya menunjuk serentak pusat kota, dengan tubuh basah kuyup Arata melanjutkan perlombaan. Walau otot – ototnya menjerit protes ia tak berniat sama sekali menyerah, semangat membaranya masih nampak menghiasi tatapan mata miliknya.
Padahal seharusnya jika jaraknya sudah terlampau jauh begini maka pesaing pasti bakal putus asa, namun Arata bukan tipe pria demikian. Dia percaya semua persiapannya selama satu minggu melatih fisik juga keseluruhan jalur adu kecepatan tersebut pasti terbayarkan.
Sementara lawannya masih terseok – seok, Yawen perlahan mengurangi kecepatan karena pada dasarnya kalau berjalan normal saja ia tetap menang mudah menghadapi manusia biasa. Namun Yawen terlambat menyadari kalau jarak pemisah antara pelabuhan dan pusat kota sangatlah padat akibat melintasi jalan utama.
Dia kebingungan sendiri begitu kesulitan mencari rute tercepat apalagi banyak sekali orang berlalu – lalang akibat tengah diadakan pasar akhir pekan, selagi Yawen terjebak kerumunan ia menangkap sekumpulan bayangan aneh dari sudut matanya.
Ternayata anak – anak jalanan pimpinan Arata berhasil menyusul dirinya karena mereka melompat – lompat menyebrangi bangunan untuk menghindari kemacetan, saat pandangan keduanya bertemu Arata melambaikan tangan sembari menjulurkan lidah.
“Sampai jumpa! Bersiaplah dompetmu pasti kubuat kosong melompong! Hahahahaha....”
Urat peilipis Yawen berdenyut kesal menerima tindakan provokasi itu, akhirnya dia menggemertakan buku jarinya sebelum mengangkat tinggi – tinggi kaki kananya kemudian menghantam bumi sekeras mungkin.
JDUAARR...!!! WOAAA....!!!
Arata bersama kawan – kawannya hampir terjatuh sebab bangunan sekitar mereka miring akibat gempa dadakan, untung masing – masing sempat mencari sesuatu untuk berpegangan. Saat masih meratapi nasip sialnya Arata dipanggil oleh salah seorang rekannya.
“Arata!? Lihat!!!”
“Hah? Ap—bocah edan!” jerit Arata membuka mulut benar – benar terperangah akan pemadangan di sana.
Kerumunan orang telah terpisah menjadi dua sebab tanah jalan utama retak panjang bahkan mungkin hampir terbelah, para penduduk kota Mianqiu segera menjaga jarak takut kondisinya makin parah. Namun belum sempat mencari biang keladinya hembusan angin kencang memaksa semuanya menoleh.
Arata dan teman – temannya sekelebatan melihat gadis berjubah melaju cepat sembari mengacungkan jari tengahnya tidak sopan kepada mereka. Dia berlari sekuat tenaga hampir mencapai persimpangan terakhir sebelum tiba menuju tujuan utama.
“Bagaimana ini Arata!?”
“Tenang! Masih bisa, kita lanjutkan ke rencana berikutnya” Arata buru – buru memimpin untuk menuruni barisan bangunan mencong tersebut.
Ch.130 (150)
Penasaran kelanjutannya? Jika ingin membaca 20 chapter lebih cepat tau harus kemana bukan? ^^
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui K********a\, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000\,- saja\, pembayaran dapat dilakukan via Gopay\, Ovo\, Transfer Bank\, juga Alfarmart (btw update di sana juga lebih cepat lho\, Ciao!).