
Sang induk pari memperhatikan ketiga anaknya yang memanggilnya penuh semangat kemudian mengusapkan lembut kepalanya kepada mereka tanpa menyadari keberadaan sosok – sosok lain tengah menatapnya ngeri. Dia baru paham situasinya ketika diberitahu oleh pari – pari kecil sebelumnya.
“Kalian sudah puas bermain – mainnya?”
“Mama! Mama! Mama! Nue!!!”
“Hmm? Apa kau bilang? Tamu? Untukku?” gumamnya penasaran.
Sewaktu mengikuti petunjuk arah masing – masing, ia keheranan sebab menemukan pengunjung asing. Dua bocah manusia ditemani seekor Demonic Beast berbulu mirip burung, tanda tanya dalam benaknya kian membesar karena bingung mengapa kelompok janggal tersebut dapat berada di Dao Realm.
Siapa Cultivator cukup gila mengirim mereka kemari terlebih tidak diawasi sama sekali?, kalau sampai ketahuan otoritas tertinggi kelayapan tanpa mempunyai izin bisa – bisa mereka harus membayarnya menggunakan nyawa. Begitu hendak membuka mulut menanyakan perihal alasan ketiganya mencarinya juga kenapa mampu tiba ke tempat ini, anak laki – laki paling depan bicara mendahuluinya.
“Kau nampak sehat, bagaimana kabarmu? Mingwang?”
“Sebentar....kau...dari mana kau mengetahui namaku?”
“Apa maksudmu? Kau sendiri yang memberitahuku pari pikun” dia membalas terus melangkah makin dekat.
Saat wajahnya mulai kelihatan jelas terkena cahaya jamur – jamu sekitar punggungnya, Mingwang melebarkan matanya campuran kaget maupun bahagia. Walau agak berbeda ketimbang ingatannya ia yakin seratus persen mustahil salah mengenali suara, muka, ditambah senyuman khas tersebut.
“Lian?!”
“Hehehe....senang berjumpa denganmu lagi kawan lama....” kata Bing Lian tertawa kecil.
><
Ketika baru awal membuktikan diri serta memperoleh izin menjelajah Dao Realm dari petinggi – petinggi di sana, Lian menghabiskan waktu cukup lama berkeliling mencari tau banyak hal sekaligus mempelajari soal kehidupan Dao Beast secara mendalam.
Terutama asal – asul kemudian penyebab mengapa cuma beberapa Spirit Beast saja bisa berevolusi atau naik level ke tingkatan mereka, itu kajian menyenangkan menurut Bing Lian karena pada dasarnya secara garis besar makhluk – makhluk tadi alamnya terbagi sehingga persentase kemungkinan berinteraksi hampir menyentuh angka nol.
Spirit Beast menempati dunia nyata, sementara Dao Beast berbanding terbalik yaitu meninggali Dao Realm. Tapi semisal membuat kontrak dapat menyebrang dengan kondisi – kondisi tertentu, uniknya batasan tersebut hancur jika masing – masing berhasil menembus tingkatan berikutnya yang lebih dikenal sebagai Divine Beast.
Seekor Divine Beast merupakan gambaran otoritas tertinggi sebenarnya sebab dia memotong segala keterikatannya terhadap kedua alam dan bisa berpindah – pindah sesuka hatinya tanpa hambatan berarti. Contoh paling dekat adalah Kelima Hewan Suci Ice Emperor, meski demikian keberadaan mereka cukup merisaukan akibat secara tak langsung merusak keseimbangan antara dimensi.
Faktor barusan sesungguhnya salah satu penyebab Lian dimintai tolong mengurus Baixian, Qinglong, Zhuque, Xuanwu, juga Hubai. Namun kejadian itu terjadi jauh sekali ketika ia sudah dipanggil Ice Emperor oleh orang – orang, pertemuannya bersama Mingwang sendiri termasuk momen awal Bing Lian mencari pengalaman di Dao Realm.
Pada suatu waktu Lian ditemani Dao Beast pertamanya tanpa sengaja menemukan Dao Beast berwujud pari seukuran kereta kuda tergeletak tidak berdaya dekat tepi jalan yang keduanya lewati. Badannya terluka parah seperti telah bertarung sengit atau diburu Dao Beast lainnya.
Rekan Bing Lian berniat membunuhnya agar dia berhenti menderita tetapi Lian menolak ide tersebut meski terus diomeli, sebab menurutnya hukum rimba berlaku bagi seluruh penghuni Dao Realm. Sayangnya Lian tidak menghiraukannya sambil lanjut mengobati cuek, akhirnya iapun sembuh dan pulih seutuhnya kemudian menjalin hubungan baik demi bentuk balas budi atas bantuannya. Mulai sejak saat itu Mingwang dikenal sebagai tunggangan khusus Bing Lian untuk menjelajahi Dao Realm.
><
“Apa ini? Apa ini? Sebuah kejutan? Kenapa kau tidak memberitahuku dahulu kalau ingin berkunjung?” Mingwang menghampirinya dan mengelus – elus lembut pipi Lian berbekal sirip raksasanya.
“Maaf.....apa aku mengganggu istirahatmu?”
“Ahhh....sama sekali tak benar, aku cuma sedikit terkejut karena sudah lama sekali sejak terakhir kita bertemu”
Saat keduanya bercengkrama, Yao Sheyan dan Bubu mundur beberapa langkah ketakutan. Meski terkesan ramah serta bersahabat siapa yang bakal merasa tenang di hadapan makhluk sebesar pulau melayang begitu?, kehadirannya saja cukup memberikan dampak intimidasi luar biasa kecuali bagi Bing Lian.
Mingwang memperhatikan mereka dengan memiringkan kepala bingung tanpa rasa bersalah, Lian meminta masing – masing tenang melalui telepati. Selagi bersamanya mustahil akan terjadi suatu hal buruk menimpa dua rekannya tersebut.
“Siapa? Gadis lainmu? Kau tidak datang ditemani Mye atau Yanjing lagi?”
“Jangan mengatakan sesuatu yang bisa membuat salah paham, kebetulan iya. Aku sedang menjadi penuntun arah kau tau”
“Bu....”
“H...ha...hai?” balas Sheyan pelan melambai sambil berjuang menghentikan gemetar tangannya.
“Maaf ya, mereka jarang melihat makhluk sebesar dirimu di dunia nyata”
‘JARANG KAU BILANG?! AKU TIDAK PERNAH TAU ADA PARI MAMPU MENGUBAH PUNGGUNGNYA JAD HUTAN BELANTARA?!!’
“Santai saja, aku tak menggigit kok” Mingwang tersenyum menunjukan gigi – gigi tajamnya.
“Hiyyy!?”
“Kau malah makin menakuti keduanya tau....”
Mingwang tertawa terbahak – bahak, dia terbang berputar – putar diikuti anak – anaknya mengelilingi kelompok kecil Bing Lian. Setelah puas bertukar kabar, akhirnya Mingwang kembali berfokus ke alasan Lian datang mencarinya.
“Ada apa? Kau perlu bantuan? Seperti masa lalu?”
“Aku terkesan kau cukup tanggap” kata Bing Lian mengangguk mengiyakan pertanyaanya.
“Hehehe....kita sudah lama saling mengenal”
“Benar juga, tapi sebelumnya aku mau memastikan sesuatu. Apakah Medusa masih bersarang di Ancient Serpent Valley?”
“Ahh....meski jauh lebih kuat, setauku ia tetap beroperasi sekitar situ”
“Bisa kau antar kami menemuinya?”
“Tentu....” Mingwang menyanggupi tanpa berkomentar lebih jauh.
Sebenarnya dia sedikit heran jika Lian sejak awal hendak berangkat untuk mencari Medusa, mengapa laki – laki itu malah menuju arah sebaliknya. Bing Lian memberitahunya selagi sempat mendatangi Dao Realm dirinya ingin mengetahui bagaimana kabar Mingwang sendiri, serta menurutnya pribadi Mingwang merupakan sosok cukup terpercaya menceritakan perkembangan dimensi tersebut selama ratusan tahun belakangan.
“Ayo naiklah....”
Begitu dipersilahkan, Lian memberikan tanda supaya Sheyan mengikutinya. Sembari menggendong Bubu si gadis mengekor dan agak berhati – hati menginjak badan sang pari raksasa, Mingwang hanya tertawa terus memintanya agar lebih tenang soalnya tidak merasa tersinggung sama sekali. Mengingat dari lama tugasnya memang menjadi tunggangan Ice Emperor di Dao Realm.
Waktu anak – anaknya pun telah ikut diatas punggungnya juga menempel lekat pada Lian, Mingwang segera lepas landas. Yao Sheyan kurang siap sekaligus tak menyangka Mingwang bakal bergerak sangat cepat hingga hampir terhempas sebab mengingat ukuran jumbo tubuhnya, untung Lian membentuk tembok Qi tepat waktu terus dengan bantuan pari – pari kecil berhasil mengangkat Sheyan mendekat.
“Brrr.....ini terlalu berlebihan bagiku, uekkk....”
“Bu....” timpal Bubu lemah kelihatan sama kagetnya.
“Makanya berpegangan yang kuat....”
Lian menatap keduanya lalu menggeleng – geleng heran, selagi duduk menikmati pemandangan dari puncak kepala Mingwang. Bing Lian jadi teringat momen – momen dulu saat melakukal hal serupa berkat tiupan angin sepoi – sepoi menyentuh lembut wajahnya, Mingwang menuju tenggara dengan membelah kegelapan langit malam Dao Realm tanpa hambatan berarti.
Ch.276 (376)
Penasaran kelanjutannya? Jika ingin membaca 100 chapter lebih cepat tau harus kemana bukan? ^^
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui K********a\, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000\,- saja\, pembayaran dapat dilakukan via Gopay\, Ovo\, Transfer Bank\, juga Alfarmart (btw update di sana juga lebih cepat lho\, Ciao!).