The Rebirth Of Ice Emperor S2

The Rebirth Of Ice Emperor S2
Chapter 127 - Warning



Long Yawen benar – benar nampak bagai seekor naga yang menjelma sebagai gadis manusia saat ini berkat zirah dan senjatanya, namun Feng Ai tidak gentar. Dia sudah membulatkan tekad akan mengembalikan nama baik sekte juga Seniornya dengan cara meladeni duel melawan Tuan Putri Black Dragon Empire tersebut.



Feng Ai mulai memutar – mutar palu miliknya, meski lebih kecil jika disandingkan bersama Oathbreaker Machete. Benda itu juga termasuk pusaka Tough Hammer Altar, ia adalah salah satu orang yang diturukan ilmu menggunakan palu langsung oleh Sturdy Emperor sendiri karena bakatnya.


‘Jangan memaksakan diri Ai’er, level Long Yawen memang berbeda’


Feng Ai tersenyum mendengar telepati Tie Jin, sejak menonton pertarungan Tie Mu sebenarnya dia pun menyadari kalau bukan tandingan Long Yawen. Tetapi jika belum dicoba maka hasilnya pasti abu – abu, setidaknya walaupun bakal kalah. Feng Ai ingin belajar untuk menjadi lebih kuat usai melakoni pertarungan ini.


“Terima kasih atas perhatiannya Patriach. Huhh....hyaaa....Almighty Crusher!!!” gumam Feng Ai sebelum maju terus menghantam keras tanah di hadapannya.


DUARRR...!!!


Ledakan besar terjadi mendorong bongkahan batu bercambur angin kencang menuju Yawen, Long Yawen cuma mengangkat sebelah alis lalu menggeser badannya sedikit. Ketika efek pukulan Feng Ai hampir mengenainya, bilah golok di tangannya membelah dua rapi seluruh hempasan tadi.


Tanpa menunggu lama Feng Ai sekali lagi menerjang, dia muncul dari balik kepulan debu bersiap mengayunkan palunya. Sayangnya respon Yawen tidak kalah cepat, gadis itu sendiri telah menanti kedatangan musuhnya sembari menyeret Oathbreaker Machete di lantai arena.


“Yo?”


“Gigantic Stomp Desire....!!!”


“Basilisk Slayer....” Long Yawen berkata pelan.


JBRETTT...!!! SRRRR.....!!!


><


“Ukh....mmm....adududuh....pusing sekali, apa ini? Benjol lagi?! Pasti Junior Feng—woaa!?“


Tie Mu yang sedang terlelap di salah satu bangunan istana terbangun sambil mengelus – elus belakang kepalanya, kaget mendapat hasil pukulan Feng Ai beberapa waktu lalu. Saat mau mengomel jengkel getaran hebat menyebabkan kasurnya bergoyang.


Dia langsung melupakan kata – katanya dan bangkit berdiri, seharusnya pertarungan melawan Long Yawen belum terlalu lama. Melihat Juniornya tidak menemaninya sekarang Tie Mu bisa mengambil kesimpulan dengan cepat, buru – buru dia memasang jubahnya kemudian keluar.


Berpapasan bersama para tabib yang ditugaskan merawatnya ia meminta izin untuk kembali ke arena, meski awalnya mereka ragu mengizinkan. Setelah rengekan Tie Mu salah satu memutuskan mengantarnya sebab bocah tersebut tak tau jalan serta mempunyai kemungkinan membuat masalah nantinya jika dibiarkan sendiri.


Begitu mencapai pintu masuk perasaan buruk telah menghantui Tie Mu, wajahnya langsung kaku menyaksikan pemandangan terhampar di sana. Tepat pada tengah lokasi ada palu milik Feng Ai ditemani sebuah golok raksasa saling menyilang, sewaktu mendongak Tie Mu semakin tidak mampu berkata apa – apa sebab seluruh awan yang menghiasi langit Mianqiu terbelah menjadi dua.



“Apa – apaan—“


“Senior? Kenapa kesini lagi?”


“Eh?


Tie Mu tersentak mendengar pertanyaan barusan, ia menoleh terus menemukan ternyata Feng Ai tengah duduk tidak jauh dari sana memegangi cedera sekitar lengannya ditemani oleh Tie Jin maupun Long Heiyan. Ketiganya menatapnya aneh, Tie Mu langsung menghampiri mereka sambil tergopoh – gopoh.


“Kau baik – baik saja Junior Feng!?”


“Umm....hehehe....tapi aku kalah”


“Bukankah hal itu sudah jelas sekali? Kau tidak perlu mengatakan—uhuk!?” Tie Mu gagal menyelesaikan kalimatnya diakibatkan kiriman pukulan keras Feng Ai yang pelipisnya telah berhiaskan saraf berdenyut kesal.


Tie Mu dan Feng Ai saling bertukar pandangan sebelum mengangguk, nampaknya keputusan ikut serta ke Black Dragon Empire bukanlah ide buruk. Beberapa saat kemudian terdengar suara marah menggema, waktu mencari sumbernya ternyata hanya berjarak sekitar lima belas meter terlihat tiga orang lain tengah berkumpul.


Long Yawen sedang menjalani hukuman berlutut sambil mengangkat tangan di udara tanpa boleh menurunkannya atas izin Long Guanting serta Teng Xinyi, ia cemberut jelas sekali tak menikmati momen itu. Meski mengangguk – angguk menanggapi omelan orang tuanya semua tau Yawen tidak mendengarkan sama sekali. Saat matanya bertemu dengan milik Tie Mu dan Feng Ai, ia menjulurkan lidahnya jahil sembari memasang ekspresi konyol lalu segera mendapat jitakkan dari ibunya.


><


Malam harinya usai perjamuan makan, Long Heiyan mengajak Tie Jin berjalan berkeliling kota. Mereka menggunakan jubah agar identitas masing – masing tidak diketahui banyak orang serta lebih mudah bergerak. Jika penduduk Mianqui mengetahui raja mereka di sana bisa – bisa akan membuat kerumunan yang merepotkan.


Kedua Nascent Soul Great Circle – Stage tersebut bergerak menuju salah satu menara tinggi, sembari menikmati angin malam dan pemandangan. Entah secara kebetulan atau tidak, sekarang mereka menghadap ke patung misterius di area istana.


Ekspresinya nampak tersenyum lembut menatap jari tangan menghangatkan hati kebanyakan orang saat melihatnya, jadi wajar saja Tie Mu sendiri sempat tertarik terhadapnya waktu rombongan melewatinya pagi tadi.


“Tie Jin?”


“Ya Senior Long? Apa ada yang ingin kau bicarakan lagi?” celetuk Tie Jin berjalan ke sampingnya.


“Sebelumnya aku ingin berterima kasih karena kau sudah bersedia jauh – jauh ke sini menjawab pertanyaanku”


“Anda tidak perlu sungkan, sebuah kehormatan bagiku dapat menolongmu Senior”


Keheningan kembali pecah, meski suasana begitu duel persahabatan membaik Tie Jin merasakan hal berbeda saat ini. Telinganya seolah tengah mendengar genderang pertanda perang akan dimulai, semua disebabkan tatapan kosong Heiyan ke arah patung itu.


“Tie Jin....aku sangat merindukannya. Bahkan melebihi mendiang istriku sendiri”


“Aku pun sepertimu Senior, kita semua”


“Selain memintamu untuk berdiskusi sebenarnya ada satu alasan lain aku memanggilmu kemari” Long Heiyan mulai berdiri tegak sebelum berbalik badan.


“Iya?”


“Aku mau kau menjadi pembawa peringatan sekaligus pesan kepada seluruh Dataran Tengah terutama saudara – saudarimu. Jika suatu hari dia muncul kembali, kemudian menyimpan dendam dan menyatakan perang terhadap kalian dikarenakan segala informasi bohong yang tersebar serta aku tau mustahil dilakukan olehnya, bersiaplah menyaksikan sejarah”


“Maksud anda?” bisik Tie Jin menyipitkan mata sadar kemana arah pembicaraan ini berakhir.


“Di mana empat kerajaan besar selatan bersatu lagi. Kami, Four Ruler of Southern Thousand Island akan berdiri menempati belakang punggungnya sekaligus menjadi garda terdepan”


Tie Jin menelan ludah berat mendengar pernyataan barusan, kemungkinan kata – kata Long Heiyan akan terwujud bukanlah mustahil. Sebab meskipun saling bermusuhan, orang yang dirinya maksud memang mempunyai hubungan baik dengan masing – masing pemimpin bahkan belajar bagian Manual Four Form of Guardian Deities dari mereka.


Jika sampai benar – benar terjadi, perkataan Heiyan dapat menjadi perang antar Cultivator manusia terbesar sepanjang sejarah terus pastinya menjatuhkan banyak sekali korban. Dan tentu menyebabkan hubungan antara Dataran Tengah serta Southern Thousand Island makin tambah memanas.


“Tetapi....sayangnya Junior Tie, kita berdua tau dia bukan tipe orang seperti itu” Heiyan menghela napas panjang sebelum menatap bintang terus melangkah pergi, Tie Jin menyempatkan diri menoleh sekali lagi menuju patung lalu segera menyusul.


“Anda benar, Senior Long”


Ch.127(145)


Kalau mau baca 18 Chap lebih cepat kalian tau harus kemana? ^^


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui K**********, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart (btw update di sana juga lebih cepat lho, Ciao!).