
“Woaaaa....!? Ugh....aduh....punggungku....”
Bing Lian mengerang pelan akibat bangkit secara tiba – tiba, sambil berusaha menyesuaikan diri akan pencahayaan ruangan ia menatap sekitar. Dia berada di sebuah bangunan mirip kandang ternak kosong, terlebih baru saja terbangun pada atas tumpukan jerami kering makin menguatkan dugaanya.
Lian perlahan mencoba berdiri, rasa nyeri segera menghantuinya ditambah badan masih lengket berkat lumpur – lumpur ketika terjatuh sebelumnya. Cahaya terang menembus celah – celah kayu memberitahunya jika sekarang sudah pagi atau bahkan mungkin siang soalnya ia tidak tau berapa lama kehilangan kesadaran.
Sembari memegangi perutnya yang lapar sekaligus memar Bing Lian mulai mencari jalan keluar, saat berkeliling ia menemukan ternyata banyak sekali tumpukan karung beraroma kuat. Air liurnya menetes karena mendeteksi makanan namun Lian berusaha menahan keinginannya sebab agak kurang ajar semisal dia mengkonsumsi isi gudang penyimpanan penyelamatnya.
Setelah berputar – putar sepuluh menit akhirnya dia berhasil membuka pintu, hembusan angin serta hangatnya sinar matahari segera menyapa lembut kulitnya. Tanpa terlalu memperhatikan keadaan di sana Bing Lian mendekati genangan terdekat, ia berjongkok tepi telaga barusan kemudian menggunakan tangan buat meminumnya beberapa teguk.
Lian mengeluarkan suara puas, hampir mati dehidrasi terus membasahi tenggorokan ternyata sungguh nikmat. Dia menambah beberapa kali lagi hingga laparnya makin berkurang. Tepat sebelum membasuh muka, badannya tersentak kaget mendengar teriakan.
BYUR!
“Wooaaaa!? Seta—eh? Kau rupanya....kupikir ada makhluk lumpur mengerikan muncul merusak kebunku ”
“Hiyy!? Hmm....?”
Bing Lian hampir mengeluarkan pedang untuk menyerang, namun jeritan gadis tersebut memaksanya mengurungkan niat lalu memiringkan kepala bingung mendengar komentarnya. Lian lanjut membersihkan kotoran yang menutupi wajahnya supaya pengelihatannya lebih jelas.
Usai melakukannya dia menemukan seorang anak perempuan berambut ungu nampaknya baru saja terjatuh ke dalam air sehingga basah kuyup, terdapat sebuah ember juga handuk dekat posisinya terduduk. Dia mengusap – usap bagian belakang tubuhnya sambil meringis.
“Aduh....mudahan tak meninggalkan bekas memar, padahal aku baru ganti gaun lho. Kau!” serunya menunjuk Bing Lian dengan ekspresi cemberut.
“I..iy...iya?”
“Jangan berkeliaran sembarangan dong! Memakai fasilitas orang seenaknya lagi!? Ckkk!?”
“Maaf, aku sangat haus jadi—“
“Di sini itu sumber irigasi tanaman – tanamanku, tidak boleh sampai kotor tau. Kemari ikuti aku...”
Sehabis mengomel dia memungut barang – barangnya lalu berjalan pergi, Lian bengong sebentar mencoba mencerna situasinya sekarang. Namun gadis tadi langsung berteriak menanyakan dirinya mau ikut atau malah melamun saja seperti orang idiot, akhirnya meski masih bingung Bing Lian memutuskan membuntutinya.
Tak lama Lian medengar suara gemercik dari arah mereka tuju, sesampainya terdapat sebuah air terjun berukuran sedang terpampang jelas. Perempuan itu menyingkir mempersilahkanya lewat, melihat tampang ragu sekaligus waspada Bing Lian diapun menghela napas.
“Simpan pertanyaanmu buat nanti, sekarang fokus bersihkan tubuhmu. Aku tak sudi melihat orang kotor berkeliling di tempat tinggalku. Padahal aku sebelumnya datang ingin membersihkan bagian tubuhmu yang terlihat tapi kaunya lebih dulu sadar”
“Tapi—“
“Tidak ada tapi – tapian cepat masuk, aku pun harus mandi lagi gara – gara kau tau” komentarnya cuek sebelum mendorong Bing Lian tanpa peringatan.
“Woaaa!?”
BYURRR!!! BLUBUB! BLUBUB!
“Dah....! Tunggu aku kembali ya! Aku tinggalkan pakaian bersih di sini, selamat bersenang – senang!”
Sembari menggigil akibat perbedaan suhu udara dan air, Lian menyaksikan si gadis melambaikan tangan meninggalkan lokasi. Sesuai ucapanya sebaiknya ia lebih fokus membersihkan kotoran dari tiap inci tubuhnya ketimbang mencari jawaban atas segala pertanyaan dalam benaknya.
Akhirnya Bing Lian menikmati waktunya berendam sekaligus membasuh lumpur sekitar punggungnya, untungnya kandungan Qi di sana cukup padat sampai Lian mampu memulihkan tenaganya sedikit demi sedikit. Sewaktu akhirnya selesai dan memutuskan keluar dari air, urat pelipisnya berkedut kesal menemukan apa yang dimaksud perempuan tersebut pakaian bersih.
“Dia cuma meninggalkan celana!? Brrr....”
“Bubu?”
“Eh?” Lian menengok ke arah datangnya suara terus menyaksikan seekor binatang kecil berjalan santai dekat air terjun. Tatapan keduanya bertemu lalu berbarengan memiringkan kepala sama – sama bingung akan makhluk di hadapan masing – masing.
><
“Bagaimana? Apa kau sudah selesai?”
“Woaa!? Ini yang kau sebut pakaian bersih?” seru Bing Lian terkejut menutupi badannya atas kemunculan tiba – tiba gadis berambut ungu itu.
“Aku memang segaja karena hendak memeriksamu, jangan cengeng begitu. Kau laki – laki bukan? Ayo ke tempat tinggalku”
“Hey! Tungg—pelan – pelan”
“Bu!”
“Bubu? Kalian saling mengenal?”
Pertanyaan heran Lian diabaikan oleh anak perempuan tadi sehingga ia harus rela diseret entah kemana, binatang berwujud layaknya kucing kecil bersayap empat dengan bulu cokelat keemasan sebelumnya terbang terus hinggap pada pundak tuannya.
Setelah berjalan hampir sepuluh menit Bing Lian menemukan sebuah rumah kecil indah, halaman rapi beserta dipenuhi tanaman – tanaman berupa Magic Plant juga Spirit Herb berkualitas makin membuatnya nampak luar biasa. Beberapa perabotan pelengkap pun terbuat dari bahan dasar alami seperti kayu dan sebagainya.
“Silahkan duduk” ujarnya menunjuk salah satu batu berukuran sedang mirip sofa.
Sebab enggan berdebat Lian menurutinya, binatang bernama Bubu segera melompat mengambil posisi tanpa peringatan ke pangkuan Bing Lian sebelum mendengkur. Lian tersenyum lalu membalasnya dengan elusan pelan sekitar kepalanya.
“Eh....biasanya ia galak lho kepada orang asing, kau pasti punya kemampuan mengurus hewan”
“Kurang lebih”
“Baiklah mari lihat....”
“Aw...aw...aw...”Bing Lian mencoba menjauhi tangan perempuan tadi akibat rasa nyeri saat disentuh.
“Apa?! Aku tengah mencoba membantumu tau! Jadi tahan sebentar....payah”
“Adudududuh....”
Lian meringis sewaktu satu per satu bekas memar pada tubuhnya dipegang kemudian diolesi semacam salep berbau menyengat, meski awalnya terasa membakar selang hitungan detik kondisi kulitnya yang semula biru kembali normal sampai menyebabkan Bing Lian mengangkat sebelah alisnya takjub.
Si gadis tertawa puas sambil menggosok – gosok hidungnya dan selanjutnya mengambil jubah bersih terus melemparkannya untuk Lian, nyatanya baju tersebut sangat bagus hingga ada sensasi dingin menyejukkan menyelimuti Bing Lian sesudah memakainya.
“Hehehe....bagaimana menurutmu hasil penelitianku?”
“Lumayan, kau gunakan apa sebagai bahan dasarnya makanya senyaman ini?”
“Bukan pakaiannya tapi obat oles barusan! Grrr....!!!” ia berkacak pinggang lalu cemberut sadar Lian coba mempermainkannya.
KRUYUKKK!!!
Sebelum sempat tertawa wajah Lian segera memerah akibat bunyi keras perutnya, Bubu bersama anak perempuan itu tersentak kaget saking besar suaranya. Mereka berdua memiringkan kepala heran mengapa bocah sekurus Bing Lian mampu mengeluarkan raungan kelaparan sedemikian rupa.
“Wajar sih kau keroncongan, tunggu sebentar. Aku harus mencatatnya biar tidak lupa, pasien harus diberi makanan bergizi usai menerima perawatan....”
Bing Lian meliriknya berangkat menuju dalam gubuk sembari menulis di sebuah buku kecil, beberapa menit kemudian dia muncul lagi diikuti panci terbang. Bubu bangkit lalu berjingkrak – jingkrak menghampirinya kelihatan ingin ikut menikmati hidangan.
“Ah...iya aku lupa saking asyiknya bekerja, hampir tiba waktu makan siangmu juga ya Bubu....”
“Eh.....Nona?”
“Hah?”
“Bolehkah aku menanyakan sesuatu?” Bing Lian mengerjapkan matanya pelan – pelan.
“Tentu”
“Kenapa kau menolongku?”
“Karena aku seorang Dokter, Tabib, Alchemist, Dukun, Orang Pintar, atau terserah kau mau menyebutnya apa”
“Baiklah....jadi bisakah kutau namamu wahai dukun ungu?”
“Yao Sheyan, senang berkenalan denganmu pemuda putih aneh yang jatuh dari langit” balasnya cuek menyerahkan piring berisi sup ke hadapan Lian.
Special Ramadhan Up (18/30)
Ch.238 (325)
Penasaran kelanjutannya? Jika ingin membaca 85 chapter lebih cepat tau harus kemana bukan? ^^
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui K********a\, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000\,- saja\, pembayaran dapat dilakukan via Gopay\, Ovo\, Transfer Bank\, juga Alfarmart (btw update di sana juga lebih cepat lho\, Ciao!).