
Sekitar tujuh belas tahun lalu ketika sedang berkelana, Yao Quon sempat melintasi wilayah Lawless Land yang terletak pada perbatasan Sky Jewel Kingdom dan Theotopia Empire. Seperti biasa dia mampir ke setiap desa – desa untuk memberikan jasa pengobatan gratis miliknya, namun kali ini entah mengapa kakinya membawanya melalui rute baru.
Itu merupakan pengalaman pertama Yao Quon melewati jalur tersebut, seolah takdir memang ingin mempertemukan mereka. Awalnya semua berjalan mulus sampai pemberhentian ketiga dirinya, usai mendapat estimasi jarak menuju pemukiman berikutnya dari penduduk terakhir. Yao Quon berangkat dengan santai sebab pada dasarnya tidak tengah terburu – buru.
Tetapi semua berubah saat Alchemist Bachelor melihat asap hitam membumbung tinggi menghiasi langit, menyadari ada hal tak beres diapun mempercepat langkahnya. Meski telah mengetahui garis besarnya sehabis memakai Divine Sense, ekspresi Yao Quon tetap bertambah buruk akibat campuran aroma besi dan darah.
Sembari mengkerutkan dahi dia berjalan melewati bangunan – bagunan terbakar desa berukuran sedang tadi, berusaha mengabaikan jasad para korban yang bergelimpangan sekitar jalan utama. Terlihat beberapa anak panah bertebaran pertanda baru saja terjadi penyerangan ke sana.
Pelakunya kemungkinan besar menurut Yao Quon adalah bandit – bandit nomaden atau sekte – sekte aliran hitam kecil yang menempati Lawless Land, tanpa terasa karena merasa iba Yao Quon lanjut bergerak hingga berhenti tepat depan pintu masuk sebuah rumah berukuran cukup besar.
Ia tertarik ke sana disebabkan tiga faktor. Pertama, bangunan ini masih kelihatan utuh dibandingkan sekeliling jalan dirinya lewati sebelumnya. Kedua, sekilas bisa disimpulkan pemiliknya merupakan sosok penting mungkin bahkan pemimpin pemukiman itu. Ketiga, terdengar sayup – sayup suara janggal berasal dari dalamnya.
Yao Quon perlahan memeriksa isinya, ruangan – ruangan berantakan layaknya baru selesai dibongkar. Pelaku peyerangan seperti sudah selesai menguras barang – barang berharga, Yao Quon sesekali menghela napas panjang menyaksikan tubuh – tubuh tidak bernyawa penghuni maupun penjaga mereka.
Dia menaiki tangga menuju lantai dua untuk menghampiri asal datangnya bunyi aneh tersebut, saat membuka pintu kamar Alchemist Bachelor mengangkat sebelah alisnya keheranan. Ternyata benar prediksinya jika yang didengarnya memanglah tangisan, nampak tepat di tengah ruangan terdapat bayi terbungkus selimut digendong sesosok patung wanita.
Menyadari rengekannya kian parah Yao Quon mendekat hendak mengambilnya, namun langkahnya terpaksa berhenti usai tersandung beberapa bongkahan batu mengelilingi si anak kecil berada. Anehnya materialnya mirip sekali dengan patung sebelumnya, meski penasaran pada akhirnya Yao Quon mengangkat bahu terus buru – buru menyelamatkannya.
Cengkraman patung itu sangat kuat meski tak menyakiti si bayi hingga memaksa Yao Quon menghancurkan bagian lengannya, perlahan isakan anak perempuan mungil berambut ungu barusan menghilang merasakan kehangatan tubuh Yao Quon. Sekali lagi demi memastikan, Yao Quon menggunakan Divine Sence mencari sekitar lokasi kira – kira masih adakah korban selamat seperti dirinya tapi hasilnya nihil.
Yao Quon menggendongnya keluar rumah masih bertanya – tanya dalam benaknya siapa orang meninggalkanya sendirian di sana, kemana pergi orang tuanya?. Apakah mereka cukup kejam meninggalkan darah dagingnya untuk mengutamakan keselamatan pribadi?, Alchemist Bachelor tambah bingung menemukan buntalan – buntalan barang curian nyatanya masih ada.
Mengapa para pelaku penyerangan malah melupakan tujuan utama menjarah desa ini pikirnya, semua jawabannya terungkap usai dia dihadang seseorang berotopeng begitu mencapai halaman depan. Yao Quon menyipitkan matanya menyadari kulit wajah pendatang barusan berhiaskan sisik – sisik hijau tua.
“Spirit Beast atau Demonic Beast tingkat tinggi?”
“Yao Quon?” panggilnya dengan suara mirip desisan.
“Kau mengetahui namaku?”
“Serahkan anak itu padaku....”
“Kau belum menjawab dan malah mengajukan hal konyol” Yao Quon menggeleng – gelengkan kepala.
“Dengarkan aku Alchemist Bachelor, bocah dalam pelukanmu terkutuk. Dia ditakdirkan menjadi pelayan Ratu kami bahkan sejak masih berada dikandungan akibat dosa orang tuanya”
“Sungguh? Jadi kau kemari ingin menjemputnya?”
“Hiks....hua....haaa....” seolah mengerti, bayi tadi kembali menangis ketakutan.
“Benar....”
“Kalau aku menolak memberikannya?”
“Terpaksa aku—“
SRAATT....!!!
Sebelum lawannya selesai bicara, Yao Quon memenggalnya berbekal tangan kosong. Namun tepat ketika kepalanya masih belum menyentuh tanah ia berkata dingin kelak bayi perempuan itu bakal menjadi pembawa sial baginya juga penyebab dirinya terbunuh, Yao Quon melenggang pergi mengabaikan peringatannya.
Sembari menimang – nimangnya agar berhenti menangis Yao Quon memeriksa cermat tanda – tanda kutukan, tapi tubuhnya normal seperti balita pada umumnya menurut Alchemist Bachelor. Langkah Yao Quon terhenti setelah menyadari warna serta pupil matanya berbeda, dengan gesit Yao Quon menutup pandangan kemudian memasang mantra sederhana.
><
“Jadi kau merawatnya hingga sekarang meski mendapat peringatan?”
“Ya, walau sebenarnya tak mempunyai pengalaman membesarkan anak apalagi cucu sama sekali. Sheyan tumbuh menjadi gadis baik bahkan dapat disebut berbakat dalam bidang Alchemist maupun kultivasinya”
“Kau menyayanginya Sarjana Yao?”
“Tentu, kakek mana yang tidak mengasihi cucunya sendiri?” sahut Yao Quon mengingat tahun – tahun dilewatinya bersama Yao Sheyan.
“Pasti sulit ya?”
“Hah.....apa aku memang mustahil menyembunyikan sesuatu darimu Pahlawan Bing?”
Yao Quon menghela napas panjang sementara Lian cuma tersenyum, berdasarkan komentarnya barusan Bing Lian mengkonfirmasi jika Yao Quon menghadapi beberapa momen berat selama membesarkan Sheyan. Karena sadar Lian sepertinya telah menduganya akhirnya Yao Quon menceritakan kisah soal dirinya sempat menitipkan Yao Sheyan di sebuah desa.
Tujuannya agar Yao Sheyan muda memperoleh pengalaman bersosial dengan anak sebayanya sebab kalau terus berdiam sekitar Granite Convert Santuary ia hanya bisa berinteraksi dengan Alchemist Bachelor, Spirit Beast maupun Demonic Beast, dan tanaman – tanaman ajaib milik kakeknya.
Terlebih Sheyan merupakan seorang perempuan, laki – laki tua tanpa pengalaman layaknya Yao Quon tau apa soal mendidik gadis belia?. Makanya dia menyerahkan Yao Sheyan pada salah satu kepala desa kenalannya, sayangnya keputusannya tersebut berubah menjadi malapetaka yang meninggalkan trauma mendalam terhadap Sheyan sehingga cucunya seolah menarik diri dari dunia luar juga orang – orang.
“Kekuatan matanya bangkit lagi persis ketika kau menemukannya?”
“Benar, dia mengubah segerombolan bandit jadi batu untuk menolong teman – temannya. Namun mereka malah ketakutan lalu memanggilnya monster, tapi tidak mungkin menyalahkan bocah – bocah tadi. Setiap anak berumur tujuh tahun menyaksikan hal demikian pasti mengatakan hal serupa”
“Sudahkah kau menceritakan nasib kampung halamannya?” Lian menyeletuk penasaran.
“Iya, sehabis insiden aku menerangkan segalanya termasuk kutukan yang disebut utusan Medusa”
“Hmm....ini bahaya, misal terjadi lagi aku takut ia nanti tanpa sengaja terkena efek pembatuannya sendiri”
“Aku sedang mencari cara menanggulanginya, namun penelitianku masih belum memberikan hasil. Aku hanya mampu mengurangi ketidakstabilan Petrified Gaze dalam kurun waktu tertentu menggunakan segel” ujar Yao Quon dongkol.
“Aku tau satu cara efektif agar Yao Sheyan terbebas dari penderitaanya”
“Sungguh? Tolong beritahu aku Pahlawan Bing”
“Mati....” Bing Lian bicara lirih.
- The Second Who Came Arc Status : Begin -
Ch.266 (365)
Penasaran kelanjutannya? Jika ingin membaca 99 chapter lebih cepat tau harus kemana bukan? ^^
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui K********a\, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000\,- saja\, pembayaran dapat dilakukan via Gopay\, Ovo\, Transfer Bank\, juga Alfarmart (btw update di sana juga lebih cepat lho\, Ciao!).